Ironi Kaum Terpelajar


Oleh: Abd. Basid

Salah satu element berpengaruh yang disebut-sebut dalam pembentukan bangsa yang beradab adalah kaum pemuda dan pelajar. Pelajar adalah generasi penerus bangsa yang sangat diharapkan. Jika kaum terpelajar kita baik, maka bangsa kita akan baik juga.

Namun, mengapa dewasa ini banyak kelakuan kaum terpelajar yang tidak sesuai dengan harapan bangsa? Banyak kelakuan kaum pelajar yang melanggar hukum undang-undang yang ada. Misalnya, pelanggaran lalu lintas.

Berdasarkan data Satlantas Polres Kediri, pelaku pelanggaran lalu lintas di jalan raya didomenasi kalangan pelajar. Diantara 8.571 pelanggaran selama enam bulan terakhir ini (Januari-Juni 2009), 2.215 kasus adalah pelanggaran yang dilakukan pelajar dan mahasiswa. Jumlah itu merupakan jumlah yang tertinggi di antara pelaku pelanggaran lain.

Tidak cuma pelanggaran lalu lintas yang banyak dilakukan kaum pelajar. Kasus tindak kriminal juga banyak mereka hiasi. Contoh seperti apa yang dilaporkan Polres Surabaya Timur bahwa, dalam enam bulan terakhir ini, Januari sampai Juni ada 11 kasus kejahatan dengan aktor anak-anak dan remaja. Usia pelaku berkisar 15-19 tahun. Tindak kriminal yang mereka lakukan beragam, mulai dari kasus kecil-kecilan seperti mencuri HP dan mencuri sepeda angin sampai kasus kriminal yang sudah terhitung berat, seperti penjambretan, curanmor, penganiayaan berat sehingga korban tewas dan lain sebagainya.

Hal seperti tersebut di atas sangat memprihtinkan. Kaum pelajar (siswa-mahasiswa) yang seharusnya terpelajar dan berlaku santun, malah melakukan hal-hal yang tidak layak mereka lakukan. Ironis. Mengapa semua itu bisa terjadi?

Setidaknya ada dua hal kenapa kaum pelajar kita melakukan semua itu. Pertama, karena mereka miskin moral. Kedua, pengaruh lingkungan sosial yang tidak mendukung perkembangan mental.

Untuk itu, peran masyarakat dan orang tua didik sangat dibutuhkan untuk mengatasinya. Karena diakuai atau tidak, anak merupakan hasil pendidikan orang tua. Dalam hal itu Rasuluulah bersabda yang intinya, bahwa anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), seorang anak akan menjadi Yahudi dan Nasrani apa kata orang tuanya. Jadi, peran orang tua sangat menentukan masa depan anak didik. Orang tua harus tidak salah didik dan mengarahkan kejalan yang positif.

Anak bisa merupakan investasi bagi orang tua dan juga bisa menjadi beban yang sangat berat manakala orang tua salah didik, asuh, dan bina. Orang bijak berkata; “manakala kita menanam padi, pastilah akan tumbuh padi dan rumput. Tetapi, makala kita menanam rumput, pastilah tidak akan tumbuh padi”. Artinya, bahwa peran orang tua sangat menentukan untuk masa depan anak. Anak akan agamis apabila dididik dan dibudayakan pada kehidupan yang agamis. Anak akan menjadi pelajar yang baik apabila dikenalkan calistung dan ilmu pengetahan-tehnologi. Dan sebaliknya, anak akan tumbuh liar apabila dibiarkan tumbuh dengan sendirinya tanpa arahan seperti halnya rumput liar yang menyedihakan.

Meskipun demikian, orang tua tidak hanya dituntuk untuk mendidik anak tanpa contoh yang baik darinya. Kerena apabila orang tua sudah memberikan contoh (uswah) yang baik, maka ia tinggal mengunduh buahnya. Buah termanis dari orang tua adalah anak yang sholeh dan sholehah, patuh pada aturaan/undang-undang, dan sejenisnya.

Bagaimana agar anak didik senantiasa patuh aturan? Langkah pertama yang sangat menentukan atas kepatuhan anak didik adalah pemberian contoh yang baik (uswah hasanah). Jika orang tua hanya bisa menyurh, namun ia tidak bisa memberi contoh yang baik, maka jangan harap anak akan patuh. Jadi, sebelum anak didik berprilaku baik, maka orang tua juga dituntut memberikan contoh yang baik, dengan berprilaku baik dan terpuji juga. Hal itu diajarkan Rasulullah dalam berdakwah mengajak umatnya. Sebelum Rasulullah mengajak umatnya, beliau senantiasa mencontohkannya terlebih dahulu. Allah berfirman yang artinya; sesungguhnya pada diri Rasulullahlah ada uswah hasanah (contoh yang baik).

Kedua, berusaha mengajak anak untuk berdiskusi (musyawarah). Hal itu diajarkan nabi Ibrahaim kepada putranya, Ismail, ketika beliau mendapat wahyu dari Allah untuk menyembelih Ismail. Untuk menunaikan perintah Allah tersebut nabi Ibrahim tidak langsung dan serta merta membawa Ismail untuk disembelih, melainkan nabi Ibrahim mengajak Ismail berdiskusi terlebih dahulu, diberi pemahaman akan kebenaran wahyu Allah tersebut dan meminta tanggapan akan kebenaran wahyu tersebut. Dan ternyata jawaban dan tanggapan Ismail diluar sangkaan manusia biasa. Meskipun taruhannya adalah nyawa Ismail langsung meng-iyakan wahyu Allah tersebut. Semua itu tertuang dalam al-Qur’an surat ash-Shaffat ayat 102.

Peran orang tua ini juga berlaku bagi guru. Untuk menciptakan dan melahirkan anak didik yang bermoral guru/ustadz juga dituntuk ikut andil seperti peran orang tua asuh. Karena bagaimanapun juga guru adalah orang tua nomor dua setelah orang tua asuh yang melahirkannya.

Jika guru hanya bisa menyuruh tapi tidak disertai adanya contoh yang baik darinya, siswa disuruh disiplin, tepat waktu, tapi gurunya sering terlambat masuk kelas, maka semua itu adalah sebuah kebohongan.

Begitu juga dengan pihak keamanan. Mereka juga harus memberi contoh yang baik. Jika mereka hanya bisa membuat peraturan, tapi mereka juga melanggar aturan, maka smua itu adalah munafik.

Alhasil, untuk menumbuhkan moral yang baik, meminimalisir kejadian negatif yang dilakukan kaum pelajar, dan membentuk bangsa yang beradab, maka peran orang tua, guru, keamanan dan masyarakat umum (lingkungan) sangat menentukan dan utama, dengan cara melakukan hal-hal penting yang telah disebutkan di atas.




0 Response to "Ironi Kaum Terpelajar"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!