GBHN


Oleh: Abd. Basid

Guru besar hanya nama (GBHN) itulah yang langsung muncul di benak penulis mendapatkan berita/kabar terungkapnya kembali (dugaan) praktik plagiasi yang dilakukan dua calon guru besar perguruan tinggi swasta di Yogyakarta yang mengajukan karya ilmiah hasil penjiplakan dalam berkas pengajuan gelar guru besarnya.

Bagi penulis, guru/dosen yang dalam mengkatrol jabatan akadmiknya untuk menjadi profesor dan sejenisnya dengan tidak jujur tidak lain adalah guru besar hanya naman (GBHN) saja. Mengapa tidak mau dikatakan guru/dosen GBHN, kalau bisanya hanya copy/cut dan paste dan pastinya orientasinya hanya materi dan popularitas belaka, tidak untuk kemajuan dan perkembangan pendidikan. Guru/dosen GBHN inilah yang sejatinya juga sebagai pencuri, pecundang, dan penghianat masayarakat—khususnya siswa/mahasiswa.

Kasus seperti di atas tentunya tidak hanya terjadi di Yogyakarta. Di Kota-kota dan perguruan tinggi lainnya tidak menutup kemungkinan lebih parah dan lebih banyak dari itu. Terbukti di seberang sana seorang guru besar Jurusan Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan dituduh melakukan plagiarisme atau penjiplakan tulisan Carl Ungerer, penulis asal Australia (Kompas, 18/2).

Mengomentari kasus yang menampar wajah ayu kaum akademisi ini, salah seorang yang aktif di Malang Post, Husnun N Djuraid, menambahkan, yang penulis temukan di catatan wall Facebook-nya, bahwa di Malang ada 40 guru ditolak untuk mengikuti ujian sertifikasi guru karena karya ilmiyah yang merupakan salah satu syarat mengikutinya bukan hasil karyanya sendiri—yang kalau boleh penulis menyebutnya adalah karya imetasi.

Pemandangan ini betapa menunjukkan bahwa warga negeri ini malas menulis. Maunya yang serba instan, tidak mau berproses. Padahal sebuah prose itu penting adanya dalam hidup dan menggapai mimpi.

Banyak kecurangan pembuatan karya ilmiah oleh dosen yang dilakukan dengan memanfaatkan mahasiswanya untuk melakukan penelitian. Biasanya dosen menyuruh satu atau lebih mahasiswa membuat penelitian yang kemudian diklaim sebagai karya dosen tersebut. Dalam hal ini mahasiswa berada di pihak yang lemah sehingga mudah dimanfaatkan. Praktik-praktik seperti inilah yang  sulit diawasi. Praktik yang juga sering terjadi, seorang dosen memberikan tugas mata kuliyah untuk menerjemahkan suatu kitab tertentu pada mahasiswanya dan menerbitkannya menjadi sebuah buku dengan mengatasnamakan namanya sendiri.

Berangkat dari sana, maka tidak heran kalau maraknya bisnis pembuatan skripsi dan tesis oleh kalangan mahasiswa, karena semua itu berawal dari ulah dosen yang tentunya tidak bermoral. Dengan demikian, berbagai macam cara mereka lakukan seperti menyelubungkan jasa pembuatan yang berkedok bimbingan dan pengolahan data. Contoh kecilnya seperti di Yogyakarta setidaknya terdapat delapan penyedia jasa yang rutin memasang iklan dengan tarif mulai Rp 2,5 juta hingga Rp 6 juta. Biaya ini meliputi pemilihan topik, penelitian, dan pembuatan laporan (Kompas, 17/2).

Kalau dii Surabaya mungkin sifatnya lebih privasi daripada di Yogyakarta. Mungkin dari individu ke individu lainnya tanpa harus memasang iklan. Namun, hal itu juga ada dan terjadi di Surabaya, seperti yang penulis temukan dengan mata kepala sendiri ketika penulis kebetulan menjaga warnet (warung internet) milik teman dan kebetulan menyedikan jasa print. Singkatnya waktu itu ada yang ngeprint, sebut saja namanya HS, hasil penelitian yang atas nama teman/dosennya yang sedang mau menyelesaikan program doktornya. Penulis tahu HS dan dosen termaksud. Menemukan hal itu lantas penulis mau tidak mau harus berburuk sangka dan bergumam, “wah, dosen ini ternyata mau mengejar jabatan dengan menyuruh orang lain untuk membuatkan penelitian pada orang lain. GBHN ini”.

Mereka bukan tidak tahu bahwa plagiasi dan sejenisnya merupakan plagiasi dalam dunia pengetahuan, seni, dan sastra. Mereka juga bukan tidak tahu bahwa yang namanya plagiasi adalah tindakan mengambil karya orang lain tanpa pemberitahuan secara terbuka, lalu menerbitkannya sebagai karangan sendiri. Akan tetapi, seperti yang telah disinggung di atas, mereka lebih memilih dan suka hal-hal yang instan tanpa harus berproses.

