Menjemput Ajal dengan Optimisme


Berbicara kematian, saya teringat salah satu hadits nabi saw. yang datangnya dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Mas’ud yang intinya bahwa, ada empat hal yang sudah Allah swt. tuliskan sejak manusia berada dalam kandungan sang ibu, yaitu, rizqi, ajal, jodoh dan nasib (baik dan buruk) setiap insan (lihat kitab “Arba’in Nawawiyah”, hadits nomor 4). Kita tidak tahu kapan malikat Izrail akan menjemput ajal seseorang, tapi yang jelas kita semua pasti akan bertemu dengan malaikat pencabut nama, Izrail. Apakah dikala masih bayi (kecil), remaja, tua. Setelah nikah atau sesudahnya. Sebelum taubat atau sesudahnya. Kita semuanya tidak tahu. Kita juga tidak tahu apakah kita nantinya akan mati dengan membawa iman atau malah sebaliknya.

Untuk itu, kita harus bersiap-siap dengan memperbanyak dan rajin menabung untuk kita bawa ketika ajal menjemput nanti. Kita harus menyiapkan semaksimal mungkin amal terbaik kita untuk dipersembahkan pada sang Khalik di surga nanti. Allah swt. berfirman dalam al-Qur’an surat al-Mulk (67): 2, yang artinya, “(Allah) yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik...”.

Pertanyaannya sekarang; siapkah kita manjemput kematian yang memang sudah menjadi takdir sejak kita dalam kandungan? Menjawab pertanyaan ini, maka kita akan menemukan jawaban yang beragam dari setiap individu yang ada. Bagi orang yang sudah banyak tabungan amal baiknya, maka dia akan senantiasa siap tersenyum dan tidak sungkan untuk berucap, “assalamu alaikum ya Izrail. Silahkan engkau ambil nyawaku”, ketika malaikat Izrail datang ingin mencabut nyawanya. Lain lagi dengan mereka yang dilanda krisis tabungan amal baiknya, maka mereka akan sangat takut mati waktu itu. Maka wajar kalau ketika seperti itu ada orang yang berujar, “saya belum siap mati karena saya belum taubat”.

Selanjutnya, bagaimana kita menyikapi kematian? Haruskah kita berani mati, atau malah sebaliknya, yakni takut mati? Komaruddin Hidayat, rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dalam buku terbarunya yang berjudul “Berdamai dengan Kematian, Menjemput Ajal dengan Optimisme” mengajak kita, bagaimana kita bisa menyikapi kamatian secara optimisme. Dalam buku tersebut, penulis mengajak kita untuk menjadikan kematian sebagai hal yang tidak perlu kita takuti dan tantang. Karena bagaimana pun juga kita pasti mati. Takut atau tidak, kita pasti bertemu malaikat Izrail. Allah swt. berfiman dalam surat Ali ‘Imran (3): 185, yang artinya, “setiap sesuatu yang berafas itu pasti mati”.

Membaca buku rektor UIN Jakarta ini, kita akan serasa berada dalam alur yang beliau tuliskan. Hal seperti inilah yang memang menjadi salah satu ciri tulisan karya-karya beliau, dengan bahasa yang renyah, bisa dijangkau oleh semua kalangan, baik awam maupun terpelajar, dan kaya dengan analogi dan kata bijak yang gamapang dicerna. Mungkin karena buku ini memang banyak menggunakan data cerita pengalaman pribadi beliau dalam kesehariannya.

