Puasa dan Terapi Diri*

Ramadhan, kini sudah di ujung perjalanan. Sihir gemuruhnya sudah kita rasakan. Semua orang merasakan keberkahannya, dari berbagai lini kehidupan. Bulan ini (Ramadhan) merupakan satu-satunya bulan yang disebutkan langsung dalam al-Qur’an. Pada bulan ini, nilai sebuah ibadah dilipatgandakan. Berbeda dengan hari-hari dan bulan-bulan lainnya. Pada bulan ini juga, setan dan jin yang jahat di belenggu, pintu neraka ditutup, dan pintu surga dibuka semua.

Karena begitu berharganya bulan Ramadhan yang mulia ini, tidak jarang dari kita yang sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari sebelum tibanya bulan Ramadhan. Hal ini juga diteladankan oleh Rasulullah, yang sudah mempersiapkan diri jauh hari sebelum tibanya Ramadhan. Ini bisa kita lihat dengan doa yang diajarkan Rasulullah, yang berbunyi; “Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana, wa ballighna Ramadhana (Ya Allah berkahi kami pada bulan Rajab dan Sya’ban ini. Serta sampaikan kami ke dalam bulan Ramadhan)” (HR al-Tirmidzi dan al-Darimi). Bahkan ada sebagian Salafush Shalih yang mengucapkan selamat tinggal kepada sebagian lain sampai mereka berjumpa lagi dalam shalat ‘Ied. Semua itu karena mereka merasakan bahwa Ramadhan adalah bulan ibadah, bulan untuk melaksanakan shiyam (puasa) dan qiyam (shalat malam) dan mereka ingin menyendiri hanya dengan Tuhan-Nya.

Terapi Diri
Ada tiga fase khusus di bulan Ramadhan ini. Sepuluh hari pertama adalah rahmah (kasih sayang). Di sepuluh hari pertama ini, kita diharapkan bisa mendapatkan kasih sayang Allah dan dapat mengasihi sesama manusia.

Sepuluh hari kedua adalah maghfirah (penuh ampunan). Di sepuluh hari kedua di bulan ini kita diharapkan bisa mendapatkan ampunan Allah. Dan sepuluh hari ketiga adalah itqun minannar (pembebasan dari api neraka).

Dari kesemua fase yang telah disebutkan di atas, ada visi mulia dari bulan Ramadhan ini, yaitu untuk membentuk manusia yang bertakwa (lihat QS. al-Baqarah [2]: 183). Dengan visi ketakwaan tersebut, Ramadhan diharapkan menjadi media yang sangat penting untuk meng-upgrade kualitas manusia dan meningkatkan derajatnya di sisi Allah (QS. al-Hujurat [49]: 13). Dengan visi ketakwaan juga, Ramadhan juga menjadi media yang sangat efektif untuk mendapatkan berbagai kemudahan dan kelapangan hidup dari Allah swt. (QS ath-Thalaq [65]:2). Di bulan ini, kita dianjurkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Meminjam istilahnya K. H. Said Aqil Siraj (ketua PB NU), bahwa ketika umat Islam didorong untuk memperbanyak amalan pada bulan Ramadhan, sejatinya puasa di sana mengjarkan umat manusia untuk menemukan fitrahnya, yaitu sebagai makhluk privat-antroposentris dan sosial-antroposentris.

Dari sini, menjadi jelas bahwa Ramadhan itu merupakan wadah pembinaan yang memiliki fungsi strategis. Analoginya, jika lembaga seperti Lemhanas diproyeksikan untuk mencetak SDM unggulan, melahirkan pejabat yang berkualitas, serta memberikan solusi bagi bangsa dan negara, maka Ramadhan juga demikian. Bahkan, lebih daripada itu, Ramadhan telah terbukti menjadi madrasah istimewa yang berhasil melahirkan generasi dan solusi terbaik sepanjang masa. Hal ini, tertungkan dalam hadis Nabi yang diriwayatkan oleh imam Bukhori (IV/221) dan Muslim (760); “Man shama Ramadhana imanan wahtisaban ghufira lahu maa taqaddama min dzanbihi (barang siapa berpuasa Ramadhan dengan penuh iman dan mengharap ridha Allah (maka) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu)”.

Menurut para ahli agama, takwa merupakan puncak kejayaan spiritual. Manusia, jika digembleng selama sebulan penuh dengan melaksanakan puasa, dengan berkah dan rahmat Allah swt. secara spiritual akan muncul pribadi yang khusyuk, tawadduk, dan ikhlas menjunjung tinggi serta internalisasi nilai-nilai ajaran Islam, yaitu menjauhi segala apa pun yang dilarang Allah swt. dan menegakkan segala apa pun yang diperintahkan-Nya. Kemenangan yang diraih adalah kemenangan menundukkan hawa nafsu yang senantiasa bergejolak dalam diri manusia. Itu sejatinya hakikat dari puasa (Ramadhan).

Manivestasi dari visi takwa tersebut, nantinya diharapkan ada perubahan dan pencerahan pascapuasa, yang berupa sikap konsisten, akuntabel, jujur, amanah, dan etos kerja yang luar biasa yang bermuara pada sifat takwa yang dihasilkan dari proses olah batin dan caracter building melalui puasa.

Jika demikian, maka nantinya akan tercipta pribadi-pribadi yang takwa. Dan bayangkan jika para pejabat negara, publik figur, para legislator di DPR, para pelaku ekonomi, para buruh dan karyawan, para pegawai negeri sipil, ABRI, dan seluruh lapisan masyarakat, jika semua menyatu sebagai insan-insan yang takwa (mengikuti segala perintah Allah swt. dan menjauhi segala larangan-Nya), niscaya akan tercipta sebuah komunitas negara yang digambarkan sebagai negeri; baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Untuk itu, marilah kita kuatkan diri kita untuk selalu berpuasa dengan penuh kesadaran menuju perubahan untuk menggapai insan yang takwa, sehingga negeri ini terhindar dari kebobrokan karena korupsi, ketidak jujuran, kerakusan, dan ketamakan, sehingga tidak ada lagi kicauan dan nyanyian korupsi.

Akhir kata, jika kita bisa mengaplikasikan semua hal di atas, maka Ramadhan yang kita jalani ini tidak hanya menjadi ritual tahunan yang tak bermakna. Untuk itu, mari kita jadikan bulan Ramadhan yang tersisa ini menjadi momentum yang strategis untuk “membakar” serta tarbiyah (pendidikan dan pelatihan) kelas tinggi sebagai mengendalikan segala hawa nafsu yang ada. Jangan biarkan hawa nafsu kita terus mengikuti dan menjadi kiblat setelah Ramadhan meninggalkan kita. Wallahualam bissawab...

*telah dimuat di Radar Madura (26 Agustus 2011)

0 Response to "Puasa dan Terapi Diri*"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!