Untuk itu, bagaimana menyikapi guru/dosen GBHN ini? Penjatuhan hukuman dari sekolah/perguruan tinggi mungkin cukup tepat dengan mencopot gelar fungsional sang profesor, bahkan jika perlu memecatnya. Bahkan kalau perlu lagi, agar penyakit ini tidak menjadi kanker akademis yang semakin kronis, mereka bisa dikenai perundang-undangan hukum pidana. Karena praktik plagiasi ini tidak ubahnya sama seperti pembajakan dan bahkan korupsi.

29 Responses to "GBHN"

  1. Kapitalisasi di bidang pendidikan makin marak saja.. hehe...
    Moga kita terhindar dari hal itu.....

    BalasHapus
  2. Hiba: Amien.. Semoga plat GBHN tidak semakin merebak..

    BalasHapus
  3. wah, semakin maraknya plagiasi semakin minimnya SDM anak bangsa. Semoga kita tak termasuk dari mereka yang gemar mengapitalisasikan pendidikan.
    saya mendukung adanya pidana yang bersumber dari pihak perguruan untuk mecopot gelar fungisional yang ingin diraih. karena hal tersbut akan menyadarkan si plagiator tak bermoral yang telah mencoreng nama ... Lihat Selengkapnyabangsa yang sekarang ini semestinya lebih menghargai karya anak bangsa.
    semoga saja hukum dinegara kita ini dapat melindungi SDM generasi bangsa kedepannya.
    thanks akh, untuk opini yang serat ini.:D

    BalasHapus
  4. @ M. Nur: Becul sekali....

    BalasHapus
  5. Sayang sekali kalo orang yang pintar nggak dibekali mental yang sehat. Belum apa2 aja kelakuannya udah gitu. Kalo udah jadi guru besar mau diapakan ntar kampusnya? hehe... Moga2 pemerintah cepet tanggap sama masalah ini. Amien...

    BalasHapus
  6. bismilah semoga negara kita masih berazas pada hukum

    BalasHapus
  7. @ Linna: Dan soga lagi mereka yang semacam itu tidak menjadi pemimpin (lagi)...
    @ Wilda: selain berazaz hukum juga taat dan sadar hukum...

    BalasHapus
  8. itu harus mas....biar indonesia ni maju terus

    BalasHapus
  9. @ Wilda: Tapi sayang ya masih ada dan banyak yang tidak demikian.... Biadabbbbbb....

    BalasHapus
  10. wah jangan marah2 akh,mungkin kurangnya kesadaran

    BalasHapus
  11. @ Wilda: Ya biar mereka sadar.
    Bukan marah kale.. cuma emosi aja. Karena tdak secara langsung mereka juga membohongi saya yang sebagai mahasiswa...

    BalasHapus
  12. ooo wajar akh emosi, hehehe :-)

    BalasHapus
  13. harusnya ada tindakan untuk guru :)

    BalasHapus
  14. Plagiat, apalagi copas bulat-bulat, tentu saja memalukan. It's the lowest deed and most humiliating a writer could ever done, because it's a serious insult toward one's intelligence/ creativity. It'd certainly harm a writer's integrity. But, hey, it's a forgivable mistake, yg penting ke depannya dia memperbaiki, tidak plagiat lagi, bahkan menulis ... Lihat Selengkapnyalebih bagus.

    Human makes mistakes, and better human will learn from theirs.

    *Mahasiswa dari dosen yg dituduh itu adalah teman gw. jd tau bgt masalah itu. :)

    BalasHapus
  15. @ Kholil Aziz: Laksanakan.... hhehe
    @ Riu: Yang namanya mencuri itu tetap maling. Yang namanya memplagiat mesti tikus kampus,,,, :-)

    BalasHapus
  16. Menurut penelitian, otak manusia di Indonesia lbh cepat merespon keburukan/kesalahan seeorg dibdg kebaikannya. *ini gw baca di forumsains.com* kenapa bs bgitu yah? Krn katanya kbykan lbh sering dipakai otak kiri dibdg otak kanan. Penjelasan detailnya gw lupa. Ya tp klo gw liat di masy emang kbykan gt sih. Kbykan pnggosip liat aj infotainment seneng bener sama keburukan2 org mpe dibahas berkali2..

    BalasHapus
  17. @ Riu: Jika riu bilang "menurut penelitian", maka saya akan bilang "mengutip kata pepatah" yang intinya, cermin yang sudah pecah/kotor meski akan dibersihkan pake' apapun, tidak akan kembali pada seperti semula..".. :-)

    BalasHapus
  18. Tambahan :

    Knp lbh byk terpakai otak kiri di bdg otak kanan?

