Menatap Masadepan Pamekasan (Madura)


Oleh: Abd. Basid

Tepatnya 3 November 2009 lalu, Kota Pamekasan memperingati hari jadinya yang ke-479. Pamekasan merupakan salah satu kota diantara empat Kabupaten (Kota) ternama yang ada di pulau Madura. Luas wilayah kota ini mencapai 792,30 kilometer (Kompas Jatim, 12/11/2009).

Pada peringatan hari jadi Pamekasan kali ini, Pamekasan menjadikan batik sebagai tema utamanya, dengan tema; “Mempertegas Pamekasan sebagai Kota Batik (di Jawa Timur)”. Pertanyaannya sekarang; begitu yakinkah Pamekasan sebagai Kota Batik, ikon yang baru lahir setelah Kota Pendidikan, Budaya, dan Kota Gerbang Salam?

Pada era tahun 2000-an awal, Pamekasan terkenal dengan sebutan Kota Pelajar (Pendidikan) dan Budaya. Hal ini sinergis dengan maraknya lembaga-lembaga pendidikan di kota yang terletak di antara kota Sampang dan Sumenep ini. Mulai dari tingkatan taman kanak-kanak (TK) sampai tingkatan perguruan tinggi. Didukung lagi dengan adanya prestasi gemilang yang disabetnya, baik di tingkat regional, nasional, dan international.

Waktu itu—bahkan (mungkin) sampai saat ini—Pamekasan lebih lengkap ketimbang kota-kota lainnya (Bangkalan, Sampang, dan Sumenep). Ini terbukti dengan dilengkapinya dengan lembaga-lembaga yang tidak dimiliki kota lainnya di Madura. Misalnya, hanya Pamekasan yang memiliki perguruan tinggi negeri (waktu itu IAIN dan sekarang telah berubah menjadi STAIN Pamekasan). Selain itu, banyak putra-putri kabupaten lain yang rela “mengadu” otak ke Kota Pamekasan ketimbang di kotanya sendiri.

Selain itu, waktu itu, Pamekasan juga dikenal dengan sebutan Kota Budaya. Ini semua, karena banyak tonil dan produk budaya lahir dan dipentaskan di kota ini. Pamekasan satu-satunya kota di Madura yang menjadi tuan rumah karapan sapi, sape sonok, dan semalam di Madura. Proses berkebudayaan ini sampai memunculkan berbagai macam kesenian lainnya, seperti, topeng gettak, rondhing, dan ul-daul (tog-tong).

Setelah itu, pada tahun 2003, Pamekasan mulai merambatkan kotanya untuk menjadi Kota Gerbang Salam (Gerakan Pembangunan Masyarakat Islam). Kebudayaan yang sebelumya, kini mulai disetir untuk bisa sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Pertunjukan-pertunjukan yang berbau erotis mulai di rem untuk tidak tampil di kota ini. Dengan demikian, hanya pementasan islami yang mendapat idzin tampil di kota ini. Seperti, sammanan (pembacaan shalawat dan yang sejenis yang diiringi musik klasik dan dimainkan oleh kaum Adam), samrohan (pembacaan shalawat dan yang sejenis yang diirngi musik klasik dan dimainkan oleh kaum Hawa), macopatan (pembaaan cerita-cerita terdahulu dengan gaya khas khusus tersendiri) dan musik-musik religius lainnya.

Tidak hanya itu, para budayawan lokal tetap melangasungkan proses kreatifnya. Mereka melakukan simbolisasi Islam dengan panggung mereka sendiri, dengan adanya peragaan busana, fashion, lagu, tarian daerah berbungkus hadrah dan sebagainya.

