Antara Hak dan Rasa Malu


Oleh: Abd. Basid

Suatu hari, penulis berkumpul dan ngopi bareng bersama teman-teman di warkop (warung kopi) dekat kampus tempat penulis tinggal dan kuliyah. Meski perkempulan tersebut baru sekelas warkop,—belum ke dan di kafe—namun semua itu tidak menguragi kenyamanan perbincangan. Kali itu perincangan kita sekitar dunia tulis menulis dan efek yang dihasilkanya.

Di sela-sela perbincangan ada salah satu di antara mereka yang mengeluh dan curhat akan perjalanannya dalam dunia pena. Dia bercerita bahwa dia sulit untuk berhenti menulis, seraya dia berujar; “ternyata tidak gampang ya untuk bisa berhenti menulis”. Mendengarnya, teman yang lain menyoalnya sambil menyeropot kopi di depannya; “bukannya bersatu dengan pena itu yang diharapkan oleh setiap penulis? kok kamu malah mau berhenti menulis?”.

Tanpa menghiraukan perbincangan tadi, penulis langsung memotongnya dengan menyatakan dan mencoba untuk berceramah dikit; “bahwa, ya seperti itulah kalau sudah kebiasaan. Orang yang biasa merokok, maka dia akan merasa sulit untuk berhenti dari kebiasaan merokoknya itu. Begitu juga dengan kebiasaan menulis. Barang siapa yang sudah membiasakan menulis, maka dia akan merasa kesulitan untuk tidak memegang kertas atau laptop. Bahkan kadang ada penulis yang andaikan disuruh memilih lebih baik tidak dikasih uang saku dari pada tidak atau dilarang untuk menulis”.

Singkat cerita, akhirnya teman penulis itu, sebut saja namanya BD, yang sempat berencana untuk berhenti untuk menulis mengurungkan niatnya itu. Apalagi, BD yang sudah lama menulis ini sudah bisa mengurangi beban kedua orang tuanya dari dan karena hasil tulisannya sendiri, meski baru berkarir di koran dan majalah lokal ketimbang nasional—teman-teman meyakinkannya bahwa dia nanti (pasti) akan bisa tembus cepat di koran dan majalah nasional bahkan international.

Meski BD seringnya baru muncul di level media lokal ketimbang nasional yang kadang hanya mendapatkan kepuasan saja, namun BD cukup bahagia dengan hanya cukup muncul di media, karena dengan tulisannya berhasil dimuat media berarti pemikiran dan sumbangan dia dibaca banyak orang dan kalangan, yang pastinya dengan otomatis dakwah bil qalam-nya semakin meluas. Apalagi BD nantinya akan mendapatkan penghargaan dari pihak instansi—sengaja penulis tidak sebutkan nama asli instansinya—tempat ia tinggal karena ia telah membawa nama baiknya dengan mencantumkan status instansi tersebut dalam karyanya tersebut.

***

“Tapi, saya kadang sampai agak malu teman-teman karena dari saking seringnya saya minta uang ke kantor instansiku. Bapak bendahara sampai kenal saya gara-gara saya sering ngajukan karya-karyaku yang telah terpublikasi di media. Tapi, ya, yang namanya saya, saya yang sangat ingin membantu meringankan beban orang tua dengan tidak minta uang saku, ya, saya paksakan untuk tetap mendatangi bendahara instansi tempatku tinggal. Apalagi saya sangat berhak dalam semua itu, karena direkturku pernah bilang bahwa dia akan “menjual” nama instansi dengan harga murah dan salah satunya dengan memberi penghargaan kepada siapa saja yang membawa nama baik instansi seperti lewat media, meski hanya dengan harga Rp. 50.000-Rp. 10.000, tapi bisa dikenal dan diketahui banyak orang. Begitulah dawuh direkturku ketika mencoba memotivasi anak didiknya untuk membiasakan untuk menulis”. Jelas BD serasa ia lupa bahwa ia sempat mau berhenti untuk menulis.

Dari sedikit cerita tentang BD di atas, bisa diambil hikmah bahwa sebuah hak harus dipertahankan tanpa harus menghiraukan rasa malu yang sebenarnya rasa malu itu kadang menjadi hantu dan misteri bagi seseorang dalam mempertahankan haknya. Contoh kecilnya—tetap dalam sedikit cerita di atas—andaikan BD mendahulukan rasa malunya karena hanya merasa keseringan menghadap bendaharanya, maka secara logika dia pendapatannya berkurang dan niat mulia meringankan beban orang tuanya terhambat.

Begitu juga dalam praktik kehidupan bermasyarakat, bernegara dan sejenisnya, kita juga harus lurus tanpa harus menghiraukan hantu dan misteri yang kadang membayangi kita dalam mempertahankan dan bahkan memperjuangkan kebenaran (hak). Pemerintah tidak mesti bungkam, tidak menghiraukan wong cilik di bawah sana. Hak dan tugas mereka adalah menyampaikan suara rakyat dan hak rakyat adalah mendapatkan suara hatinya. Di atas sana jangan sampai tidak berkutik karena hanya malu dan takut namanya dicoreng dan tercoreng karena bersuara lantang. Di atas sana harus berani melawan hantu kolusi dan misteri nepotisme yang kayaknya sudah menghantui para “terhormat” di atas sana.

0 Response to "Antara Hak dan Rasa Malu"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!