Menjadi Pekerja Lepas, Siapa Takut!


Menjadi pekerja lepas (freelance) tentunya tidaklah seperti bekeja sebagai pegawai kantoran. Dari prosesnya pun berbeda. Kalau pegawai kantoran untuk mendapatkanya kita harus terikat dengan latar pendidikan yang nantinya akan dipertimbangkan oleh instansi termaksud—yang kadang sampai membuat seseorang mau stres. Berbeda dengan freelance, yang latar belakang pendidikan tidak terlalu diutamakan. Yang penting ada kemauan dan usaha, menjadi freelance gampang didapat. Bekerja freelance hanya membutuhkan keahlian yang tidak nego-nego. Bisa otodidak.

Yang dimaksud pekerjaan lepas (freelance) di sini adalah pekerjaan yang pekerjanya ada di belakang layar dan tidak terikat waktu dan undang-undang instansi. Freelancer (sebutan bagi seorang pekerja lepas) cukup berusaha untuk bisa menekuni pekerjaan yang disukai dan usaha akan berjalan lancar. Contoh freelance bisa dicontohkan seperi editor buku, penerjemah, desainer grafis, guru les dan sejenisnya.

Tidak seperti pegawai kantoran yang formal, pekerja freelance memang pendapatannya dalam tiap bulannya tidaklah pasti. Bahkan hal ini yang kadang menjadi bahan petimbangan seseorang untuk tidak menjatuhkan pilihannya pada freelance. Selain itu, ketakutan terbesar seseorang ketika mau memutuskan untuk bekerja (mandiri) di luar ikatan kantor adalah tidak tersedianya modal (baca: uang). Jika sudah bersangkutan dengan uang banyak orang mundur untuk memilih membuka usaha sendiri.

Namun, benarkah demikian? Buku “20 Peluang Usaha Modal Dengkul” yang ditulis oleh Reny Y, membantah dan memberikan solusi akan hal itu. Buku setebal 170 halaman ini menyajikan 20 jenis freelance yang dibagi berdasarkan pilihan minat dan keahlian seseorang. Mulai dari yang suka menulis sampai yang suka pasar.

Contoh, dulu, pekerjaan sebagai ilustrator kurang banyak peminatnya. Hal ini karena masih banyak orang yang beranggapan bahwa bekerja menjadi ilustrator tidak bisa menghasilkan uang. Namun, anggapan ini berhasil dipatahkan oleh Sandy. Bermodalkan kecintaan nya terhadap nilai-nilai estetik dan kreativitas di bidang astistik, Sandy berhasil mengubah hasil ilustrasinya tidak sekedar menjadi sebuah coretan pensil, tapi juga mendatangkan banyak uang. Berawal dari keisenganya mengirimkan forto folio hasil kaya-karya ilustrasinya ke sebuah media nasional, tak disangka ternyata media bersangkutan meresponnya dengan memberikan Sandy sebuah proyek pembuatan ilustrasi untuk beberapa artikel di koran dan majalah (hal. 147).

Dari awal, buku ini sudah meyakinkan kita bahwa pada kenyataannya ada banyak bidang usaha yang dapat ditekuni tanpa modal. Atau walaupun membutuhkannya, modal yang harus dikeluarkan tidak mencapai angka puluhan juta. Untuk menjadi editor buku, penerjemah, pereview, desainer grafis dan guru les kita tidak membutuhkan modal (uang) sama sekali. Kita cukup mempunyai keahlian yang sesuai dengan freelace yang kita mau. Meskipun demikian, ada beberapa “jurus” yang perlu diperhatikan untuk bisa terjun menjadi pekerja freelance, seperti, harus memilih pekerjaan yang benar-benar disukai dan dikuasai, terus pantang menyerah, disiplin, mempeluas jaringan dan pandai berpromosi (hal. 9-11).

Dalam penyajian buku ini, Reny Y tidak hanya mewacakan akan gagasan cerdasnya. Akan tetapi ia juga memberikan solusi, arahan, dan bukti konkrit yang telah terjadi pada seorang freelancer yang ia temui. Dengan demikian, Reny Y seakan-akan menyampaikannya di hadapan kita memberi materi lengkap dengan bukti-buktinya, kemudian setelah itu ia menawarkan lapangan “bermain” lengkap dengan info yang gampang diperoleh darinya.

Lihat saja pada bagian ketika seseorang ingin menjatuhkan pilihannya untuk menjadi freelance sebagai desainer sampul dan setter/penata letak. Dalam bagian ini Reny Y seakan-akan menyajikan materi di depan kita (langsung) bahwa seorang desainer sampul dan setter hanya membutuhkan keahlian dan menguasai minimal tiga program komputer, berupa program Pagemaker, inDesign, dan Quard Express. Dan setelah itu, Reny Y menawarkan lapangan “bermain” dengan memberikan daftar instansi yang biasanya membutuhkan jasa seorang desainer sampul dan setter; penerbitan buku seperi, Zahro Publishing House, Media Kita, Ufuk, dan lain-lainya lengkap dengan alamat, nomor telpon, dan alamat emailnya, lengkap dengan kisi-kisi yang harus diajukan ketika mau mengajukan pada instansi termaksud (hal. 75-86).

Di setiap bagian akhir jenis freelance, Reny Y berusaha menyakinkan kita dengan menampilkan asumsi penghasilan setiap freelance. Dalam freelace sebagai desainer sampel dan setter, Reny Y mencontohkan apa yang dialami Juki. Pernyataannya, Juki yang hanya mempunyai latar belakang pendidikan desain grafis ini sangat menikmati pekerjaannya sebagai pekerja desain sampul freelance di beberapa penerbitan buku. Meskipun demikian, penghasilan Juki tidak kalah dengan pekerja kantoran. Untuk satu proyek desain, dia dibayar Rp 300.000-Rp 500.000. Bahkan jika orderannya sedang banyak, ia bisa mengantongi 3 sampai 5 kali lipat pendapatan normalnya (hal. 76).

Akhir kata, membaca buku ini seakan-akan kita berbicara langsung dengan penulisnya. Bahasanya mengalir dan pesannya mudah ditangkap. Jadi jangan heran kalau membaca buku ini, dengan sekali baca, nantinya kita langsung tertarik untuk mengaplikasikannya. Dengan kata lain, untuk menjadi pekerja lepas, siapa takut!

Data Buku
Judul : 20 Peluang Usaha Modal Dengkul
Penulis : Reny Y
Penerbit : Daras Books Jakarta
ISBN : 978-979-1208-32-1

0 Response to "Menjadi Pekerja Lepas, Siapa Takut!"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!