AS Ok, Iran No


Oleh: Abd. Basid

Pergulatan politik di Indonesia menjelang pilpres 8 Juli yang tinggal menghitung hari semakin panas. Dari tiga pasangan calon (Mega-Prabowo, Susilo-Boediono, dan Jusuf Kalla-Wiranto) saling berlomba-lomba untuk menarik simpati masyarakat. Iklan-iklan yang mensurga mereka tampilkan.

Harapan penulis dan mungkin semua masyarakat Indonesia, pemilu 2009 ini bisa berjalan dengan lancar dan aman, tanpa ada konflik setelahnya dan setidaknya pemilu ini bisa mengaca pada pemilu di negeri Adidaya, Amerika Serikat (AS), yang berjalan tanpa ada protes setelahnya. Pemilu yang terselenggara awal tahun 2009 kemarin dan dimenangkan Barrack Obama tidak menyebabkan ricuhnya keadaan. Pasca pemilihan, dengan lapang dada Mc Cain, langsung mengucapkan selamat atas beruntungnya teman rivalnya Barrak Obama yang menjadi pemenang.

Sebaliknya pilpres di Iran, 12 Juni lalu. Pasca pemilihan di Iran masih menyisakan protes atas kemenangan Mahmoed Ahmadinejad. Amadinejad yang menang mutlak mendapat protes dari pihak rivalnya, Mir Hussein Mousavi, yang merasa dirugikan karena proses pemilihan tidak berjalan profesional. Protes-protes itu disebut “Revolusi Hijau” karena warna kampanye calon presiden Mousavi.

Bermacam tindakan dari pihak oposisi Ahmadinejad dilakukan, mulai dari protes dengan orasi melalui tulisan-tulisan sampai pembakaran kendaraan di jalan-jalan.

Pada 13 Juni, bentrokan pecah antara polisi dan kelompok-kelompok yang memprotes hasil pemilu sejak pagi-pagi buta di hari Sabtu waktu itu. Protes-protes itu awalnya bersifat damai tetapi menjadi semakin penuh kekerasan. Massa yang marah di Tehran menyerbu toko-toko, merobek tenda-tenda dan memecahkan jendela-jendela.

Pada 14 Juni protes revolusi hijau semakin berkembang dan kekerasan pun meningkat. Bus-bus dan tempat-tempat sampah serta mobil-mobil yang diparkir dibakari massa. Para pengunjuk rasa menyerang toko-toko, kantor-kantor pemerintah, pos-pos polisi, mobil-mobil polisi, stasiun-stasiun bahan bakar dan bank-bank.

Protes-protes besar, yang meningkat dan menjadi kerusuhan, juga merebak di Universitas Tehran, Universitas Amirkabir, dan Universitas Shahid Beheshti; di sana mahasiswa mulai membakari dan menghancurkan berbagai gedung dan barang-barang di seluruh kampus. Dan masih banyak lagi kejadian protes revolusi hijau yang tidak sedap dipandang mata, yang sampai memyebabkan diputusnya jaringan-jaringan sosial di internet.

Salah satu penyebab kenapa pihak Mir Hussein Mousavi tidak menerima kemenangan Ahmadinejad adalah karena mereka menganggap ada suara rakyat Iran yang “diyatimi”, tidak dapat hak pilih.

Untuk itu, fenomena seperti di Iran ini sekiranya jangan sampai terjadi di Indonesia. Pasca 8 Juli nanti di Indonesia diharapkan berjalan seperti pemilihan di AS awal tahun 2009 kemarin, tidak terjadi hal-hal negatif seperti apa yang terjadi di Iran. Karena tidak menutup kemungkinan apa yang terjadi di Iran juga bisa terjadi Indonesia, yang memang rawan terjadi.

