Jengis Khan dalam Sejarah Mongol*


Berbicara Mongol, sejarah menyebutkan bahwa sebelum abad ke-13, Mongol merupakan kerajaan yang krisis kepemimpinan dan sering didera konflik antar suku. Suku-suku Mongol, seperti suku Keraits, Merkit, Onokist, dan Borjigin, tak pernah bisa bersatu sebelum abad itu. Termasuk bangsa yang kurang beradab. Masyarakatnya lahir dari hutan yang penuh dengan hukum rimba dan tidak kenal tulis-menulis. Darah selalu mengalir setiap hari demi kekuasaan wilayah. Setiap suku selalu ingin menguasai suku yang lain, sehingga tidak jarang perang terjadi karenanya.

Namun, dengan lahirnya Jengis Khan, krisis dan konflik antar suku itu menjadi teratasi. Mongol yang sebelumnya tidak bisa bersatu, menjadi satu dalam satu komando dan satu identitas. Yang sebelumnya tidak beradab, menjadi tatanan yang lebih beradab. Masyarakatnya, yang pada mulanya lahir dari hutan dan penuh dengan hukum rimba, bisa membangun tatanan masyarakat yang kuat dan bisa melakukan ekspansi ke beberapa penjuru dunia atas kekuatan militer dan hubungan diplomatik dari seorang pemimpin, Jengis Khan. Dengan kelihaian menggabungkan sikap keberanian, diplomasi, kekerasan dan kesanggupan mengorganisir, Jengis Khan berhasil menyatukan semua suku-suku di bawah kepemimpinannya.

Temujin itulah nama asli dari Jengis Khan. Sebutan Jengis Khan merupakan nama kehormatan yang diberikan rakyat Mongol kepada Temujin karena dia merupakan pemimpin pertama yang berhasil menyatukan beberapa suku menjadi satu identitas, yaitu Mongol, sehingga pada tahun 1926 melalui sebuah pertemuan nasional ia dilantik sebagai pemimpin baru dengan gelar “Jengis Khan” yang berarti Khan dari segala-galanya atau Kaisar Semesta (hal. 65), pemberian gelar “Jengis” yang tidak pernah ada dalam sejarah kepemimpinan Mongol. Untuk itu, tidak heran jika bangsa Mongol menganggapnya sebagai sosok yang dianggap manusia setengah dewa.

Tidak cuma itu, Jengis Khan juga berhasil menaklukkan banyak negara untuk menambah suplai Mongol sendiri. Sebut saja salah satunya China, yang menjadi target utamanya untuk menguasai suplai keramik dan sutra, yang ada di China. Bangsa China yang waktu itu, secara keseluruhan di kendalikan oleh kekuatan tiga kerajaan (Jin, Sung, dan Xi Xia), oleh Jengis Khan dengan pelan tapi pasti ditaklukkan satu persatu. Untuk menaklukkannya, Jengis Khan membaca dengan cermat dan teliti ketiga wilayah kerajaan tersebut untuk menentukan titik terlemahnya.

Pertama kali yang menjadi sasaran Jengis Khan dari tiga kerajaan tersebut adalah kerajaan Xi Xia, karena kerajaan ini sedikit terbuka, kotanya tidak telalu banyak, temboknya tidak tinggi, pasukannya kecil dan bisa ditempuh beberapa hari perjalanan dari Mongol lantaran tidak harus melampaui beberapa gunung. Jengis Khan lebih memilih menaklukkan kerjaan Xi Xi terdahulu karena kerajaan Xi Xia termasuk keraan yang paling lemah ketimbang kerajaan Jin dan Sung. Jengis Khan ingin menguasai titik terlemah dulu untuk kemudian menjungkir balikkan peradaban bangsa China di kemudian hari. Untuk menaklukkan kerajaan Xi Xia ini Jengis Khan tidak butuh waktu lama. Hanya dengan beberapa taktik pertempurannya, kerajaan Xi Xia seakan lenyap tanpa bekas.

