Sadar Penggunaan Elpiji


Oleh: Abd. Basid

Salah satu berita hangat sekarang ini adalah fenomena meledaknya tabung elpiji, baik yang 3 kg maupun yang 12 kg, yang terjadi di mana-mana dan banyak memakan korban. Hampir setiap hari ada berita meledaknya tabung elpiji. Seolah-olah tiada hari tanpa ledakan tabung elpiji.

Di surabaraya misalnya, beberapa minggu yang lalu (26/6), kebakaran terjadi di sebuah pusat perbelanjaan, Sinar Supermarket, yang diduga kuat karena disebabkan meledaknya tabung elpiji ukuran 50 kg. Sebelum itu, Kamis (3/6), hal yang serupa terjadi di Jl. Slompretan Surabaya, yang menewaskan 4 orang dan meruntuhkan 2 bangunan akibat bocornya tabung elpiji yang dipindah dari tabung 3 kg ke tabung 12 kg.

Meski kejadian yang membahayakan ini sudah sering terjadi dan banyak memakan korban, tapi penggunaan elpiji tetap menjadi alternatif masyarakat. Semua itu tidak lain karena mau tidak mau mereka tetap harus menggunakan elpiji dalam kebutuhan sehari-hari. Mau kembali pada minyak gas, tidaklah mungkin karena melihat harga minyak gas yang sudah tidak seimbang lagi.

Karena demikian, bagaimana agar fenomena ledakan yang sudah memakan korban ini tidak terulang lagi, maka kesadaran dari semua pihak, baik konsumen maupun pemerintah, harus diperhatikan.

Salah satu cara teraman dan cepat adalah, pertama; pemerintah (baca: pertamina) mengajak masyarakat kembali ke minyak gas lagi dengan menurunkan dan memurahkan harga minyak gas seperti dulu lagi.

Kedua, jika elpiji tetap mau dipertahankan, maka cara lainnnya; pertamina harus segera menarik tabung-tabung elpiji yang sudah ada pada titik rawan dan ditemukan tidak memenuhi standar SNI (standar nasional Indonesia), dengan sambil mensosialisasikan kepada tiap-tiap pertamina cabang yang ada di daerah-daerah, biar pemerintah tidak terkesan ingin membunuh masyarakat secara massal tapi perlahan, sedikit demi sedikit. Karena seperti yang kita tahu bahwa pemerintah dalam mensosialisasikan penggunaan elpiji yaitu dengan sebuah programnya, subsidi konversi minyak tanah ke elpiji, dengan cara membagikan elpiji secara gratis kepada masyatakat.

Ketiga, adanya pengawasan dan sosialisasi pembatasan jangka waktu pemakaian tabung. Untuk sosialisai misalnya dengan penempelan nomor pelayanan konsumen dengan nomor 021-500-000 dan ponsel nomor 021-791-73000 di tabung elpiji. Selain itu, poster atau pamflet dan penyampain langsung kepada masyatakat.

Keempat, penambahan zat pembau dalam komponen elpiji agar elpiji yang bocor dapat terdeteksi dengan segera oleh konsumen. Serta nomor SNI yang ditempelkan di tabung elpiji agar tidak dipalsukan pihak lain.

Kelima, selain pemerintah yang harus waspada, konsumen juga harus memperhatikan hal-hal dan mengantisipasi agar dalam penggunaan tabung elpiji tidak berhaya, yaitu dengan memperhatikan beberapa hal, seperti menggunakan selang yang sesuai dengan standar SNI, memasang erat selang dengan klem pada regulator atau kompor, memastikan selang tidak tertindih atau tertekuk, dan siap siaga dengan selalu memeriksa kemungkinan kebocoran gas.

Akhir kata, beberapa hal di atas itulah yang perlu diperhatikan untuk mencegah dan mengantisipasi semakin banyaknya korban akibat penggunaan elpiji. Jadi, kita (pemerintah dan masyarakat) harus sadar dalam penggunaan elpiji, sehingga kalau kita sudah saling waspada dan sadar, maka tidak akan ada yang harus disalahkan. Pemerintah tidak menuding masyarakat karena alasan “lalai” dan begitu juga sebaliknya. Pemerintah dan masyarakat haruslah saling mendukung. Mari kita sadar penggunaan elpiji.

0 Response to "Sadar Penggunaan Elpiji"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!