Misteri De Harmonie

Ada banyak cara bagi seorang yang produktif untuk menginformasikan apa yang ia lihat, dengar, dan baca. Jika seorang muballigh, maka ia kan menginformasikannya lewat ceramah. Jika seorang seniman, maka ia akan menginformasikannya lewat lukisan, karikatur, musik, dan sejenisnya. Dan jika seorang penulis, maka ia akan menginformasikannya lewat artikel, esai, dan buku (fiksi atau non fiksi).

Begitu juga bagi seorang Yanti Soeparmo yang dalam kesehariannya menulis novel. Lewat buku yang berjudul “De Harmonie”, karya terbarunya, Yanti Soeparmo, yang juga pernah berprofesi sebagai wartawan, menginformasikan apa yang ia lihat, dengar, dan baca, dengan kisah yang syarat akan informasi masa lampau, sebelum kemerdekaan 1945.

Cerita dalam buku ini bersetting tahun 1920-an, sehingga nilai historisnya amatlah kaya. Judul De Harmonie diambil dari nama sebuah gedung yang menjadi tempat konflik dalam cerita di dalamnya, yaitu gedung pertemuan termewah di Batavia pada masa kolonial Belanda.

Tokoh sentral dalam buku ini adalah Rafael van Den Berg dan Salma. Rafael van Den Berg—yang biasa dipanggil Rafa—adalah dokter kemiliteran orang Belanda. Dia adalah dokter asal Belanda yang baik hati, ramah, peduli dan sejenisnya. Meski dia sebagai dokter kemiliteran yang tugasnya melayani para tentara Belanda jika sakit, namun ia dengan begitu pedulinya juga mengobati orang pribumi yang membutuhkannya. Ketika Rafa ditugaskan ke Garut, akhirnya dia berhasil menyunting perempuan pribumi yang bernama Salma. Rafa dan Salma hidup rukun dan bahagia di Garut. Namun, tragedi 6 Juli 1919 di Leles memisahkan keduanya, tanpa ada kabar nasib keduanya.

Tragedi 6 Juli 1919 itu merupakan tragedi penyerangan pemerintah terhadap rakyat pribumi, karena rakyat dianggap tidak patuh pada pemerintah. Rafa yang waktu tragedi itu tidak ada di Leles harus kehilangan kabar Salma, istrinya, tak tahu entah ke mana. Apakah Salma ikut menjadi korban penyerangan itu atau tidak, itu tidak ada kabar. Pencarian Rafa pun tidak membuahkan hasil, hingga akhirnya Rafa diharuskan kembali ke Batavia.

Tragedi itu juga tidak luput dari adanya perbedaan antara orang pribumi dan orang Belanda yang kala itu sangatlah kental. Diskriminasi orang Belanda terhadap orang pribumi sangat tampak. Hal itu bisa ditemukan pada bacaan; “Verboden voor Inlanders en honden” di papan yang biasa dipajang di depan Societeit Harmoni, yang berarti, “dilarang masuk untuk orang pribumi dan anjing”. Kalimat itu banyak terdapat di area publik pada masa kolonial Belanda karena politik diskriminasi rasial yang menempatkan orang pribumi sebagai warga kelas terendah.

Titik konflik cerita dalam buku ini ketika malam peringatan ulang tahun Ratu Wilhelmena, yang diperingati di Societeit De Harmonie. Di malam pesta istimewa itu semua orang Eropa papan atas pasti datang dalam peringatan itu. Semua orang tidak akan ada yang menolak untuk menghadiri undangan pesta dansa di Harmonie itu. Karenanya, sampai ada ungkapan; “jika ingin mencari seorang pria Eropa kaya yang tinggal di Batavia, tapi tidak tahu alamatnya, maka carilah di Societeit De Harmonie”.

Salma yang datang dari Garut untuk mencari Rafa, suaminya, memanfaatkan perayaan ulang tahun ratu di De Harmonie itu. Salma datang ke De Harmonie dengan mencoba menjadi pelayan di malam perayaan itu.

Pesta peryaan pun berjalan dengan semarak. Namun ditengah semraknya pesta dansa malam itu, di halaman De Harmonie ditemukan sesosok mayat seorang pria Belanda. Pria Belanda itu diketahui bernama Vlekke, seorang tentara yang sudah berpangkat mayor.

Mendapatkannya, inspektur polisi, Jacques Hasselar, mengumpulkan semua yang dartang untuk diintrogasi, karena diyakini pelakunya ada di antara hadirin yang hadir. Rafa yang hadir malam itu hadir mengaku sebagai pelaku pembunuhan pria Belanda itu. Meski Inspektur Hasselar agak tidak yakin terhadap pengakuan Rafa, Rafa pun akhirnya ditahan untuk diperiksa lebih lanjut.

Di tengah pemeriksaan dan penyelidikan lebih lanjut, tiba-tiba Salma datang ke tahanan ingin menyerahkan diri, mengaku bahwa dia pelakunya, bukanlah Rafa. Hasselar semakin bingung mengani kasus ini. Di tengah kebingungan itu, muncul lagi seorang pria Indo-Belanda dan pria pribumi sebagai tersangka pembunuhan di De Harmonie itu. Dua orang itu adalah Daniel dan Midin, kusir kereta Mayor Vlekke sendiri. Siapakah pelakunya? Itulah misteri De Harmonie. Jawabannya akan ditemukan di dalam cerita buku yang penuh suspense ini.

Meski buku ini merupakan buku yang ber-genre fiksi, namun isi di dalamnya penuh dengan data. Data yang bernilai historis. Untuk itu, tidak aneh jika dalam buku ini juga ada catatan kakinya. Dari buku ini pembaca akan mendapatkan informasi akan peninggalan terdahulu, zaman kolonial Belanda, yang pada saat ini sudah ada yang berubah bentuk, yang dijelaskan dalam buku ini.

Sebelumnnya mungkin kita tidak tahu akan asal-usul Harmoni yang sekarang ada di Jalan Majapahit dan Jalan Veteran, Jakarta Pusat, namun setelah membaca buku ini kita akan mengetahui bahwa Harmoni itu adalah Societeit De Harmoni yang pada tahun 1985 dirobohkan untuk memperluas lahan parkir bagi kantor Sekretariat negara. Dan masih banyak lagi info sejarah masa lalu dalam buku ini.

Data Buku
Judul : De Harmonie
Penulis : Yanti Soeparmo
Penerbit : Laksana, Jogjakarta
Cetakan : I, Maret 2011
Tebal : 384 Halaman
ISBN : 978-602-978-534-0
Harga : 46.000

1 Response to "Misteri De Harmonie"

  1. gambar depan yang cewe kaya lee da hae..
    ato emang bener dia kali ya..

    BalasHapus

Tinggalkan komenrar Anda di sini!