<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442</id><updated>2012-01-30T19:29:00.576-08:00</updated><category term='Gagasan'/><category term='Sosok'/><category term='Resensi Buku'/><category term='Sajak'/><category term='Film'/><category term='Obituari'/><category term='Cerpen'/><category term='Esai'/><category term='Catatan'/><category term='Opini'/><title type='text'>Pena Pagi</title><subtitle type='html'>Verba Valent, Scripta Manent</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>191</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-16390655929408714</id><published>2012-01-29T17:54:00.000-08:00</published><updated>2012-01-29T22:03:35.453-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Kisah Anak-Anak Muda Idealis dari Pelosok*</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-jggs5zIJN6o/TyX4OND3khI/AAAAAAAAAoI/sLvNSTd7XxU/s1600/Cover%2BBuku%2BIndonesia%2BMengajar.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-jggs5zIJN6o/TyX4OND3khI/AAAAAAAAAoI/sLvNSTd7XxU/s320/Cover%2BBuku%2BIndonesia%2BMengajar.jpg" width="198" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Membaca&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; buku ini mengingatkan saya pada Belitung, seperti yang diceritakan Andrea Hirata dalam novel Laskar Pelanginya, di mana SD Muhammadiyah Belitung berdiri dengan serba kekurangan; kekurangan guru, murid, dan ruangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal ini ternyata tidak hanya terjadi di Belitung. Pendidikan, ternyata masih menjadi barang mahal dan langka di berbagai pelosok negeri ini. Ditambah lagi fasilitas yang ada sangat memprihatinkan, seperti bangunan hampir roboh, bangku dan kursi tidak lengkap, dan sejenisnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika masalah-masalah tersebut masih terjadi di negeri ini, bagaimana nasib Bangsa ini ke depan? Jawabannya, sudah dipastikan negeri ini akan tertinggal dan jauh dari peradaban. Hal ini ternyata disadari oleh Anies Baswedan yang kemudian mendirikan Gerakan Indonesia Mengajar. Lewat gerakan ini Anies Baswedan ingin mengajak putra-putri terbaik negeri ini untuk mengabdi sebagai guru SD di pelosok-pelosok negeri ini. Merekalah yang kemudian disebut sebagai Pengajar Muda.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebanyak 51 pengajar muda pilihan disebar di berbagai pelosok, di 14 Kabupaten antara Sabang dan Merauke, yang sebagian besar belum terjamah listrik dan sinyal telepon seluler, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana janji kemerdekaan Republik Indonesia. Mereka rela meninggalkan hingar bingar kota, peluang karir, dan limpahan fasilitas, demi masa depan anak Bangsa di pelosok agar mendapatkan pendidikan yang memadai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peta penempatannya terdiri dari Kabupaten Aceh Utara, Bengkalis, Tulang Bawang Barat, Lebak, Kapuas Hulu, Paser, Gresik, Majene, Bima, Sangehe, Rote Ndau, Halmahera Selatan, Maluku Tenggara Barat dan Fakfak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selama satu tahun mereka mendedikasikan dirinya untuk anak-anak pelosok yang polos belum terkontaminasi unsur apa pun. Dari masing-masing tempat tugas, mereka mengisahkan pengalaman dan pengamatannya.Mulai dari suka cita sampai kegelisahan selama proses beradaptasi dengan lingkungan barunya. Dalam setiap harinya ada saja sesuatu yang tidak kosong untuk diceritakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kisah-kisah itulah yang kemudian terangkum dalam buku Indonesia Mengajar.Kisah-kisah mereka yang awalnya termuat dalam situs web Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar dipilih dan dipublikasikan dalam buku ini. Buku yang dalam jangka waktu 2 bulan, November-Desember 2011, sudah cetak tiga kali. Luar biasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di pelosok-pelosok itulah pengajur muda idealis itu mengabdikan dirinya. Berbagi ilmu selama satu tahun. Mereka datang menghampiri anak-anak yang seringkali tidak beralas kaki, berbaju kumul, dan ala kadarnya, menumbuhkan harapan kepada mereka untuk terus meraih masa depan indahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penampilan anak pelosok boleh saja ketinggalan, tapi kemampuan mereka ternyata juga bersaing dengan mereka yang di perkotaan yang lengkap dengan berbagai fasilitas mendukung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti yang dituliskan oleh Erwin Puspaningtyas Irjayanti pengajar muda Mejene tentang Rizki, kelas 3 SD. Rizki yang dikenal pemalu, cuek, dan sulit tersentuh ternyata merupakan anak yang genius (hal. 4-7).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kisahnya, pada suatu kesempatan, sehabis shalat Isya’, di balik pintu kamar Erwin Puspaningtyas Irjayanti tiba-tiba terlempar bulatan kertas karena diremas, tak tahu dari siapa. Ternyata kertas itu dari Rizki. Setelah dibuka, ternyata kertas itu berisi soal-soal matematika yang sempat diajarkan kepada anak kelas 4 dan 6. Di kertas lain, coretan soal lain yang Rizki buat dan jawab sendiri. Tak disangka ternyata 80 persen jawaban Rizki benar, padahal ia masih kelas tiga dan sudah 3 bulan tidak masuk sekolah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kisah lainnya juga disuguhkan oleh Rahmat Danu Andika tentang Upi yang berbahasa angka. Upi yang masih duduk di kelas 2 SD ternyata mempunyai rumus menghitung sendiri tanpa harus menggunakan jari tangan atau kaki, layaknya kebiasaan murid-murid SD umumnya. Untuk menjawab soal kurangan ia hanya membutuhkan beberapa detik, tanpa harus menggunakan bantuan. Cukup berbekal bayangan di kepala Upi langsung menjawab dengan cepat (hal. 15-16).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah diusut ternyata ia menggunakan rumus bahwa bilangan yang ujungnya sama, jika dikurangkan pasti hasilnya akan genap puluhan. Misalnya pada 76-33. Dia mengasumsikan bahwa pengurangnya adalah 36 sehingga ia tahu bahwa jawabannya adalah empat puluh sekian. Setelah itu, barulah ia menambahkan 40 dengan 3 (selisih antara 36 dan 33).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masih banyak kisah menggugah dalam buku ini yang semuanya disuguhkan dengan bahasa yang apik dan ringan, sehingga cocok untuk siapa saja, tanpa harus menguras pikiran, terutama mereka para orangtua dan pendidik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhir kata, semoga buku ini dibaca oleh para pejabat, pengusaha, dan lebih-lebih wakil rakyat kita, sehingga tertegun hatinya untuk melihat wajah pendidikan kita yang masih compang camping karena masih banyak sekolah-sekolah yang tidak terurus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-3AL0KUMFYZY/TyYwdLZjCmI/AAAAAAAAAoQ/NBGZliBOofo/s1600/Resensi+Radar+Surabaya,+29-1-12.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="149" src="http://2.bp.blogspot.com/-3AL0KUMFYZY/TyYwdLZjCmI/AAAAAAAAAoQ/NBGZliBOofo/s320/Resensi+Radar+Surabaya,+29-1-12.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Data Buku&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul  : Indonesia Mengajar&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penulis  : Penagjar Muda&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penyunting : Ikhdah Henny dan Retno Widyastuti&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penerbit : Bentang Pustaka, Yogyakarta&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cetakan : III, Desember 2011&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tebal  : xviii + 322 halaman&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;ISBN  : 978-602-8811-57-6&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Harga  : Rp. 54.000,00&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;*dimuat di Radar Surabaya (29 Januari 2012)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-16390655929408714?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/16390655929408714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2012/01/kisah-anak-anak-muda-idealis-dari.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/16390655929408714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/16390655929408714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2012/01/kisah-anak-anak-muda-idealis-dari.html' title='Kisah Anak-Anak Muda Idealis dari Pelosok*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-jggs5zIJN6o/TyX4OND3khI/AAAAAAAAAoI/sLvNSTd7XxU/s72-c/Cover%2BBuku%2BIndonesia%2BMengajar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-6093301317008632641</id><published>2012-01-23T19:43:00.000-08:00</published><updated>2012-01-29T22:13:29.659-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Teladan Kepemimpinan Pangeran Sambernyowo*</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-v2v7PBonXI4/Tx4oppurAMI/AAAAAAAAAn8/RWIevHGOnn4/s1600/Cover%2BBuku%2BPangeran%2BSambernyowo.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-v2v7PBonXI4/Tx4oppurAMI/AAAAAAAAAn8/RWIevHGOnn4/s320/Cover%2BBuku%2BPangeran%2BSambernyowo.JPG" width="210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Pangeran&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; Sambernyowo adalah nama laqab (julukan) dari Raden Mas (RM) Said, Pahlawan Nasional—yang diangkat pada tahun 1983. Laqab itu dilekatkan padanya karena kelihaiannya dalam berperang melawan penjajahan Belanda. Selama memimpin perang, RM Said tidak sekedar mengalahkan musuh dalam peperangan dan pertempurannya, tapi tidak jarang ia langsung “mencabut nyawa” musuhnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;RM Said melakukan peperangan demi mempertahankan harkat dan martabat bumi Mataram dari penjajahan Belanda. Ia tidak mau Mataram dikuasai oleh Belanda. Baginya Mataram adalah harga dirinya. Karenanya ia berjuang mati-matian selama 16 tahun demi tanah dan rakyat Mataram. Buku “Kepahlawanan dan Inspirasi Pangeran Sambernyowo” ini, salah satu bukti tertulis perjuangan beliau.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kelihaian RM Said dalam berperang bagaikan dewa berlalu. Pasukannya seakan tidak diketahui oleh musuh-musuhnya, bagaikan siluman yang tak dapat dilihat oleh musuh-musuhnya. Menurut Wiranto, strategi peperangan pangeran sambernyowo itu ada kemiripan dengan strategi peperangan Pangeran Sun Tzu, pangeran perang hadal Tiongkok pada abad ke-7 sebelum masehi (hal. 30), sehingga RM Said akhirnya berhasil melahirkan dua konsep peperangan; 1) tiji-tibeh (mukti siji mukti kabeh-mati siji mati kabeh) dan 2) hanebu sauyun (serumpun bagai serai-seliang bagai tebu).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dua konsep itulah yang ditanamkan RM Said kepada para pasukannya. Rasa kebersamaan yang tesirat pada konsep pertama dan persatuan yang kokoh yang tersirat pada konsep kedua berhasil tertanam pada setiap pasukannya, sehingga pasukannya selalu kompak dan sangat sulit untuk dihancurkan oleh musuhnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada tiga fase peperangan yang dialami RM Said selama 16 tahun itu. Tahun 1741-1742, bersama laskar China melawan Belanda. Kemudian pada tahun 1743-1752 bersama Pangeran Mangkubumi (paman sekaligus ayah mertuanya) melawan Mataram dan Belanda. Dan pada tahun 1752-1757 melawan dua kerajaan (Mangkubumi dan Pakubuwono III) dan Belanda.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meski di tengah peperangan RM Said harus menghadapi paman sekaligus mertuanya sendiri, Mangkubumi, namun keputusan untuk terus berperang tidak menyurutkannya. Baginya ia tetap akan mendahulukan kepentingan umum, yaitu demi menjunjung tinggi harkat dan martabat rakyat Mataram.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;RM Said harus berperang juga dengan Mangkubumi, karena Mangkubumi yang awalnya berkoalisi dengannya berkhianat ikut menandatangani perjanjian Giyanti (1755) dengan Belanda, yang kemudian Mangkubumi diberi kekuasaan di Mataram Ngayogyakarta dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwono.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekilas RM Said berbuat makar pada penguasa di masa itu atau berlaku kurang ajar kepada paman sekaligus ayah mertuanya, karena tidak tunduk padanya, namun sebetulnya di sanalah letak keberanian dan keprofesionalan beliau. Demi keadilan, RM Said tidak pandang bulu. Baginya, penegakan kebenaran dan keadilan tidak berhubungan dengan kerabat dan kepentingan pribadi. Satu tekad dalam perjuangan RM Said, yaitu untuk mengenyahkan Belanda dari bumi Mataram dan untuk menyatukan Mataram dalam satu pemerintahan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Landasan perjuangan RM Said bertumpu pada tiga langkah jitu, yang kemudian dikenal dalam istilah Tridarma. Pertama, rumongso melu handarbeni (merasa memiliki). Kedua, wajib melu hangrungkebi (wajib ikut mempertahankan). Dan ketiga, mulat sariro hangsoro wani (mawas diri dan berani bertanggung jawab).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perjuangan RM Said selama 16 tahun melawan Belanda, merupakan contoh pejuang yang kokoh terhadap prinsip dan kepribadiannya; pantang menyerah, sehingga akhirnya ia berhasil memotivator dengan menunjukkan pada pasukannya, bahwa perjuangannya untuk rakyat dan bersama rakyat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain itu, RM Said selalu geram ketika melihat ketidakadilan. Ketika demikan, ia ingin menjadi orang terdepan untuk memberantasnya. Dalam setiap tindakannya, RM Said, tidak pernah mempunyai “hiden agenda” demi mendahulukan kepentingan dirinya sendiri. Sebagai contohnya, RM Said mendapatkan posisi tawar untuk menjadi raja, justru ia tidak mau menggunakannya. Dia rela memberikan posisi tersebut pada pamannya, Pangeran Mangkubumi, menjadi Raja Pakubuwono III.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal inilah yang patut dan perlu dicontoh oleh pemimpin dan calon pemimpin negeri ini, agar praktik KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) yang lagi membelit menjadi bersih, sehingga ksisis kepercayaan rakyat terhadap pemimpinnya tidak menjadi permasalahan lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhir kata, jika para wakil rakyat di negeri ini bisa meneladi kepemimpinan RM Said, maka tidak akan ada lagi raja yang bertingkah seperti politikus, negarawan yang bertingkah seperti penguasa, pecinta NKRI yang meneriakkan referendum, yang membela wong cilik tidak memanfaatkannya demi kepentingan politiknya, yang pengusaha tidak ikut berkuasa menjalankan kebijakan miring pemerintah.&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-iekmMjbEJjk/TyYzhoHjS5I/AAAAAAAAAoY/1l0hMm1sMes/s1600/Resensi+Buku+di+Duta+Masyarakat,+22-1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-iekmMjbEJjk/TyYzhoHjS5I/AAAAAAAAAoY/1l0hMm1sMes/s320/Resensi+Buku+di+Duta+Masyarakat,+22-1.jpg" width="176" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Data Buku&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Kepahlawanan dan Inspirasi Pangeran Sambernyowo&lt;br /&gt;Penulis&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Agus Haryo Sudarmojo&lt;br /&gt;Penerbit&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Penerbit Buku Kompas, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : I, Desember 2011&lt;br /&gt;Tebal&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : xx + 180 halaman&lt;br /&gt;ISBN&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : 978-979-709-612-0&lt;br /&gt;Harga&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Rp. 38.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;*telah dimuat di harian Duta Masyarakat (22/1/2012)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-6093301317008632641?