Meng-islam-kan Facebook


Oleh: Abd. Basid

Sabtu (4/7), Aparat Satuan Reserse Kriminal Kota Bogor, menyidik Ujang Ramansyah (18) yang dilaporkan telah melakukan pencemaran nama baik lewat jaringan Facebook (FB). Laporan tersebut dilaporkan oleh Fely pada 23 Juni bulan kemarin.

Fely (18) dan ibunya, Nonih (39), melaporkan Ujang Ramansyah (UR) ke polisi dengan sangkaan melakukan pencemaran nama baik keduanya melalui FB. UR dianggap melanggar pasal 27 ayat (3) UU Nomor 11 Tahun 2008 dan Elektrounika jo pasal 310 dan 311 KUHP.

Fenomena di atas merupakan contoh dari efek negatif penggunaan jejaring sosial FB. Namun, bukan berarti kita harus benci dan putus komusniasi lewat FB karena kita takut akan bernasib seperti UR. Melainkan kita harus bisa mengaca pada kejadian yang ditimpa UR ini. Lagian penulis yakin UR tidak bermaksud untuk mencemarkan nama baik Fely dan ibunya. Terbukti dengan upaya dan keinginan UR untuk minta maaf pada pihak Fely.

Seusai menjalani pemeriksaan, UR mengatakan, pihaknya terus berupaya menemui kelurga Fely untuk meminta maaf dan mengupayakan persoalan dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Untuk itu, ayah dan kakak-kakak UR pernah mengunjungi rumah Fely di Tanah Sareal, Kota Bogor, tetapi Fely dan ibunya tidak ada dirumah. Begitulah, seperti yang dilarsir banyak media (cetak/elektronik).

Menurut hemat penulis, pelaporan pencemaran nama baik seseorang lewat internet (baca; dunia maya) ini mencuat sejak fenomena kasus Prita Mulyasari yang diduga mencemarkan nama baik rumah sakit Omni—yang kenyataannya Prita terbukti tidak bersalah. Pengaruh mental masyarakat salah satu penyebabnya. Untuk itu, pengguna FB tidak usah terlalu sensitif dalam menanggapi komentar di account dinding FB.

Kita tidak usah terlalu menganggap serius dengan guyonan Facebooker lain yang bernada guyon. Contoh, seperti yang pernah pernah diutarakan saudara HM Siradj, seorang wartawan dan Owner Konsultan Pers “MS Signature”, bahwa ada seorang teman cowok istrinya sampai membanting BlackBerry istrinya sendiri, gara-gara istrinya menulis ungkapannya di FB yang banyak mengundang komentar dari teman-temannya yang lain (Jawa Pos, 4/7).

Kalau penulis kutip lagi contoh yang diberikan HM. Siradj seperti ini; “Seorang teman pernah membanting BlackBerry milik istrinya gara-gara guyonan di Facebook. Istri teman saya itu, suatu saat iseng menulis status, "Wadddouww... ketahuan nih. Oh my God!". Teman-teman akrabnya langsung ramai berkomentar di dinding istri teman saya. Antara lain begini, "Hehehe... selingkuh ya? Makanya, kalau mau jalan sama berondong, belajar dulu sama ahlinya... wakakaka...".

Si penulis status maunya menceritakan deposito diam-diamnya yang ketahuan sang suami. Dia termasuk istri yang hemat sehingga setiap bulan bisa menyisihkan kelebihan uang dan setelah terkumpul dalam jumlah yang lumayan, lantas didepositokan.

Karena teledor menyimpan warkat deposito, sang suami lantas tahu. Dia tidak marah, tapi sang istri yang baik ini merasa berdosa. Karena itu, dia lantas "mencurahkan" penyesalannya lewat status wadoouw ketahuan sampai oh my God tadi.

Sang suami jengkel bukan karena status maupun komentar guyonan yang sudah diketahui duduk perkaranya itu. Tapi, dia kesal karena ternyata teman kantornya ada yang satu jaringan pertemanan di Facebook dengan istrinya mengganggap komentar teman sang istri itu sungguhan alias menduga istrinya betul-betul telah berselingkuh!”.

Empat pragraf di atas adalah contoh yang diberikan saudara HM. Siradj, yang menurut penulis, fenomena itu terjadi karena sang suami terlalu sensitif menanggapi komentar-komentar teman-teman istrinya di FB-nya tersesbut. Mengapa penulis menganggap bahwa sang suami karena terlalu sensitif? Bagaimana tidak mau dibilang sensitif, wong dia sudah tahu latar belakang masalahnnya kenapa istrinya menulis ungkapan tersebut.

Untuk itu, untuk mengantisifasi akan adanya hal-hal negatif pada penggunaan FB, maka setidaknya kita harus bisa meng-islam-kan FB dengan, pertama, para Facebooker tidak usah terlalu menganggap serius apa yang ada di dinding FB—yang jelas ketika dengan indikasi tertulis atau dengan indakisi antar sesama teman yang memang sering guyon (tidak pernah serius). Karena bagaimanapun juga, bisa jadi ungkapan di FB adalah ungkapan yang belum/tidak sempat terungkap lewat lisan, baik karena malu atau karena jarak jauh antara keduanya.

Kedua, berusaha menyaring teman yang meng-add ke FB kita dengan mengenali foto, nama dan teman yang sama. Apabila ternyata orang yang tidak dikenal, maka bisa ditelusuri dengan chating atau pesan dinding dan bahkan via email dengan meng-klik kirim pesan. Toh, kalau kenyataannya teman baru tersebut tidak bagus, maka kita bisa menghapusnya dari daftar teman kita. Penulis sendiri sering menghapus teman baru dari daftar teman penulis sendiri yang penulis anggap tidak cocok. Semua itu penulis lakukan, tidak lain untuk mengantisipasi timbulnya hal yang tidak diinginkan.

Ketiga, menulis pesan dinding yang berbau positif (islami). Dengan kita menulis pesan dinding yang islami—seperti saling mengingatkan dalam hal kebaikan, menyambung tali silaturahmi dan lain-lain—,maka kemungkinan adanya komentar yang ngak-ngak lebih sedikit.

Adapun salah satu dampak positif menulis pesan dinding di FB adalah bisa melatih penggunanya—terutama kaum muda dan pujangga—untuk berkarya fiksi (baca; puitis). Ungkapan puitis secara sekilas memang tidak ada nilainya. Tapi, bagi kaum seni dan penulis sangatlah berharga. Kita belum tentu bisa mencontoh dan menandingi akan keindahan kata-katanya.

Untuk itu, mari kita islamkan FB untuk kemashlahatan bersama dengan tidak sembarang nulis dan comment di dinding FB kita sendiri dan orang lain.




0 Response to "Meng-islam-kan Facebook"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!