Menatap (Politik) Jatim 2010


Oleh: Abd. Basid

Sejak tahun 2008 warga Jawa Timur (Jatim) hidup dengan aroma politik. Aroma itu, dimualai dari pemilihan gebernur (pilgub) Jatim pada 2008 dan dilanjutkan pemilu legislatif dan pemilihan presiden (pilpres) tahun 2009 kemarin. Kini, 2010 Jatim akan menggelar pesta politik (lagi) yang direncanakan akan terselenggara di 18 Kabupaten/Kota. 18 Kabupaten/Kota itu terdiri dari; Kab. Ponorogo, Kab. Sumenep, Kab. Situbondo, Kab. Ngawi, Kab. Banyuwangi, Kab. Jember, Kab. Kediri, Kab. Gresik, Kab. Lamongan, Kab. Trenggalek, Kab. Mojokerto, Kab. Malang, Kab. Sidoarjo, Kab. Blitar, Kab. Pacitatan, Kota Surabaya, Kota Pasuruan dan Kota Blitar.

Pemandangan tak sedap yang sampai saat ini tidak kunjung sembuh adalah pemandangan kampanye politik yang tidak profesional. Mulai dari pemasangan atribut kampanye, seperti spanduk dan baliho, yang dipasang di tempat-tempat terlarang sampai kampanye gelap antar (bakal) calon. Contoh kecilnya seperti di Kota Surabaya. Meskipun pendaftaran calon belum dibuka akan tetapi kampanye sudah mulai berselancar. Ironisnya kampanye yang mereka lakukan itu melanggar peraturan yang ada. Seperti pemasangan atribut kampanye yang dipasang di sembarang tempat.

Dari beberapa calon yang diisukan akan maju, semuanya tidak mau kalah start untuk mengambil simpati masyarakat. Namun, pertanyaannya sekarang; kanapa mereka harus melanggar peraturan daerah? Kalau sekarang mereka sudah tidak taat aturan, bagaimana jadinya nanti kalau mereka terpilih? Apakah tidak akan lebih parah? Karena demikian, maka wajar kalau pada setiap pemilihan kepala daerah (pilkada) angka golongan putih (golput) selalu melambung. Semua itu karena masyarakat sudah mulai tidak percaya akan kwalitas masing-masing calon. Pada setiap jabatan masyarakat selalu menjadi korban. Masyakat sudah merasa dirugikan dan bahkan dibohongi karena ketidak profesionalan mereka.

Kalau kita melihat kembali belanja APBD Jatim 2008, maka di sana kita akan menemukan kecurigaan dan kejanggalan yang mencolok. Dari belanja APBD Jatim 2008 senilai Rp 6,6 triliun, tersisa Rp 2,06 triliun (Kompas Jatim, 4/1). Artinya program yang seharusnya didanai sebesar rp 2,06 trilun itu tidak terealisasi. Itu terjadi karena birokrasi Jatim terpecah konsentrasinya antara mengerjakan tugas dan mendukung calon yang membuat program tidak terlaksana. Akankah hal yang demikian itu akan terjadi dan ditiru pada pilkada Jatim 2010 ini?

Untuk menghindari semua itu, maka seoarng pemimpin seharusnya memang betul-betul atas nama rakyat. Visi dan misi waktu kampanye tidak hanya merupa bumbu manis yang hanya dinikmati pribadi dan orang-orang tertentu. Asas cinta harus betul-betul dijadikan modal utama untuk menatap masa depan rakyat selanjutnya.

Bung Karno pernah mengingatkan, seorang pemimpin dengan ketulusan cinta kepada bangsanya harus mampu membujuk rakyat untuk mengenali arah perjuangan yang hendak dituju; pemimpin harus dapat membangkitkan keyakinan jika mereka mampu mencapai tujuan; dan pemimpin harus bisa mendorong rakyat bertindak menggapai tujuan yang telah ditetapkan. Inilah yang disebut Bung Karno sebagai trilogi daya cinta kepemimpinan: spirit kebangsaan, tekad kebangsaan, dan perbuatan kebangsaan.

Di era sekarang ini, di tengah cengkeraman korupsi, kekerasan, dan mafioso, kita memang jarang mendengar kisah perjuangan, kepahlawanan, dan keberhasilan. Maka dari itu, pada 2010 orang-orang Jatim setidaknya bisa seperti “Suster Apung” Andi Rabiah, yang dengan kekuatan cintanya mampu menyirami bumi yang kering, merenda kembali dunia yang terkoyak.

Selain itu seorang pemimpin tidak berorientasi pada apa yang bisa ia dapatkan selama memimpin, melainkan pada apa yang bisa ia berikan. Dalam hal ini Lao Tzu pernah berujar;  “Apa yang kuharap dari anakku, sudahkah kuberikan teladan baginya. Apa yang kuharap dari rakyatku, sudahkah kupenuhi harapan mereka”. Jika mereka ingin rakyat memilihnya, sudahkah kebutuhan rakyat diperhatikan? Maka dari itu, seiring dengan berjalannya tahun 2010 dan mengaca pada pilkada tahun sebelumnya, semoga pilkada Jatim 2010 mengalami perbaikan dengan—minimal—berkurangnya atribut kampanye yang dipasang ditempat terlarang. Dan yang lebih penting lagi politik tidak sehat antara bakal calon tidak terdengar lagi, sehingga Jatim sendiri mengalami perbaikan dengan terpilihnya pemimpin yang profesional. Amien...

0 Response to "Menatap (Politik) Jatim 2010"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!