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/6093301317008632641/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2012/01/teladan-kepemimpinan-pangeran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/6093301317008632641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/6093301317008632641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2012/01/teladan-kepemimpinan-pangeran.html' title='Teladan Kepemimpinan Pangeran Sambernyowo*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-v2v7PBonXI4/Tx4oppurAMI/AAAAAAAAAn8/RWIevHGOnn4/s72-c/Cover%2BBuku%2BPangeran%2BSambernyowo.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-2545224348049080276</id><published>2012-01-06T00:04:00.000-08:00</published><updated>2012-01-06T00:26:26.723-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Berislam secara Toleran*</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Yq7dv7OV7sQ/TwaqgBjVLoI/AAAAAAAAAnw/XGluD5dsSxY/s1600/Religion.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-Yq7dv7OV7sQ/TwaqgBjVLoI/AAAAAAAAAnw/XGluD5dsSxY/s320/Religion.gif" width="314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Aksi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; pembakaran pesantren Syiah oleh masyarakat Sunni di Sampang, Madura, Kamis (29/12/2011) lalu menambah daftar aksi kekerasan yang terjadi di negeri ini. Parahnya, aksi itu terjadi antarsesama muslim. Sebuah ironi besar, karena Islam sendiri tidak membenarkan praktik kekerasan dalam hal apa pun. Jangankan hanya berbeda paham, seperti Sunni dan Syiah, berbeda agama pun tidak dibenarkan dalam Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, ada tiga faktor utama mengapa hal seperti itu terus terjadi di negeri ini. Pertama, tidak adanya rasa toleransi atau merasa benar sendiri dari kelompok masyarakat. Kedua, adanya unsur kelompok masyarakat yang tidak mau disaingi oleh kelompok lain. Ketiga, tidak adanya rasa lapang dada di antara masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Agar hal serupa tidak terjadi lagi, maka diperlukan penyadaran diri dari seluruh kalangan masyarakat kita tentang pentingnya hidup rukun dan toleran antarsesama. Islam tidak mengajarkan kekerasan. Islam sangat menghargai perbedaan. Sangat tidak dibenarkan dalam Islam, jika hanya karena berbeda paham atau jalan, kemudian seenaknya “main hakim‘ sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada beberapa perbedaan paham Sunni dan Syiah, memang. Seperti: dalam hal imamiyah, hadis, dan terjemah dalam shalat. Dalam hal hadis, Sunni menerima semua hadis yang diriwayatkan oleh para sahabat dan tabi‘ien, sedangkan Syiah tidak. Dalam hal imamiyah, Sunni tidak mengharuskan, sedangkan Syiah wajib. Dan dalam terjemah shalat, Sunni tidak mengesahkannya, sedangkan Syiah boleh-boleh saja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terlepas dari beberapa perbedaan tersebut, Islam sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, baik terhadap kalangan nonmuslim maupun terhadap sesama muslim lainnya yang mungkin berbeda paham. Islam tidak mengajarkan kepada umatnya untuk menyebarluaskan ajaran agamanya dengan cara-cara pemaksaan dan kekerasan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Toleransi dalam Islam dibangun di atas alasan-alasan menghormati kebebasan berpendapat dan berkeyakinan (&lt;i&gt;hurriyyah alra‘yi wa al-i‘tiqad&lt;/i&gt;) dan komitmen untuk hidup berdampingan secara damai (&lt;i&gt;ta‘ayusy/coexistence&lt;/i&gt;). Meskipun demikian, toleransi bukan berarti saling melebur keyakinan. Bukan pula untuk saling bertukar keyakinan di antara kelompok-kelompok agama yang berbeda.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Toleransi yang dimaksud dalam Islam adalah dalam pengertian &lt;i&gt;mu‘amalah&lt;/i&gt; (interaksi sosial). Artinya, masing-masing pihak atau kelompok setidaknya bisa mengendalikan diri dan menyediakan ruang untuk saling menghormati “keunikan" sesama tanpa merasa ada yang terancam dan diancam atas keyakinan dan haknya masing-masing.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Al Quran menjelaskan, tidak ada paksaan dalam agama (keyakinan). (Al-Baqarah, 2: 256). Ayat ini, menurut Ibnu ‘Abbas, turun sehubungan dengan kasus seorang Anshar bernama Husain yang memaksa kedua anaknya yang beragama Kristen agar pindah ke agama Islam. Namun, kedua anaknya menolak paksaan itu. Kemudian, turunlah ayat tersebut sebagai respons eksplisit bahwa pemaksaan keyakinan adalah tindakan terlarang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari sini, semakin jelas, bahwa perbuatan memaksa tidak dibenarkan dalam Islam apalagi sampai pada aksi kekerasan. Islam melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Islam mengajak umatnya untuk berislam secara toleran; saling menghargai satu sama lain, baik satu keyakinan maupun beda keyakinan. Hal ini juga didukung ayat lain dalam surah Yunus, 10: 99.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Kembali pada Sejarah&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Prinsip-prinsip toleransi sebetulnya sudah diterapkan oleh Nabi Muhammad pada masanya. Akan tetapi masih ada umat Islam yang “buta" tentang semua itu, sehingga masih terjadi aksi kekerasan atas nama agama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, salah satu langkah damai yang dilakukan adalah mengadakan perjanjian, meliputi kaum Yahudi, Anshor, dan Muhajirin. Dalam perjanjian pertama dengan golongan lain, kebebasan beragama diberikan kepada yang bukan muslim. Yahudi Madinah bebas menjalankan agama mereka sendiri. Mereka bebas hidup menurut kepercayaan dan amalan mereka sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Contoh lain yang ditunjukkan Nabi Muhammad adalah pembelaannya terhadap orang Kristen Najran. Nabi Muhammad memberi jaminan kebebasan dan perlindungan terhadap jiwa, harta, dan agama orang-orang Kristen Najran. Gereja-gereja mereka tidak akan dihancurkan dengan cara apa pun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka tidak dibenarkan diambil pajaknya secara tidak adil dan tidak dibenarkan juga jika ada gereja diruntuhkan untuk tujuan pembangunan masjid di tempat itu. Bahkan, seandainya seorang Muslim menikahi wanita Kristen, wanita itu bebas menjalankan kewajiban agamanya sendiri. Orang-orang muslim harus siap membantu orang Kristen jika mereka perlu bantuan dalam memperbaiki tempat-tempat ibadah mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam konteks lain, Khalifah kedua, Umar bin Khattab pernah memerintahkan kepada pasukan muslim untuk tidak mengganggu kenyamanan orang nonmuslim seraya berkata, “Jangan menghancurkan pohon-pohon, buah, atau tanah pertanian di jalan yang kalian lalui. Adillah dan jagalah perasaan orang-orang lemah. Hormatilah para pemuka agama yang tinggal di biara atau pertapaan dan berilah tempat di gedung mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Begitu banyak contoh toleransi yang diterapkan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya, yang pastinya harus kita contoh sebagai umat Islam. Ini juga menjadi bukti bahwa Islam juga menjamin hak dan kewajiban sesama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Bersikap Arif&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berhubungan dengan kasus konflik Sunni-Syiah, mari kita bersikap arif dalam menilai paham di luar kita. Kita boleh memegangi pendapat kita, tapi kita juga harus mengerti pendapat saudara kita sesama muslim--khususnya. Inilah sejatinya arti toleransi sebagai pengejawantahan ayat Al Quran, lakum dinukum wa liyadin (agamamu ya agamamu dan agamaku ya agamaku).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhir kata, mari kita berislam secara toleran. Jangan sampai ada lagi aksi pembakaran pesantren Syiah, seperti yang terjadi di Sampang. Apalagi Syiah itu sendiri tidak bertegangan dengan Islam. Syiah merupakan madzhab kelima dalam Islam, sesuai konferensi internasional Ulama Islam di Mekkah, dua tahun silam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;*Dimuat di Harian &lt;a href="http://www.jurnas.com/halaman/10/2012-01-06/194609" target="_blank"&gt;Jurnal Nasional&lt;/a&gt; (6/1/2012)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-2545224348049080276?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/2545224348049080276/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2012/01/berislam-secara-toleran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/2545224348049080276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/2545224348049080276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2012/01/berislam-secara-toleran.html' title='Berislam secara Toleran*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Yq7dv7OV7sQ/TwaqgBjVLoI/AAAAAAAAAnw/XGluD5dsSxY/s72-c/Religion.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-5556796719784387029</id><published>2012-01-05T18:10:00.000-08:00</published><updated>2012-01-05T18:19:33.985-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Semangat dan Keberanian Sahabat Wanita Rasulullah*</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-04sz6tr24kQ/TwZX8PfAOhI/AAAAAAAAAno/K0aiVnECHZA/s1600/Cover%2BBuku%2BSahabat%2B-%2BWanita%2BRasulullah.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="316" src="http://1.bp.blogspot.com/-04sz6tr24kQ/TwZX8PfAOhI/AAAAAAAAAno/K0aiVnECHZA/s320/Cover%2BBuku%2BSahabat%2B-%2BWanita%2BRasulullah.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Sudah&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; lumrah kita ketahui bahwa Shahabatun Nabi adalah orang yang melihat Rasulullah dalam keadaan Islam, meskipun pertemuannya tidak dalam tempo yang lama. Orang-orang inilah yang oleh Allah disebut langsung dalam al-Qur'an dengan janji surga di akhirat nanti (QS, At-Taubah: 100). Selain itu, orang-orang inilah juga, yang oleh Rasulullah disebut sebagai generasi terbaik, sebagaimana sabdanya; Khairun nas qarni, tsummal ladzi yalunahum, tsummal ladzi yalunahu (sebaik-baik manusia adalah yang ada pada zamanku, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Betapa mulianya seorang sahabat Nabi. Keutamaannya tidak tertandingi oleh generasi-generasi selanjutnya. Mereka merupakan umat terbaik, masyarakat terbaik, dan generasi terbaik umat Islam. Semua ini bisa dilihat dari perjuangan mereka, bagaimana kesetiaannya dalam menemani, membela, dan melindungi Nabi. Lihat saja bagaimana perjuangan Abu Bakar Shiddiq, Umar ibn Khattab, Usman ibn Affan, Ali ibn Abi Thalib. Mereka dengan setianya mendampingi dan melindungi Nabi sampai mendapatkan gelar Khulafa' al-Rasyidin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak terkecuali para sahabat wanita (shahabiyat) Rasulullah. Mereka juga tidak mau kalah dalam mendampingi dan melindungi Rasulullah. Semuanya mereka korbankan demi Rasulullah, baik harta maupun jiwa (nyawa), seperti yang terkisah dalam buku "Sahabat-Wanita Rasulullah: Kisah Hidup Muslimah Generasi Pertama" karya Mahmud al-Mishri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Buku ini mengisahkan 20 sahabat wanita Rasulullah dari berbagai latar belakang. Mulai dari yang merupakan kerabat Nabi sampai orang yang pernah memusuhi Nabi, seperti Ummu Ammarah dan Hindun bin Utbah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummu Ammarah adalah salah seorang sahabat wanita Rasulullah yang mempunyai semangat juang tinggi. Dialah yang melindungi Rasulullah di perang Uhud. Ia ikut menghunus pedang dan menjadikan tubuhnya sebagai perisai untuk membentengi Rasulullah dari serangan orang kafir setelah umat Islam mendapat serangan balik. Ia tidak menghiraukan nyawanya sendiri demi keselamatan Rasulullah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selanjutnya, Hindun bint Utbah. Ia adalah sahabat wanita yang dulunya sangat membenci Islam. Selama 20 tahun ia memusuhi kaum muslim dan menyakiti Rasulullah. Semua harta ia keluarkan untuk menghalangi manusia dari jalan Allah. Namun, siapa sangka akhirnya wanita ini menjadi salah seorang wanita yang dijanjikan masuk surga semenjak menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah pada penaklukkan Mekkah (hal. 367-390). Pada perang Yarmuk Hindun bint Utbah lah yang menjadi mengobar semangat prajurit Islam, di mana kala itu umat Islam sempat lemah.Begitu beraninya para sahabat wanita Rasulullah dalam membela Islam dan Rasulnya. Walaupun berjihad (berperang) hanya diwajibkan bagi kaum laki-laki, namun bukan halangan baginya untuk bisa ikut berjihad. Tak jarang para sahabat wanita memiliki keinginan untuk bertempur layaknya sahabat laki-laki Rasulullah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejarah mencatat, ketika perang Hunain terjadi, Ummu Sulaim. yang ketika itu sedang hamil, juga ikut menyertai pertempuran. Ummu Sulaim. senantiasa membawa tombak dan berdiri di samping Rasulullah. Ketika ditanya untuk apa tombak ia bawa, ia menjawab bahwa jika orang kafir datang, dia akan melemparkan tombak itu ke perutnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam perang Uhud dan Badar, Ummu Sulaim juga merawat pasukan muslim yang sakit dan terluka. Hal ini disaksikan oleh sahabat Anas, bahwa ia melihat Ummu Sulaim dan Aisyah bint Abu Bakar (di medan perang Badar), menyingsingkan bajunya hingga gelang kakinya terlihat. Keduanya memasukkan air ke dalam geriba (tempat air dari kulit), lalu meminumkan air itu ke mulut pasukan muslim yang terluka, kemudian keduanya kembali untuk memenuhi geriba-geriba tersebut dan datang lagi untuk meminumkan air di mulut pasukan muslim (hal. 44).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam buku ini tidak jarang ditemukan pengulangan peristiwa dengan kata, kalimat, dan redaksi yang sama. Hal ini mungkin ada yang berapaggapan bahwa pengulangan itu adalah sisi minus buku ini, dikarenakan sebuah pengulangan dalam sebuah karya adalah pemborosan kata. Tapi lebih dari itu, hemat saya, hal itu wajar dan tidak menjadi sisi minus buku ini, melihat isi dalam buku ini adalah kisah para sahabat wanita Nabi yang satu generasi (generasi pertama), di mana tidak jarang satu sahabat dengan sahabat yang lainnya pernah ada-untuk tidak mengatakan sering-pada satu peristiwa yang sama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhir kata, kisah dalam buku ini, sangat cocok untuk dijadikan teladan perjuangan, lebih-lebih negeri kita ini yang sedang dilanda krisis pemimpin dan publik figur. Semangat dan perjuangan sahabat wanita Rasulullah murni demi Allah dan Rasulnya, tidak demi kepuasan pribadi. Lebih dari itu, buku ini menjadi bukti bahwa betapa Islam tidaklah memarginalkan peran kaum wanita dalam kehidupan. ***&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Data Buku&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul           : Sahabat Wanita Rasulullah: Kisah Hidup Muslimah Generasi Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penulis        : Mahmud al-Mishri&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penerjemah  : Khalifurrahman Fath&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penerbit       : Zaman, Jakarta&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cetakan       : I, November 2011&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tebal           : 397 halaman&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;ISBN           : 978-979-024-296-8&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Harga          : Rp. 40.000,00&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;*Dimuat di &lt;a href="http://www.harianbhirawa.co.id/opini/40757-semangat-dan-keberanian-sahabat-wanita-rasulullah" target="_blank"&gt;Harian Bhirawa&lt;/a&gt; (6/1/2012)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-5556796719784387029?