Menemukan Indra Keenam (Di) dalam Islam*


Kalau boleh saya bertanya dan mendiskripsikannya; kenapa Negeri ini tidak henti-hentinya terlanda krisis pemimpin yang jujur dan amanat? Semua itu karena para pemimpin di Negeri ini tidak mempunyai indra keenam. Indra keenam yang dengannya seorang pemimpin pasti jujur dan amanat pada mandat yang ia emban. Indra keenam yang dimaksud di sini adalah sabar. Para pemimpin sering melakukan korupsi tidak lain karena ia tidak sabar. Tidak sabar untuk cepat kaya. Tidak sabar menghadapi aura duniawi. Sehingga ia melakukan segala cara untuk segera mencapai mimpi sementaranya itu—meski dengan harus merampok uang rakyat (korupsi).

Sabar merupakan indra yang tersembunyi dibalik indra yang lima; indra pencium, perasa, pendengar dan penglihat. Nah, sabar di sini bisa dibilang sebagai indra tambahan yang tersembunyi. Logikanya; seringkali manusia cepat putus asa, malas, cemas, mengalah, dan ragu-ragu. Ketika seperti itu mereka membutuhkan sifat yang dapat meneguhkan dirinya agar mampu menjadi manusia yang berkrakter sempurna. Di sinilah indra keenam yang bernama sabar ini bisa menjadi pelengkap dan penyempurna semua itu.

Selain itu, sabar juga merupakan pondasi bagi empat keutamaan mendasar dalam Islam, yaitu iman, amal shaleh, kemuliaan dan kebenaran. Dalam hal ini Allah berfirman yang artinya;“Demi masa. Sungguh, sungguh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan untuk kesabaran” (QS. Al-‘Ashr [103]: 1-3). Maka dari itu, sabar sangat penting adanya dan dimiliki seseorang, khususnya bagi mereka yang mengemban amanat rakyat.

Buku karya Tallal Alie Turfe, “Mukjizat Sabar; Penelitian Seorang Doktor Muslim di Amerika tentang Dahsayatnya Sabar” mengungkap seluk beluk tentang indra keenam (sabar) ini. Menurut Tallal Alie Turfe untuk menggapai indra keenam mesti dimulai dengan keteguhan iman, pengendalian diri dari godaan dan hasrat dunia, dan ketabahan pada saat-saat sulit dan genting (hal. 48). Jika seseorang sudah berhasil mencapai semua itu, maka tidak akan diragukan lagi bahwa dia akan jujur dan amanah mengelola mandat bawahannya (rakyat). Allah akan menguji iman kita sampai kita mampu melewati ujian-ujian dengan penuh keikhlasan.

Mampukah para pemimpin Negeri ini melewati ujian-ujian hasrat duniawi yang sementara itu? Bersabarlah. Demikian disiratkan buku ini.

Sabar sangat erat hubungannya dengan keimanan seseorang. Iman tanpa sabar tidak akan sempurna dan begitu juga sebaliknya. Sebab, sabar merupakan sebuah keniscayaan yang dapat menjaga iman dan memeliharanya. Dalan hal ini sayyidina Ali bin Abi Thalib menganalogikannya bagaikan kepala dengan tubuh. Tubuh tanpa kepala jelas tak kan berguna. Begitu juga dengan iman. Iman tanpa sabar juga tidak akan sempurna (hal. 50).

Sikap sabar sangat penting untuk dimiliki dan ditumbuhkan pada setiap pemimpin, baik dalam keadaan baik atau buruk, lapang atau sempit. Ketika memperoleh kekayaan, tak semestinya beranggapan bahwa harta itu merupakan nikmat yang sepenuhnya untuknya. Pemimpin harus menyadari bahwa harta itu juga harus dialirkan pada orang di bawah dan sebrang sana. Jika bisa seperti itu, maka sudah pasti Negeri ini ke depannya akan bertemu dengan yang namanya keadilan, kemakmuran, dan ketentraman.

***

Buku ini cocok untuk dibaca dan dimiliki semua kalangan. Terutama kalangan yang sangat haus akan nilai-nilai keislaman yang puncaknya ada pada indra keenam yang bernaman sabar ini. Dalam buku ini—dalam kepemimpinan Islam—disajikan keteladanan sayyidina Husain, cucu Rasulullah. Kita patut belajar pada sejarah kesyahidan sayyidina Husain dan kegigihannya dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam, yang beliau konsep dengan kesabaran (hal. 177-183).

Selain itu, buku ini juga menyajikan teladan kesabaran para nabi seperti Nabi Ayyub (hal. 154), Nabi Isma’il, Idris, dan Dzulkifli (hal. 159), Nabi Daud (hal. 162) dan Nabi Ya’qub (hal. 164).

Tidak hanya itu, kaitan sabar dengan “sekitarnya” juga tidak ditinggalkan dalam buku ini. Seperti, tentang sabar dan akidah Islam, sabar dan syariaat Islam, filsafat sabar, dan sabar dan psikologi sosial.

Penulis buku ini, , menulis buku ini dalam upayanya menunjukkan identitas diri di Negara barat tepatnya Amerika, yang pastinya tetap mengalami dan menghadapi kesulitan dalam pencariannya. Kesulitan-kesulitan tersebut terkait dengan kesadaran akan identitas Islam yang ingin ia tunjukkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Memulai pencarian itu. Memualainya dengan mencari pengetahuan tentang hakikat Islam—yang akhirnya menemukan dan sampai pada tujuannya, yaitu menemukan petunjuk berupa keimanan yang kuat dan ketundukan pada agama-Nya yang lurus.

Buku ini juga menjawab kebutuhan orang-orang yang merindukan pengetahuan tentang Islam, khususnya tentang makna dan hakikat sabar, yang nantinya akan membawanya ke jalan yang normal dan lacar.

Tak ada sesuatu pun yang bisa mendekatkan seseorang pada kesuksesan dalam beusaha kecuali sabar dalam menghadapi berbagai persoalan, termasuk persoalan duniawi yang sering menggoda.


Judul : Mukjizat Sabar; Penelitian Seorang Doktor Muslim di Amerika tentang Dahsayatnya Sabar

Penulis : Tallal Alie Turfe

Penerjemah : Asep Saifullah

Penerbit : Penerbit Mizaina (PT Mizan Pustaka)

Cetakan : I, 2009

Tebal : 268 halaman

Peresensi : Abd. Basid, penikmat buku dan pustakawan pesantren IAIN Sunan Ampel Surabaya


* telah dimuat di Harian Bhirawa (05/03/2010)

3 Responses to "Menemukan Indra Keenam (Di) dalam Islam*"

  1. Allah sangat menyayangi orang2 yang sabar...itu adalah janji yang jelas2 tertera didalam kitabNya..
    resensi yang bagus bro, semoga kita termasuk dalam golongan orang2 yang bersabar. amin..

    BalasHapus
  2. @ Zahro: Amien. semoga aja...
    Innallaha ma'as shabirin", mungkin gitu ya bunyi firman-Nya???

    BalasHapus
  3. sejauh ini, belum bisa bersabar..

    BalasHapus

Tinggalkan komenrar Anda di sini!