Setelah menaklukkan kerajaan Xi Xia, giliran berikutnya adalah kerajaan Jin, yang mempunyai tembok pertahanan yang kuat, pasukan yang cukup banyak, serta posisi kerajaan yang jauh berbeda dengan kerajaan Xi Xia. Penaklukan kerajaan Jin inilah yang di sebutkan dalam sejarah, merupakan penaklukan terlama selama proses penaklukan di daerah China, hingga akhirnya kerajaan Jin terperosok dalam kubangan krisis berkepanjangan. Kota-kota yang awalnya menjadi tumpuan banyak orang, berubah total.

Sekilas gambaran di atas, tergambar penuh dalam buku dengan judul “Jengis Khan” terbitan Buku Biru. Buku setebal 190 halaman ini menyajikan kisah perjalanan Jengis Khan dalam sejarah Mongol. Najamuddin Muhammad, penulis buku ini, membagi isi di dalamnya menjadi 5 bab, yang secara global bisa dikelompokkan pada dan menjadi 3 bagian.
Bagian pertama penulis mencoba melihat sisi-sisi kehidupan Jengis Khan, mulai dari konteks lingkungan, keluarga, sosial dan budaya Mongol pada saat itu. Pengaruh lingkungan keluarga, masyarakat, dan budaya Mongol semasa ia kecil sangat mempengaruhi kepribadian Jengis Khan yang tangguh, tak mudah menyerah, pemberani, sigap dan sejenisnya.

Bagian kedua penulis mencoba menghadirkan beberapa fakta sejarah yang selalu menuai kontroversi ihwal tempat kematian, tanggal kematian, dan kuburan Jengis Khan. Terjadi banyak perbedaan antara para sejarah dan arkeolog akan kontroversi hal ihwalnya. Bahkan menurut penulis, mereka hanya bermain-main dengan penafsiran simbol yang validitasnya kurang bisa dipertanggung jawabkan (hal. 8).
Bagian terakhir penulis mencoba mengungkap rahasia keberhasilan Jengis Khan menjadi seorang pemimpin legendaris. Di bagian terakhir ini disebutkan bahwa keberhasilan Jengis Khan menjadi pemimpin legendaris, tidak lepas dari kepribadiannya yang cukup mengagumkan seorang penakluk dunia. Di balik semua itu, ternyata Jengis Khan merupakan orang yang berbakti kepada orang tua, setia dalam persahabatan, memiliki sikap spiritual yang tinggi, setia, memiliki visi yang jelas, pintar mengatur strategi, memagang teguh kepercayaan, mampu mengendalikan diri, peduli terhadap rakyat kecil, menghargai pertolongan orang lain, tidak tamak harta, menjalani hidup sederhana dan keras, membuka terhadap hal baru, bertindak dengan penuh keyakinan dan menghargai potensi orang lain.

Akhir kata, dengan pengulasan sejarah dengan bahasa yang datar menjadi nilai plus keberadaan buku ini. Buku ini bisa menjadi bacaan langka yang akan merangsang pembaca, sehingga cocok untuk dibaca siapa pun yang ingin menjadikan masa lalunya sebagai persembahan sejarah. Namun, karena tidak ada sesuatu yang sempurna, buku ini kurang menampilkan tanggal dan tahun kejadian dari setiap kejadian yang terjadi dalam sejarah Jengis Khan, khususnya. Padahal yang namanya sejarah tidak akan luputi dari angka-angka.

Data Buku
Judul : Jengis Khan
Penulis : Najamuddin Muhammad
Penerbit : Buku Biru, Jogjakarta
Cetakan : I, Desember 2010
Tebal : 190 halaman
ISBN : 978-602-955-818-0

*dimuat di Radar Surabaya (27/02/2011)

2 Responses to "Jengis Khan dalam Sejarah Mongol*"

  1. Sukses ya...
    btw, Dimuat dalam koran apa ne?

    BalasHapus
  2. Amien,,,,
    Makasih riu..
    Resensi ini dimuat di Radar Suarabaya minggu kemarin (27/2/0).
    Kapan punyamu akan dimuat??? he-he-he

    BalasHapus

Tinggalkan komenrar Anda di sini!