Tidak cukup denga itu saja, baru-baru ini, Pamekasan ingin memproklamasikan sebagai Kota Batik di Jawa Timur. Banyak baliho terpajang yang mencerminkan pemproklamasian Kota Batik tersebut. Seperti, kalau kita berkunjung ke sana, maka akan ditemukan di berbagai sudut kota, baliho-baiho yang bergambar dan bertuliskan “Terima Kasih Anda Telah Berbusana Sopan di Kabupaten Gerbang Salam Pamekasan” dengan gambar dua insan kebanggaan Pamekasan (Kacong dan Jepping Pamekasan) yang berpakain batik. Bahkan seperti yang telah disinggung di depan, bahwa pada peringatan hari jadinya yang ke-479, tema yang diangkat adalah tema tentang batik; “Mempertegas Pamekasan sebagai Kota Batik (di Jawa Timur)”. Tidak cukup dengan itu, seniman batik melukis kain dan dinding sepanjang 1.539 meter dalam rangka melengkapi ikon kota batik ini (Radar Madura (2/11/2009), Jawa Pos Group).

Melihat begitu antusiasnya untuk menjadi Kota Batik di Jawa Timur, muncul pertanyaan sederhana; haruskan gelar sebelumnya, Kota Pelajar (Pendidikan), Budaya, dan Gerbang Salam untuk ditinggalkan? Jawaban dari pertanyaan sederhana ini juga akan menentukan kecemerlangan arah masadepan Pamekasan selanjutnya. Untuk itu, Kota Pelajar (Pendidikan), Budaya, dan Gerbang Salam harus tetap dilestarikan tanpa harus mengorbankan salah satunya. Jika tiga gelar tersebut tetap terjaga, maka sempurna sudah Kota Pamekasandi samping juga sebagai Kota Batik di Jawa Timur.

Kota Pelajar (Pendidikan) untuk masadepan para pemudanya. Kota Budaya, untuk masadepan para punggawa kreatifnya. Kota Gerbang Salam untuk mereka-mereka semua. Dan Kota Batik untuk meningkatkan tingkat perekonomian masyarakatnya. Untuk itu, kiranya eman kalau seumpamanya gelar yang sudah melekat dan mendarah dan mendaging jika hilang begitu saja tanpa dijaga kelanggengannya. Jogja memang juga sebagai Kota Pelajar (Pendidikan), Budaya, dan Batik, akan tetapi Jogja tidak mempunyai Kota Gerbang Salam. Maka dari itu, jika ke depan, empat kelebihan Kota Pamekasan ini tetap terjaga, maka tidak menutup kemungkinan Pamekasan—tanpa mengenyampingkan kota-kota lainnya—bisa menjadi kota kebanggaan Jawa Timur yang terletak di pulau Madura sana.

Maka, sangat tidak keliru ketika M. Kutwa Fath, Ketua Dewan Pendidikan Pamekasan meminta agar ikon tersebut tidak ditinggalkan. Dari sisi sejarah, salah satu perguruan tinggi swasta tertua di Madura ada di Pamekasan (Universitas Madura (UNIRA)). Dari sisi prestasi, Pamekasan juga tercatat sebagai satu-satunya kota di Madura yang berhasil memiliki perserta didik juara hingga internasional. Sepadan dengan Kutwa, Ketua (Harian) Dewan Kesenian, Halifaturrahman. Dia yakin Pamekasan sebagai Kota Budaya terus komitmen dalam pengembangan budaya-budaya lokal. Dia menilai Pamekasan telah dipercaya Jawa Timur sebagai tuan rumah festival (budaya) Pantura yang disatupaketkan dengan semalam di Madura, karapan sapi, dan sapi sonok—yang tetap senirgis dengan Gerbang Salam yang santun dan sopan (Radar Madura (2/11/2009), Jawa Pos Group).

Jika bisa demikian, maka terciptalah Pamekasan dengan masyarakat yang bermoral (Pendidikan), berbudaya (Budaya), bersyariat (Gerbang Salam) dan berindustri (Batik). Semoga!!!

0 Response to "Menatap Masadepan Pamekasan (Madura)"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!