Pintaku Pada Wali Kota Surabaya


Oleh: Abd. Basid
Semua orang tahu kalau Jakarta merupakan kota metropilitan nomor satu dan Surabaya merupakan kota metropolitan kedua setelahnya. Maka dari itu, sudah barang tentu kalau di dua kota besar tersebut sering terjadi kemacetan dan keluhan.

Coba kita tengok sejenak kota Surabaya. Di setiap harinya tidak lepas dari macet. Saya yang tinggal di Jl. A. Yani selalu melihat pemandangan itu. Tidak hanya itu, saya juga menemukan kekurang lengkapan fasilitas yang ada di sepanjang jalan kota Surabaya.

Dalan hal ini (hal kekurangan) saya contohkan apa yang ada di depan Royal Plaza. Di sana tidak ada lampu lalu lintas, lintasan penyebrangan (zebra cross), jembatan dan sejenisnya. Padahal jalan raya itu, sering dilintasi dan disebrangi para pengunjung dan anak sekolahan, SD.

Royal Plaza merupakan salah satu pusat perbelanjaan yang di dalamnya ada toko-toko, mulai dari pernak-pernik, restoran, toko buku (Gramedia), bioskop dan lainnya. Dari sekian banyak dan bermacam-macamnya fasilitas yang ada di dalamnya sudah pasti pengunjungnya tidak sedikit dan datangnya (juga) dari berbagai penjuru, baik lokal maupun luar. Ketika seperti ini, maka hal ini merupakan salah satu kebanggaan kota Surabaya dan pemimpinnya (wali kota).

Selain itu, di belakang Royal Plaza itu terdapat sekolah SD yang pastinya rame dan dari mereka tidak semuanya berkendaraan pribadi. Banyak di antara mereka yang bersepeda ontel, ngelyn, dan sejenisnya.

Yang menjadi sorotan saya di sini, ketika para pengunjung Royal Plaza dan anak SD tersebut berangkat dan pulang dengan pengambilan jasa lyn (angkot) dan harus menyebrang di depan Royal Plaza. Ketika seperti itu sudah barang pasti, jalan depan Royal Plaza yang tidak pernah sepi dari kendaraan sangat berbahaya bagi mereka yang menyebrang di sana.

Pernah suatu ketika, saya dengan tiga teman cewek nonton filmnya Opick, “Di Bawah Langit” di bioskop 21 di Royal Plaza tersebut. Kami yang ngelyn dan datangnya dari arah selatan tidak menemukan masalah (baca: keluhan), akan tetapi ketika kita mau pulang, maka kita mau tidak mau harus nyebrang jalan untuk menunggu lyn pulang ke arah selatan (lagi). Dalam proses nyebrang itu, saya yang hanya seorang cowok harus menjadi pengomando untuk bisa nyebrang dan melintas di depan Royal Plaza tersebut. Karena lalu-lalang kendaraan yang sulit untuk menemukan celah lenggang, waktu itu kita tidak secepat kilat langsung nyebrang, akan tetapi kita harus mencari celah lenggang kendaraan yang sekiranya tidak berbahaya bagi kita.

Saya kira hal yang saya alami ini tidak hanya terjadi pada saya dan tiga teman saya tadi, melainkan juga terjadi pada orang lain yang ingin nyebrang di sana. Terbukti waktu itu banyak orang yang mau nyebrang dan senasib dengan saya.

Singkatnya, melihat lalu-lalang kendaraan yang tidak pernah sepi dan banyak orang menyebrang di sana, kiranya menjadi kewajiban bagi pemerintah kota Surabaya khususnya, selaku yang mengurus dan menata kota Surabaya, untuk mencegahnya dengan memberikan solusi terbaik, karena bagaimana pun juga memberikan solusi akannya juga berarti mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan. Ketika seperti itu, memberi solusi berarti sudah berusaha mengurangi meningkatnya angka kecelakaan, yang juga berarti menyelamatkan generasi penerus (bangsa) ini—karena dari mereka nantinya akan lahir kader-kader unggul bagsa ini.

Hemat saya, ada beberapa hal yang bisa dijadikan solusi akan masalah di atas. Pertama, penyediaan petugas lalu lintas di setiap saat. Petugas lalu lintas di sina dimaksudkan untuk mengawal mereka yang mau nyebrang, dengan harapan nantinya para penyebrang merasa lebih yakin dalam keamanannya. Dan selain itu, kalau ada apa-apa nantinya (juga) bisa lebih cepat teratasi karena di sana sudah ada petugas. Jadi, petugas lalu lintas di sana tidak hanya bertugas mengawasi dan mengatur biar jalannya lalu lintas tidak macet, akan tetapi juga berperan mengawal mereka yang mau nyebrang.

Kedua, penyediaan zebra cross. Seperti yang sudah jamak. Ketika ada zebra cross, maka pengendara yang lewat di sana secara otomatis akan menurunkan kecepatan kendalinya. Dan alangkah lebih baiknya lagi umpamanya juga ada zebra cross dan petugas lalu lintas, seperti halnya di depan rumah sakit Bhayangkara, dekat Kapolda Jatim. Di sana ada zebra cross untuk orang yang mau menyebrang dan juga ada petugas—meski tidak setiap saat—yang mengawal mereka yang mau nyebrang.

Ketiga, pengadaan tangga penyebrangan yang melintasi dan menyambung dari depan Royal Plaza (barat) ke arah timur. Jika tangga penyebrangan ini di-ada-kan, maka secara otomatis solusi yang pertama dan kedua di atas tidak perlu di-ada-kan.

Solusi yang ketiga ini memang lebih banyak menghabiskan biaya, akan tetapi, hemat saya, buat apa kita memperhitunkang biaya banyak demi kepentingan khalayak umum. Toh, jika tangga penyebrangan ini dilintangkan, maka nantinya di sana juga ada keuntungan materi untuk pemkot Surabaya, yang lambat laun nantinya bisa menutupi biaya untuk pengadaan jembatan penyebrangan itu. Keuntungan materi yang saya maksud di sana adalah nantinya di sana bisa disediakan space iklan untuk siapa saja. Dari ongkos space iklan tadi pastinya masuk kas kota dan bisa menutupi biaya mengadaan jembatan penyebrangan tersebut. Solusi ketiga ini bisa dilihat seperti yang ada di depan kampus IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Sunan Ampel atau Ubhara (Universitas Bhayangkara).

Di depan IAIN terdapat jembatan penyebrangan yang melintang menjembatani siapa yang mau nyebrang (khusunya mahasiswa) dari arah timur ke barat atau sebaliknya. Di sebrang barat jemabatan itu ada Ubahara, Graha Pena (Jawa Pos), dan Kapolda Jatim. Dan di sebrang timur kampus IAIN Sunan Ampel.

Untuk itu, jika di depan Royal Plaza dibangun jembatan penyebrangan, maka hal itu pasti lebih aman dan menjanjikan untuk keselamatan masyarakat lokal dan umum.
Kiranya, seperti itulah yang saya temukan di salah satu sudut kota Surabaya, kota metropolitan kedua ini. Besar harapan jika “keluhan” ini sama pemerintah kota Surabaya tidak dianggap sebagai angin lewat. “Keluhan” ini merupakan keluhan cinta saya terhadap Surabaya. Hanya ini pintaku pada jenengan wali kota baruku.

0 Response to "Pintaku Pada Wali Kota Surabaya"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!