Buku, Investasi Dunia-Akhirat

“Belilah buku selagi mampu dan bisa, meskipun belum tahu kapan mau dibaca”, demikian kata salah satu dosen penulis ketika kuliah dulu. Kata-kata tersebut masih terus membekas di ingatan penulis hingga kini, bahkan mungkin hingga nanti. Sekilas, mungkin—menurut sebagian orang—kata-kata tersebut kurang mendidik karena hanya menekankan pada “beli” tidak pada “baca”. Namun, jika direnungkan lebih dalam kata tersebut bisa menjadi “azimat” yang layak dijadikan pegangan untuk menciptakan dan menumbuhkan minat baca dan cinta buku, khususnya untuk generasi mendatang, anak-anak dan keluarga kita di rumah.

Memang, membaca buku tidak harus membeli dan memilikinya, bisa meminjam, baca di perpustakaan, taman baca, dan sejenisnya, namun setidaknya, buku yang kita beli dan kita miliki bisa menjadi koleksi dan dirujuk/dibaca kembali ketika dibutuhkan lagi, baik oleh kita sendiri maupun anak-anak, keluarga, saudara, dan tetangga kita. Bahkan meski kita sudah tiada, buku yang kita miliki bisa dinikmati generasi setelah kita. Untuk itu, tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa buku adalah investasi dunia dan akhirat.

Mengapa demikian? Membaca dan mengoleksi banyak buku merupakan sebuah investasi yang sangat berharga selain investasi emas, uang, dan sejenisnya. Selain itu, memiliki banyak buku berarti kita telah memiliki tambahan pengetahuan yang sebelumnya tidak kita ketahui secara langsung. Informasi yang kita dapat dari membaca (buku) menjadi valid, sistematis, dan refresentatif, tidak sekedar info katanya, katanya, dan katanya saja.

Selanjtunya, kaitannya dengan investasi akhirat, sudah barang pasti, buku yang kita baca dan kita punya bisa bermanfaat bagi generasi setelah kita, dengan meminjam, membaca, dan mengamalkannya. Dengan demikian, tidak secara langsung kita sudah dikatakan ikut andil dalam menciptakan dan mencerdaskan anak bangsa lewat buku yang kita tinggalkan. Hal inilah yang dalam hadis Nabi disebut sebagai salah satu amal yang terus mengalir meskipun orangnya sudah meninggal dunia. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan “idza mata ibnu Adam Ingkatha’a ‘amaluh illa min tsalatsin; shadatin jariyatin, aw ‘ilmin yantafi’u bih, aw waladin shalih yad’u lah” (apabila anak Adam (manusia) telah meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya, kecuali tiga perkara yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan kedua orangtuanya). Peninggalan buku yang kita miliki dan dibaca atau diamalkan oleh generasi yang kita tinggalkan di dunia termasuk pada kategori yang kedua, yaitu ilmu yang bermanfaat.

Selain dengan membaca buku dan mengoleksinya, investasi di atas juga bisa dengan menulis buku, baik berupa gagasan, pendapat, cerita, dan sejenisnya—yang menurut sebagian penulis jalan ini dikatakan sebagai jalan sunyi dan keabadian. Pramoedya Ananta Toer—yang lebih dikenal dengan sebutan Pram—mengatakan, “menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Dalam hal ini, Imam Al-Ghazali pernah berujar; “jika kau bukan anak raja dan bukan pula putra ulama’, maka menulislah”. Perkataan Pram dan Al-Ghazali oleh banyak orang difahami sebagai pepatah keabadian, dalam artian jika bisa menulis dan menghasilkan sebuah karya tulis, maka nama dan eksistensi penulis akan abadi meski orangnya sudah tiada. Namun, lebih dari itu, hemat penulis pepatah di atas tidak sekedar keabadian diri, tapi juga sebagai proses penanaman bibit untuk kemudian kita nikmati di kemudian hari hingga akhir hayat, bahkan juga bisa kita wariskan ke anak-cucu, baik warisan untuk kehidupan di dunia maupun untuk kehidupan di akhirat, seperti royalti dari penjualan buku maupun keteladanan hidup yang bisa dicontoh untuk kemudian dilestarikan sebagai kebiasan hidup dalam keluarga.

