Verba Valent, Scripta Manent*


Oleh: Abd. Basid

Judul di atas merupakan pribahasa latin yang menggambarkan tentang keabadian sesuatu, yang berarti ucapan itu bisa hilang atau terlupakan, tetapi tulisan akan tetap abadi. Ungkapan tersebut mengafirmasi bahwa ide, pemikiran, ataupun kritik yang dituangkan dalam tulisan tetap abadi.

Berbicara tulis-menulis, maka tidak luput dari pembukuan akan sesuatu yang ditulis. Menulis, bagi sebagian orang, memang mudah. Akan tetapi, tidak bagi orang yang tidak biasa, kendatipun ide-ide sudah ada di otaknya. Kadang-kadang kata-kata sudah terkonsep, namun macet di tengah jalan. Seberapa penting sih menulis itu? Dan, apabila memang sangat penting, bagaimana cara memudahkan kebiasaan menulis? Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya rasa sudah terjawab dengan sejarah diturunkannya perintah membaca dari Allah SWT terhadap Nabi Muhammad SAW.

Wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah SWT pada Nabi Muhammad SAW adalah surat Al Alaq yang diawali kata iqra’ (membaca), dan berisikan anjuran terhadap umat manusia untuk membudayakan budaya baca. Saking pentingnya kata iqra’ hingga diulang sampai dua kali dalam rangkaian wahyu yang pertama kali diturunkan-Nya ini.

Mungkin mengherankan bahwa perintah tersebut ditujukan pertama kali kepada seseorang yang tidak pernah membaca suatu kitab pun sebelum turunnya Alquran. Namun, keheranan ini akan sirna jika disadari arti iqra’ dan disadari pula bahwa perintah tersebut tidak hanya ditujukan kepada pribadi Nabi Muhammad SAW semata, tetapi juga untuk umat manusia sepanjang sejarah kemanusiaan. Karena, realisasi perintah tersebut merupakan kunci pembuka jalan kebahagiaan hidup duniawi dan ukhrawi.

Sejarah umat manusia, secara umum, dibagi dalam dua periode utama. Pertama, sebelum penemuan baca-tulis. Kedua, sesudah penemuan baca-tulis. Dengan ditemukannya baca-tulis, peradaban manusia tidaklah merambah jalan dan merangkak. Tetapi, manusia telah berhasil melahirkan tidak kurang dari 27 peradaban, mulai dari peradaban Samaria sampai dengan peradaban Amerika masa kini. Dari sinilah—sangat rasional kalau muncul kata-kata bijak dan pribahasa-pribahasa penyemangat menulis seperti yang telah disebutkan di atas (verba valent, scripta manent). Setajam-tajamnya pedang, tetapi tak setajam pena penulis, dan sejenisnya.

Dengan menulis, maka pikiran kita akan terbaca dan dibaca orang lain, baik yang terpublikasikan lewat buku maupun lewat sayembabara blog/web pribadi. Dengan dibukukannya hasil karya tulis, maka kendatipun penulisnya sudah tidak ada, hakikatnya penulisnya itu masih ada (abadi).

Dalam dunia sastra siapa yang tidak kenal Buya Hamka? Dia adalah sastrawan yang sudah menulis beberapa buku sastra, seperti Tenggelamnya Kapal Vanderwic, Di Bawah Naungan Ka’bah, dan lain sebagainya. Selain Buya Hamka ada juga Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan besar. Pram, begitu dia disapa, dikenal sebagai sastrawan yang konsisten menulis dalam segala kondisi, bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun. Novel-novelnya yang luar biasa kebanyakan lahir dari masa sepi dan nestapanya: Tetralogi Pram.

Idealisme sebagai seorang sastrawan dan pejuang sosialis tertanam kuat di benak Pram, meski karena idealisme itu dia terpaksa merengkuh segala bahaya. Pada zamannya, dia pernah dianggap keliru memosisikan koordinat diri pada kuadran sejarah. Karena itu, Pram sempat diberi label ”komunis”. (Bahkan, ada pula yang salah kaprah menganggap Pram ateis, tak bertuhan. Untuk itu, dia menelan risiko hidup dengan menyusuri lorong sepi nestapa, tercerabut dari keluarga, masyarakat, dan terutama lingkungannya.

Bagi kalangan santri, siapa yang tidak kenal dengan ranah fikih empat mazhab; Abu Hanifah, Malik, Syafii, dan Hambali? Beliau-beliau terkenal karena karya-karya (mazhab) mereka. Seperti Al-Um karya Imam Syafi’i, Muwattha’ karya Imam Malik, dan Al-Musnat karya Imam Ibnu Hambal. Dalam ranah ilmu alat (nahwu/shorf) ada Imam Muhammad Ibnu Malik Al-Andalusi dengan karya monumentalnya Alfiyah Ibnu Malik.

Di kalangan sufi ada Imam Ghazali dengan karyanya Ihya’ ‘Ulumuddin dan Al-Mungkidz Mina Al-Dzolal. Di kalangan pemikir siapa yang tidak kenal Aristoteles, bapak filsafat, dengan karyanya Canon, Ibnu Rusyd dengan karyanya Bidayatul Mujtahid, dan juga Ibnu Sina dengan karyanya Al-Thib.

Di kalangan tafsir dan hadis ada Imam Suyuti dengan karyanya Al-Itqon (tafsir), Imam Bukhori dan Muslim dengan karya sahihnya, Shohih Bukhori dan Muslim (hadis).

Itulah contoh-contoh bahwa buah pikiran yang dituangkan lewat tulisan memang sangat perlu dilestarikan guna mengenang dan menciptakan khazanah keilmuan yang tidak akan hilang selama-lamanya selagi tulisan (buku) itu masih ada. Bagaimana caranya? Jawabannya tidak lain hanyalah—seperti yang telah disinggung di atas—dengan membaca. Dengan membaca kita akan mengenal dunia.

Sebagai contoh kecil dalam novel karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi, di sana digambarkan ada anak miskin, Lintang, yang sangat pintar dikarenakan sering membaca. Lintang bisa mnjelaskan seperti apa kota Prancis kepada Ikal, temannya, dikarenakan dia banyak membaca. Kemiskinan tidak menjadi hambatan bagi Lintang untuk terus membaca.

*telah dimuat di situs AndaLuarBiasa[dot]com,

edisi akhhir pekan Juli 2009

1 Response to "Verba Valent, Scripta Manent*"

  1. selain menjadikan penulisnya abadi, menulis bisa menjadikan penulisnya dikenal oleh banyak orang. menulis bisa kita jadikan ruang ekspresi diri. untuk lebih lengkapnya silahkan baca "aku menulis maka aku ada" di http://kumpulan-q.blogspot.com

    BalasHapus

Tinggalkan komenrar Anda di sini!