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/5556796719784387029/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2012/01/semangat-dan-keberanian-sahabat-wanita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/5556796719784387029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/5556796719784387029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2012/01/semangat-dan-keberanian-sahabat-wanita.html' title='Semangat dan Keberanian Sahabat Wanita Rasulullah*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-04sz6tr24kQ/TwZX8PfAOhI/AAAAAAAAAno/K0aiVnECHZA/s72-c/Cover%2BBuku%2BSahabat%2B-%2BWanita%2BRasulullah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-6311066331668677603</id><published>2011-12-02T14:28:00.001-08:00</published><updated>2011-12-02T14:45:32.098-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Mengenal Lebih Dekat Keluarga Pak Beye*</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-dB8OuSJ96zY/TtlRQjnvUBI/AAAAAAAAAng/7XnM7Hkn5ic/s1600/Cover%2BBuku%2BPak%2BBeye%2Bdan%2BKeluarganya.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-dB8OuSJ96zY/TtlRQjnvUBI/AAAAAAAAAng/7XnM7Hkn5ic/s320/Cover%2BBuku%2BPak%2BBeye%2Bdan%2BKeluarganya.jpg" width="247" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Buku&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; "Pak Beye dan Keluarganya" ini adalah buku keempat atau buku terakhir dari tetralogi sisi lain SBY (Pak Beye), yang ditulis oleh Wisnu Nugroho. Mas Inu (sapaan akrab Wisnu Nugroho), penulis buku ini dengan bahasa khas kewartawanannya berhasil menggambarkan kepada pembaca dengan gambaran yang sopan dan bijak dalam menyampaikan fakta yang ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Layaknya buku yang menyorot pribadi seorang tokoh, buku ini tidak lepas dari penilaian subjektif Mas Inu, sebagai penulis. Namun, Mas Inu dengan siasat tupainya berhasil menyamarkan subjektifitas pribadinya. Kalau saya menilainya, Mas Inu benar-benar dapat mengemasnya dalam kalimat-kalimat yang sangat "mengelabui" pembaca.  Tidak jarang saya menemukan beberapa hal yang tidak Mas Inu sukai dari Pak Beye, dia menyinggungnya dengan sindiran yang halus dan sentilan yang sulit diterka apakah dia pro atau kontra Pak Beye.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain itu, Mas Inu juga dapat membungkus indah pendapat-pendapat pribadinya. Karenanya, lewat buku ini Mas Inu tidak secara langsung memberikan kebebasan kepada para pembaca untuk memberikan penilaiannya sendiri secara natural, tanpa harus terpengaruh orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sempat terjadi penilaian berbeda antara saya dan orang terdekat saya, akan posisi Mas Inu dalam buku ini; apakah dia pro atau kontra Pak Beye. Dengan penunjukan dan pembuktian hasil bacaan kami masing-masing dalam buku ini, kami menguatkan masing-masing pendapat kami. Sampai resensi buku ini pun saya tulis, penilaian kami pun tetap berbeda. Hal ini menjunjukkan bahwa Mas Inu berhasil menyembunyikan penilaian subjektifitasnya kepada pembaca.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Simbol Kekeluargaan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hemat saya, pemilihan warna sampul buku ini sangat tepat sekali. Warna merah. Warna merah, yang menandakan pertalian darah (keluarga), cocok dengan judul bukunya. Dalam buku ini, Mas Inu menceritakan tentang keluarga Pak Beye dengan bahasa yang renyah nan "menggoda" pembaca. Di dalamnya ada kisah tentang orang tua Pak Beye, Ibu Ani, Mas Ibas (Edhie Baskoro  Yudhoyino), Mas Agus, Mbak Anisa dan Aira (cucu pertama Pak Beye)-yang juga diperkaya dengan foto-foto hasil jepretan Mas Inu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan membaca buku ini, pembaca-baik yang pro maupun yang kontra SBY-akan lebih dekat mengenal keluarga Pak Beye. Jika sebelumnya pembaca tidak mengetahui seluk beluk keluarga Pak Beye, maka dengan membaca buku ini, pembaca sedikit demi sedikit akan mengenal lebih dekat keluarga Pak Beye. Lihat saja, sebelumnya mungkin kita bertanya-tanya kenapa hanya Mas Ibas yang muncul ke permukaan sedangkan kakaknya, Mas Agus Trimurti, meredup dari khalayak (media), padah mereka sama-sama putra presiden.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal itu dijawab oleh buku ini. Mas Ibas lebih muncul ke permukaan karena ia memang disiapkan sebagai "putra mahkota", untuk masa depan Partai Demokrat, berbeda dengan kakaknya, Mas Agus, yang berkarier di bidang militer.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak jarang kita temukan Mas Ibas selalu bersama dalam berkampanye dan mengisi struktural kepartaian. Untuk itu, sangat cocok sekali ketika mas Ibas dibilang sebagai "putra mahkota" keluarga SBY.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kiprah politik mas Ibas, tidak tanggung. Dalam waktu singkat dia langsung ada pada "link" tingkat tinggi. Bahkan di usianya yang masih terhitung belia ini, ia sudah berkiprah dan duduk di kursi DPR RI. Pada pemilu legislatif 2009 kemarin Mas Ibas berhasil meraih suara tertinggi, yang kalau meminjam istilah Mas Inu; Mas Ibas sebagai juara nasional.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain kiprahnya di DPR RI, ia juga menduduki jabatan penting dan strategis di Partai Demokrat. Ia menjadi sekretaris jendral partai di bawah ketua umum partai, Anas Urbaningrum. Dan bahkan andai Mas Ibas sudah matang dalam usia, mungkin dia yang akan (di)duduk(kan) sebagai ketua umum partai. Hal inilah mungkin yang menguatkan bahwa Mas Ibas sebagai sisi sebelah lainnya dari Pak Beye, yaitu sisi sipil (politik)-nya, yang mana terjun ke dunia politik tidak dicita-citakan oleh Mas Ibas sendiri. Karena sebenarnya Mas Ibas bercita-cita ingin seperti eyang, bapak, dan kakaknya, yang sebagai tentara (hal. 70).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selanjutnya, selain kisah seputar Mas Ibas, yang banyak menghiasi buku ini adalah kisah Bu Ani, istri Pak Beye. Bu Ani yang selalu mendampingi Pak Beye setiap detik, juga menarik dibincangkan dalam buku ini. Berbeda dengan anggota keluarga lainnya (Mas Agus, Mbak Annisa, dan Aira) yang lebih sedikit singgungannya ketimabang Pak Beye, Mas Ibas, dan Bu Ani.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari sini, kita tahu bahwa yang lebih dominan mewarnai kekeluargaan Pak Beye dalam posisinya sebagai presiden adalah tiga orang utama; Pak Beye sendiri, Bu Ani, dan Mas Ibas. Perbincangan tiga orang ini bisa dilihat pada isi pembahasan buku ini. Dari tujuh bab yang ada, masing-masing dari tiga orang ini ada pada bab tersendiri, yaitu pada bab 1, 2, dan 3-khusus membahas satu persatu dari ketiganya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bab 1 berisi kisah Pak Beye selama tinggal di Pacitan bersama bibinya, Bu Watini, setelah Pak Soekotjo dan Bu Habibah (bapak dan ibu kandung Pak Beye) bercerai. Kisahnya mulai dari Pak Beya yang kala remajanya dipaggil Sus di Pacitan hingga tekat Pak Beye untuk keluar dari Pacitan demi menggapai citanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bab 2 berisi kisah Bu Ani, mulai dari Bu Ani yang selalu tampil bersama Pak Beye sampai kasus Bu Ani yang sempat memakai jilbab sekeluarga. Dan Bab 3 kisah Mas Ibas, seperti yang sempat disinggung di atas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhir kata, buku ini sangat menarik untuk disimak, yang tidak semua orang tahu selain wartawan kepresidenan. Menariknya lagi, di buku ini, Mas Inu menulis tentang bapaknya Nobita di serial Doraemon yang model rambutnya mirip Pak Beye (hal. 204-206)-yang akan membuat pembaca senyum-senyum membayangkannya. Juga bagaimana Mas Inu menyebut Mas Ibas dengan sebutan "putra mahkota" keluarga Yudhoyono-yang mungkin akan mengingatkan pembaca pada pangeran William yang menikah 29 April bulan lalu. ****&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Data Buku&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Pak Beye dan Keluarganya &lt;br /&gt;Penulis&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Wisnu Nugroho&lt;br /&gt;Penerbit&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Penerbit Buku Kompas, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : I, 2011&lt;br /&gt;Tebal&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : xx + 308&lt;br /&gt;ISBN&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : 978-979-709-553-6&lt;br /&gt;Harga&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : 49.000,-&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;   &lt;m:dispdef&gt;   &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;   &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;   &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;   &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;   &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;   &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;  &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt;&lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:"Cambria Math"; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 415 0;}@font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-font-family:Arial;}.MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:Calibri;}.MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;}@page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;}div.Section1 {page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;telah dimuat di &lt;a href="http://www.harianbhirawa.co.id/opini/39143-mengenal-lebih-dekat-keluarga-pak-beye" target="_blank"&gt;Harian Bhirawa&lt;/a&gt; (2/12/2011)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-6311066331668677603?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/6311066331668677603/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/12/mengenal-lebih-dekat-keluarga-pak-beye.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/6311066331668677603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/6311066331668677603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/12/mengenal-lebih-dekat-keluarga-pak-beye.html' title='Mengenal Lebih Dekat Keluarga Pak Beye*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-dB8OuSJ96zY/TtlRQjnvUBI/AAAAAAAAAng/7XnM7Hkn5ic/s72-c/Cover%2BBuku%2BPak%2BBeye%2Bdan%2BKeluarganya.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-9155354766818129689</id><published>2011-11-17T14:49:00.001-08:00</published><updated>2011-11-17T15:43:08.436-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Ngaji Bersama Syekh Abdul Qadir Al-Jailani*</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-hhSN5_PPPK4/TsWVXDBVCwI/AAAAAAAAAnQ/5eWF48mYpOc/s1600/Cover%2BBuku%2BTafsir%2BAl-Jailani.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-hhSN5_PPPK4/TsWVXDBVCwI/AAAAAAAAAnQ/5eWF48mYpOc/s320/Cover%2BBuku%2BTafsir%2BAl-Jailani.jpg" width="210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syekh Abdul Qadir Al-Jailani adalah salah satu tokoh kharismatik dalam dunia Islam. Para syekh, ulama, dan ahli zuhud mengakui keberadaannya. Ia banyak memiliki keutamaan dan karamah. Karenanya sampai ada yang menjadikannya sebagai &lt;i&gt;washilah&lt;/i&gt; (perantara) dalam do'a.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Al-Hafidz Ibn Katsir berpedapat bahwa Syekh Abdul Qadir Al-Jailani merupakan pemimpin para syekh. Menurutnya, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani berjasa besar di berbagai bidang keilmuan; hadis, fiqih, etika, dan ilmu hakikat. Dalam hal ini, Imam Ibnu Rajab pernah berkata, bahwa Syekh Abdul Qadir Al-Jailani memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma'rifat yang sesuai dengan sunnah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semasa hidupnya, banyak karya yang dihasilkan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, di antaranya "&lt;i&gt;Majalis fi Mawa'izh al-Qur'an wa al-Alfazh al-Nubuwah&lt;/i&gt;", yang kemudian diterjamahkan oleh Aguk Irawan menjadi "Tafsir Al-Jailani", terbitan penerbit Zaman, Jakarta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Buku ini terbagi menjadi empat bagian, yang dalam buku ini diistilah dengan sebutan Majelis. Majelis pertama berisi penafsiran penulis terhadap ayat &lt;i&gt;Ta'awwudz&lt;/i&gt;. Dalam majelis ini dibahas hal ihwal &lt;i&gt;Ta'awwudz&lt;/i&gt;, mulai dari makna harfiahnya sampai bagaimana kita menfungsikannya untuk melawan setan yang terkutuk. Di sini juga, penulis membabat habis jenis-jenis iblis dan keturunannya. Disebutkan bahwa iblis itu suka beranak pinak (hal. 22-24). Ada tujuh anak iblis yang dengan turun temurun suka mengganggu anak adam; pertama bernama Al-Mudhisy. Ia ditugasi mengganggu para ulama' agar terjerumus dalam hawa nafsu dan kesenangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kedua bernama Hadis. Ia ditugasi untuk menggoda orang-orang yang mengerjakan shalat agar tidak khusuk dan sejenisnya. Ketiga bernama Az-Zalbanunun. Ia ditugasi untuk berkeliaran di pasar-pasar untuk membisiki para pedagang agar curang dalam jual beli, menipu, dan banyak memuji secara berlebihan agar cepat laku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keempat bernama Batr. Ia ditugasi menggoda orang-orang agar menyobeki pakaian dan menampari wajah (histeris), bersumpah-sumpah, dan berkeluh kesah ketika musibah dating. Kelima bernama Mansyuth. Ia ditugasi untuk membuat berita bohong, mengadu domba, umpatan, dan kesombongan, sehingga semua orang menanggung dosa. Keenam bernama Wasim, yang diberi tugas untuk menggoda manusia untuk terjerumus pada perzinahan. Dan ketujuh bernama A'war, yang diberi tugas untuk membisiki para pencuri, agar terus mencuri dan mengelabuhi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majelis kedua, tafsiran dari ayat Basmalah. Majelis kedua ini tidak banyak point pembahasanya, tapi syarat pembelajaran yang disuguhkan penulis. Seperti penyuguhan cerita Nabi Sulaiman dan Ratu Bilqis (hal. 39-58), di mana dari cerita tersebut kita bisa melihat bagaimana kekuasaan Allah terhadap umat terdahulu yang ditampakkan lewat Nabi Sulaiman dalam menundukkan kerajaan Ratu Bilqis, yang sebelumnya menyembah matahari. Meski waktu itu ratu Bilqis secara materi lebih mampu dari Nabi Sulaiman, namun akhirnya Nabi Sulaimanm, dengan kuasa Allah, berhasil menundukkannya, bahkan menikahinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Majelis ketiga tentang ayat Tobat. Dalam bagian ini, penulis menuntun dan menginformasikan bagaimana tata cara dan etika tobat. Manusia yang tidak luput dari salah dan dosa, baik dosa kecil maupun besar, wajib hukumnya untuk bertobat. Para nabi pun tidak henti-hentinya bertobat kepada Allah, seperti yang ditampilkan dalam buku ini; Nabi Adam, Nuh, Ibrahi, Dawud, Sulaiman, Musa, dengan cerita mereka masing-masing (hal. 100-105). Di majelis ini juga diterangkan tingkaran taubat, bahwa taubat itu mempunyai tiga tingkatan, yaitu pertama &lt;i&gt;taubat&lt;/i&gt;, kedua &lt;i&gt;inabah&lt;/i&gt;, dan puncaknya adalah &lt;i&gt;aubah&lt;/i&gt;-yang kemuadian dijelas rentetannya masing-masing, dimana &lt;i&gt;taubah&lt;/i&gt; adalah bertaubat yang dikarenakan takut pada hukum Allah. &lt;i&gt;Inabah&lt;/i&gt;, bertaubat karena menginginkan pahala. Dan &lt;i&gt;aubah&lt;/i&gt; adalah bertobat yang demi menjaga perintah, bukan karena ingin memperoleh pahala dan bukan karena takut siksa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Majelis keempat tentang tafsir ayat Takwa. Pada majelis terakhir ini, penulis dengan kedalaman spritualnya mengajak agar kita senantiasa selalu bertakwa. Takwa tidak sekedar takwa, akan tetapi takwa yang sejatinya bisa menjadi tiket ke surga. Hakikat takwa adalah membentengi diri dengan ketaatan kepada Allah dari hukumnya, yang pangkalnya nanti kita akan menjauhi hal-hal yang berbau syirik, maksiat, menjauhi hal-hal yang syubhat, dan kemudian meninggalkan hal-hal yang kurang berguna (&lt;i&gt;al-fadhlat&lt;/i&gt;).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai testimoni saya, dengan gaya bahasa tutur yang dipadu dengan cerita, buku ini menjadi renyah untuk dibaca berbagai kalangan, tidak hanya mereka yang faham bahasa arab sekalipun, meski buku ini diterjemahkan dari kitab klasik (&lt;i&gt;turats&lt;/i&gt;).Akhir kata, membaca buku ini, serasa kita ngaji langsung kepada Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, lebih-lebih kalau kita baca di kala sepi sambil santai mengisi waktu luang. ***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Data Buku&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Judul           : Tafsir Al-Jailani&lt;br /&gt;Penulis        : Syekh Abdul Qadir Al-Jailani&lt;br /&gt;Penerjemah  : Aguk Irawan&lt;br /&gt;Penerbit       : Zaman, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan       : I, 2011&lt;br /&gt;Tebal           : 299 halaman&lt;br /&gt;ISBN           : 978-979-024-287-6&lt;br /&gt;Harga          : Rp. 28.