Selain itu, filosofi pembagian sub buku ini sangat luar biasa. Buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama (satu), Festival Kehidupan. Bagian kedua (dua), Tiada Festival Tanpa Akhir, dan bagian ketiga (tiga), Assalamu ‘Alaikum ya Izrail. Hemat saya, pembagian ini sangat cocok dan selaras sekali dengan tiga tonggak kehidupan—yang penulis sajikan pada awal tulisan buku ini pada bagian pertama, bahwa, terdapat tiga tonggak kehidupan manusia yang sangat fundamental dan sangat mempengaruhi kehidupan seseorang, yaitu, peristiwa kelahiran, pernikahan, dan kematian (hal. 3). Setelah saya baca dan renungkan, bahwa pada bagian satu buku ini membicarakan kehidupan seseorang yang ada sangkutpautnya dengan peristiwa kelahiran. Pada bagian dua membicarakan kehidupan seseorang yang ada sangkutpautya dengan peristiwa pernikahan. Bagian tiga membicarakan kehidupan seseorang yang ada sangkutpautnya dengan peristiwa kematian. Luar biasa. Sistematis banget. Jempol untuk yang ini.

Meskipun demikian, bukan berarti buku ini sudah sempurna seratus persen. Tidak ada yang sempurna dalam dunia ini. Apalagi hanya sebuah karya seorang manusia yang tentunya juga (pasti) jauh dari kata sempurna. Begitu juga dengan buku ini. Saya kadang menemukan pengulangan analogi dan kisah/cerita dalam buku ini. Adanya sedikit ketidak singkronan antara isi dengan judul utama dan prakata penulis. Hal ini bisa ditemukan pada tulisan-tulisan di bagian satu, yang sering menyinggung para poiltisi secara khusus. Selain itu, dalam buku ini kadang tidak dicantumkan sumber hadits asli. Dari mana hadits itu diambil, kadang tidak dicantumkan dari mana dan siapa perowi hadits itu. Seperti hadits yang tersaji pada halaman 73.

Namun, semua itu tidak mengurangi kerenyahan penyajian dan kebagusan buku ini. Akan ada banyak hikmah yang dapat kita ambil dari buku ini. Selain itu, membacanya juga tidak membosankan. Karena, di samping bahasanya yang renyah, juga penyajiannya pada setiap bagian terdiri dari judul-judul layaknya artikel pendek yang meneror pembaca. Buku ini (mungkin) memang merupakan bunga rampai artikel-artikel beliau yang sengaja ditulis dan dikumpulkan dengan satu tema tentang kematian, guna berbagi ajakan untuk berpartisipasi dalam festival kehidupan ini sebaik mungkin. Dalam buku ini penulis memang tidak mengutarakan bahwa karya ketiga beliau ini merupakan kumpulan artikel bunga rampai, akan tetapi saya menilainya seperti itu, terbukti dalam buku ini tidak dicantumkan daftar rujukan (pustaka) seperti halnya buku-buku pada umumnya. Dan lagi, buku ini terdiri dari bagian-bagian yang dalam satu bagian terdiri dari judul-judul yang antara satu judul dengan judul lainnya kadang tidak satu tema.

Akhir kata, buku ini sangat cocok untuk dibaca dan dijadikan bahan renungan bagi semua kalangan, tanpa terkecuali. Baik itu pelajar, aktivis, akademisi, politisi dan lain sebagainya—mengingat semua orang pasti akan merasakan mati dan buku ini membahas tentang kematian seperti yang sempat saya singgung di atas [.]


Judul : Berdamai dengan Kematian, Menjemput Ajal dengan Optimisme

Penulis : Komaruddin Hidayat

Penerbit : Hikmah (PT Mizan Publika)

Cetakan : I, Agustus 2009

Halaman : xxii + 208

Peresensi : Abd. Basid

2 Responses to "Menjemput Ajal dengan Optimisme"

  1. nice review...jadi sedih, karena baru dua hari yang lalu saya kehilangan sahabat terbaik, semoga Allah memberi tempat terbaik untuknya. amin...
    thanks udah mampir, saya follow yach...:)

    BalasHapus
  2. @ Zahro: ya. Amien. Semua itu pasti yang terbaik dari tuhan.

    Ok. Langsung ja follow..

    BalasHapus

Tinggalkan komenrar Anda di sini!