Bangsa Ini (Memang) Pengecut*


oleh: Abd. Basid


Kasus demi kasus yang tak kunjung usai mewarnai Bangsa ini. Belum selesai satunya muncul lagi kasus yang lainnya. Dengan demikian, masalah Bangsa ini semakin hari semakin banyak yang harus dihadapi. Kasus terbesar seperti kasus Anggodo dan Bank Century belum selesai kini kasus (masalah) teranyar muncul lagi, yaitu kasus ada istana di rumah tahanan Pondok Bambu, Jakarta, yang baru kepergok Satgas.


Melihat kasus-kasus yang bertubi-tubi tak kunjung usai ini. Penulis teringat perkataan presiden ke-4 (alm) KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mengomentari keberadaan Bangsa ini; bahwa Bangsa ini memang pengecut. Bangsa ini memang penakut. Mengapa tidak dikatakan pengecut dan penakut, wong bangsa ini benar-benar pengecut dan penakut. Perekonomian bangsa ini tidak tahu nasibnya seperti apa, penegakaan hukum mengalami kegersangan, perbankan tidak jelas ke mana, kasus korupsi tidak ada kabar membaik dan penegak hukum belum menunjukkan langkah positifnya.


Dugaaan keterlibatan para pejabat Negara, seperti Boediono dan Sri Mulyani, terhadap kasus proses kesalahan perumusan kebijakan pemberian dana talangan kepada Bank Century mengerdilkan masyarakat. Hal itu memang baru dugaan, belum menjadi fakta. Bisa saja benar dan bisa juga salah. Akan tetapi, publik tidak akan sembarang menduga-duga kalau tidak ada jalan menuju praduga tersebut.


Kalau kita lihat fakta-fakta di atas, betapa amburadulnya Bangsa ini. Dalam masalah tatanan hukum, dari segi praktisnya hukum Bangsa ini hanya mampu bertindak tegas pada wong cilik, tetapi sama sekali tidak bertuah ketika berhadapan dengan elite politik, terutama koruptor kelas kakap. Fakta membuktikan, orang mengambil tiga buah kakau, satu tandan pisang, satu butir buah semangka, tidak biji kapuk dan sebagainya, harus meringkuk di dalam tahanan. Sementara mereka para penjahat Negara yang mencuri uang rakyat miliyaran bahkan triliyunan rupiah banyak yang tidak tersentuh oleh hukum. Fakta ini cukup mengindikasikan bahwa kukum bangsa ini benar-benar kacau tidak menentu.

Bagsa ini takut pada uang dan jabatan. Kalau ada uang dan jabatan semuanya berani diam. Demi uang dan jabatan mereka berani bungkam dan bersilat lidah. Ketika dan karena seperti inilah bangsa ini (semakin) menjadi pengecut. Contoh kecilnya, tentang kasus teranyar yang baru kepergok Satgas, adanya istana di rumah tahanan Pondok Bambu, Jakarta. Fasilitas mewah (istana) itu ditemukan di ruang tahanan Arthalyta Suryani dan Limarita. Selama sekian lama mereka di Pondok Bambu, tapi baru terungkap sekarang. Apakah tidak ada petugas yang tahu akan hal itu. Tidak mungkin. Semua itu karena mereka (petugas cs) bungkam dan diam. Pengecut memang.


Baru-baru ini, diberitakan Arthalyta Suryani dikabarkan akan segera dilayarkan ke Nusa Kambangan. Benarkah? Entahlah. Kalaupun berita itu benar-benar dilaksanakan, tak usah khawatir. Selama di Indonesia dan bukan di Guantanamo, mereka tetap tidak tinggal di penjara. Penjara bukanlah penjara. Di Nusa Kambangan masih ada peninggalan Tommy Soeharto atau Bob Hasan, yang kamarnya sudah bagus bin apik. Tinggal menambah aksesori atau memindah yang di rumah tahanan Pondok Bambu. Ditambah lagi di Nusa Kambangan lebih aman karena jauh dari Jakarta, dan rencana sidak ke sana biasanya bocor duluan. Bisa dipastikan pesan tempat dapat dilakukan lebih jauh sebelumnya.

Ironisnya lagi, dikabarkan, pada tahun ini pemerintah akan meningkatkan kapasitas tahanan yang katanya kondisinya kurang layak. Pemerintah sudah mencanangkan dana Rp 1 triliyun untuk peningkatan kapasitas rumah tahanan. Mengapa tidak mau dikatakan ironis? Mengapa, rumah tahanan mau diperbaiki, sedangkan masih banyak gedung-gedung sekolah di sana-sini yang sangat tidak layak ditempati belum juga diperbaiki. Masih banyak para pengungsi di sana juga belum juga mendapat pengayoman berarti. Bangsa ini memang terlalu terpesona pada uang dan jabatan.


Sebagian contoh perlakuan khusus terhadap Arthalyta Suryani cs dan tidak kunjung ditahannya Anggodo Widjojo atas tuduhan suap itu mencengangkan publik dan bahkan mengusik rasa keadilan. Betapa tidak. Temuan adanya istana di dalam penjara merupakan realitas yang menyakitkan keadilan rakyaat kecil. Segelintir narapidana berduit mendapatkan fasilitas mewah, yang berupa istana, ketimbang narapidana umumnya yang kurang duit atau bahkan tidak berduit sama sekali, yang harus bedesak-desakan hingga puluhan orang di dalam satu sel, jam besuk diperketat, dan sejenisnya. Ketika demikian, maka kiranya tidak keliru ketika ada yang beropini bahwa penjara yang seperti itu berindikasi menjadi penjara “akademi kejahatan”. Semakin lama orang dihukum di penjara, semakin profesional ia melakukan kejahatan. Saat keluar dari penjara yang bersangkutan bukan malah insaf, melainkan justru semakin terampil dan luas jaringan kejahatannya.

Merujuk pada adanya indikasi di atas, maka kiranya benar apa kata Masdar F Mas’udi, Ketua Pengurus Besar Nahdatul Ulama’ (PBNU) Jakarta, bahwa hukuman penjara dan kurungan di Indonesia ini perlu untuk ditinjau ulang. Hukuman pengganti perlu dipikirkan dengan menggantinya dengan denda sangat besar atau dengan pekerjaan sosial. Lebih tegas lagi, Indriyanto Seno Adji, pakar hukum pidana Universitas Indonesia (UI), Jakarta, menyatakan perlu diubahnya sebagian hukuman penjara dan kurungan menjadi hukuman denda berlipat dan kerja sosial (Kompas, 13/1).


Akhir kata, kasus Arthalyta Suryani di ruang tahanan Pondok Bambu ini merupakan gunung es yang berbahaya dan tidak menutup kemungkinan ada banyak kasus lain serupa. Hal itu sudah jelas di depan mata. Maka sangat pengencut ketika juru bicara presiden bidang hukum bilang harus praduga tak bersalah. Hal ini sudah jelas di depan mata, segera selesaikanlah dan rampungkan PR-PR yang lain.


*dimuat di harian Surabaya Pagi (15/01/10)

1 Response to "Bangsa Ini (Memang) Pengecut*"

  1. Biyuuuuuuuuuuuh,,.., Binjun ya mikirinnya! Terus menurut abdi, tindakan apa yang seharusnya kita (mahasiswa) lakukan saat ini untuk negara?!

    BalasHapus

Tinggalkan komenrar Anda di sini!