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;*Dimuat di &lt;a href="http://www.harianbhirawa.co.id/opini/38474-ngaji-bersama-syekh-abdul-qadir-al-jailani" target="_blank"&gt;Harian Bhirawa&lt;/a&gt; (18/11/2011)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-9155354766818129689?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/9155354766818129689/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/11/ngaji-bersama-syekh-abdul-qadir-al.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/9155354766818129689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/9155354766818129689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/11/ngaji-bersama-syekh-abdul-qadir-al.html' title='Ngaji Bersama Syekh Abdul Qadir Al-Jailani*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-hhSN5_PPPK4/TsWVXDBVCwI/AAAAAAAAAnQ/5eWF48mYpOc/s72-c/Cover%2BBuku%2BTafsir%2BAl-Jailani.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-359183998591614740</id><published>2011-11-14T22:50:00.001-08:00</published><updated>2011-11-14T23:00:52.058-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Semangat SEA Games 2011*</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-h-wwh-qF4iE/TsIMiTW-4nI/AAAAAAAAAnE/FPdtYG29iAM/s1600/SEA%2BGames%2B2011.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="235" src="http://4.bp.blogspot.com/-h-wwh-qF4iE/TsIMiTW-4nI/AAAAAAAAAnE/FPdtYG29iAM/s320/SEA%2BGames%2B2011.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Secara&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; resmi, SEA Games XXVI dimulai 11-11-2011 lalu. Pembukaan yang diselenggarakan di Stadion Jakabaring Sport City Center Palembang, Sumatra Selatan itu berlangsung meriah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lagu resmi SEA Games 2011; “Kita Bisa” karya komposer Addie MS dilantunkan. Dari 11 negara (Indonesia, Thailand, Myanmar, Singapura, Vietnam, Malaysia, Filipina, Laos, Kamboja, Timor Leste, dan Brunei), masing-masing melakukan parade yang diwarnai mobil karnaval dengan menonjolkan simbol-simbol negaranya masing-masing.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Putra terbaik dari 11 negara se Asia Tenggara tersebut akan berjuang dari berbagai cabang olahraga yang ada, yang digelar di dua kota, Jakarta dan Palembang. Ada sekitar 44 cabang olahraga yang dipertandingkan. Sekitar 21 cabang pertandingan akan dipertandingkan di Palembang, dan 23 cabang pertandingan akan dilakukan di Jakarta. Indonesia yang sudah enam kali tidak menyabet juara umum—sejak SEA Games ke-20 tahun 1999 di Bandar Sri Begawan, Brunei Darrussalam, hingga SEA Games ke-25 tahun 2009 di Vientine, Laos—diharapkan bisa meraihnya kembali di tahun ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Indonesia sebagai tuan rumah SEA Games kali ini pastinya berharap untuk bisa meraih tri sukses; sukses prestasi, sukses penyelenggaraan, dan sukses pemberdayaan. Akan hal ini, tanggal pelaksanaannya pun dipilih tanggal yang serba angka 11 (11-11-2011), yang diharapkan menjadi angka keramat, seperti halnya Olimpiade Beijing 3 tahun lalu pada 8-8-2008 dan dibuka pada pukul 8 malam (8-8-8-8), di mana Negara Tirai Bambu itu menjadi juara umum pertama kalinya di pesta olahraga sejagat itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terlepas dari harapan angka keramat itu, bisakah Indonesia meraih tri sukses di atas? Lebih dari itu, bisakah Indonesia berada di urutan teratas, setelah di SEA Games sebelumnya ada di urutan ketga setelah Vietnam dan Thailand?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menjawab pertanyaan ini tentunya tidak mudah. Namun, sebagai peserta dan masyarakat yang cinta tanah air, pastinya akan berkeyakinan bisa, meski tak satupun orang bisa memberi jaminan. Di samping itu, optimisme tersebut tentunya harus diimbangi dengan usaha yang sungguh-sungguh, tahapan pembinaan yang benar, program latihan terencana, konsisten, dan berkesinambungan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lebih dari itu, yang juga penting selama pelaksanaan SEA Games ini adalah mental masing-masing peserta kita. Mental yang kokoh juga akan mempengaruhi pada tampil maksimal dan tidaknya setiap peserta kita. Untuk itu, pertarungan ketangguhan mental luar biasa yang tidak mengenal kata menyerah yang diharapkan dari para peserta kita yang berlaga. Karena, sikap bahasa tubuh di lapangan yang serius, bersemangat meledak-ledak penuh emosi, berteriak gembira meraih poin atau lunglai saat kehilangan poin atau ketinggalan lawan, sikap tidak mudah menyerah atau mudah menyerah, adalah cermin kepribadian seorang atlet.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cermin kepribadian seorang atlet di lapangan adalah juga cermin kepribadian suatu bangsa asalnya. Dengan demikian, ekspresi kepribadian yang berkualitas dari segenap atlet kita yang berlaga perlu ditata terus. Sebab, jika tidak, bisa jadi mental lemah akan didapatnya.Robert  Kennedy menilai bahwa olahraga adalah salah satu potret suatu bangsa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Robert Kennedy pernah menyatakan akan hal ini di depan United Stated (1996); “Olahraga dapat dipandang sebagai suatu ukuran yang menunjukkan sejauh mana keharuman nama suatu bangsa di mata dunia internasional”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan demikian, wahai putra-putri terbaik Indonesia, perlu dicatat, ingatlah bahwa jerih payah perjuanganmu adalah demi negerimu, dan itu jauh lebih berharga dari sekadar bonus yang akan kamu dapatkan. Singkatnya; merebut medali emas adalah satu hal. Tetapi, perjuangan dengan kesungguhan, penuh darah dan air mata untuk mencapainya adalah hal lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Betapa mulianya para peserta atau atlet yang tampak begitu bersukacita kala mereka mengakhiri sebuah pertandingan yang meski hanya meraih perak atau perunggu. Di mana semua itu ia rasakan bahwa ia memperolehnya dengan sangat berat dan dijalankan dengan penuh kesungguhan. Sesungguhnya dari sanalah yang dapat kita amati seberapa jauh perjuangan peserta kita dalam setiap arena akbar dan bergengsi seperti SEA Games ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;*dimuat di Radar Surabaya (15/11/2011) &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-359183998591614740?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/359183998591614740/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/11/semangat-sea-games-2011.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/359183998591614740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/359183998591614740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/11/semangat-sea-games-2011.html' title='Semangat SEA Games 2011*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-h-wwh-qF4iE/TsIMiTW-4nI/AAAAAAAAAnE/FPdtYG29iAM/s72-c/SEA%2BGames%2B2011.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-3807775878445410806</id><published>2011-11-14T15:36:00.001-08:00</published><updated>2011-11-14T16:54:38.546-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Ide Pembaharuan Islam Tokoh-tokoh Kontemporer*</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-66_6TNuZ2iA/TsG1EgcdkpI/AAAAAAAAAms/6L40WI5Mnf8/s1600/Cover+Buku+Menafsirkan+Tradisi+dan+Modernitas.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-66_6TNuZ2iA/TsG1EgcdkpI/AAAAAAAAAms/6L40WI5Mnf8/s320/Cover+Buku+Menafsirkan+Tradisi+dan+Modernitas.jpg" width="220" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ada banyak ragam seseorang dalam membaca realitas keagamaan dalam tiap fasenya. Ada yang berpegang teguh pada kekuasaan teks dan sebaliknya ada yang mengabaikannya. Penganut tipe yang pertama ini biasa disebut dengan kaum fundamentalis sedangkan yang kedua disebut kaum rasionalis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kaum fundamentalis berkeyakinan bahwa dalam membaca dan memaknai sebuah realitas harus dikembalikan pada teks murni. Mereka mengajak seluruh masyarakat luas agar taat terhadap teks-teks Kitab Suci yang otentik dan tanpa kesalahan. Karenanya faham ini seringkali berbenturan dengan kelompok-kelompok lain, bahkan yang ada di lingkungan agamanya sendiri. Ciri mereka yang menganut faham ini di antaranya suka menolak perubahan, intoleransi, tertutup, kekakuan madzhab (aliran), keras, tunduk kepada turats (tradisi), kembali ke belakang, dan menentang pertumbuhan dan perkembangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kebalikan dari fundamentalis adalah rasionalis. Kaum rasionalis beranggapan bahwa kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, daripada melalui iman, dogma, atau ajaran agama. Bagi mereka, sudah bukan saatnya kita “menuhankan” tradisi. Semuanya harus berubah. Zaman modern menuntut kita untuk berpikir logis dan empiris. Karenanya, bagi mereka, isu-isu problematika yang semakin pelik di berbagai sektor ini harus dibaca dengan logika. Ciri aliran ini adalah penolakannya terhadap perasaan (emosi), adat-istiadat, atau kepercayaan yang sedang populer.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dua aliran yang saling bertentangan di atas, cukup kuat jika dikatakan laksana Tom and Jarry yang tak pernah damai. Keduanya sama-sama perpegang teguh pada prinsipnya. Yang pertama anti modernis dan yang kedua anti turats (tradisi).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selanjutnya, bagaimana kita sebagai insan yang sudah menerima dan mendapatkan hasil olah keduanya? Buku “Menafsirkan Tradisi dan Modernitas: Ide-ide Pembaruan Islam”, saya kira bisa menjadi jawaban dari problematika di atas. Buku ini mencoba membaca turats dan modernitas dengan analisa para tokoh kontemporer Islam yang ide-idenya dilandaskan pada pembaharuan Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebut saja seperti Muhammad Syahrur, Thoha Husain, dan Asghar Ali Engineer. Muhammad Syahrur dengan teori limit-nya merespon keadaan zaman yang pelik ini (hal. 17-21). Baginya, dunia hukum Islam tidaklah terkungkung bak tahanan dalam perjara. Hukum Islam itu bebas bergerak selama dalam batas-batas yang ditentukan. Batasan itu adalah Nabi Muhammad, di mana ia merupakan inspirasi awal untuk melakukan sesuatu. Nabi Muhammad adalah penafsir pertama atas kondisi sosial dunia ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Thoha Husain dengan modal rasionalisme, tradisi ilmiah, dan kesejarahan menyikapi turast dan modernitas dengan arif. Baginya, turats tidak harus ditolak dan begitu juga modernitas. Dengan pemaduan turats dan modernitas, Thoha Husain mencoba membaca ulang turats agar lebih bermakna bagi kemanusiaan terkini (hal. 115-122).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Asghar Ali Engineer dengan teori teologi pembebasannya membaca keterbelakangan Islam dari Barat. Ia menggugat teologi klasik yang hanya berkutat pada pembebasan Tuhan dan menghadirkan teologi kepasrahan. Baginya, keterbelakangan dan ketertindasan umat Islam dikarenakan teologi yang tidak membebaskan. Untuk itu, ia menawarkan teologi pembabasan (hal. 336-338), di mana teologi itu tidak hanya untuk “membela” Tuhan, akan tetapi juga untuk “membela” manusia. Untuk hal ini, Asghar Ali Engineer meneliti turats untuk dicari nuansa pembebasannya dan mendialogkan dengan realitas kekinian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Buku yang ditulis keroyokan oleh para pemikir dan intelektual strata tiga Pemikiran Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya ini layak untuk dibaca para akademisi dan intelektual keislaman secara umum. Topik buku ini, yang sampai mereka bawa ke dalam forum diskusi—yang mereka istilahkan Forum “20”—sebelum terbit semakin menambah nilai ketajaman analisis masing-masing penulisnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai catatan akhir, ada dua catatan saya perihal buku ini, yaitu pertama, mengingat buku ini merupakan kajian tokoh, seringkali ditemukan judul tulisan kurang mewakili isi tulisan. Lihat saja, seperti pada tulisan yang berjudul “Membendung Otoritarianisme, Mengusung Hermeneutika Negosiatif” (hal. 67). Tulisan dengan judul tersebut berisi kajian terhadap pemikiran tokoh Khaled Abou El-Fadl, namun judul itu kurang memberi informasi bahwa di dalamnya berisi pemikiran tokoh Khaled Abou El-Fadl. Bagi para pembaca yang sudah berkecipung lama dengan dunia pemikiran tokoh kontemporer, mungkin tidak asing bahwa teori Hermeutika Negosiatif adalah teori interpretasi Khaled Abou El-Fadl, namun belum tentu bagi pembaca yang baru (baca: pemula) berkecipung dalam dunia pemikiran kontemporer? Hal serupa juga bisa ditemukan pada halaman-halaman lain seperti halaman 23 (tentang pemikiran Hassan Hanafi), 43 (tentang pemikiran Muhammad Syahrur), 109 (tentagn pemikiran Thaha Husain), 123 (tentang pemikiran Sayyed Hussein Nasr), 219 (tentang pemikiran Baihaqi AK) dan 253 (tentang pemikiran Fatima Mernessi).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kedua, buku ini terkesan buku foto copy-an, bukan cetakan asli, melihat lay out pinggirnya yang mepet dengan tepi buku sehingga seakan-akan terpotong karena mau dijilid dan ditambah lagi kertasnya yang buram.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Data Buku&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Judul: Menafsirkan Tradisi dan Modernitas: Ide-ide Pembaharuan Islam&lt;br /&gt;Penulis    : Wasid, dkk.&lt;br /&gt;Penerbit: Pustaka Idea, Surabaya&lt;br /&gt;Cetakan: I, Juli 2011&lt;br /&gt;Tebal: 369 halaman&lt;br /&gt;ISBN: 978-602-99387-1-5&lt;br /&gt;Harga: Rp. 59.000&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;*dimuat di &lt;a href="http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/12/34517/Buku/Ide_Pembaharuan_Islam_Tokoh_tokoh_Kontemporer.html" target="_blank"&gt;NU Online&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-3807775878445410806?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/3807775878445410806/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/11/ide-pembaharuan-islam-tokoh-tokoh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/3807775878445410806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/3807775878445410806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/11/ide-pembaharuan-islam-tokoh-tokoh.html' title='Ide Pembaharuan Islam Tokoh-tokoh Kontemporer*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-66_6TNuZ2iA/TsG1EgcdkpI/AAAAAAAAAms/6L40WI5Mnf8/s72-c/Cover+Buku+Menafsirkan+Tradisi+dan+Modernitas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-729188975068325431</id><published>2011-11-06T15:31:00.000-08:00</published><updated>2011-11-06T15:47:26.661-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Dongeng Kehidupan Seorang Ayah Kepada Anaknya*</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-irMz-BFHYkk/TrcahW3A2NI/AAAAAAAAAmc/v8H46ihwW1o/s1600/Cover%2BBuku%2BGadis%2BJeruk.