Marhaban Ya Ramadan*


Oleh: Abd. Basid

Tak terasa, ternyata kita sudah memasuki bulan suci Ramadan. Dengan datangnya bulan ini semua umat Islam—pastinya—menyambutnya dengan penuh arti. Banyak hal-hal dan aktivitas yang berubah dalam rangka menyambut datangnya Ramadan. Sinetron, sponsor, dan sejenisnya, yang awalnya tidak “islami”, setelah Ramadan tiba semuanya mendadak “islami”. Tempat hiburan malam pun tutup karena datangnya Ramadan.

Bulan Ramadan memang merupakan bulan yang istimewa. Paling utamanya bulan. Hari-harinya paling utamanya hari. Malam-malamnya paling utamanya malam. Dan waktunya-waktunya paling utamanya waktu. Dalam sejarah, al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadan. Pada bulan Ramadan Allah melipat gandakan ibadah yang kita lakukan. Selain itu, Allah menjanjikan ampunan bagi mereka yang mau bertaubat dengan sepenuh hati.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa, ketika Ramadan tiba pintu surga dibuka lebar-lebar, pintu neraka ditutup rapat-rapat, dan semua setan dibelenggu. Juga dikatakan, seandainya umatku (Muhammad) mengetahui keistimewaan Ramadan, niscaya mereka mengharap semua bulan menjadi Ramadan.

Pertanyaannya sekarang; apa saja yang sudah kita siapkan menyambut datangnya bulan Ramadan ini? Seberapa jauh bekal yang sudah kita siapkan menyambutnya?

Dalam menyambut bulan Ramadan, sejatinya kita tidak perlu banyak mempersiapkan banyak bekal. Hanya niat dan tekat untuk melaksanakannya yang terpenting untuk dipersiapkan. Masalah materi ada setelah niat dan tekat. Niatlah yang menentukan kualitas ibadah (puasa) kita. Dalam sebuah hadis disiratkan bahwa, setiap pekerjaan itu tergantung pada niatnya. Jika niat kita ke arah barat, maka yang akan diperoleh nantinya tidak akan jauh darinya.

Akan keseriusan niat dalam melaksanakannya, bisa kita lihat dari tingkah laku dan tindakan kita dalam keseharian selama melaksanakan ibadah (puasa) ini. Jika keseriusan niat bisa kita aplikasikan dengan baik, maka bulan Ramadan akan benar-benar menjadi bulan yang penuh penuh barakah dan rahmat bagi siapa pun.

Untuk menggapai dan menjadikan Ramadan (benar-benar) bulan yang penuh barakah dan rahmat dalam kehidupan sosial, maka hal utama yang perlu diperhatikan adalah saling menghormati antar sesama.

Saling menghormati di sini perlu diserukan pada setiap orang yang tidak berpuasa, baik karena alasan syar’i atau tidak. Seruan ini agar yang tidak puasa bisa menghargai mereka yang berpuasa. Bahkan kiranya juga perlu untuk mereka yang non-islam, dalam rangka menghargai keyakinan agama lain.

Hal ini kelihatannya sangat mudah, akan tetapi ketika bulan puasa tiba, masih ditemukan orang-orang, warung-warung, tempat-tempat hiburan dan sejenisnya masih berjualan dan beroperasi di siang hari. Untuk itu, sangat diperlukan continuity kesadaran individu. Ketika seperti ini, maka peran satuan keamanan sangat diperlukan.

Berkenaan dengan pengoperasian warung-warung dan tempat-tempat hiburan ini, masih banyak ditemukan suatu langkah kurang mengenakkan pemandangan (anarkis), yang dilakukan sebagian kelompok, sebut saja mereka dengan kelompok islam radikal, untuk menghentikan pengoperasian tersebut.

Umumnya, mereka berdalih, bahwa mereka mengambil tindakan anarkis dengan dalih amar ma’ruf nahi mungkar (menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran). Padahal kelompok keamanan lah yang berhak untuk mengamankan permasalahan ini. Hanya saja, kelompok keamanan tinggal menjalankan tugasnya sesuai dengan peraturan yang telah diatur.

Menurut Jaluddin as-Syuyuti, bahwa yang bertugas dan berhak untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar adalah ulama’ dan penguasa (baca: pemimpin). Tidak semua orang berhak untuk menyuruh pada hal yang ma’ruf dan mencegah pada yang nahi. Ulama’ dibilang berhak karena ulama’ memiliki ilmu dan penguasa karena ia berkuasa. Tugas ini dapat dilakukan penguasa dengan syarat ia memerintahkan yang baik serta melarang dan menghukum mereka yang melakukan kemungkaran.

Selanjutnua, yang perlu digarisbawahi bagi mereka (kelompok islam radikal) adalah, bahwa untuk mengajak pada hal ma’ruf diharus—kalau tidak mau dikatakan tidak boleh—dengan suatu yang mungkar (anarkis). Dalam menjalankan tugas amar ma’ruf nahi mungkar setidaknya tetap harus berpegang teguh pada prinsip kasih sayang dan berpri kemanusiaan.

Tampaknya inilah yang harus diingat oleh kelompok-kelompok radikal dalam di tempat-tempat hiburan. Selain itu, perlu disadari bahwa untuk menjadi pemeluk agama yang baik tidaklah langsung instan. Diperlukan jalan yang berliku dan dibutuhkan adanya proses waktu.

Akhir kata, jika hal-hal di atas bisa teraplikasi dengan baik, maka bulan Ramadan akan menjadi bulan yang benat-benar memberikan rahmat bagi siapa pun. Untuk itu, ayo kita sambut Ramadan dengan penuh hikmah. Marhaban ya Ramadan.


*telah dimuat di Radar Surabaya (10/8/2010)

5 Responses to "Marhaban Ya Ramadan*"

  1. Benyak lek. Makanah marah noles... :-)

    BalasHapus
  2. iyeh,mce mamareah tugasan...
    wkwkwk..:)

    BalasHapus
  3. Yeh la. Edenteah...
    Senga', je'gun wacana yeh... :-)
    Etugas dimmah lek??

    BalasHapus
  4. InsyaAllah Pola... hehe:)
    q ditugas Di Tamberuh Barat...
    Salam...

    BalasHapus

Tinggalkan komenrar Anda di sini!