Untuk mengantisipasi terjadinya protes pasca pemilihan nanti, maka ada hal-hal yang kiranya perlu untuk diperhatikan. Pertama, Komisi Pemilihan Umum (KPU) harus benar-benar menjadi Komisi Pemilihan Umum, tidak menjadi Komisi Pemilihan Usil (meminjam istilahnya Gus Pur, dalam Republik Mimpi di TV One). Tidak usil terhadap data daftar pemiliham tetap (DPT) dan tidak usil terhadap hasil perolehan suara. Setidaknya pilkada sebelumnya bisa menjadi pelajaran untuk pilpres nanti. Fenomena pahit seperti terjadi pada pilgup di Jatim kemarin; isu DPT dan pengelembungan suara yang sempat gencar tidak terulang lagi.

Kedua, setiap calon disamping siap menang, juga harus siap kalah. Jargon “siap kalah dan siap menang” ini memang sudah tidak asing di telinga kita, akan tetapi praktik di Indonesia kayaknya masih belum teraplikasi. Terbukti, fenomena tidak saling sapa antar calon terpilih dan calon gagal masih membudaya dalam sejarah kepemimpinan (kepresidenan) di Indonesia.

Ketiga, rakyat siap nyontreng, tidak memilih golput. Jika angka golput tinggi (baik golput karena kasus DPT maupun karena memang sengaja golput), maka hal itu bisa menjadi salah satu bahan untuk memprotes calon menang oleh calon yang kalah dan tidak siap kalah.

Belakangan ini golput sering menjadi jalan alternatif masyarakat Indonesia. Terbukti dari pilkada-pilkada sebelumnya, angka golput semakin tinggi. Alasan yang mereka utarakan tidak lain karena mereka (rakyat) merasa didholimi oleh pemimpin-pemimpin terpilih sebelumnya tanpa ada bukti terlaksana.

Meskipun demikian, bagi penulis alternatif golput bukan solusi yang tepat. Dengan kita golput bukan berarti kita sudah tawakkal kepada Allah. Tawakkal itu ada setelah kita berusaha. Dalam kontek memilih presiden, konsep tawakkal itu ada setelah kita memilih/mencontreng. Dalam Islam caranya sederhana dan jelas. Mungkin pada malam sebelum mencontreng kita bisa shalat malam atau kalau kita tidak sempat, bisa dengan hati saja—dengan berdoa meminta semoga bangsa kita, Indonesia, bisa menjadi makmur, sejahtera, dan aman dengan pemimpin yang akan kita pilih. Jika calon pemimpin yang akan kita pilih ternyata dholim, khianat, munafik, penjilat dan penindas rakyat, maka semoga pemlilih yang akan kita pilih tidak terpilih dan kalau kenyataannya terpilih, maka semoga akan segera lengser sebelum habis masa jabatannya.

Emha Ainun Najib, budayawan sohor, menambahkan, sebelum kita masuk tempat pemungutan suara (TPS) kita bisa menambah dengan membaca “mantra”, ayat-ayat al-Qur’an; wamakaru wamakarallahu khairal makirin, kalau mereka makar pada nilai-nlai Allah dan rakyat, maka Allah akan makar juga padanya. Dan yang paling jagoan untuk makar itu adalah Allah. Kalau mereka khianat pada rakyat, maka mereka juga khianat pada Allah. Wallahu khairul makirin, injak bumi tiga kali baru di contreng. Nanti dia kalau khianat dia sakit kudis. Penawaran Emha ini yang jelas tanpa menghilangkan kekuasaan Allah swt..

Alhasil, jika tiga point di atas bisa dioptimalkan, maka tidak menutup kemungkinan pilpres 8 Juli nanti sama seperti pilpres di AS, tidak seperti di Iran yang sampai sekarang masih menuai konflik yang tak kunjung usai. Untuk itu, rasanya kita tidak salah kalau kita juga menjargonkan; “AS Ok, Iran No”, dengan harapan masyarakat kita sadar dan pilpres di Indonesia berjalan secara damai. Semoga!!!




0 Response to "AS Ok, Iran No"

Posting Komentar

Tinggalkan komenrar Anda di sini!