Siapa Susno Sebenarnya?


IzHarry Agus Jaya Moenzir. Khusunya kalangan wartawan, siapa yang tidak kenal anggota Dewean Kehormatan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) ini. Pengalaman kewartawanannya—baik di dalam atau luar negeri—membuat IzHarry begitu lihai menuliskan hasil wawancaranya dengan Susno dan dibukukan, yang kemudian diberi judul; “Bukan Testimoni Susno”. Bahasa yang ia gunakan begitu ringan, mengalir, dan tidak usah mengernyitkan dahi, sehingga tidak butuh banyak waktu untuk memahami dan mengikuti alur ceritanya.

Seperti yang diutarakan IzHarry dalam prawawancaranya (hal. vii-x), bahwa buku ini ia tulis berawal dari kebenciannya kepada Susno Duadji. Hal itu IzHarry rasakan tatkala dia melihat sosok Susno tampil di Komisi III DPR RI bersama jajaran kepolisian. Setelah mendengar rekaman penyadapan yang diputar oleh Mahakamah Konstitusi (MK), ia menilai Komisaris Jenderal Polisi itulah sebagai dalangnya.

Namun, kemirisan itu hilang pelan-pelan ketika sosok Susno hadir di persidangan Antasari Azhar. Kala itu IzHarry terpesona dibalut oleh gumpalan kata. Tampilan Susno membungkusnya untuk berpendapat bahwa pria gempal itu sedang berucap kebenaran. Tentang sesuatu yang tidak dikarang-karang. Tentang pesan yang datang dari kalbu. Suara nurani yang melantun tulus (hal. viii).

Kebencian IzHarry tersebut wajar terjadi, karena waktu itu seluruh media, baik cetak maupun elektronik, memberitakan bahwa Susno telah memberi bantuan kepada Budi Sampoerna untuk mencairkan dana simpanan Sampoerna Group di Bank Century. Imbalannya Rp. 10.000.000,-.

Setelah MK membuka rekaman sadapan, suasana tanah air bergonjang ganjing. Publik mendesak menuntut agar Kabareskrim, Susno Duadji dan Wakil Jaksa Agung, Abdul Hakim Ritonga diberhentikan dari tugas karena nama keduanya banyak disebut-sebut—yang akhirnya Abdul Hakim Ritonga menyatakan memundurkan diri secara lisan dan surat resmi (hal. 59).

Selain itu, banyak pemojokan yang ditujukan kepada Susno, seperti soal sepele ketika dia diminta kesaksiannya meringankan terdawa Antasari Azhar pada kasus pembunuhan Nasruddin Zukarnain (83-85). Pemojokan terhadap Susno mulai dari masalah seragam, jam kantor, tidak minta izin ata materi kesaksiannya. Padahal sebelum-sebelumnya hal seperti itu tidak dipermasalahkan (hal. 87-95).

Namun, menyikapi semua itu, Susno bukan berarti berubah haluan untuk tidak menyuarakan apa adanya. Bagi Susno—sebetulnya—tampil dipersidangan bukan hal yang menyenangkan. Sebetulnya dia tidak suka. Tapi karena itu merupakan kewajiban seorang warga negara, dia harus hadir dan menjalaninya—yang mana hal itu tidak bertentangan dengan kode etik kepolisian.

Susno memang sosok yang tegas dan tidak gampang terikut arus. Hal itu terbukti dengan ujaran dia ketika mau diperiksa; “Saya siap memberikan keterangan kepada penyidik. Sekaligus siap menerima hukuman jika terbukti bersalah. Apabila yang dituduhkan kepada saya benar apa adanya, saya bersedia menerima hukuman sesuai dengan ketentuan” (hal. 93).

Jadi, sebenarnya Susno bukanlah sosok yang pengecut dan pecundang. Dia adalah polisi yang teguh pendirian dan tidak mau disetori. Bahkan dia banyak melakukan perubahan di dalam internal Polri itu sendiri. Hal itu bisa dilihat ketika Susno mengumpulkan seluruh perwira Satuan Lalu Lintas, mulai dari tingkat Polres hingga tingkat Polda. Ketika itu, Susno baru menjabat sebagai Kapolda Jawa Barat, menggantikan Irjen Pol Soenarko Danu Ardanto. Dengan tegas dan menyentak Susno berujar; jangan pernah setori saya.

Menurut Susno, perilaku memeras atau menerima setoran itu adalah perilaku zaman Jahiliyah. Tidak perlu ada lagi anggota menyetor ke Kasatlantas dan Kasatserse, lalu Kasatlantas dan Kasatserse menyetor ke Kapolres, Kapolres menyetor untuk melayani Kapolda. “Jangan pernah setori saya! Lingkaran setan itu sudah saya putus agar tidak ada lagi sistem setoran” Ujar Susno kala itu (hal. 14).

Ketegasan Susno tersebut juga dan semakin terbukti ketika Susno diangkat untuk menduduki jabatan yang sangat bergengsi di jajaran Polri, yaitu Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) pada 16 Oktober 2008. Waktu itu ketika Kapolri Bambang Hendarso Danuri menyatakan pengangkatannya sebagai Kabareskrim, dengan lantang Susno menyela; saya siap, Pak! Tapi, kalau setor-setor saya tidak mau! (hal. 20).

Kepribadian Susno itu tertanam sejak ia kecil. Susno yang terlahir sebagai anak kedua dari delapan saudara sebagai sosok anak yang memang bersahaja. Keluarga Susno yang tidak pernah dan berani bermimpi tentang kemulukan dan tidak memicingkan mata agar tidak terkesima pada kemewahan melatar belakangi Susno sampai dia menjadi polisi. Ketika dia mendaftar menjadi polisi pun karena gratis dan proses tesnya pun tidak lepas dari kejujuran akan keadaan dan kehidupan dalam kesehariannya. Akan kisah ini pembaca bisa temukan di bagian awal buku ini (hal. 1-6).

Akhir kata, membaca buku ini akan meluruskan anggapan-anggapan negatif terhadap Susno yang sudah banyak diberitakan akan tuduhan-tuduhan negatif kepadanya. Buku yang beupa hasil wawancara ini selayaknya dimiliki dan minimalnya kita yang selama ini beranggapan buruk pada sosok Susno tidak terus timbul kesalahfahaman. Karena dengan membaca buku ini pembaca akan tahu siapa Susno sebenarnya. Ada 25 bab didalamnya berisikan semua penuturan jujur dari Susno dan kebenaran apa yang sebenarnya terjadi.


Biodata Buku:

Judul : Bukan Testimoni Susno

Penulis : IzHarry Agusjaya Moenzir

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta

Cetakan : I, 2010

Tebal : xii + 138 halaman

ISBN : 978-979-5509-6

Peresensi : Abd. Basid, pustakawan pesantren IAIN Sunan Ampel Surabaya

0 Response to "Siapa Susno Sebenarnya?"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!