Indonesia dan Semarak Piala Dunia*


Oleh: Abd. Basid

Euforia piala dunia pasti merupakan moment terpenting bagi para pencinta bola di seluruh belantara dunia ini. Setiap perhelatan empat tahunan ini tiba, semua orang tidak mau ketinggalan untuk mengabadikannya—termasuk mereka para pemerintah yang berebut untuk bisa menjadi tuan rumah. Karena di samping negaranya akan otomatis lolos kualifikasi dan terbaca oleh dunia, menjadi tuan rumah piala dunia juga akan menguntungkan dalam segi materi (baca: ekonomi), karena pada moment piala dunia akan banyak menghasilkan kepesatan ekonomi yang datangnya dari berbagai negara yang ada. Maka, sebuah kesempatan berarti untuk bisa membuka berbagai jenis usaha pada waktu perayaan piala dunia.

Tidak luput pula bagi mereka para pemain dari masing-masing negara yang tampil di lapangan. Segala bentuk atraksi dan kejunilan akan ditampilkan—termasuk dalam hal penampilan yang nantinya akan menjadi sorotan mata penonton, baik yang hadir langsung maupun tidak.

Lihat saja pada piala dunia tahun sebelumnya. Banyak pemain bergaya lewat rambut yang diseting sekreatif mungkin ketika di lapangan. Seperti pada piala dunia tahun 1990, Carlos Valderrama, pemain asal Kolumbia tampil dengan ciri khas rambut kriwil yang tebal dengan warna coklat. Gaya rambut ini pada waktu itu dikenal dengan sebutan electified afro.

Selain Carlos Valderrama, Ruud Gullit juga tampil beda di lapangan. Pemain asal Belanda ini mengepang kecil-kecil rambut panjangnya—yang kemudian banyak ditiru oleh beberapa para pemain pada piala dunia di Perancis, tahun 1990, seperti yang ditiru oleh Clarence Seedorf (Belanda) dan Taribo West (Nigeria).

Selain itu, gaya kepala plontos juga mempopuler di lapangan, seperti yang bisa kita lihat dan ingat penjaga gawang terkenal dari Perancis, Fabien Bartes dan Juan Sebastian Veron (Argentina)—yang sampai pada piala dunia 2010 ini, Veron masih tampil dengan kepala plontosnya.

Namun, dari semua pemain, sampai saat ini David Beckham tampaknya yang mendapat pelototan mata teringgi dalam urusan kreasi rambut. Gaya mohawk ala rambut Beckham yang dikreasikan pada piala dunia 2002 ini menjadi tren anak muda, termasuk pemuda Indonesia. Lihat saja di keliling kita.

Kembali pada semarak piala dunia, piala dunia memang merupakan aktivitas yang paling mampu mengumpulkan dan mempersatukan umat manusia. Tanpa harus diundang dan dikomando jutaan manusia akan berdatangan untuk menyaksikan langsung jalannya pertandingan dan men-suppord negara dan jagoannya masing-masing. Mereka yang tidak datang langsungpun, akan berkumpul memenuhi ruangan dengan “ritual” nonton bareng, tanpa kenal waktu meski tayang dini hari.

Indonesia dan Piala Dunia

Selanjutnya, kalau dikaitkan dengan Indonesia, rasanya Indonesia harus malu melihat kualitas pemain dan suporter sepak bola kita. Seperti yang kita tahu, kualitas pemain kita jauh di bawah rata-rata. Sudah puluhan tahun—pasnya 72 tahun—Indonesia hanya ikut menonton negara lain dalam piala dunia.

Dalam sejarah, Indonesia hanya pada tahun 1938 yang bisa ikut serta dalam piala dunia di Perancis, yang mana Indonesia waktu itu masih berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda dan para pemainnya pun terdiri dari berbagai etnis. Dalam hal ini, RN Bayuaji dalam bukunya, Tionghoa Surabaya dalam Sepak Bola (2010), menyebutkan bahwa dalam tim tersebut terdapat pemain orang Belanda, Tionghoa, dan Bumiputera.

Mengapa sepak bola Indonesia tidak pernah lagi berbicara di tingkat dunia? Freek Colombijn, antropolog lulusan Ledin dan mantan pemain Harlemsche Football Club Belanda, mengungkapkan bahwa posisi sepak bola Indonesia dalan percaturan dunia kini berada dalam posisi periferi (pinggiran).

Garry Amstrong dan Richard Giulianotti dalam bukunya, Football Cultures and Identities (1999), mengatakan dan menggarisbawahi bahwa keterpurukan prestasi sepak bola Indonesia adalah sebagai akibat dari masih meruyaknya budaya kekerasan di teater sepak bola kita dan belum kokohnya budaya demokrasi di negeri ini.

Semua itu terbukti apa adanya. Coba kita lihat bagaimana cara para suporter di Indonesia dalam mendukung jagoannya. Tidak jarang kekerasan menjadi alternatif untuk meluapkan kekecewaannya. Suporter kita tidak siap menerima kekalahan dan kekewaan yang memang sudah menjadi resiko setiap perlombaan dan pertandingan.

Mungkin yang masih melekat di benak kita, tragedi di Bandung, ketika Bonex (sebutan untuk suporter Persebaya) membuat kericuhan dan menelan korban pada bulan Februari kemarin. Memalukan!

Semua itu, harus kita akui. Dan seiring dengan perhelatan piala dunia tahun ini, yang diadakan di Afrika Selatan, setidaknya kita bisa mengoreksi diri dan bisa mengaca pada Afrika Selatan—yang mana Afrika Selatan setelah mengalami sejarah kelam tergencet politik apartheid panjang. Namun, setelah bangkit dalam rekonsiliasi dan akhirnya pada tahun ini menjadi tuan rumah piala dunia 2010, kali ini. Selamat untuk Afrika Selatan dan Bapak bangsanya, Nelson Mandela, yang menjadi simbol perdamain bagi Afrika Selatan.

*dimuat di Radar Madura (8/7/2010)

0 Response to "Indonesia dan Semarak Piala Dunia*"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!