Dongeng Kehidupan Seorang Ayah Kepada Anaknya*

Selalu ada yang menarik yang saya temukan dalan tulisan-tulisan Jostien Gaarder. Seperti pada buku sebelumnya, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken, dalam buku ini, Gadis Jeruk, Gaarder—begitu sapaan akrab Jostien Gaarder—menyajikan banyak hal dan informasi tentang dunia buku. Keduanya sama-sama mengambil konflik tentang surat-menyurat. Gaarder selalu dan masih setia pada penceritaannya yang menghadirkan kisah dalam kisah melalui media surat.

Jika pada Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken, Gaarder mengisahkan komunikasi surat menyurat antara sepasang saudara sepupuan, maka dalam buku Gadis Jeruk, yang kabarnya sudah diterjemahkan ke dalam 43 bahasa ini, Gaarder mengisahkan cerita atau surat yang ditulis oleh seorang ayah yang telah meninggal dunia belasan tahun lamanya.

Isi surat itu ditulis oleh seorang ayah, Jan Olav, kepada anaknya, Georg Roed, yang pada waktu itu masih berumur 4 tahun. Surat itu berisikan pesan hidup Jan Olav kepada Georg Roed, yang dikemas dengan penceritaan kisah cintanya dengan gadis jeruk yang misterius. Surat ini diselipkan di kereta dorong Georg Roed dengan harapan nantinya ada yang menemukannya dan bisa dibaca oleh Georg Roed di kala sudah dewasa.

Sesuai dengan harapan, ternyata Georg Roed memang menemukan surat itu dan membacanya pas ia sudah mau beranjak dewasa. Rasa haru pun menghampiri Georg Roed karena surat itu ditulis ayahnya ketika ia berumur 4 tahun dan baru ia baca setelah ia sudah berumur 15 tahun.

Kisahnya, Jan Olav yang sudah tua dan menderita penyakit, dengan profesinya sebagai dokter, ia tahu dan sadar bahwa umurnya tidak akan lama lagi. Untuk itu, dengan didasari pemikirannya bahwa ia tidak mungkin sempat membicarakan hal ihwal kehidupan kepada Georg Roed yang masih berumur 4 tahun, ia kemudian menulis surat yang kemudian ia selipkan di kereta bayi milik Georg Roed dengan harapan kelak ketika Georg Roed sudah dewasa bisa membaca dan mengambil hikmah dari pesan di dalamnya.

Dalam surat itu pula, Jan Olav bercerita bahwa pada masa mudanya ia bertemu dan jatuh cinta pada gadis jeruk. Gadis misterius yang membawa banyak jeruk ke mana pun ia pergi. Hal itu bermula ketika, Jan Olav suatu hari melihat seorang gadis cantik membawa jeruk yang sedang menaiki trem dan jeruk yang dibawanya mau jatuh. Niat hati untuk menolongnya, namun ternyata kecerobohan dilakukan Jan Olav. Bukan pertolongan yang diberikannya, melainkan jeruk yang dibawa gadis jeruk tersebut berjatuhan.

Pasca kejadian itu, bayangan gadis jeruk tidak bisa lepas dari ingatan dan pikiran Jan Olav. Karenanya, Jan Olav berusaha untuk mencari tahu identitas si gadis jeruk dan berharap bisa bertemu lagi, hingga suatu hari di sebuah kafe, Jan Olav berhasil melihatnya lagi—lagi-lagi dengan membawa jeruk—namun belum sempat berkenalan ia sudah hilang.

Yang membuat Jan Olav penasaran dan bertanya-tanya, kenapa gadis itu selalu membawa jeruk. Karenanya, Jan Olav terus melakukan analisis-analisis, salah satunya dengan cara mendatangi tempat yang mungkin disinggainya, untuk menjawab pertanyaan di atas—hingga akhirnya sampai ke perkebunan jeruk di Spanyol, tepatnya di Sevilla.

Sekilas, kisah ini sangatlah datar, namun tidaklah pada kenyataannya. Ada unsur penting yang selalu diselipkan Gaarder dalam setiap karyanya.

Salah satu ciri khas karya Gaarder adalah tulisannya yang mengandung unsur filsafat. Hal ini bisa ditemukan dalam setiap karya-karyanya yang juga selalu menginformasikan berbagai pengetahuan tambahan di samping khas filsafatnya. Dalam buku ini berupa pengetahuan tambahan tentang teleskop Hubble, yang merupakan teleskop ruang angkasa pertama kali di dunia ini.

Teleskop Hubble adalah teleskop ruang angkasa pertama kali yang berhasil mengambil dengan sangat jelas ribuan foto galaksi dan nebula yang berjarak beberapa juta tahun cahaya dari Bima Sakti.

Dari dua kisah tentang gadis jeruk yang disuratkan kepada Georg Roed dan kisah teleskop Hubble, Gaarder menggiring pembacanya untuk merenungkan tentang alam semesta, makna hidup, takdir, kesempatan, dan pilihan hidup. Hal ini bisa dilihat pada kisah surat Jan Olav kepada Georg Roed di mana Jan Olav ingin menyadarkan bahwa kehidupan yang dialami umat manusia ini bagaikan sebuah dongeng yang memiliki akhir. Akan hal ini, ada pertanyaan filosofis Gaarder yang bisa ditemukan di halaman 117, 206, dan 233.

Akhirnya kata, layaknya tidak ada suatu karya yang sempurna, dalam buku ini tidak ada konflik yang kuat, sehingga kalau pembaca tidak sabar akan gampang untuk meninggalkan buku ini. Namun, secara keseluruhan banyak teka-teki dari Gaarder yang akan ditemukan di akhir buku ini, sehingga eman sekali jikalau dalam membacanya tidak dibarengi kesabaran. Selamat membaca!

Data Buku
Judul : Gadis Jeruk
Penulis : Jostien Gaarder
Penerjemah : Yuliani Liputo
Penertbit : Mizan Pustaka, Bandung
Cetakan : I, Juli 2011 (Edisi Gold)
Tebal : 252 halaman
ISBN : 978-979-433-623-6
Harga : Rp. 35.700

*dimuat di harian Radar Surabaya (6/11/2011)

0 Response to "Dongeng Kehidupan Seorang Ayah Kepada Anaknya*"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!