Reaktualisasi Sumpah Pemuda*


Oleh: Abd. Basid

Tepat tanggal 28/10 diperingati Hari Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda ini lahir setelah adanya Kongres Pemuda II, 82 yang lalu. Kongres Pemuda I berlangsung di Jakarta, 30 April-2 Mei 1926. Di kongres itu, pemuda Indoensia membicarakan pentingnya persatuan bangsa bagi perjuangan menuju kemerdekaan.

Selanjutnya, pada 27-28 Oktober 1928, para pemuda Indonesia kembali mengadakan Kongres Pemuda II dan tepat pada 28 Oktober, seluruh peserta membacakan Sumpah Pemuda sehingga momen bersejarah tersebut ditetapkan sebagai Hari Sumpah Pemuda. Banyak tokoh yang menjadi peserta dalam Kongres Pemuda I dan II. Mereka datang mewakili berbagai organisasi pemuda yang ada saat itu. Mereka adalah wakil-wakil angkatan muda yang tergabung dalam Jong Java, Jong Islamieten Bond, Jong Sumatranen Bond, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Ambon, Minahasa Bond, Madura Bond, Pemuda Betawi.

Dari sini, kita tahu bahwa lahirnya Sumpah Pemuda menunjukkan begitu kuatnya hasrat kalangan muda Indonesia waktu itu. Pemuda yang waktu itu terdiri dari berbagai suku dan agama, berjuang dan bersumpah untuk menggalang persatuan bangsa dalam melawan kolonialisme Belanda, yang akhirnya mereka melahirkan sebuah sumpah yang berbunyi; “kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu: tanah Indonesia. Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu: bangsa Indonesia. Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa yang satu: bahasa Indonesia”.

Kesadaran dan tekad bulat generasi muda saat itu untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bumi pertiwi sangatlah kuat. Dari situ lahir suatu kekuatan besar untuk bersama-sama, tanpa memandang suku, ras, golongan, mengusir penjajah dari bumi pertiwi menuju kemerdekaan.

Sekarang; bagaimana dan seperti apa pemuda Indonesia di era modern ini? Masih adakah semangat perjuangan pemuda terdahulu di era modern ini?

Hemat saya, sudah tidak banyak pemuda sekarang yang masih idealis seperti pendahulunya. Tidak sedikit kita temukan sikap pragmatisme pemuda kita yang lebih mengedepankan pribadi; ingin kaya, terkenal, dan sukses dalam karir, berbanding terbalik dengan rendahnya partisipasinya di bidang politik dan pemasyarakatan.

Antara Dulu dan Sekarang
Dulu penjajah memecah belah pribumi dengan menanamkan identitas etnik. Tujuannya agar tidak terjadi persatuan di tanah koloni. Hal itu yang kemudian disadari generasi muda yang melahirkan Sumpah Pemuda. Namun, kini penjajah menjajah (kembali) dalam bentuk yang sangat halus. Mereka menjajah kita dengan mencekoki pemuda dengan virus-virus negatif laiknya pragmatisme, hedonisme, dan sejenisnya. Tujuannya agar generasi masa depan pribumi “KO” dan tidak berdaya fungsi. Dan ini kayaknya belum disadari betul oleh generasi muda kita, di era modern ini.

Untuk itu, mari kita sebagai pemuda bangsa ini sebisa mungkin melawan tantangan dan jajahan ini. Karena bagaimanapun juga, kita (pemuda) adalah penerus estafet perjuangan, apabila pemuda kita dididik dengan baik tentunya masa depan suatu masyarakat (bangsa) dapat terjamin dengan baik, demikian pula sebaliknya.
Sejarah telah membuktikan kepada kita bagaimana peranan pemuda sangat mendominasi dalam setiap perubahan yang ada di dunia ini. Eksistensi pemuda dalam suatu bangsa mutlak dibutuhkan. Bangsa tanpa pemuda, ibarat bangsa tanpa masa depan. Pada tangan pemudalah tindak-tanduk urusan umat (baca: bangsa/negara) dan pada kendali pemuda juga ada kehidupan umat. Hal ini singkron dengan ungkapan; “inna fi yadis syubbani amral ummahat, wa fi aqdamiha hayataha”.

