Reaktualisasi Makna Hijrah


Oleh: Abd. Basid

Hari
ini (7/12) umat Islam memasuki dan merayakan tahun baru hijriyah, 1432 H. Dengan datangnya tahun baru hijriyah ini semua umat Islam pastinya berharap semoga bisa mengawali awal tahun dengan baik dan penuh makna. Berbagai macam ritual dan introspeksi diri dilakukan tidak lain agar bisa memaknai tahun baru hijriyah dengan penuh arti.

Secara harfiyah makna hijrah berasal dari kata bahasa arab hajara-yahjuru-hijratan yang berarti perpindahan ke lain negeri atau pemisahan diri dari handai taulan atau negeri asal. Sedangkan secara teknis-islami, hijrah adalah keberangkatan Nabi Muhammad dari Makkah (tempat kelahirannya) ke Madinah. Peristiwa itu bertepatan dengan 24 September 622 M. Dari peristiwa hijrah Nabi inilah kemudian Umar bin Khattab memulai penanggalan hijriah.

Namun, kalau kita tarik pada era masa kini, maka setidaknya kata hijrah ini tidak terbatas pada perpindahan Nabi dari Makkah ke Madinah atau perpindahan seseorang dari satu tempat (baca: negara) ke tempat yang lain. Di saat ini, yang bangsa kita ini lagi dilanda berbgai macam krisis, mulai dari krisis kepemimpinan sampai krisis sosial sesama, orang-orangnya setidaknya bisa mereaktualisasi makna hijrah itu sendiri.

Bermacam bencana terjadi di Indonesia, seperti banjir di Wasior, tsunami di Mentawai, letusan Gunung Merapi dan gunung Bromo yang diberitakan mengancam adalah salah satu gambaran akan kebobrokan bangsa ini. Di tataran praktis, di saat masyatakat Yogyakarta belum sembuh “sakitnya” karena musibah Merapi yang menimpanya kini mereka diterjang lagi dengan permasalahan monarki yang mengusik kelenggangan rakyat.

Untuk itu, seiring dengan semangat tahun baru hijriyah ini, alangkah baik dan bermaknanya jika kita bisa hijrah dari kiri ke kanan, cuek ke peduli, iri ke ikhlas, korupsi ke jujur, dan lain sejenisnya.

Kita yang awalnya cuek untuk saudara-saudara kita yang lagi tertimpa musibah, dengan semangat hijrah kita diharapkan bisa peduli mereka. Kita yang awalnya tega membiarkan rakyat sengsara, dengan semangat hijrah diharapkan bisa merangkul mereka dan memberikan hak-hak rakyat yang kita “mutilasi”. Kita yang awalnya ingin menguasai karena nafsu pribadi, dengan semangat hijrah diharapkan bisa mengontrol egoisme diri untuk mengebiri. Kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah atau APBN/APBD yang awalnya sama sekali tidak ditujukan untuk kaum miskin, dengan semangat hijrah diharapkan bisa tertujuakan. Kaum miskin yang awalnya hanya dijadikan figuran untuk mendongkrak suara saat pilpres dan pilkada, dengan semangat hijrah diharapkan bisa dijatidirikan.

Hal yang seperti inilah yang sejatinya disiratkan al-Qur’an dalam memaknai kata hijrah untuk konteks masa kini. Banyak istilah al-Qur’an yang mengandung arti kias yang kalau kita kaji kembali akan mempunyai relevansi dengan makna segala zaman, termasuk makna hijrah (hajara-yahjuru-hijratan) itu sendiri—yang nantinya akan bersifat agamis dan akhlak.

Perubahan istilah-istilah Arab kuno merupakan suatu proses islami. Banyak kata Arab diubah oleh bahasa al-Qur’an dan kebiasaan islami menjadi istilah-istilah teknis yang islami, yang mengandung makna religius atau nilai yang berkaitan erat dengan Islam seperti kata shalat, iman, islam, zakat, hajj, tasbih, taqwa dan sebagainya.
Dalam hal ini, al-Qur’an menggunakan perubahan-perubahan istilah “hijrah” dalam perintahnya untuk menghindar dari keburukan (QS. 74: 5), berpaling dari istri yang tidak patuh (QS. 44: 3), tidak mengabaikan al-Qur’an (QS. 25: 30), untuk meninggalkan orangtua yang tidak beriman dengan cara baik-baik bukan dengan melukai hatinya (QS. 73: 10), kembali pada Tuhan dengan harapan mendapatkan petunjuknya (QS. 29: 26) dan sebagainya.

Semua itu, adalah arti baru yang oleh Islam diterapkan pada akar kata: h-j-r beserta kata turunannya, yang mana arti etis-religious itu melebihi arti harfiyah hajara (berpindah) itu sendiri. Hijrah akan menjadi praktik keagamaan terbesar untuk meninggalkan tuntutan-tuntutan keduniaan demi keshalehan, pencurahan tenaga demi kesucian dan kemuliaan hakiki dan lain sejenisnya.

Akhir kata, bergantinya tahun hijriyah 1432 ini mungkin bisa kita dijadikan momentum untuk mereaktualisasi makan hijrah itu sendiri yang nantinya bisa mengkonsep diri pribadi dan bangsa yang sungguh peduli pada sesama dan rakyat-bangsa yang bermartabat, dengan cara meninggalkan dominasi syahwat, segala bentuk akhlak buruk serta dosa menuju kebaikan yang diridhai Tuhan (QS. 29: 26). Selamat tahun baru hijriyah 1432 H.

0 Response to "Reaktualisasi Makna Hijrah"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!