Gagasan Keislaman Hadji Agus Salim*

Mashudul Haq atau yang biasa kita kenal dengan Hadji Agus Salim adalah salah satu tokoh pahlawan nasional yang terkenal sebagai multi-languages (menguasai lebih dari dua bahasa). Tidak kurang dari sembilan bahasa dikuasai Hadji Agus Salim; bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Arab, Turki, Jepang, Indonesia dan bahasa daerah.

Karena itu, tidak heran jika Hadji Agus Salim dikenal banyak kalangan, yang kiprahnya tidak hanya di ranah domestik saja, melainkan sampai pada ranah publik internasional. Dengan kualitas Hadji Agus Salim yang serba bisa, ia aktif dan bisa berkiprah mendunia sebagai penerjemah, ahli sejarah, wartawan, sastrawan, diplomat praktisi pendidikan, filsuf dan ulama. Banyak cendikiawan luar negeri yang memujinya karena kemampuannya sebagai seorang jenius dalam bidang bahasa yang mampu menulis dan berbicara dalam banyak bahasa asing.

Karena berbagai kemampuan yang dikuasainya itu, Hadji Agus Salim diundang sebagai guru besar tamu pada semester musim semi tahun 1953, untuk memberi suatu kursus kuliah tentang agama Islam, dan suatu seminar tentang Islam di Indonesia. Kedua tugas tersebut berjalan dengan lancar dan banyak menimbulkan minat di kalangan kaum mahasiswa. Selama musim semi itu (Januari-Juni), Hadji Agus Salim berhasil memberikan 31 kuliah, yang kesemuanya membicarakan masalah Islam—khususnya sejarah Nabi Muhammad. Semua kuliah Hadji Agus Salim ini kemuadian berhasil dibukukan pada tahun ini, dengan judul “Pesan-Pesan Islam: Rangkaian Kuliah Musim Semi 1935 di Cornel University Amerika Serikat” yang diterbitkan oleh Penerbit Mizan Pustaka, Bandung.

Melalui kuliah-kuliahnya ini, Hadji Agus Salim menjadi pelopor dalam mengenalkan Islam di Amerika Serikat (AS) sekaligus membangun dialog antarperadaban dan iman. Dalam penyampaian kuliahnya itu, di tengah-tengah cerita tentang kisah Nabi, Hadji Agus Salim tidak jarang mengutip dan menggunakan cerita-cerita sejarah bangsa-bangsa Barat atau kejadian-kejadian dunia kontemporer. Hal inilah yang menjadi nilai lebih dari Hadji Agus Salim dalam setiap dakwahnya, mengingat kuliah itu disampaikan di depan orang-orang Barat, AS. Semua ini, kalau saya menilai, merupakan pengejewantahan dari hadis Nabi yang intinya; bahwa dakwah harus disampaikan dalam bahasa kaumnya. Dalam konteks buku ini adalah Barat (Eropa).

Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan catatan atau anotasi dari generasi penerusnya, Cut Aswar. Anotasi-anotasi tersebut terdiri dari empat hal; pertama, menerangkan lebih jauh apa yang dimaksud oleh Hadji Agus Salim. Kedua, mengomentari bahwa Hadji Agus Salim pernah membahasnya dalam bentuk senada atau berbeda. Ketiga, mengemukakan teks-teks yang lebih lengkap. Dan keempat, memberi catatan-catatan tentang kekeliruan Hadji Agus Salim dengan mengemukakan alasan-alasan rasional dan historis, yang juga dilengkapi dengan daftar pengambilannya, di mana pembaca bisa merujuk pada sumber aslinya.

Pelampauan Zaman
Meski isi buku ini disampaikan Hadji Agus Salim pada puluhan tahun silam dan temanya berupa tema yang sudah dibahas banyak buku, namun isi buku ini berbeda dengan buku-buku sejarah Nabi (Muhammad) pada kebanyakan, di mana dalam buku ini ada sisi unik dan menarik yang disampaikan Hadji Agus Salim di dalamnya.

Sisi unik dan menarik yang saya maksud adalah Hadji Agus Salim berhasil berbicara sesuai dengan konteks dan lingkungan tempat penyampaian kuliah waktu itu (AS), yang masih relevan sampai saat ini. Dengan kata lain, Hadji Agus Salim dengan kepiawaiannya berhasil melampaui zamannya, sehingga membaca buku ini, pembaca tidak sekedar membaca gagasan “masa lalu”, namun pembaca juga akan merasakan “masa kini” di lembar-lembar halaman buku ini.

Meminjam istilahnya Anies Baswedan dalam pengantar buku ini (hal, xxxii), bahwa dalam penyampaian kuliahnya di Cornell University ini, Hadji Agus Salim berhasil menjahit masa lalu, masa kini, masa depan menjadi satu pakaian indah yang cocok dengan manusia zaman ini; hangat bagi mereka yang dicekam musim dingin Amerika Utara dan menyejukkan bagi mereka yang berpetualang di padang Arabia.

Tidak hanya itu, dalam buku ini, juga ada hal yang baru dan “menantang”. Dalam satu bagian misalnya, Hadji Agus Salim mencoba menafsiri arti “fardhu” dengan “bagian atau jatah”, bukan “wajib” (hal. 1). Logika dari penafsiran ini adalah, bahwasanya penunaian kewajiban itu bukanlah diperlukan bagi Tuhan, melainkan diperlukan bagi manusia. Untuk itu, jika kita ingin hidup beribadah, maka kita mutlak perlu untuk mematuhi suatu ketertiban, suatu disiplin tertentu. Karena itulah, fardhu adalah bagian atau jatah untuk manusia, yang dianugerahkan atau dikaruniakan Tuhan kepada manusia.

Di bagian lain, Hadji Agus Salim mengungkapkan pendapatnya masalah gender (hal. 308-318). Menurut Hadji Agus Salim, tidak ada aturan tegas dalam agama mengenai boleh tidaknya perempuan terjun dalam dunia publik. Untuk itu, menurutnya, perempuan juga punya peluang untuk menduduki posisi publik (presiden, menteri, gubernur, bupati/wali kota dan sejenisnya), asalkan urusan dapur (baca: rumah tangga) tidak terbengkalai (hal. 313).

Akhir kata, buku ini cocok untuk dibaca oleh semua kalangan, baik mereka yang ingin lebih memperdalami sejarah dan ajaran agama (Islam) maupun mereka yang ingin mengetahui lebih banyak gagasan Hadji Agus Salim—khususnya tentang keislaman.

Data Buku
Judul : Pesan-Pesan Islam; Rangkain Kuliah Musim Semi 1953 di Coenell
University Amerika Serikat
Penulis : Hadji Agus Salim
Penerbit : Mizan Pustaka, Bandung
Cetakan : I, Mei 2011
Tebal : xxxviii + 389 halaman
ISBN : 978-979-433-552-9
Harga : Rp. 82.500

*dimuat di Radar Surabaya, 24/7/2011

2 Responses to "Gagasan Keislaman Hadji Agus Salim*"

  1. Udah nyoaba meresensi, tetp nggak berhasil juga nih.....
    Salut kalo bisa masuk media terus nih.... :)

    BalasHapus
  2. Ayo tearus berjuang Mas Riu...
    Jangan sampek menyerah..
    Selalu ditolak bukan berarti tidak akan dimuat... :)

    BalasHapus

Tinggalkan komenrar Anda di sini!