Haji dan Kritik Sosial*


Oleh: Abd. Basid

Bisa pergi ke tanah suci Makkah merupakan suatu hal yang sangat didamba-dambakan oleh setiap insan muslimin. Dalam setiap tahunnya para jamaah haji terus meningkat. Bahkan di Indonesia, mereka yang mau menunaikan ibadah haji harus antre menunggu giliran berangkat pada setiap tahunnya. Punya bekal tahun ini belum tentu bisa berangkat tahun ini juga.

Meskipun demikian, mereka rela menunggu lima tahun lamanya demi memenuhi panggilan Allah, menunaikan ibadah haji ke Makkah al-Mukarramah.

Sekilas, mungkin akan timbul tanda tanya, mengapa kita yang hanya ingin memanjatkan doa saja harus jauh-jauh ke Mekkkah, menghabiskan ongkos jutaan rupiah. Apakah doa memang mahal, harus dibayar dengan uang? Atau bahkan, doa tidak terkabulkah selain di Mekkah (Ka'bah) sana?

Selagi kita merasa orang yang beriman, maka pasti berkeyakinan bahwa di mana pun kita berdoa pasti Allah mendengar dan melihatnya tanpa memandang materi dan tempatnya. Ud'uni asrajib lakum (berdoalah, maka aku akan mengabulkannya), seperti itulah firman Allah. Namun, karena ibadah haji merupakan ajaran formal, agama menetapkan bahwa haruslah ditunaikan di Mekkah dan pada waktu yang telah ditentukan.

Ibadah haji sejatinya merupakan langkah pulang menuju rumah Allah. Maka dari itu, ibadah haji bisa dikatakan sebagai perjalanan pulang menuju kampung ruhani. Seperti halnya ketika kita mau pulang, entah itu dari kampus, kantor, dan sejenisnya menuju rumah. Momen pulang (ke rumah) itulah merupakan saat-saat yang kita nanti-nantikan. Seperti itu juga dengan naik haji. Mereka sangat antusias untuk bisa ke Makkah sana.

Selain itu, banyak pesan simbolik yang terkandung dalam ritual ibadah haji ini. Seperti pakaian ihram, thawaf, hajar aswat, wukuf dan lainnya. Pakaian ihram merupakan simbolik dari latihan mental agar ketika suatu saat nanti kalau kita berpisah dengan dunia, hati dan pikiran kita sudah siap menghadapinya.

Coba kita renungkan, bahwa ibadah haji diawali dengan menanggalkan pakaian sehari-hari. Pakaian yang pada keseharian kita menjadi simbol status sosial, harus kita tanggalkan, diganti dengan pakaian ihram, kain putih yang sangat sederhana. Semuanya lebur dalam seragam serba putih. Antara yang satu dengan yang lainnya tidak ada yang lebih. Entah itu kaya, ganteng/cantik, bangasawan, petani dan lainnya, semuanya sama. Yang membedakannya hanya kadar ketaqwaan yang ada dalam hati masing-masing. Semua hal keduniaan harus ditinggalkan sejenak. Yang ada hanya kata Aku dan Engkau.

Thawaf (berputar mengelilingi Ka'bah) dan hajar aswat sebagai simbolik upaya mendekati dan memeluk Allah. Hajar aswat yang merupakan titik tolak thawaf ini bagaikan tangan Tuhan yang terjulurkan menyambut setiap hambanya yang yang berkunjung ke rumah Allah untuk beraudiensi dan memanjatkan doa.

Wukuf (berdiam diri) sebagai simbolik agar kita bisa mengintrospeksi diri. Wukuf di Arafah yang merupakan puncak ibadah haji, tak lain hanyalah semacam meditasi, merenungkan akan eksistensi, serta posisi kita di hadapan sang pencipta dan alam semesta. Dengan Wukuf di Arafah seorang muslim berusaha memperoleh the wisdom of life, sehingga dengan demikian ketika kembali ke kampung halamannya terlahir kembali sebagai manusia baru yang penuh kearifan hidup.

Tiga simbolik di atas merupakan serentetan pesan yang juga berarti spirit tauhid. Ketika mengenakan pakaian ihram kita diharamkan mengenakan kosmetik, bercermin, membunuh hewan, merusak pepohonan, dan melakukan hubungan seksual. Pendeknya, berbagai nafsu egoistik ditekan ke titik nol agar kita bisa mi'raj untuk bersatu membangun pribadi yang tangguh. Dari sana diharapkan bisa tercermin sifat-sifat keilahian pada diri masing-masing.

Dan dengan menjabat tangan Tuhan, manusia diikrarkan kembali bahwa tidak ada siapa pun di dunia ini kecuali Dia yang mahamemiliki dan semua apa-apa yang kita miliki akan diminta pertanggung jawaban di akhirat nanti.

Ibadah haji, selain sarat akan simbol juga mengandung pesan sosial yang kiranya perlu kita aktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Secara esensial dan fungsional berbagai pesan dan sasaran ibadah haji adalah agar kita menang dalam kehidupan sehari-hari sehingga meraih makna dan prestasi hidup yang sejati.

Sebagai contoh, di antara pesan ibadah haji adalah agar seorang muslim menumbuhkan etos pengurbanan. Terdapat petunjuk yang begitu kuat bahwa masyarakat kita dilanda krisis semangat pengorbanan. Sebaliknya yang ada semangat mengambil (to take) bukannya to give. Dan lebih parahnya lagi kalau yang diambil itu bukan milik dan haknya sendiri.

Contoh semangat pengorbanan telah Allah tunjukkan pada figur nabi Ibrahim a.s. Demi melaksanakan perintah Allah, nabi Ibrahim rela mengorbankan putra tercintanya, Ismail, untuk di sembelih -meskipun pada akhirnya Allah menggantinya dengan seekor kambing/domba.

Pengorbanan pertama kali yang dilakukan oleh nabi Ibrahim adalah membunuh berhala, dalam bentuk cinta yang potensial memberhalakan anaknya (dunia) sehinnga menutupi cintanya kepada Allah.

Banyak penguasa yang bentuk keadilan dan rasa kemanusiaannya terkesan tumpul, tidak bisa bersikap profesional dan proporsional. Mulai dari tingkat daerah, wilayah, sampai pusat. Berapa banyak harta dan kebijakan yang mereka ambil dengan tidak proporsional karena kecintaannya kepada dunia.

Untuk itu, seiring dengan datangnya bulan haji dan contoh pengorbanan yang dicontohkan nabi Ibrahim ini, bisa menjadi bahan refleksi agar kita tetap menempatkan Allah pada cinta pertama dengan tidak mengambil harta dan kebijakan yang sepihak dan tidak proporsional. Semoga!!!



*telah dimuat di harian
Suara Karya (13/11/2009)

0 Response to "Haji dan Kritik Sosial*"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!