Dalam hal ini, Bung hatta, sang proklamator, dalam salah satu pidatonya yang terkenal dengan tajuk Fajar Menyingsing, pernah mengungkapkan; “pemuda Indonesia, engkau pahlawan dalam hatiku”. Selanjutnya Bung Hatta juga menambahkan; “saya percaya akan kebulatan hati pemuda Indonesia yang percaya akan kesanggupannya berjuang dan menderita”.

Yang jelas, maksud pemuda bagi Bung Hatta di atas bukanlah sembarang pemuda. Pemuda yang dimaksud adalah sosok-sosok yang penuh idealisme, berani berkorban, berani menderita, dan menjadi pelopor setiap perubahan sosial politik untuk kepentingan bangsanya.

Akhir kata, kiranya, reaktualisasi nilai dan semangat yang ditunjukkan generasi muda terdahulu yang melahirkan Sumpah Pemuda harus bisa menjadi sebuah keniscayaan bagi pemuda kita sekarang ini. Atau bila perlu, generasi muda saat ini melahirkan sumpah pemuda jilid II. Tujuannya, agar ada semangat baru untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik di masa depan.


*tulisan ini diikutkan dalam lomba Soempah Pemoeda 2.0 bersama XL

7 Responses to "Reaktualisasi Sumpah Pemuda*"

  1. Terus terang, secara pribadi saya masih ragu apakah makna dan hakikat Sumpah Pemuda 1928 ini benar2 sudah dipahami oleh generasi ini??

    Tak perlu lah berdebat masalah ideologi politik dan idealisme.. tengok saja hal2 sederhana seperti kebiasaan berbahasa Indonesia kita sehari-hari.. apakah sudah mencerminkan semangat Sumpah Pemuda..????

    Pertanyaan sederhananya bisa dicontohkan seperti ini: Istilah manakah yang lebih sering kita pakai, antara GUE dan SAYA.. antara ELO dan ANDA.. antara BOKAP dan AYAH ... dst... ???

    tentu masing2 bisa menilai dirinya sendiri....

    BalasHapus
  2. @ Riu: salam sumpah pemuda juga mas..

    @ Mas Iqbal: terima kasih mas..

    BalasHapus
  3. Kasian pemimpin kita yang telah tiada,,, begitu besar harapan mereka, begitu juga para pencetus gerakan sumpah pemuda... Jadi teringat waktu baca buku wawancara dengan Pramoedya Ananta Toer: Indonesia sedang dalam proses pembusukan, dan akan terus membusuk lagi,,, ditambah dengan bencana yang bertubi2, mungkin bukan hanya peringatan bagi pemimpin, tapi para pemuda yang harusnya bergerak berbuat sesuatu...

    BalasHapus
  4. Tapi sayang... Pemuda kita sekarng lebih bangga dengan budaya dengan budaya orang lain. kita lebih bangga kalo kita memakai produk made in Malaysia, made in Amerika, made ini Japan, dll.
    Pemuda kita juga terperangkap dalam hedoni budaya barat, lebih tepatnya ikut-ikutan. Orang barat suka pamer aurat, kita menirunya. orang barat Libral kita menirunya.
    Bahkan yang lebih parah, kita akan di cap kampungan kalau kita pake sarung dan memakai hem batik.

    BalasHapus
  5. @ Linna: ya kita sebagai pemuda masa kini setidaknya bagaima sebisa mungkin melanjutkan perjuangna mereka Lin. Di era modern ini kita tidak sering dihadapkan pada kekerdilan...

    @ Kholil Aziz: ya itulah maksud dari akhir tulisan di atas. Jiwa nasionalisme kita memang tidak jarang harus disoal. Tapi marilah kita sebagai generasi muda untuk selalu cinta tanah air. Saya tidak malu dan g peduli apa kata orang kalau memakai batik dan sarung itu kampungan. Emangnya GUA pikirin.. hehehe

    BalasHapus

Tinggalkan komenrar Anda di sini!