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-irMz-BFHYkk/TrcahW3A2NI/AAAAAAAAAmc/v8H46ihwW1o/s320/Cover%2BBuku%2BGadis%2BJeruk.jpg" width="202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Selalu&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; ada yang menarik yang saya temukan dalan tulisan-tulisan Jostien Gaarder. Seperti pada buku sebelumnya, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken, dalam buku ini, Gadis Jeruk, Gaarder—begitu sapaan akrab Jostien Gaarder—menyajikan banyak hal dan informasi tentang dunia buku. Keduanya sama-sama mengambil konflik tentang surat-menyurat. Gaarder selalu dan masih setia pada penceritaannya yang menghadirkan kisah dalam kisah melalui media surat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika pada Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken, Gaarder mengisahkan komunikasi surat menyurat antara sepasang saudara sepupuan, maka dalam buku Gadis Jeruk, yang kabarnya sudah diterjemahkan ke dalam 43 bahasa ini, Gaarder mengisahkan cerita atau surat yang ditulis oleh seorang ayah yang telah meninggal dunia belasan tahun lamanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Isi surat itu ditulis oleh seorang ayah, Jan Olav, kepada anaknya, Georg Roed, yang pada waktu itu masih berumur 4 tahun. Surat itu berisikan pesan hidup Jan Olav kepada Georg Roed, yang dikemas dengan penceritaan kisah cintanya dengan gadis jeruk yang misterius. Surat ini diselipkan di kereta dorong Georg Roed dengan harapan nantinya ada yang menemukannya dan bisa dibaca oleh Georg Roed di kala sudah dewasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesuai dengan harapan, ternyata Georg Roed memang menemukan surat itu dan membacanya pas ia sudah mau beranjak dewasa. Rasa haru pun menghampiri Georg Roed karena surat itu ditulis ayahnya ketika ia berumur 4 tahun dan baru ia baca setelah ia sudah berumur 15 tahun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kisahnya, Jan Olav yang sudah tua dan menderita penyakit, dengan profesinya sebagai dokter, ia tahu dan sadar bahwa umurnya tidak akan lama lagi. Untuk itu, dengan didasari pemikirannya bahwa ia tidak mungkin sempat membicarakan hal ihwal kehidupan kepada Georg Roed yang masih berumur 4 tahun, ia kemudian menulis surat yang kemudian ia selipkan di kereta bayi milik Georg Roed dengan harapan kelak ketika Georg Roed sudah dewasa bisa membaca dan mengambil hikmah dari pesan di dalamnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam surat itu pula, Jan Olav bercerita bahwa pada masa mudanya ia bertemu dan jatuh cinta pada gadis jeruk. Gadis misterius yang membawa banyak jeruk ke mana pun ia pergi. Hal itu bermula ketika, Jan Olav suatu hari melihat seorang gadis cantik membawa jeruk yang sedang menaiki trem dan jeruk yang dibawanya mau jatuh. Niat hati untuk menolongnya, namun ternyata kecerobohan dilakukan Jan Olav. Bukan pertolongan yang diberikannya, melainkan jeruk yang dibawa gadis jeruk tersebut berjatuhan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pasca kejadian itu, bayangan gadis jeruk tidak bisa lepas dari ingatan dan pikiran Jan Olav. Karenanya, Jan Olav berusaha untuk mencari tahu identitas si gadis jeruk dan berharap bisa bertemu lagi, hingga suatu hari di sebuah kafe, Jan Olav berhasil melihatnya lagi—lagi-lagi dengan membawa jeruk—namun belum sempat berkenalan ia sudah hilang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang membuat Jan Olav penasaran dan bertanya-tanya, kenapa gadis itu selalu membawa jeruk. Karenanya, Jan Olav terus melakukan analisis-analisis, salah satunya dengan cara mendatangi tempat yang mungkin disinggainya, untuk menjawab pertanyaan di atas—hingga akhirnya sampai ke perkebunan jeruk di Spanyol, tepatnya di Sevilla.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekilas, kisah ini sangatlah datar, namun tidaklah pada kenyataannya. Ada unsur penting yang selalu diselipkan Gaarder dalam setiap karyanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu ciri khas karya Gaarder adalah tulisannya yang mengandung unsur filsafat. Hal ini bisa ditemukan dalam setiap karya-karyanya yang juga selalu menginformasikan berbagai pengetahuan tambahan di samping khas filsafatnya. Dalam buku ini berupa pengetahuan tambahan tentang teleskop Hubble, yang merupakan teleskop ruang angkasa pertama kali di dunia ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teleskop Hubble adalah teleskop ruang angkasa pertama kali yang berhasil mengambil dengan sangat jelas ribuan foto galaksi dan nebula yang berjarak beberapa juta tahun cahaya dari Bima Sakti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari dua kisah tentang gadis jeruk yang disuratkan kepada Georg Roed dan kisah teleskop Hubble, Gaarder menggiring pembacanya untuk merenungkan tentang alam semesta, makna hidup, takdir, kesempatan, dan pilihan hidup. Hal ini bisa dilihat pada kisah surat Jan Olav kepada Georg Roed di mana Jan Olav ingin menyadarkan bahwa kehidupan yang dialami umat manusia ini bagaikan sebuah dongeng yang memiliki akhir. Akan hal ini, ada pertanyaan filosofis Gaarder yang bisa ditemukan di halaman 117, 206, dan 233.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya kata, layaknya tidak ada suatu karya yang sempurna, dalam buku ini tidak ada konflik yang kuat, sehingga kalau pembaca tidak sabar akan gampang untuk meninggalkan buku ini. Namun, secara keseluruhan banyak teka-teki dari Gaarder yang akan ditemukan di akhir buku ini, sehingga eman sekali jikalau dalam membacanya tidak dibarengi kesabaran. Selamat membaca!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Data Buku&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Judul  : Gadis Jeruk&lt;br /&gt;Penulis  : Jostien Gaarder&lt;br /&gt;Penerjemah : Yuliani Liputo&lt;br /&gt;Penertbit : Mizan Pustaka, Bandung&lt;br /&gt;Cetakan : I, Juli 2011 (Edisi Gold)&lt;br /&gt;Tebal  : 252 halaman&lt;br /&gt;ISBN  : 978-979-433-623-6&lt;br /&gt;Harga  : Rp. 35.700&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;*dimuat di harian Radar Surabaya (6/11/2011)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-729188975068325431?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/729188975068325431/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/11/dongeng-kehidupan-seorang-ayah-kepada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/729188975068325431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/729188975068325431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/11/dongeng-kehidupan-seorang-ayah-kepada.html' title='Dongeng Kehidupan Seorang Ayah Kepada Anaknya*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-irMz-BFHYkk/TrcahW3A2NI/AAAAAAAAAmc/v8H46ihwW1o/s72-c/Cover%2BBuku%2BGadis%2BJeruk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-6315251730604672929</id><published>2011-10-27T15:42:00.000-07:00</published><updated>2011-10-27T16:49:38.444-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Pembelaan Armstrong Terhadap Tuhan*</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-RNtNEe3wtuE/TqnfWSidcrI/AAAAAAAAAl8/ksye7dkodXY/s1600/Cover%2BBuku%2BMasa%2BDepan%2BTuhan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-RNtNEe3wtuE/TqnfWSidcrI/AAAAAAAAAl8/ksye7dkodXY/s320/Cover%2BBuku%2BMasa%2BDepan%2BTuhan.jpg" width="211" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Membicarakan Tuhan sangatlah sensitif. Sekali tergelincir, maka ancamannya adalah “petaka”. Banyak kalangan membicarakan Tuhan, tapi apa yang dikatakannya seringkali dangkal. Sebut saja seperti tokoh ateis; Feurbach, Karl Marx, Nietzsche, dan Freud. Tokoh-tokoh tersebut membicarakan Tuhan dengan hanya mengandalkan rasionya. Bagi mereka Tuhan itu mati. Istilahnya Karl Marx, Tuhan hanyalah sebagai obat bius yang membuat tertawa saat kita susah. Tuhan hanya membius masyarakat untuk memikirkan dirinya sendiri dan Tuhan. Inilah akibat yang didapat oleh kaum ateis, yang memandang sinis sebuah agama (Tuhan). Faham ini terus berkembang hingga kini. Salah seorang tokoh modernnya seperti Richard Dawkin, Christopher Hitchens, dan Sam Haris.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kebalikan dari ateisme di atas adalah fundamentalisme, di mana kelompok ini memahami Tuhan dengan sangat tekstual, seolah-olah Tuhan tampak oleh mata. Pemahaman ini membawa penganutnya pada pola keberagamaan yang eksklusif, sehingga menimbulkan sikap ekstrem yang mengganggap dirinya sebagai kelompok tunggal pengusung kebenaran (truth claim). Munculnya kaum fundamentalisme ini adalah adanya perasaan tidak nyaman dan terancam dalam keberagamaan yang diusung oleh gerakan ateis. Dalam kecemasan dan ketakutan mereka, kaum fundamentalis sering mendistorsi tradisi yang mereka coba bela, misalnya dengan sangat selektif mereka membaca ayat-ayat kitab suci yang membenarkan kekerasan dan permusuhan terhadap umat yang berbeda keyakinan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kenapa semua itu terjadi? Hal ini dijawab oleh Karen Armstrong (selanjutnya akan disebut Armstrong saja) dalam bukunya yang berjudul “Masa Depan Tuhan: Sanggahan Terhadap Fundamentalis dan Ateisme”, yang diterjemahkan oleh Yuliani Liputo, bahwa semua itu tidak lain karena adanya tafsiran yang serba rasional dan ilmiah (scientific atheism). Tafsiran atas agama yang serba rasional inilah menurut Armstrong yang menimbulkan dua fenomena ateisme dan fundamentalisme di atas (hlm 19).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejarahnya, selama abad ke-16 dan ke-17, di Barat lahir peradaban baru yang diatur dengan rasionalitas ilmiah dan ekonomi yang berbasis pada teknologi serta penanaman modal. Sejak itu satu satunya ukuran kebenaran adalah metode ilmiah. Logos mengalahkan mitos. Padahal di dalam mitos keagamaan terkandung kebenaran dan kebajikan yang tidak dapat dijangkau oleh logos. Hal inilah yang dilupakan oleh mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Armstrong Tuhan adalah Tuhan yang menyejarah, yang hidup di tengah dan bersama pemeluknya,Tuhan yang kemudian melahirkan komunitas orang beriman dan sekian banyak tradisi dan institusi agama. Ia Mahatinggi dan Absolut. Karenanya, Ia tidak dibatasi waktu; tak mengenal kemarin, sekarang, dan masa depan. Bahkan juga tidak terpahami oleh akal pikiran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidaklah benar jika Tuhan dikatakan tidak ada, seperti yang dikatakan kaum ateis. Dan tidak benar juga jika Tuhan itu tampak oleh mata, seperti yang dianut kaum fundamentalis, dengan penafsirannya yang sangat tekstual.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Armstrong dalam buku ini melacak konsepsi Tuhan yang dipahami manusia ke dalam dua fase kehidupan, yaitu apa yang ia sebut sebagai “Tuhan yang tidak diketahui” (30.000 SM-1.500 SM) dan “Tuhan modern” (1.500 M-sekarang).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lanjutnya, kita tidak akan pernah mampu memotret dan menganalisis misteri kehidupan, keberagamaan, dan kebertuhanan. Namun, betapa agama dan keyakinan pada Tuhan pasti selalu hadir pada panggung sejarah dan turut memengaruhi manusia memaknai hidupnya. Agama, keyakinan, dan pemahaman terhadap Tuhan, senantiasa berinteraksi dengan perkembangan sejarah sebuah masyarakat dengan segala aspeknya. Karena itu, memahami kitab suci dengan literlek akan menyesatkan dan mengalami reduksi, tidak sampai pada pesan inti agama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam pembelaannya terhadap Tuhan, Armstrong tidak hanya menujukan pada kaum ateis dan fundamentalis agama tertentu. Melainkan, Armstrong menujukan kepada semua agama dengan menunjukkan celahnya masing-masing. Lihat saja ketika Armsrong menentang kaum fundamentalis, masalah kekerasan (hal. 470-471). Kata Armstrong, bahwa fundamentalis Kristen banyak mengutip dari kitab Wahyu kepada Yohanes dalam pearjanjian baru dan terinspirasi oleh kekerasan visinya tentang Akhir-Zaman. Mereka jarang merujuk pada Khotbah di Atas Bukit, di mana Yesus menyuruh pengikutnya untuk mengasihi musuh-musuh mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fundamentalis Yahudi sangat mengandalkan bagian Kitab Ulangan dari Alkitab dan tampaknya mengabaikan perintah rabi bahwa penafsiran harus mengarah pada kemurahan hati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fundamentalis muslim mengabaikan pluralisme Al-Qur’an dan kaum ekstremes mengutip ayat-ayat yang lebih agresif untuk membenarkan kekerasan, terang-terangan mengabaikan ayat yang jauh lebih banyak yang menyerukan perdamian, toleransi, dan sikap memaafkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhir kata, buku ini, sangat cocok untuk dibaca semua kalangan dan etnis. Buku ini tidak menghakimi kelompok tertentu, tapi Armstrong dengan risetnya yang kuat memberikan persperktif kepada pembaca agar melihat masalah-masalah tentang Tuhan dan agama secara lebih bijak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Data Buku&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul : Masa Depan Tuhan: Sanggahan Terhadap Fundamentalisme dan    Ateisme&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penulis  : Karen Armstrong&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penerjemah : Yuliani Liputo&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penerbit : Mizan Pustaka, Bandung&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cetakan : I, Mei 2011&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tebal  : 608 halaman&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;ISBN  : 978-979-433-589-5&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Harga  : Rp. 89.000&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;*dimuat di &lt;a href="http://www.harianbhirawa.co.id/opini/37643-pembelaan-armstrong-terhadap-tuhan" target="_blank"&gt;Harian Bhirawa&lt;/a&gt; (28-10-2011)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-6315251730604672929?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/6315251730604672929/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/10/pembelaan-armstrong-terhadap-tuhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/6315251730604672929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/6315251730604672929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/10/pembelaan-armstrong-terhadap-tuhan.html' title='Pembelaan Armstrong Terhadap Tuhan*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-RNtNEe3wtuE/TqnfWSidcrI/AAAAAAAAAl8/ksye7dkodXY/s72-c/Cover%2BBuku%2BMasa%2BDepan%2BTuhan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-5766773870609872413</id><published>2011-10-05T02:11:00.000-07:00</published><updated>2011-10-05T02:22:03.118-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Iqra’, Sumber dan Inspirasi Awal Berbagai Disiplin Keilmuan*</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-cPsccdZZ5Gc/TowfPlQJffI/AAAAAAAAAlo/RNTj-6MwHCA/s1600/Iqra%2527.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="260" src="http://2.bp.blogspot.com/-cPsccdZZ5Gc/TowfPlQJffI/AAAAAAAAAlo/RNTj-6MwHCA/s320/Iqra%2527.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Membicarakan tema iqra’ (membaca), penulis kira tidak akan ada basinya, apalangi masyarakat kita sampai saat ini masih berada di tingkat terendah dalam dunia baca ketimbang Negara-negara lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semua ulama’ sepakat bahwa ayat al-Qur’an yang pertama kali diturunkan ke muka bumi ini adalah surat al-‘Alaq ayat 1-5 atau yang biasa disebut surat Iqra’. Saat wahyu ini diturunkan, Nabi Muhammad sedang berada di Gua Hira’. Ketika itu, tiba-tiba Malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu tersebut dan meminta Nabi Muhammad untuk membacanya. Meski Nabi Muhammad merupakan seorang yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis), namun Malaikat Jibril memaksa Nabi Muhammad untuk tetap membacanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan demikian, hal ini menandakan bahwa begitu pentingnya kegiatan membaca bagi kita selaku hamba Allah yang membutuhkan ilmu pengetahuan. Lebih jauh lagi, surat Al ‘Alaq ini menerangkan bahwa Allah menciptakan manusia dari benda yang hina (mani) kemudian memuliakannya dengan mengajar membaca, menulis, dan memberinya pengetahuan. Ilmu pengetahuan akan didapat dengan membaca dan menulis. Tanpa membaca kita tidak akan tahu apa-apa. Iqra’ (membaca) itulah kuncinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lima ayat pertama yang diturunkan oleh Allah itu semuanya berkaitan dengan kegiatan ilmu pengetahuaan. Dimulai dari iqra’ dan diakhiri dengan qalam (menulis). Semua itu merupakan aktivitas intelektual manusia, yang akhirnya menjadi tolok ukur perabadan sebuah bangsa-agama. Akan dikatakan bangsa dan agama yang berperadaban tinggi jika dunia baca dan tulis-menulisnya memainkan peranan yang begitu penting.