Hijrah, Sebuah Langkah Revolusioner*


Oleh: Abd. Basid

Dalam Islam, bulan Muharram identik dengan hijrah Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah beberapa abad lalu. Seperti baiasanya, ketika Muharram (tahun baru hijriah) tiba, umat muslimin memperingatinya seperti halnya umat non muslim memperingati natal atau sejenisnya—yang nyaris seperti sebuah kewajiban ritual.

Di Indonesia, meski perayaan tahun baru hijriyah—yang tampak—tidak semeriah peringatan tahun baru masehi dan natal, namun filosofi tahun baru hijriah ini sarat akan nilai sosial-moral.

Menurut Karen Amstrong, hijrah Nabi Muhammad, bukan sekadar pindah alamat dari Makkah ke Madinah. Hijrah menandai awal era baru Muslim karena pada titik perpindahan inilah Nabi Muhammad bersama umat muslimin mampu menerapkan gagasan-gagasan al-Qur’an secara maksimal. Dengan hijrah, yang biarawati ini, Islam telah hadir menjadi faktor penting dalam sejarah. Hijrah bahkan menjadi sebuah langkah yang revolusioner (Karen Amstrong, Haedar Nashir dalam Republika (13/12)).

Menurut catatan sejarah, tanggal hijriah pertama kali diperingati pada masa Khulafaur Rasyidin Umar bin Khattab. Semua itu bermula ketika Umar bin Khattab merasa perlu dan penting untuk mengabadikan peringatan hijrah Nabi Muhammad dari Makka ke Yatsrib (Madinah) yang kebetulan terjadi pada bulan Muharram kala itu.

Kala itu, Jumat pagi, 16 Rabiul Awal tahun ke-13 dari kenabian, bertepatan dengan 2 Juli tahun 622 M, Nabi Muhammad didampingi Abu Bakar as-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, dan sejumlah sahabat untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Kota Yatsrib. Sejak berangkat 4 Rabiul Awal, Nabi Muhammad bersama Abu Bakar menempuh perjalanan yang penuh bersejarah itu dengan penuh penderitaan dan bahkan ancaman kematian.

Nah, baru tujuh belas tahun kemudian, dari peristiwa hijrah ini, Umar bin Khattab menjadikan peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad itu sebagai pijakan permulaan kalender hijriah yang pada 18 Desember akhir tahun 2009 ini akan menunjukkan angka 1431.

Jika dari saking pentingnya hijrah Nabi Muhammad, Umar bin Khattab menjadikan peristiwa tersebut sebagai pijakan kalender hijriah, apa langkah kita sebagai umat muslimin dalam memperingati tahun baru hijriah ini?

Kita sebagai umat muslimin yang sudah menerima instannya, setidaknya dan semestinya bisa belajar pada model masyarakat dan peradaban ummah yang bersifat madaniyah. Masyarakat madaniyah yang dibentuk Nabi Muhammad waktu itu (hijrah). Masyarakat yang berpijak pada kebenaran, egaliter, adil, makmur, inklusif, maju, dan berperadaban utama.

Melalui peradaban ummah itu, umat muslimin belajar tentang isi di dalam kulit, kualitas di samping kuantitas, substansi yang menyatu dalam simbol, dan nilai-nilai keunggulan lainnya yang menjadikan umat Islam sebagai khaira ummah (umat terbaik) sekaligus Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin (rahmat bagi alam semesta). Bukan sistem masyarakat dan peradaban yang monolitik, apalagi yang pinggiran.

Jika pada waktu itu Nabi Muhammad memulai dengan membangun masjid Quba dan kemudian masjid Nabawi, mempersatukan muslimin pribumi (Anshar) dan pendatang (Muhajirin), mempersatukan seluruh masyarakat Yatsrib, membangun pakta pertahanan bersama dan mempertahan diri dari serangan kafir Quraisy melalui jihad perang—yang akhirnya terbangun peradaban baru, maka kita, umat muslimin, setidaknya juga bisa “hijrah” dan membagun peradaban baru dengan meninggalkan kondisi yang negatif kepada yang positif, dari yang mungkar kepada yang makruf, dan dari yang makruf kepada yang lebih makruf.

Oleh karena itu, melalui spirit peringatan tahun baru hijriah tahun ini, setidaknya kita bisa mengambil contoh sosok Muhammad sebagai cermin bening transpormatif keadaan kita. Sosok Muhammad merupakan sosok mulia yang sejak kecil hingga dewasa suka memikirkan segala sesuatu dengan mendalam. Kehidupannya lurus dan bersih, sederhana dan salih. Telinganya peka terhadap derita si miskin dan si lemah. Hatinya penuh kasih dan simpati pada setiap makhluk Tuhan. Ketika berjalan, tampak rendah hati, jujur, lurus, dan tepercaya sehingga dijuluki al-Amin. Sosok Muhammad senantiasa berpikir tentang kehidupan dan kematian, merenungkan pertanggungjawaban hidup dan tujuan akhir keberadaan manusia. Dia mengemban tugas untuk membangun bangsa, lebih dari itu membangun satu dunia dengan rasa cinta.

Itulah sosok pemimpin Muhammad, Rasulullah. Bagaimana dengan kita? Sebagai bangsa yang mayoritas muslim dan ingin perubahan, maka spirit hijrah ini setidaknya bisa dibuat acuan yang nantinya (akan) melahirkan revolusi perilaku yang penuh makna. Jika para elite dan pemimpin bangsa republik ini bisa demikian, maka tidak akan lama (lagi) bangsa dan negara ini akan menjadi lebih baik. Tidak compang-camping dan ingar-bingar seperti yang kita lihat. Setiap urusan dibiarkan bagaikan bola liar serta tidak dikelola dengan sidiq, tabligh, amanah, dan fathanah sebagaimana Nabi Muhammad.

Harapan. Semua permasalahan yang akhir-akhir ini semakin menggumpal laksana gunung es bisa segera diatasi dengan tidak memperhatikan lagi semua jenis kompromi-kompromi primitif, sehingga terfigurlah pemimpin, ahli hukum, hakim agung kharismatik. Tidak penuh dengan basa-basi dan kata-kata melankolis.

Akhir kata, semoga dengan datangnya bulan Muharram kali ini, kita dan Indonesia bisa “hijrah” menemukan perubahan dan pencerahan baru. Marhaban ya Muharram.

*telah dimuat di NU Online ()21/12/09)

5 Responses to "Hijrah, Sebuah Langkah Revolusioner*"

  1. artikel yang menarik, sukses terus untuk anda

    BalasHapus
  2. Met tahun baru Muharram, smoga dg Muharram, kita senantiasa Hijrah ke prilaku terpuji seperti yg telah dicontohkan Muhamm

    BalasHapus
  3. @ Gaelby Salahuddin: Amien. Met "hijrah" juga.

    BalasHapus
  4. Betul cak..semoga kita ( saya ) bisa menghijrahkan jiwa & hati kita ( saya ) kearah yang lebih baik lagi...

    BalasHapus

Tinggalkan komenrar Anda di sini!