Mengurai dan Menemukan Makna Tersirat (Puasa) Ramadhan


Oleh: Abd. Basid

Membaca tulisan insan pesantren, Hj. Khodijatul Qodriyah, A.P., S.Ag., M.Pub., M.Si, yang berjudul “Tadarrus Ramadhan: Menguak Hikmah Dengan Mata Hati dan Jendela Pikiran Berspirit Wahyu Ilahi” ini saya langsung menemukan sebuah kebanggaan (kelebihan) dan ke-emanan (kekurangan) yang mencolok.

Kebanggaan yang saya maksud adalah saya merasa terharu dan bangga melihat seorang perempuan bisa (sempat) menulis sebuah karya yang tidak begitu sering dan banyak digeluti kaum hawa biasanya. Biasanya kaum hawa lebih suka menulis sebuah karya yang berbau fiksi, akan tetapi buku “Tadarrus Ramadhan: Menguak Hikmah Dengan Mata Hati dan Jendela Pikiran Berspirit Wahyu Ilahi” ini bukan karya fiksi dan ditulis oleh seorang perempuan pesantren.

Buku ini merupakan bunga rampai karya penulis yang sempat dimuat di media massa, Radar Bromo (Jawa Pos Group) pada kolom Tadarrus Ramadhan yang tersaji selama bulan Ramadhan tahun lalu, yang kemudian dibukukan dan rampunglah pada bulan Rajab 1430/Juli 2009 kemarin, sebelum Ramadhan 1430 ini.

Isi buku ini merupakan refleksi Ramadhan yang penulis sajikan dengan cermat dan jelas. Sajian yang dipaparkan penulis juga dilengkapi dengan data-data dari referensi klasik (kitab kuning). Hal ini tergambar ketika penulis sering mengutip dari kitab—salah satunya—“Subulus Salam” dan perkataan para tokoh klasik.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang suci. Di dalamnya terdapat banyak hikmah dan pelajaran yang tersirat kaya akan makna. Secara dhohir, dengan kita berpuasa fisik kita akan lemah, kekurangan energi. Akan tetapi, semua itu tidak akan berarti ketika kita mengetahui makna tersirat di dalamnya.

Puasa sejatinya dapat menyehatkan jiwa dan raga. Hal ini telah diakui oleh para dokter modern bahwa manfaat puasa dalam menyehatkan jiwa dan raga sangat dahsyat. Logikanya, pertama, ketika orang sedang berpuasa, detoksifikasi (prsoses pengeluaran zat-zat beracun dalam tubuh) yang bersifat total dan holistik (menyeluruh). Terjadi pembersihan tubuh bagian dalam, terutama sistem percernaan.

Kedua, perubahan jadwal makan dan minum selama berpuasa pun tak luput dari stres, sebab orang harus menahan lapar dan sebagainya. Sesudah beberapa hari, umumnya stresnya akan terkendali, lantaran fisik maupun mentalnya bisa beradaptasi secara mantab.

Ketiga, mengasah mata batin kita untuk lebih peduli kepada sesama. Bagi yang mampu dan berkecukupan telah merasakan sendiri bagaimana merasakan lapar seperti yang dialami kaum du’afa sehingga timbul kesadaran untuk berbagi. Dan bagi yang miskin, menggugah rasa kesetaraan di hadapan Allah karena, toh, kewajiban berpuasa belaku bagi semua umat Islam (hal, 20-21).

Tidak hanya itu saja yang disajikan penulis dalam bukunya ini. Banyak pemikiran/ide menarik yang ia sajikan, seperti yang disinggung KH. Salahuddin Wahid, dalam sebuah sambutannya, bahwa, percik pemikiran penulis dipaparkan dalam konteks keselarasan kesalehan individu dan kesalehan sosial. Ia tersaji dalam ramuan manusia sebagai individual being, social being dan sekaligus moral spitual being. Semua itu, tersaji dengan jelas dan dan rinci. Inilah (mungkin) yang menjadi nilai lebih dari buku ini, apalagi yang menulis dari kaum hawa pesantren, yang—biasanya—jarang menorehkan pemikirannya dalam bentuk tulisan. Banyak pemikir dan aktivis perempuan yang lahir ataupun dibesarkan dalam kalangan pesantren tapi mereka jarang menggoreskan penanya.

Selain itu, dalam buku ini juga dilengkapi kumpulan doa puasa Ramadhan dan selayang pandang tentang puasa Ramadhan.

Adapun ke-emanan (kekurangan) mencolok yang saya temukan dalam buku ini adalah format dan sistematika penulisannya. Dari awal sampai akhir membuka lembaran buku ini, tidak jarang saya temukan kata-kata asing (arab/inggris) yang semestinya bercetak miring, tapi tidak demikian. Padahal menurut sistematika penulisan karya ilmiyah, kata/kalimat asing harus dicetak miring. Dan ironisnya lagi, kadang ada yang dicetak miring dan kadang tidak. Tidak selaras.

Selain itu, dalam buku ini juga tidak dicantumkan daftar pustka, sehingga pembaca akan merasa kesulitan ketika mau merujuk pada sumber asalnya. Hal seperti inilah yang kadang membuat pembaca bosan untuk berlama-lama memegangnya. Contoh kecilnya seperti yang tertulis pada halaman 28; menurut al-Qurthubi (lihat Jalal, 1988:63). Tidak semua pembaca tahu kitab apa dan yang mana dari petunjuk “lihat Jalal, 1988:63”, maka dari itu, dengan bantuan daftar pustka pembaca akan lebih gampang melacak kitab yang dipakai penulis.

Dengan tidak dicetak miringnya kata-kata asing dan tidak dilengkapinya dengan daftar pustaka seakan-akan buku ini terkesan terbit karena dikejar deadline—tergesa-gesa, takut tidak rampung sebelum Ramadhan. Proses editingnya tidak maksimal.

Akhir kata, buku ini layak dibaca dan dimiliki semua kalangan, terutama kalangan yang merindukan akan penjernihan dan sedang haus akan makna puasa yang sebenarnya. Dan mungkin yang harus dipertimbangkan kalau buku ini dicetak lagi adalah proses editing kembali dengan melengkapi daftar pustka dan sistematika kepenulisan yang baku.




Judul : Tadarrus Ramadhan: Menguak Hikmah Dengan Mata Hati dan Jendela Pikiran Berspirit Wahyu Ilahi

Penulis : Hj. Khodijatul Qodriyah, A.P., S.Ag., M.Pub., M.Si

Penerbit : EnJe Publishing (Nurul Jadid Group), Jakarta Selatan

Cetakan : I Juli 2009

Tebal : xvii + 104 + xxxvii




0 Response to "Mengurai dan Menemukan Makna Tersirat (Puasa) Ramadhan"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!