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selanjutnya, kalau kita kembali pada kata “iqra’” pada wahyu pertama tersebut, maka akar kata itu berasal dari kata “qara-a, yaqra-u” yang dalam arti bahasa Indonesianya adalah membaca. Namun, lebih dari itu, makna iqra’ dalam bahasa Arabnya sangat padat makna, yaitu membaca, memahami, menelaah dan menganalisa. Objeknya pun tidak hanya hal yang tampak, melainkan juga sesuatu di balik yang tampak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kembali pada Nuzulul Qur’an, dari membaca al-Qur’an—dalam arti luas—banyak ilmu yang dilahirkan. Ketika membahas lafadz-lafadz dan cara membacanya, lahir ilmu tajwid dan qira’ah. Ketika membahas makna ayatnya, lahir ilmu tafsir, asbabun nuzul, tanzil, ta’wil, muhkam-mutasyabih, nasikh-mansukh, dan sejenisnya. Ketika membaca ayat-ayat hukumnya, lahirlah ilmu fiqih, ushul fiqih, dan ilmu hadis sebagai penjelas dan penafsir ayat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lebih lanjut lagi, di sana juga menumbuhkembangkan ilmu filsafat, matematika, kealaman, kesusastraan, dan sejarah. Sejumlah ayat yang menyuruh untuk memikirkan tatanan alam semesta yang berhubungan dengan eksistensi dan keesaan Tuhan, baik-buruk dalam ilmu kalam, mendorong kita untuk juga menekuni ilmu filsafat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keindahan bahasa al-Qur’an yang mendorong kita untuk mengkaji ilmu ketata bahasaan seperti ilmu nahwu, sharaf, ma’ani,  bayan, badi’, lughah, dan sejenisnya, pada gilirannya bermuara pada ilmu kesusastraan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Begitu juga dengan ilmu sejarah.  Al-Qur’an banyak berkisah para pendahulu. Menurut Thabathaba’I (1892-1981), ilmu sejarah merupakan sempalan dari ilmu hadis. Pada mulanya ilmu itu merupakan kumpulan kisah para Nabi dan para umat mereka. Dimulai dari sejarah Nabi Muhammad, kemudian ditambah dengan sejarah permulaan Islam, dan akhirnya menjadi sejarah seluruh dunia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari sini, betapa Al-Qur’an begitu menginspirasi. Dengan hanya perlmulaan iqra’, berbagai disiplin ilmu lahir. Menurut Muhammad Iqbal (1877-1938), semua ini dikarenakan nilai-nilai al-Qur’an yang berkarakter dinamis, konkret, nyata, yang akhirnya mendorong kaum Muslim untuk melakukan eksperimen dan terus berfikir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu bukti nyata yang mengindikasiakan bahwa al-Qur’an merupakan sumber dan inspirasi awal dari berbagai disiplin keilmuan adalah “perebutan” istilah hikmah dalam al-Qur’an (Ali Imran [3]: 48), oleh kelompok dari berbagai disiplin keilmuan untuk menamai jenis keilmuan mereka masing-masing. Masing-masing dari mereka mengklaim bahwa penggunaan kata hikmah—yang dalam al-Qur’an selalu disandingkan dengan kata al-Kitab—untuk disiplin ilmu mereka. Lihat saja, Ibnu Arabi (1165-1240) menyebut kebijaksanaan yang tersingkap melalui manifestasi logos sebagai hikmah. Fakhruddin al-Razi (1149-1209) tak mau kalah, dia juga mengklaim bahwa hikmah itu adalah ilmu kalam (teologi). Demikian para muhaddisin (ahli hadis) mengatakan bahwa yang dimaksud hikmah dalam al-Qur’an itu adalah ilmu hadis. Tak mau kalah juga, para ilmuan sains awa’il ikut nimbrung dengan mengatakan bahwa tradisi keilmuan mereka sebagai hikmah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terlepas dari saling klaim di atas, yang jelas semua itu menunjukkan bahwa semangat berbagai disiplin keilmuan berawal dari wahyu (iqra’-al-Qur’an). Mereka ingin menyingkap semua kandungan wahyu yang begitu kaya dan mendalam melalui berbagai tradisi keilmuan. Mereka semunya ingin tradisi yang mereka kembangkan sebagai suatu disiplin ilmu yang disebut dalam al-Qur’an; hikmah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhir kata, dengan semangat baca, mari kita bangkitkan tekat dan semangat kita agar lebih terpacu untuk menguasi berbagai disiplin keilmuan dan bisa mengamalkannya pada kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, agama, dan berbangsa.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;*dimuat di Harian &lt;b&gt;Radar Madura&lt;/b&gt; (5/10/2011)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-5766773870609872413?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/5766773870609872413/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/10/iqra-sumber-dan-inspirasi-awal-berbagai.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/5766773870609872413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/5766773870609872413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/10/iqra-sumber-dan-inspirasi-awal-berbagai.html' title='Iqra’, Sumber dan Inspirasi Awal Berbagai Disiplin Keilmuan*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-cPsccdZZ5Gc/TowfPlQJffI/AAAAAAAAAlo/RNTj-6MwHCA/s72-c/Iqra%2527.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-4242169229357224294</id><published>2011-08-26T01:54:00.000-07:00</published><updated>2011-08-26T02:09:24.428-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Puasa dan Terapi Diri*</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-V8cvyaCxuVg/Tldg_EE9mbI/AAAAAAAAAlg/mkXhzAyGCvY/s1600/lagi-puasa.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-V8cvyaCxuVg/Tldg_EE9mbI/AAAAAAAAAlg/mkXhzAyGCvY/s320/lagi-puasa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5645087294474787250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ramadhan,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; kini sudah di ujung perjalanan. Sihir gemuruhnya sudah kita rasakan. Semua orang merasakan keberkahannya, dari berbagai lini kehidupan. Bulan ini (Ramadhan) merupakan satu-satunya bulan yang disebutkan langsung dalam al-Qur’an. Pada bulan ini, nilai sebuah ibadah dilipatgandakan. Berbeda dengan hari-hari dan bulan-bulan lainnya. Pada bulan ini juga, setan dan jin yang jahat di belenggu, pintu neraka ditutup, dan pintu surga dibuka semua.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Karena begitu berharganya bulan Ramadhan yang mulia ini, tidak jarang dari kita yang sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari sebelum tibanya bulan Ramadhan. Hal ini juga diteladankan oleh Rasulullah, yang sudah mempersiapkan diri jauh hari sebelum tibanya Ramadhan. Ini bisa kita lihat dengan doa yang diajarkan Rasulullah, yang berbunyi; “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana, wa ballighna Ramadhana&lt;/span&gt; (Ya Allah berkahi kami pada bulan Rajab dan Sya’ban ini. Serta sampaikan kami ke dalam bulan Ramadhan)” (HR al-Tirmidzi dan al-Darimi). Bahkan ada sebagian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Salafush Shalih&lt;/span&gt; yang mengucapkan selamat tinggal kepada sebagian lain sampai mereka berjumpa lagi dalam shalat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘Ied&lt;/span&gt;. Semua itu karena mereka merasakan bahwa Ramadhan adalah bulan ibadah, bulan untuk melaksanakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shiyam&lt;/span&gt; (puasa) dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;qiyam&lt;/span&gt; (shalat malam) dan mereka ingin menyendiri hanya dengan Tuhan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Terapi Diri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga fase khusus di bulan Ramadhan ini. Sepuluh hari pertama adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rahmah&lt;/span&gt; (kasih sayang). Di sepuluh hari pertama ini, kita diharapkan bisa mendapatkan kasih sayang Allah dan dapat mengasihi sesama manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh hari kedua adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;maghfirah&lt;/span&gt; (penuh ampunan). Di sepuluh hari kedua di bulan ini kita diharapkan bisa mendapatkan ampunan Allah. Dan sepuluh hari ketiga adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;itqun minannar&lt;/span&gt; (pembebasan dari api neraka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kesemua fase yang telah disebutkan di atas, ada visi mulia dari bulan Ramadhan ini, yaitu untuk membentuk manusia yang bertakwa (lihat QS. al-Baqarah [2]: 183). Dengan visi ketakwaan tersebut, Ramadhan diharapkan menjadi media yang sangat penting untuk meng-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;upgrade&lt;/span&gt; kualitas manusia dan meningkatkan derajatnya di sisi Allah (QS. al-Hujurat [49]: 13). Dengan visi ketakwaan juga, Ramadhan juga menjadi media yang sangat efektif untuk mendapatkan berbagai kemudahan dan kelapangan hidup dari Allah swt. (QS ath-Thalaq [65]:2). Di bulan ini, kita dianjurkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminjam istilahnya K. H. Said Aqil Siraj (ketua PB NU), bahwa ketika umat Islam didorong untuk memperbanyak amalan pada bulan Ramadhan, sejatinya puasa di sana mengjarkan umat manusia untuk menemukan fitrahnya, yaitu sebagai makhluk privat-antroposentris dan sosial-antroposentris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini, menjadi jelas bahwa Ramadhan itu merupakan wadah pembinaan yang memiliki fungsi strategis. Analoginya, jika lembaga seperti Lemhanas diproyeksikan untuk mencetak SDM unggulan, melahirkan pejabat yang berkualitas, serta memberikan solusi bagi bangsa dan negara, maka Ramadhan juga demikian. Bahkan, lebih daripada itu, Ramadhan telah terbukti menjadi madrasah istimewa yang berhasil melahirkan generasi dan solusi terbaik sepanjang masa. Hal ini, tertungkan dalam hadis Nabi yang diriwayatkan oleh imam Bukhori (IV/221) dan Muslim (760); “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Man shama Ramadhana imanan wahtisaban ghufira lahu maa taqaddama min dzanbihi&lt;/span&gt; (barang siapa berpuasa Ramadhan dengan penuh iman dan mengharap ridha Allah (maka) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut para ahli agama, takwa merupakan puncak kejayaan spiritual. Manusia, jika digembleng selama sebulan penuh dengan melaksanakan puasa, dengan berkah dan rahmat Allah swt. secara spiritual akan muncul pribadi yang khusyuk, tawadduk, dan ikhlas menjunjung tinggi serta internalisasi nilai-nilai ajaran Islam, yaitu menjauhi segala apa pun yang dilarang Allah swt. dan menegakkan segala apa pun yang diperintahkan-Nya. Kemenangan yang diraih adalah kemenangan menundukkan hawa nafsu yang senantiasa bergejolak dalam diri manusia. Itu sejatinya hakikat dari puasa (Ramadhan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manivestasi dari visi takwa tersebut, nantinya diharapkan ada perubahan dan pencerahan pascapuasa, yang berupa sikap konsisten, akuntabel, jujur, amanah, dan etos kerja yang luar biasa yang bermuara pada sifat takwa yang dihasilkan dari proses olah batin dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;caracter building&lt;/span&gt; melalui puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, maka nantinya akan tercipta pribadi-pribadi yang takwa. Dan bayangkan jika para pejabat negara, publik figur, para legislator di DPR, para pelaku ekonomi, para buruh dan karyawan, para pegawai negeri sipil, ABRI, dan seluruh lapisan masyarakat, jika semua menyatu sebagai insan-insan yang takwa (mengikuti segala perintah Allah swt. dan menjauhi segala larangan-Nya), niscaya akan tercipta sebuah komunitas negara yang digambarkan sebagai negeri; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, marilah kita kuatkan diri kita untuk selalu berpuasa dengan penuh kesadaran menuju perubahan untuk menggapai insan yang takwa, sehingga negeri ini terhindar dari kebobrokan karena korupsi, ketidak jujuran, kerakusan, dan ketamakan, sehingga tidak ada lagi kicauan dan nyanyian korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, jika kita bisa mengaplikasikan semua hal di atas, maka Ramadhan yang kita jalani ini tidak hanya menjadi ritual tahunan  yang tak bermakna. Untuk itu, mari kita jadikan bulan Ramadhan yang tersisa ini menjadi momentum yang strategis untuk “membakar” serta &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tarbiyah&lt;/span&gt; (pendidikan dan pelatihan) kelas tinggi sebagai mengendalikan segala hawa nafsu yang ada. Jangan biarkan hawa nafsu kita terus mengikuti dan menjadi kiblat setelah Ramadhan meninggalkan kita. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahualam bissawab.&lt;/span&gt;..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;*telah dimuat di Radar Madura (26 Agustus 2011)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-4242169229357224294?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/4242169229357224294/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/08/puasa-dan-terapi-diri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/4242169229357224294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/4242169229357224294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/08/puasa-dan-terapi-diri.html' title='Puasa dan Terapi Diri*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-V8cvyaCxuVg/Tldg_EE9mbI/AAAAAAAAAlg/mkXhzAyGCvY/s72-c/lagi-puasa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-7217154918050335625</id><published>2011-08-11T20:50:00.000-07:00</published><updated>2011-08-11T21:05:48.731-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Makna di Balik Tradisi Toron Bagi Orang Madura*</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-UiIRiB3VSbQ/TkSjqmV81-I/AAAAAAAAAlY/tdxz4ewtYBs/s1600/mudik.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 226px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-UiIRiB3VSbQ/TkSjqmV81-I/AAAAAAAAAlY/tdxz4ewtYBs/s320/mudik.