Kenapa Caleg Gagal Bisa Stres?


Oleh: Abd. Basid

Sebelum pemilihan legislatif (pileg) 9 April, kemarin, banyak kalangan yang memprediksikan; akan banyak caleg gagal akan menderita stres, deprersi, gila dan sejenisnya. Hal itu terbukti dengan adanya opini di media-media, baik cetak maupun elektronik. Rumah sakit jiwapun (RSJ) siap menampung kemungkinan tersebut.

Pasca 9 April, ternyata kekhawatiran banyak kalangan tersebut tidak meleset sama sekali. Banyak caleg gagal yang stres, depresi, gila dan bahkan ada yang berani bunuh diri. Seperti yang terjadi di Banjar dan Kalimantan, ada yang bunuh diri karena tidak tahan melihat kekalahannya. Di Cirebon, seorang caleg yang juga gagal menjalani pengobatan alternatif untuk menyembuhkan jiwanya. Di Demak, Jawa Tengah, beberapa caleg dikabarkan gila dan mengikuti pengobatan kejiwaan di tempat penanganan penyakit kejiwaan, dan penulis kira masih banyak lagi yang senasib dengan mereka—yang belum terekspos oleh media.

Pertanyaannya sekarang; kenapa mereka kok bisa sampai seperti itu? Hemat penulis mereka stres, depresi, dan gila setelah gagal memenangkan pemilihan, di karenakan banyak hal; pertama, mereka terlalu gede rasa/gila romongso (GR). Mereka tidak bisa mengukur dirinya, tidak memahami mekanisme penentuan caleg terpilih dengan suara terbanyak. Dikira, kalau sudah mendapatkan suara terbanyak di parpolnya atau di dapilnya, mereka akan otomatis terpilih. Padahal tidak demikian. Suara terbanyak belum tentu menjamin seorang caleg meraih kursi dewan. Melainkan terpilih tidaknya seorang caleg juga ditentukan perolehan suara nasional parpolnya. Kalau perolehan parpolnya tidak lolos 2,5 persen parliamentary threshold, kursi yang sudah diraih maupun suara terbanyak yang direngkuh caleg akan hangus begitu saja.

Kedua, mereka tidak siap kalah. Hanya mau menang. Yang ada di otaknya cuma kursi jabatan. Apalagi mereka sudah banyak menghabiskan banyak uang dan harta benda lainnya dalam mensosialisasikan dirinya.

Ketiga, mereka keterlaluan (over). Artinya, mereka gila jabatan. Maka ketika mereka gagal, otomatis akan kepikiran akan jabatan tanpa henti—yang bisa menyebabkan stres, depresi dan gila. Dan yang ke empat, yang penulis kira ini merupakan yang paling berpengaruh. Yaitu mereka tidak ikhlas dalam mengabdikan dirinya. Karena pada hakikatnya seorang pemimpin itu adalah pelayan rakyat (sayyidul qoumi khodimuhum). Dengan tidak adanya dasar ikhlas dalam mengabdikan dirinya, maka mereka akan menghitung berapa biaya yang mereka habiskan selama berkampanye, dan ternyata tidak menutup kemungkinan mereka dapat biaya dari hasil hutang. Yang sangat ironis, ada sebagian caleg yang tega memungut lagi bantuan yang sempat mereka berikan sebelum pemilihan, tapi ketika mereka gagal, materi yang mereka berikan sebelumnya ditarik kembali. Hal ini terjadi karena mereka tidak ikhlas.

Maka, sangat cocok sekali ketika Pak Haji (Deddi Mizwar), ayah Sarah dalam film “Kiamat Sudah Dekat” mengharuskan Fandi (Andre) untuk memiliki ilmu ikhlas untuk bisa mendapatkan Sarah (Zazkiya Adya Mecca).

Dari sana bisa diambil pelajaran bahwa ilmu ikhlas memang sangat menentukan hati seseorang. Begitu juga degan seorang caleg, kalau mereka tidak iklas, maka ketika gagal otomatis akan merasa dirugikan, yang akan menyebabkan hal negatif pada dirinya sendiri (stres, depresi, gila dan sejenisnya).

*telah dimuat di harian
Duta Masyarakat (23/4/9)

2 Responses to "Kenapa Caleg Gagal Bisa Stres?"

  1. Dari awal mereka menjadi caleg sudah berhitung " bila modal sekian akan kembali sekian " nah..bila modal sudah sekian..tapi kembalinya nihil. yang ada pasti stress!

    BalasHapus
  2. @ Noor's blog; Manteb Noor's, itu pertanda bahwa caleg di Indonesia ini belum sepenuhya untuk rakyat. Mereka belum ikhas, dan saya kira mereka perlu belajar sama Fandi dan Pak Haji seperti dalam film "Kiamat Sudah Dekat"... :-)

    BalasHapus

Tinggalkan komenrar Anda di sini!