Meluruskan Orientasi Belajar Mahasiswa*


Oleh: Abd. Basid

Setelah liburan panjang semester genap kemarin, pada bulan September ini para mahasiswa mulai masuk kuliyah kembali. Para mahasiswa baru pun juga demikian. Bagi kaum pelajar, gelar mahasiswa merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Setelah mereka usai menamatkan sekolah SMA/MA-nya mereka akan berusaha untuk bisa melanjutkan ke jenjang selanjutnya, yaitu ke sekolah perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta (PTN/PTS).

Dengan terdaftarnya nama mereka di sekolah PTN/PTS mereka akan berubah status. Dari siswa menjadi mahasiswa, yang artinya siswa di atas siswa. Dunia mahasiswa berbeda dengan dunia sebulumnya. Mulai dari kepribadiannya sampai sistem pembelajarannya. Kalau sebelumnya (SMA/MA) siswa harus berseragam, menerima “ceramah” guru (klasikal), dan sejenisnya, tapi dengan mereka kuliyah kebiasaan layaknya anak SMA/MA syarat tidak ditemukan lagi. Mahasiswa bukan anak kecil lagi, mereka mau tidak mau harus berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajarnya dosen. Mahasiswa dituntut tidak hanya mengandalkan apa kata dosen. Mereka juga dituntut untuk bisa seperti dosennya, membuat makalah dan mempresentasikannya. Dosen hanya memandu jalannya pembelajaran. Selain itu sistem penilaian dunia kampus lebih termanage, yaitu dengan sistem kredit semester (SKS).

Dalam memilih kejurusan (fakultas), banyak mahasiswa yang melihat prospek ke depan. Contoh, dalam kampus Islam, misalnya, kejurusan yang banyak diminati mahasiswa adalah fakultas Tarbiyah. Jarang dari mereka memilih fakultas Ushuluddin, Adab (Sastra Arab), Syariah dan sejenisnya. Ketika ditanya mengapa mereka lebih memilih fakultas Tarbiyah daripada yang lainnya? Rata-rata jawabannya simple sekali; “ya untuk prospek ke depan setelah lulus nanti”. Artinya, kalau jurusan Tarbiyah mereka akan gampang mencari kerja setelah lulus nanti. Mau melamar menjadi guru tidak usah akta empat. Langsung melamar, tunjukkan ijazah selesai prosesya. Berbeda dengan fakultas lainnya. Fakultas selain Tarbiyah kalau ingin melamar menjadi guru mereka harus melalui proses lagi, yaitu mengikuti perkulihan lagi untuk memperoleh akta empat.

Dari pemaparan di atas, dapat penulis simpulkan bahwa seakan-akan tujuan pertama dan utama mereka kuliyah (belajar) adalah untuk memperolah pekerjaan (baca: uang). Padahal tujuan utama dalam belajar adalah untuk menunaikan kewajiban dan menghilangkan kebodohan yang ada pada setiap insan. Sesuai dengan apa yang disabdakan nabi Muhammad saw.; “thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin (mencari ilmu (belajar) diwajibkan terhadap setiap orang Islam laki-laki dan perempuan) dan “uthlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi” (carilah ilmu (belajarlah) semenjak kamu lahir sampai mati).

Karena demikian, banyak dari mereka—meskipun tidak semuanya—yang bakatnya tidak di sana terpaksa masuk kejurusan yang tidak seseuai dengan bakat dan kemampuan mereka, sehingga dampak yang ditimbulkan banyak pengangguran dan kejenuhan ketika mereka belajar (kuliyah). Orientasi belajar seperti inilah yang harus diluruskan agar kita tidak salah niat dan kita bisa ikhlas dalam belajar.

Sebagai seorang manusia, kita memang harus dan butuh bekerja, akan tetapi setidaknya orientasi pertama dan utama belajar kita jangan sampai karena untuk memperoleh pekerjaan. Karena kalau kita berbicara masalah pekerjaan pasca kuliyah, itu semua berhubungan dan tergantung dengan nasib kita masing-masing, yang semua itu ditentukan oleh yang di atas. Nasib kita sudah ditentukan oleh tuhan semenjak kita dalam kandungan. Untuk itu, yang penting kita belajar karena-Nya dan sesuai dengan bakat dan kemampuan kita.

Apa yang melatar belakangi semua itu? Menurut hemat penulis, faktor utama yang melatar belakangi semua itu adalah kekeliruan asumsi orang-orang dibelakang (keluarga/orang tua) mereka. Banyak orang tua yang berasumsi bahwa kalau anaknya sudah menjadi mahasiswa, maka dia pasti akan beruntung setelah kuliyah nanti. Mereka akan otomatis memperoleh pekerjaan yang nyaman setelah lulus kuliyah. Tidak jarang penulis temukan orang tua menanyakan kepada anaknya yang lagi kuliyah; “nak, kamu memilih jurusan ini ntar setelah lulus akan jadi apa?”, “nak, si fulan temannmu itu sekarang menjadi apa? Dia kan sudah lulus kuliyah”, dan sejenisnya. Para orang tua mereka berkeyakinan bahwa dengan anaknya kuliyah akan menperoleh pekerjaan tetap setelah mereka lulus.

Karena asumsi seperti itulah dan karena mereka takut dicap tidak sukses, banyak mahasiswa yang merasa tertekan untuk bisa langsung memperoleh pekerjaan pasca lulus kuliyah—yang kalau di perguruan tinggi Islam jurusan yang lebih berpeluang gampang mendapatkan pekerjaan adalah fakultas Tarbiyah, meskipun menurut penulis, pilihan Tarbiyah tidak menjadi jaminan kita bisa langsung mendapatkan pekerjaan. Terbukti banyak lulusan fakultas Tarbiyah menjadi pengangguran, tidak punya pekerjaan tetap.

Akhir kata, dalam kita belajar dan orang tua dalam menyekolahkan anaknya jangan sampai salah niat. Tujuan kita belajar adalah untuk melaksanakan kewajiban dan menghilangkan kebodohan pada diri kita masing-masing. Dan tujuan orang tua menyekolahkan anaknya yaitu untuk melaksanakan amanat tuhan selaku orang tua pada anak. Mendidik anak supaya tidak bodoh. Dan karena orang tua tidak mampu mendidiknya sendiri (baik karena sibuk atau memang benar-benar tidak mampu), maka sekolah/perkuliyahan alternatifnya. Urusan pekerjaan adalah urusan belakang yang tidak harus dijadikan orientasi utama. Kalau kita sudah berilmu, maka pekerjaan tidak usah kita cari, pekerjaan yang akan mencari kita dan kita tinggal mengamalkannya.


* telah dimuat di harian Malang Post, 6/9/2009




0 Response to "Meluruskan Orientasi Belajar Mahasiswa*"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!