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5639812585617151970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bila&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; kita bepergian ke seantero kepulauan di Indonesia ini, maka hampir—untuk tidak mengatakan pasti—dapat dipastikan kita akan bertemu dengan orang yang berasal dari Madura. Bahkan tidak hanya di seantero Indonesia ini, di negara-negara Timur Tengah dan sekitarnya, seperti Arab Saudi, Mesir, dan lainnya, juga akan ditemuakan orang Madura. Hal ini, memperkuat bahwa orang Madura memang suka merantau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Wikipedia, ini disebabkan karena keadaan wilayah Madura yang tidak baik untuk bertani. Tanahnya kurang cukup subur untuk dijadikan tempat pertanian. Faktor-faktor inilah yang mengakibatkan emigrasi jangka panjang dari Madura, sehingga Madura termasuk peserta program transmigrasi terbanyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai macam provesi yang mereka lakoni di perantauan, seperti penjual sate, soto, tukang potong rambut tradisional dan lain sebagainya. Meski banyak orang Madura yang suka merantau, namun orang Madura di perantauan selalu terikat pada tanah leluhurnya, sehingga pada waktu-waktu tertentu, mereka pulang kembali ke Madura, meski untuk beberapa hari atau minggu. Hal inilah yang mereka sebut dengan sebutan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;toron&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;toron&lt;/span&gt; bagi orang Madura adalah sebutan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;masyhur&lt;/span&gt; yang diberlakukan untuk mereka yang mau pulang kampung dari perantauannya—baik mereka yang merantau untuk mencari nafkah maupun menimba ilmu (pelajar/mahasiswa). Makna &lt;span style="font-style: italic;"&gt;toron&lt;/span&gt; itu sendiri adalah turun atau mudik, dalam bahasa Indonesianya. Masyarakat Madura yang salah satu kebiasaannya adalah suka merantau, ketika mereka mau pulang kampung, maka mereka menyebutnya dengan sebutan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;toron&lt;/span&gt;. Sepadan dengan ini, ketika mereka mau kembali lagi ke perantauannya, mereka menyebutnya dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ongge&lt;/span&gt;, di mana sebutan itu merupakan antonim dari kara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;toron&lt;/span&gt; itu sendiri yang berarti naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika orang luar Madura mempunyai istilah mudik, maka orang Madura mempunyai istilah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;toron&lt;/span&gt; dalam hal ini. Tradisi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;toron&lt;/span&gt; ini biasa dilakukan orang Madura ketika sudah mau lebaran Idul Fitri (seperti saat ini), Idul Adha, dan Maulid Nabi. Ketika sudah tiba tiga moment tersebut dalam setiap tahunnya, orang Madura pasti menyempatkan diri untuk bisa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;toron&lt;/span&gt; beberapa saat dan selanjutnya kembali lagi, yang biasa disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ongge&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari sekedar ritual tahunan, tradisi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;toron&lt;/span&gt; ini bagi orang Madura, mempunyai makna mendalam di dalamnya. Setidaknya ada beberapa makna yang bisa diambil dari tradisi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;toron&lt;/span&gt;-nya orang Madura ini. Pertama, kuatnya ikatan kekerabatan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gemeinschaft&lt;/span&gt; yang berkembang di tengah keluarga orang Madura. Seperti yang sempat disinggung di atas, bahwa tradisi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;toron&lt;/span&gt; ini terjadi di setiap ada moment penting, dalam tiap tahunnya. Ketika moment itu tiba, mereka akan rela untuk mengorbankan waktunya agar bisa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;toron&lt;/span&gt;, tak peduli apakah mereka banyak uang atau tidak. Bagi mereka yang penting bisa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;toron&lt;/span&gt; dan ketemu para kerabat. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Toron&lt;/span&gt; yang kadangkala identik dengan susah payah, prihatin, dan membutuhkan pengorbanan tinggi dalam perjalanan, semuanya dilakukan dengan ikhlas untuk sekadar bersilaturahmi dengan sanak keluarga selama beberapa hari atau minggu di kampung halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, adanya jiwa nasionalime. Jiwa nasionaliseme yang penulis maksud di sini adalah nasionalisme lokal yang ranahnya tanah kelahirannya (Madura). Jiwa nasionalisme lokal ini bisa dilihat ketika mereka &lt;span style="font-style: italic;"&gt;toron&lt;/span&gt; dan kehidupan sehari-harinya. Tidak semua mereka yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;toron&lt;/span&gt; adalah mereka yang berkecukupan secara ekonomi. Tidak jarang juga dari mereka yang harus menabung sebagian pendapatannya di daerah seberang untuk sekadar bisa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;toron&lt;/span&gt;, bisa menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. Jiwa ini juga bisa dilihat dari sifat dan watak orang Madura ketika harga dirinya—baik menyangkut pribadi atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;state&lt;/span&gt;-nya—diusik. Mereka akan marah dan berani manaruhkan nyawanya sekalipun, kalau sudah diusik. Dalam hal ini orang Madura mempunyai prinsip “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;lebbi begus pote tolang, atembeng pote mata&lt;/span&gt;” (lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pemeliharaan warisan leluhur. Salah satu tujuan toron bagi orang Madura ini adalah untuk bisa bermaaf-maafan antar sesama dan silaturrahmi ke sanak kerabat secara langsung dengan cara yang muda mendatangi rumah yang lebih tua. Komunikasi lewat surat, telpon, dan sejenisnya tidak berlaku di sini. Jika ada yang demikian, maka hal itu jauh dari kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;afdhal&lt;/span&gt;. Hal ini merupakan warisan leluhur orang Madura sedari dulu yang diajarkan secara turun temurun dan kutural. Di sinilah letak keintiman orang Madura dalam menjaga warisan leluhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, betapa orang Madura begitu intimnya akan tanah kelahirannya. Hatinya selalu terikat dengan tanah leluhurnya. Hal inilah patut dipertahankan, sehingga  orang Madura tidak kehilangan budaya/tradisi luhurnya, meski zaman sudah mulai mengglobal seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;*dimuat di Radar Surabaya (12/8/2011)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-7217154918050335625?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/7217154918050335625/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/08/makna-di-balik-tradisi-toron-bagi-orang.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/7217154918050335625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/7217154918050335625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/08/makna-di-balik-tradisi-toron-bagi-orang.html' title='Makna di Balik Tradisi Toron Bagi Orang Madura*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-UiIRiB3VSbQ/TkSjqmV81-I/AAAAAAAAAlY/tdxz4ewtYBs/s72-c/mudik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-5070304876192185523</id><published>2011-08-07T18:47:00.000-07:00</published><updated>2011-08-07T19:37:33.914-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Kisah Inspirasi Hidup Lewat Lagu Opick</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-w1T1ms3eupg/Tj9FfOJ5esI/AAAAAAAAAlI/XR1gxXn8duE/s1600/Cover%2BBuku%2BLagu%2BOpick%2BInspirasiku.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 216px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-w1T1ms3eupg/Tj9FfOJ5esI/AAAAAAAAAlI/XR1gxXn8duE/s320/Cover%2BBuku%2BLagu%2BOpick%2BInspirasiku.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5638301661169023682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Opick&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; yang kita kenal sekarang adalah pelantun lagu (nasyid) rohani-islami. Namun, konon, Opick mempunyai sejarah masa lalu yang kelam. Sejarah masa lalu yang berbalik 90 derajat dari sekarang, yang mana sekarang adalah seorang penyanyi religius sampai bisa menginspirasi banyak orang. Sebelumnya dia bukanlah Opick yang sekarang. Bertahun-tahun yang lalu, dalam sejarah permusikan, sesungguhnya dia memiliki sejarah, tapi nyaris tak tercatat. Jejaknya padam, samar, sayup dan terabaikan. Tetapi Opick tak pernah berhenti. Ia terus bernyanyi, menyimpan suaranya ke dalam pita rekaman, sempat melemparkan ke pasar, namun lenyap, tanpa kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita akan sedikit terkejut, jika kita tahu bahwa sebalumnya Opick sesungguhnya adalah penyanyi rock, yang tak pernah menyisipkan nama Tuhan dalam lirik lagunya. Waktu itu, dia telah memiliki 8 album rekaman. Enam di antaranya beraliran cadas, dan sejak awal diedarkan tidak diterima oleh publik, bahkan rekaman pertama, karena mengusung tema sosial yang terlalu keras, sempat dicekal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah memang tidak bisa ditebak, kini Opick malah berdzikir melalui lagu-lagu ciptaannya dan banyak menjadi inspirasi bagi umat manusia, terutama dalam hal pencarian jati diri dan keterbatasan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja, seperti yang diceritakan Bayu Insani dalam buku “Lagu Opick Inspirasiku; 30 Kisah Menggugah di Balik Lagu Opick”, bahwa salah satu teman ceweknya di Hong Kong yang tidak normal karena terkena candu sesama (lesbi) bisa normal kembali disebabkan dan setelah mendengarkan lagu-lagu islami khususnya lagu Opick (hal. 29-34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahhkan Bayu Insani dalam buku tersebut, bahwa temannya itu, dalam pengakuannya, bahwa ia seolah merasakan getaran di sekujur tubuhnya jika mendengar lagu-lagu Opick—lebih-lebih lagu yang berjudul Astaghfirullah dan Tombo Ati. Dalam pengakuannya lebih lanjut, khusus dua judul lagu Opick tersebut di atas, dia selalu mengulang-ulangnya, karena baginya, mendengarkan lagu-lagu itu seoleh-olah memiliki ketenangan tersendiri dalam pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah-kisah sejenis bisa ditemukan di halaman-halaman sebelum dan selanjutnya dalam buku yang menghimpun 30 kisah dari berbagai penulis dan bagroud ini. Kisah-kisah dalam buku ini merupakan kisah-kisah terbaik yang disaring dari hasil lomba yang diikuti ratusan peserta—yang akhirnya menyisakan 30 kisah terpilih dan kemudian dijadikan dalam satu buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, kalau kita perhatikan, lirik lagu Opick sangatlah sederhana, namun di balik kesederhanaan lirik tersebut tersimpan mutiara kharismatik. Hemat saya, Opick sudah berhasil menyatukan syair lagu dengan hati nurani yang murni, karena segala yang lahir dari hati yang murni, pasti akan menjadi sesuatu yang luar biasa—sehingga darinya lahirlah keindahan seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Data Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Judul : Lagu Opick Inspirasiku; 30 Kisah Menggugah di Balik Lagu Opick&lt;br /&gt;Penulis    : Arien Ratih, dkk.&lt;br /&gt;Penerbit: Leutika, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan : I, Januari 2011&lt;br /&gt;Tebal : vi + 192 halaman&lt;br /&gt;ISBN : 978-602-8597-62-3&lt;br /&gt;Harga : Rp38.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;*Resensi ini dimuat di media online nasional; &lt;/span&gt;&lt;a style="font-style: italic; font-weight: bold;" href="http://suar.okezone.com/read/2011/08/05/285/488475/kisah-inspirasi-hidup-lewat-lagu-opick" target="_blank"&gt;Okezone&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; (5/8/2011)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-5070304876192185523?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/5070304876192185523/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/08/kisah-inspirasi-hidup-lewat-lagu-opick.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/5070304876192185523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/5070304876192185523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/08/kisah-inspirasi-hidup-lewat-lagu-opick.html' title='Kisah Inspirasi Hidup Lewat Lagu Opick'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-w1T1ms3eupg/Tj9FfOJ5esI/AAAAAAAAAlI/XR1gxXn8duE/s72-c/Cover%2BBuku%2BLagu%2BOpick%2BInspirasiku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-2135669541959848385</id><published>2011-07-23T22:07:00.000-07:00</published><updated>2011-07-23T22:16:54.920-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Gagasan Keislaman Hadji Agus Salim*</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-0ABKz2J6Eqo/TiupDPSzDtI/AAAAAAAAAlA/M8tMf98r958/s1600/Cover%2BBuku%2BPesan-Pesan%2BIslam%2B%2528Hadji%2BAgus%2BSalim%2529.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 210px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-0ABKz2J6Eqo/TiupDPSzDtI/AAAAAAAAAlA/M8tMf98r958/s320/Cover%2BBuku%2BPesan-Pesan%2BIslam%2B%2528Hadji%2BAgus%2BSalim%2529.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5632781632067014354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mashudul&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Haq atau yang biasa kita kenal dengan Hadji Agus Salim adalah salah satu tokoh pahlawan nasional yang terkenal sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;multi-languages&lt;/span&gt; (menguasai lebih dari dua bahasa). Tidak kurang dari sembilan bahasa dikuasai Hadji Agus Salim; bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Arab, Turki, Jepang,  Indonesia dan bahasa daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, tidak heran jika Hadji Agus Salim dikenal banyak kalangan, yang kiprahnya tidak hanya di ranah domestik saja, melainkan sampai pada ranah publik internasional. Dengan kualitas Hadji Agus Salim yang serba bisa, ia aktif dan  bisa berkiprah mendunia sebagai penerjemah, ahli sejarah, wartawan, sastrawan, diplomat praktisi pendidikan, filsuf dan ulama. Banyak cendikiawan luar negeri yang memujinya karena kemampuannya sebagai seorang jenius dalam bidang bahasa yang mampu menulis dan berbicara dalam banyak bahasa asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena berbagai kemampuan yang dikuasainya itu, Hadji Agus Salim diundang sebagai guru besar tamu pada semester musim semi tahun 1953, untuk memberi suatu kursus kuliah tentang agama Islam, dan suatu seminar tentang Islam di Indonesia. Kedua tugas tersebut berjalan dengan lancar dan banyak menimbulkan minat di kalangan kaum mahasiswa. Selama musim semi itu (Januari-Juni), Hadji Agus Salim berhasil memberikan 31 kuliah, yang kesemuanya membicarakan masalah Islam—khususnya sejarah Nabi Muhammad. Semua kuliah Hadji Agus Salim ini kemuadian berhasil dibukukan pada tahun ini, dengan judul “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pesan-Pesan Islam: Rangkaian Kuliah Musim Semi 1935 di Cornel University Amerika Serikat&lt;/span&gt;” yang diterbitkan oleh Penerbit Mizan Pustaka, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui kuliah-kuliahnya ini, Hadji Agus Salim menjadi pelopor dalam mengenalkan Islam di Amerika Serikat (AS) sekaligus membangun dialog antarperadaban dan iman. Dalam penyampaian kuliahnya itu, di tengah-tengah cerita tentang kisah Nabi, Hadji Agus Salim tidak jarang mengutip dan menggunakan cerita-cerita sejarah bangsa-bangsa Barat atau kejadian-kejadian dunia kontemporer. Hal inilah yang menjadi nilai lebih dari Hadji Agus Salim dalam setiap dakwahnya, mengingat kuliah itu disampaikan di depan orang-orang Barat, AS. Semua ini, kalau saya menilai, merupakan pengejewantahan dari hadis Nabi yang intinya; bahwa dakwah harus disampaikan dalam bahasa kaumnya. Dalam konteks buku ini adalah Barat (Eropa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan catatan atau anotasi dari generasi penerusnya, Cut Aswar.  Anotasi-anotasi tersebut terdiri dari empat hal; pertama, menerangkan lebih jauh apa yang dimaksud oleh Hadji Agus Salim. Kedua, mengomentari bahwa Hadji Agus Salim pernah membahasnya dalam bentuk senada atau berbeda. Ketiga, mengemukakan teks-teks yang lebih lengkap. Dan keempat, memberi catatan-catatan tentang kekeliruan Hadji Agus Salim dengan mengemukakan alasan-alasan rasional dan historis, yang juga dilengkapi dengan daftar pengambilannya, di mana pembaca bisa merujuk pada sumber aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pelampauan Zaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Meski isi buku ini disampaikan Hadji Agus Salim pada puluhan tahun silam dan temanya berupa tema yang sudah dibahas banyak buku, namun isi buku ini berbeda dengan buku-buku sejarah Nabi (Muhammad) pada kebanyakan, di mana dalam buku ini ada sisi unik dan menarik yang disampaikan Hadji Agus Salim di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi unik dan menarik yang saya maksud adalah Hadji Agus Salim berhasil berbicara sesuai dengan konteks dan lingkungan tempat penyampaian kuliah waktu itu (AS), yang masih relevan sampai saat ini. Dengan kata lain, Hadji Agus Salim dengan kepiawaiannya berhasil melampaui zamannya, sehingga membaca buku ini, pembaca tidak sekedar membaca gagasan “masa lalu”, namun pembaca juga akan merasakan “masa kini” di lembar-lembar halaman buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminjam istilahnya Anies Baswedan dalam pengantar buku ini (hal, xxxii), bahwa dalam penyampaian kuliahnya di Cornell University ini, Hadji Agus Salim berhasil menjahit masa lalu, masa kini, masa depan menjadi satu pakaian indah yang cocok dengan manusia zaman ini; hangat bagi mereka yang dicekam musim dingin Amerika Utara dan menyejukkan bagi mereka yang berpetualang di padang Arabia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, dalam buku ini, juga ada hal yang baru dan “menantang”. Dalam satu bagian misalnya, Hadji Agus Salim mencoba menafsiri arti “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;fardhu&lt;/span&gt;” dengan “bagian atau jatah”, bukan “wajib” (hal. 1). Logika dari penafsiran ini adalah, bahwasanya penunaian kewajiban itu bukanlah diperlukan bagi Tuhan, melainkan diperlukan bagi manusia. Untuk itu, jika kita ingin hidup beribadah, maka kita mutlak perlu untuk mematuhi suatu ketertiban, suatu disiplin tertentu. Karena itulah, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fardhu&lt;/span&gt; adalah bagian atau jatah untuk manusia, yang dianugerahkan atau dikaruniakan Tuhan kepada manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian lain, Hadji Agus Salim mengungkapkan pendapatnya masalah gender (hal. 308-318). Menurut Hadji Agus Salim, tidak ada aturan tegas dalam agama mengenai boleh tidaknya perempuan terjun dalam dunia publik. Untuk itu, menurutnya, perempuan juga punya peluang untuk menduduki posisi publik (presiden, menteri, gubernur, bupati/wali kota dan sejenisnya), asalkan urusan dapur (baca: rumah tangga) tidak terbengkalai (hal. 313).