
Memang banyak buku-buku yang membahas tentang (alm) K. H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, akan tetapi terbilang jarang buku yang mengupas habis pemikiran Gus Dur dan problem kebangsaan. Buku “Gus Dur Sang Guru Bangsa; Pergolakan Islam, Kemanusiaan, dan Kebangsaan” yang ditulis oleh Wasid membabat habis pemikiran Gus Dur dilihat dari sisi agama, humaniora, dan kebangsaan, sehingga buku ini tidak salah ketika dibilang buku yang mengkalter pergolakan pemikiran Gus Dur yang dalam era modern ini tidak dan belum ada tandingannya. Banyak orang berbicara agama (Islam) dan NKRI (Negara Kesatuan Republik
Menjadi nilai plus buku ini, karena penulisnya sempat wawancara langsung dengan Gus Dur, yang dalam pengantarnya penulis menyatatakan, bahwa pertemuannya dengan Gus Dur di pesantren Ciganjur sampai dua hari (hal. ix). Jadi dalam segi data buku ini valid adanya.
Pemikiran Gus Dur memang kadang menuai konflik dan kritik. Mungkin masyatakat
Mengenai Islam, Gus Dur memaknai bukan dalam ruang formalitasnya saja. Akan tetapi, Gus Dur lebih menekankan pada persoalan isi. Baginya, keberislaman masyarakat
Dalam masalah kebangsaan, Gus Dur juga tidak lepas tangan untuk mewujudkan mimpi-mimpinya tentang Islam keindonesian. Hal itu, semakin tampak dan terbukti pasca Muktamar NU tahun 1984. Keputusan Muktamar di pondok Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Asembagus Situbondo menetapkan Panacasila, UUD 45, dan NKRI sebagai sesuatu yang final dan keputusan tetap.
Semenjak itu, semakin tampak kegigihan Gus Dur dalam memperjuangkan
Gus Dur dalam pernyataannya juga tidak hanya pada sebatas wacana. Apa yang beliau wacanakan juga terlaksana dalam kenyataan. Lihat saja, ketika beliau mewacanakan harmonisasi nilai-nilai keislaman dan keindonesian, yang akhirnya baliau menciptakan tindakan nyata dengan memberikan tindakan nyata pada kaum minoritas, tidak atasnama agama, suku, dan etnis. Gus Dur tidak hanya berusaha menafsirkan saja akan tetapi tindakan nyata beliau realisikan.
Dalam upaya ini Gus Dur menawarkan konsep yang biasa kita dengan konsep “Pribumisasi Islam”. Pribumisasi beliau maksudkan upaya memaknai Islam dengan tidak melupakan unsur lokalitas, sehingga nilai Islam diangngap cukup jika secara substansi sudah sesuai dengan nilai-nilai keislaman yang universal, yaitu agama rahmatan lil ‘alamin, seperti yang sempat disinggung di atas.
Dalam konteks Jawa misalnya, pribumisasi harus dibedakan dengan konsep “jawanisasi atau sinkretisme”. Menurut Gus Dur pribumisasi Islam hanya mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan lokal di dalam merumuskan hukum-hukum agama, tanpa mengubah agama itu sendiri. Juga bukan upaya meninggalkan norma demi budaya, melainkan agar norma-norma itu menampung kebutuhan-kebutuhan dari budaya dengan peluang yang disediakan oleh variasi pemahaman teks, dengan tetap memberikan peranan ushul fiqh dan qaidah al-fiqhiyah. Sedangkan sinkrenisme adalah usaha memadukan teologia atau sistem kepercayaan lama tentang kesekian banyak hal yang diyakini sebagai kekuatan ghaib berikut dimensi eskatologinya dengan Islam (hal. 112). Untuk itu, memahami agama dengan tidak merusak lokalitas penting adanya dan diwujudkan.
Gus Dur memang sosok yang multi talenta. Beliau ngefak dalam segala bidang. Mengenai ketalentaan Gus Dur ini, Prof. Dr. Nur Syam, dalam kata pengantarnya mengalogikan; Gus Dur ibarat pemain bola yang mampu memainkan peran di mana saja. Bisa menjadi pemain belakang, gelandang, dan penyerang juga. Ketika beliau bermain di berbagai posisi tersebut, maka dia juga bisa berinprovisasi secara memadai. Beliau bukan seorang dirijen yang hanya mengatur irama permainan supaya seragam di dalam keragaman, yang mempersatukan para pemain di bawah kendalinya. Akan tetapi beliau adalah pemain juga, yang bertahan, menggiring bola dan menyerang dengan improvisasi yang luar biasa. Di sinilah peran Gus Dur yang sulit ditandingi orang lain (hal. xx).
Buku ini sangat cocok untuk dibaca semua kalangan—terutama para tokoh yang pastinya menginginkan inovasi dalam kendalinya. Ntah itu tokoh masyatakat atau tokoh negara. Banyak yang dapat diambil contoh dari pemikiran Gus Dur. Cara penulis memabahasakan pun tidak membuat dahi berkernyit meski kadang-kadang ada yang harus memelankan jalannya bacaan pada beberapa pragrafnya.
Buku ini (juga) bisa dibilang sebagai catatan sejarah perjuangan Gus Dur, khususnya dalam dan mengenai keislaman, kemanusiaan, dan kebangsaan—sehingga penting untuk dibaca dan dimiliki para generasi muda selanjutnya, yang nantinya bisa mengambil hikmah keteladanan seorang Gus Dur yang selalu dan tetap berkomitmen menjaga keberagaman bangsa ini.
Data Buku
Judul : Gus Dur Sang Guru Bangsa; Pergolakan Islam, Kemanusiaan, dan Kebangsaan
Penulis : Wasid
Penerbit : INTERPENA,
Cetakan : I, Maret 2010
Tebal : xxx + 186 halaman
ISBN : 979-17405-6-9
0 Response to "Gus Dur dalam Pergolakan Islam Indonesia Modern"
Posting Komentar
Tinggalkan komenrar Anda di sini!