Pepatah mengatakan, “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Jika orangtua biasa membaca, menulis, dan menerbitkan buku, maka cita-cita anak dan keturunanya sedikit-banyak akan mempunyai kecenderungan yang sama. Hal ini bisa dilihat, sebagai contoh kecil, keluarga pendiri Forum Lingkar Pena (FLP), Helvi Tiana Rosa dan adiknya Asma Nadia. Dari masing-masing keluarga kakak beradik ini lahir generasi penerus yang semuanya satu aliran yaitu berdakwah dengan pena (bi al-qalam). Bisa kita lihat, Putri Salsa dan Adam Putra Firdaus, dua anak Asma Nadia yang masih remaja sudah menghasilkan belasan karya buku. Abdurahman Faiz, putra Helvi Tiana Rosa, pandai berpuisi dengan berbagai karyanya dan adiknya, Nadya Paramitha, juga suka menulis.'

Banyak buku-buku dari generasi dan keluarga dua bersaudari ini yang best seller dan dan royaltinya diperuntukkan untuk kaum papa. Seperti buku Emak Ingin Naik Haji (Asma Nadia Publishing House) karya Asma Nadia. Royalti penjualan buku ini diperuntukkan untuk kaum emak-emak yang tidak mampu untuk diberangkatkan ke tanah suci Makkah.
Sumber Foto: sastrahelvy.com

Ada juga Ahmad Fuadi, dari buku best seller-nya, Negeri 5 Menara (Gramedia Pustaka Utama), dia menyalurkan royalti penjualan bukunya untuk yayasan sosial, Komunitas Menara, sebuah yayasan sosial yang bercita-cita ingin memajukan pendidikan anak bangsa, khususnya yang kurang mampu.

Di Boyolali ada KH. Mohammad Sholikhin, sebagian royalti buku Ternyata Menikah itu Asyik! (Mutiara Media) disalurkan untuk kegiatan pendidikan, sosial, dan keagamaan, seperti pengelolaan masjid, majlis ta’lim, hingga beasiswa bagi mereka yang tidak mampu.

Dari sini, sangat beralasan jika buku merupakan investasi yang bisa membuat seseorang menjadi kaya di dunia dan akhirat. Kaya dalam segala-galanya. Kaya ilmu, wawasan, imajinasi, dan ide, karena menjadi sebuah keniscayaan bagi seorang penulis sebelum berkarya mau tidak mau harus membaca. Tulisan bagus hanya akan lahir dari penulis yang lahap banyak baca.

Seseorang bisa menjadi kaya karena dia bisa memberikan pemikiran kepada orang lain. Orang yang memberi pasti lebih kaya daripada yang diberi. Dalam hadis Nabi disebutkan bahwa tangan di atas (pasti) lebih baik dari tangan yang di bawah (al-yad al-‘ulya khairun min al-yad al-sufla, al-‘ulya hiya al-munfiqat wa al-sufla hiya al-sailat).

Sejenak mengintip (hasil) investasi para penulis buku, masih ingat penulis buku Lupus? Mengutip catatan M. Anwar Djaelani dari situs firman-its.com, Hilman menerima Rp 800 juta dalam lima tahun penerbitan bukunya, Lupus. Habiburrahman el-Shirazy, lewat Ayat-Ayat Cinta 1, telah menerima Rp 1,5 miliar untuk ratusan ribu buku yang terjual kurang dari empat tahun. Mohammad Fauzil Adhim, penulis yang lekat dengan tema pernikahan dan parenting itu, dengan buku Kupinang Engkau dengan Hamdalah, yang telah terjual 100.000 eksemplar, mendatangkan royalti antara Rp 15 juta – Rp 25 juta per bulan. Pipit Senja, dari aktivitas menulisnya, konon, Pipiet memperoleh royalti sekitar Rp 30 juta per tiga bulan.

Itu baru investasi duniawi yang kemudian menjadi sebuah keniscayaan menuju investasi ukhrawi. Meminjam bahasanya Tasaro GK, ada harga yang jauh lebih bermakna dibanding sebuah label “penulis”, satu orang saja berubah karena tulisan kita, maka takdir akan memberikan keajaiban.

Alangkah indahnya fakta dan realita buku seperti di atas. Ibarat pepatah; “menyelam sambil minum air”, begitu juga dengan buku. Membaca di samping juga mendapatkan kepuasan jiwa juga dapat tambahan pengetahuan yang bisa menjadi bekal di akhirat nanti. Membeli buku selain mempermudah membaca juga bisa bermanfaat bagi orang sekitar yang merupakan amal yang abadi hingga akhirat nanti. Menulis selain mendatangkan royalti berlimpah juga menjadi wadah berbagi dari ilmu yang kita dapat dan tidak lain sebagai manifestasi ilmu yang bermanfaat.

Pembaca yang budiman, tunggu apa lagi? Investasi buku atau harta an sich?

*Telah dimuat di Harian Radar Bromo (Minggu, 10 April 2016)

0 Response to "Buku, Investasi Dunia-Akhirat"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!