    Krn berpengaruh dr makanannya. Krn makanannya byk mengandung karbohidrat yg tinggi, spt nasi, sagu, dll.... Lihat Selengkapnya

    Krn karbohidrat yg tinggi tdpt kandungan gula asam yg panas yg dpt membangkitkan karbon yg ada di otak sbelah kiri n mengurangi kadar oksigen di dlm otak.

    Shg menyebabkan rasa emosi, ambisi, pemikiran, daya hayal, keinginan yg berlebih.

    *pepatahnya blm dijawab nih.... :)

    BalasHapus
  19. Hhhhh... Begitulah our society, Bro! Society of gossip dan "haus" sama kesalahan orang. Begitu orang salah langkah, jadilah dia bulan-bulanan. Seakan-akan jasa dia selama ini tidak ada artinya. Kemarau setahun terhapus oleh hujan sehari--cermin yang sudah pecah/kotor meski akan dibersihkan pake' apapun, tidak akan kembali pada seperti semula--meski... Lihat Selengkapnya aku kurang sepakat dgn analogi pepatah ini, tapi setidaknya artinya bener--perbuatan baik yg dilakukan selama hidup, rusak hanya gara2 satu-dua kesalahan. What a joke! And we, the "sane" people, are minority! Boleh nggak kalo Riu juga bilang, jika 9 dari 10 orang itu sinting, maka kesembilan orang sinting tsb sepakat menyebut satu-satunya orang yg waras sebagai orang sinting!

    *hahaha.....jawaban dari kata pepatah. Nyambung nggak?

    BalasHapus
  20. @ Riu: g boleh. Riu ng boeh bilng begitu... Hahaha
    Ya bagi sya anlogi Riu itu tidk bisa dikaitkan dengan fenomena ini. Karena contoh orang sinting yng Riu utarakan di atas tidak pada satu "titik", melainkan ada pada 9 orang dan tidak da pda 1 orang termaksud. Jadi yang 1 tidak bsa diikutkan pda yang 9.

    Berbeda ketika da orang yang awalnya itu baik, tapi kemudian hri melakukan ha-hal yag dapat merusak citra kebaikan tersebut, maka citra buruk akan melekt pdanya, yang mskipun akan dibersihkn lgi tidak akan bersh seperti semula. Di sana akan ada istilh mantan--yang istilh mntan tersebut akn dan dikwtirkan muncul lagi. Contol kecilnya, rang yng mencuri dn berhenti dikemudian hri,maka dia kan disebut sebagai mantn pencuri--yang hal tu akan dan dikwtirkn mencuri lagi. Seperti itu juga dengan orang yng sudah terlanjur melakukan plagiasi....
    ... Lihat Selengkapnya
    Pikir sendiri dah..

    Masuk akal kan??? :-)

    BalasHapus
  21. Hahaha.. nggaj jadi bilang deh kalo githu. Riu jadi nulis aja. :)

    btw, Dosen temanku itu, dia juga udah banyak jasanya. Mungkn karena khilaf makanya dia ngelakuin itu. Apalagi dia dituntut oleh beberapa faktor yang nggak nemuin jalan secepat selain jalan itu. Jadi deh ! hehehe...

    BalasHapus
  22. @ Riu: dengan demikian, citra sebelumnya yang berupa banyak jasa baiknya itu otomatis luntur hanya dengan secuil kekhilafan yang terjadi padanya. Memang begitu gampang merusak citra baik itu. Hanya dengan secuil khilaf semuanya sulit untuk membagunnya kembali...

    Buktinya lihat aja apa yang terjadi sekarang.. Bliau teman mas Riu tadi sudah mulai diragukan kan>>>

    Fakta berbicara...... Lihat Selengkapnya
    Begitu lincahnya setan mengelabui kita..

    BalasHapus
  23. Btw, dozenmu siapa yg dimaksud? kitrim messege ke inbox ya, biar nggak ketinggalan berita.

    *ngegossip MODE ON. hehehe...

    BalasHapus
  24. @ Riu: kok dosen saya?! Yang saya maksud dengan kata beliau adalah dosen mas Riu yang pean maksud dari kemarin2..

    BalasHapus
  25. nggak, yg ngprint di warnet pean itu lho......

    BalasHapus
  26. Riu: 0o0
    Tidak harus terungkap teman. Bukti g kuat kok...
    Biar jadi konsumsi pribadi dah.. hehe

    BalasHapus
  27. @ Riu: tidak memberi bukan berarti pelit, tapi bisa jadi karena ada yang lebih penting...
    Begitu juga denan messege.. hehehe

    BalasHapus

Tinggalkan komenrar Anda di sini!