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, buku ini cocok untuk dibaca oleh semua kalangan, baik mereka yang ingin lebih memperdalami sejarah dan ajaran agama (Islam) maupun mereka yang ingin mengetahui lebih banyak gagasan Hadji Agus Salim—khususnya tentang keislaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Data Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Judul  : Pesan-Pesan Islam; Rangkain Kuliah Musim Semi 1953 di Coenell&lt;br /&gt;University Amerika Serikat&lt;br /&gt;Penulis  : Hadji Agus Salim&lt;br /&gt;Penerbit : Mizan Pustaka, Bandung&lt;br /&gt;Cetakan : I, Mei 2011&lt;br /&gt;Tebal  : xxxviii + 389 halaman&lt;br /&gt;ISBN  : 978-979-433-552-9&lt;br /&gt;Harga  : Rp. 82.500&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;*dimuat di Radar Surabaya, 24/7/2011&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-2135669541959848385?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/2135669541959848385/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/07/gagasan-keislaman-hadji-agus-salim.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/2135669541959848385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/2135669541959848385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/07/gagasan-keislaman-hadji-agus-salim.html' title='Gagasan Keislaman Hadji Agus Salim*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-0ABKz2J6Eqo/TiupDPSzDtI/AAAAAAAAAlA/M8tMf98r958/s72-c/Cover%2BBuku%2BPesan-Pesan%2BIslam%2B%2528Hadji%2BAgus%2BSalim%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-3342121665124717927</id><published>2011-07-02T21:20:00.000-07:00</published><updated>2011-07-02T21:25:56.930-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Dunia Buku dalam Pusaran Misteri*</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-GJ-U0pZZ8pY/Tg_uc5UeqAI/AAAAAAAAAk4/qLGeJt-qVMY/s1600/Cover%2BBuku%2BPerpustakaan%2BAjaib%2BBibbi%2BBokken.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 203px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-GJ-U0pZZ8pY/Tg_uc5UeqAI/AAAAAAAAAk4/qLGeJt-qVMY/s320/Cover%2BBuku%2BPerpustakaan%2BAjaib%2BBibbi%2BBokken.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5624976639799502850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Banyak&lt;/span&gt; cara seseorang dalam berkomunikasi dengan sesama. Ketika tidak bisa berkomunikasi secara langsung, komunikasi lewat surat-menyurat sering jadi alternatif. Meski mirip korespondensi, motode yang terakhir itu memiliki keunggulan bisa terlacak sampai waktu yang lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal di atas digambarankan Jostein Gaarder, penulis buku laris Dunia Sophie, dan Klaus Hagerup melalui kisah petualangan Berit Boyum dan Nils Boyum Torgersen dalam bukunya, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken, yang diterjemahkan Ridwana Saleh dari judul aslinya; Bikki Bokken magische Bibliothek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama tentang Buku Surat dan bagian kedua tentang Perpustakaan. Bagian pertama berisi tulisan-tulisan surat sepasang adik-kakak sepupuan, Berit Boyum dan Nils Boyum Torgersen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berit Boyum dan Nils Boyum Torgersen menggunakan buku surat ini untuk berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya. Sampai waktu yang lama pun seluruh arsip catatan tetap tersimpan rapi dan runtut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal hingga akhir bagian pertama, pembaca akan dibuat penasaran terhadap berbagai pengalaman yang mereka tuliskan. Apalagi keduanya menambahkan dugaan-dugaan teori, imajinasi, serta fantasi mereka masing-masing untuk mendaptkan titik terang dari semua misteri yang mereka hadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan di bagian kedua diceritakan saat-saat di mana keduanya akhirnya berkumpul kembali untuk memecahkan misteri tersebut. Hingga akhirnya mereka berhasil menemukan dan memasuki perpustakaan bawah tanah milik Bibbi Bokken. Di season inilah akhirnya semua  misteri tersebut diurai satu persatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku surat Berit Boyum dan Nils Boyum Torgersen, yang selama ini menjadi alat komunikasi keduanya, ternyata diincar seorang wanita misterius, yang tak dikenal sebelumnya. Bersama komplotannya perempuan misterius tersebut menjalankan sebuah rencana rahasia atas diri Berit Boyum dan Nilas Boyum Torgersen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita bermula ketika Berit memungut sepucuk surat yang terjatuh dari tas perempuan misterius yang terakhir diketahui bernama Bibbi Boken. Cerita kemudian berlanjut menjadi sebuah petualangan seru penuh intrik. Semakin lama berkirim buku surat, keduanya semakin menemukan banyak fakta menarik dari Bibbi Boken ini. Hingga akhirnya muncul nama-nama baru dan tampaknya juga saling berhubungan dengan perempuan super misterius itu. Bahkan Pak Bruun, guru Nils di sekolah dan istrinya ditengarai terlibat dalam kasus tesebut. Dan yang paling mengerikan adalah kemunculan si Smiley, laki-laki berkepala plontos dan memiliki senyum mengerikan. Tanpa diduga, semua orang-orang itu ngincar buku surat milik Berit dan Nils.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti hanya dunia Sophie Gaarder selalu piawai meramu banyak hal dalam aspeknya: misteri, pengetahuan, dan filsafat. Di bukunya yang ini selama mengikuti petualangan Berit dan Nils tersebut, banyak wawasan mengenai perbukuan yang dapat disimak pembaca. Misalnya tentang klasifikasi Dewey yang sering digunakan untuk menandai buku-buku di perpustakaan. Seperti kode 080 untuk koleksi umum dan 150 untuk buku-buku psikologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, juga ada istilah kepustakaan yang diperjelas di dalamnya, seperti istilah bibliografer dan incunabula. Mungkin yang biasa kita fahami akan istilah bibliografer adalah pencinta buku dan incunabula adalah sebuah buku yang belum ditulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dalam buku ini dijelaskan bahwa kedua istilah tersebut tak tepat. Bibliografer adalah seseorang yang melakukan kegiatan bibliografi atau hal-hal yang mengenai buku-buku, sedangkan incunabula adalah buku yang pertama kali dicetak setelah seni percetakan buku ditemukan (hal. 22). Kalau bibliografer dimaknai “pencinta buku”, tampaknya tertukar dengan istilah bibliophile, yang berarti pencinta buku, atau seseorang yang mengoleksi buku-buku langka dan bermutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, melalui buku ini, penulis berusaha menyadarkan pembaca bahwa apapun yang kita tulis sebenarnya bisa menjadi buku. Dan buku tersebut harus diapresiasi, layaknya buku-buku yang pernah diterbitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Data Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Judul  : Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken&lt;br /&gt;Penulis  : Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup&lt;br /&gt;Penerjemah : Ridwana Saleh&lt;br /&gt;Penerbit : Mizan Pustaka, Bandung&lt;br /&gt;Cetakan : I, Maret 2011&lt;br /&gt;Tebal  : 282 halaman&lt;br /&gt;ISBN  : 978-979-433-595-6&lt;br /&gt;Harga  : 39.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;*dimuat di Jawa Pos, 03/07/2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-3342121665124717927?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/3342121665124717927/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/07/dunia-buku-dalam-pusaran-misteri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/3342121665124717927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/3342121665124717927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/07/dunia-buku-dalam-pusaran-misteri.html' title='Dunia Buku dalam Pusaran Misteri*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-GJ-U0pZZ8pY/Tg_uc5UeqAI/AAAAAAAAAk4/qLGeJt-qVMY/s72-c/Cover%2BBuku%2BPerpustakaan%2BAjaib%2BBibbi%2BBokken.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-5798881203321967662</id><published>2011-06-16T19:33:00.000-07:00</published><updated>2011-06-16T19:41:11.417-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Memahami Titah Tuhan*</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-_-RgEgKKg4I/Tfq-jKLIKaI/AAAAAAAAAkw/lO40DVbcDM8/s1600/Cover%2BBuku%2BMemahami%2BBahasa%2BAgama.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 242px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-_-RgEgKKg4I/Tfq-jKLIKaI/AAAAAAAAAkw/lO40DVbcDM8/s320/Cover%2BBuku%2BMemahami%2BBahasa%2BAgama.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5619012996333840802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Berbicara bahasa agama, maka ia bisa ditinjau dari dua sudut, theo-oriented dan antropo-oriented. Jika ditinjau dari segi theo-oriented, bahasa agama adalah kalam ilahi yang kemudian terabadikan dalam kitab suci (Al Qur'an). Dan apabila ditinjau dari sudut antropo-oriented, bahasa agama adalah ungkapan serta perilaku keagamaan dari seseorang atau sebuah kelompok sosial - atau dalam istilah Agama Islam mengarah kepada hadis, atsar as-shahabah, tabi'in, tabi' al-tabi'in atau pun para ulama setelahnya - meskipun tidak selalu merujuk kepada kitab suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Memahami Bahasa Agama, Sebuah Kajian Hermeneutika karya Komaruddin Hidayat membicarakan hal di atas pada sudut pandang yang pertama, yaitu bahasa agama sebagai kitab suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sederhana, terdapat dua kategori bahasa agama (kitab suci), yaitu preskriptif dan deskriptif. Kategori preskriptif berarti struktur makna yang dikandung selalu bersifat imperatif dan persuasif, yang menghendaki pembaca mengikuti pesan pengarang sebagaimana terformulasikan dalam teks. Dalam ungkapan-ungkapan preskriptif ini posisi pengarang menjadi pusat putaran, sementara pembaca diminta mengikuti ajakan dan sarannya. Berbeda dengan deskriptif, jika gaya preskriptif pengarang cenderung memerintah, maka gaya bahasa deskriptif lebih demokratis sifatnya. Di situlah terbuka lebar bagi pembaca untuk ikut mendiskusikan persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan isi yang terkandung dalam Al Qur'an, maka sebagian besar gaya bahasa Al Qur'an bersifat preskriptif. Meskipun demikian, bukan berarti Allah itu bersifat diktator. Karena pada hakikatnya, kita tidak akan mengetahui baik-buruk tanpa petunjuk dari Allah Swt. Allah adalah zat pengatur yang bijak. Allah akan memilih ungkapan yang tepat ketika berbicara, sesuai ruang, waktu, dan objek yang dituju. Oleh karenanya, dalam Al Qur'an, pesan dan perintah Allah kadang dituangkan dalam bentuk narasi deskriptif serta ungkapan-ungkapan metaforis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan ulama Mutakalllimun (teolog Islam) bahkan terdapat pandangan yang cukup kuat bahwa salah satu kekuatan Al Qur'an justru terletak pada gaya bahasanya, sehingga para sastrawan andal pada saat itu harus mengakui kekalahan mereka ketika dihadapkan pada tantangan gaya bahasa Al Qur'an. Gaya serta keindahan bahasa Al Qur'an tidak bisa dikategorikan sebagai karangan prosa atau puisi karena bahasa Al Qur'an sesungguhnya lebih menekankan makna yang sanggup menggugah kesadaran batin dan akal budi ketimbang sekadar ungkapan kata yang berbunga-bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, buku terbitan Mizan Pustaka ini bisa menjadi bahan bacaan bagi semua kalangan untuk lebih memperkaya khazanah ketatabahasaan, khususnya bahasa Al Qur'an yang menjadi kitab suci umat Islam. Dengan bahasa khas penulisnya, yang renyah, semakin menambah nilai plus buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Data Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Judul : Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutika&lt;br /&gt;Penulis : Komaruddin Hidayat&lt;br /&gt;Penerbit : Mizan Pustaka, Bandung&lt;br /&gt;Tahun : I, Mei 2011&lt;br /&gt;Tebal : 326 halaman&lt;br /&gt;Harga : Rp54.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;*telah dimuat di&lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/64659" target="_blank"&gt; Koran Jakarta&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt; (17/6/2011)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-5798881203321967662?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/5798881203321967662/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/06/memahami-titah-tuhan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/5798881203321967662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/5798881203321967662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/06/memahami-titah-tuhan.html' title='Memahami Titah Tuhan*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-_-RgEgKKg4I/Tfq-jKLIKaI/AAAAAAAAAkw/lO40DVbcDM8/s72-c/Cover%2BBuku%2BMemahami%2BBahasa%2BAgama.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-1701800109541933777</id><published>2011-06-11T19:26:00.000-07:00</published><updated>2011-06-12T00:44:07.415-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>Pesan untuk Calon Mahasiswa*</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Hf_NYPiRAnc/TfQkes4NYOI/AAAAAAAAAko/zLW7lbpP4BY/s1600/Sarjana.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Hf_NYPiRAnc/TfQkes4NYOI/AAAAAAAAAko/zLW7lbpP4BY/s320/Sarjana.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5617154745099444450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Abd. Basid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengawali&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; tulisan ini, saya ingin mengungkap sebuah cerita. Orang terdekat saya yang sudah lulus strata satu (S1) pernah mengutarakan bahwa dirinya merasa stres. Pasalnya, setelah lulus, ia tidak punya kerjaan. Lebih-lebih ketika melihat orang-orang sekitarnya, yang sudah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngajar&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kesibukannya apa sekarang? Kalau mau ngajar punya Akta IV &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nggak&lt;/span&gt;?”, begitu kata orang sekitar kepadanya. Kalau sudah demikian, suasana diri menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bad mood&lt;/span&gt;. Begitulah curhatnya ke saya, suatu hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia pendidikan keberadaan Akta IV itu berfungsi sebagai akan diakuinya seseorang sebagai pengajar di sebuah pendidikan. Jika seorang guru tidak punyai Akta IV, maka ia terancam di bawah, tidak diakui keguruannya. Bahasa kasarnya, ia tidak bisa mengajar. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Toh,&lt;/span&gt; meski harus mengajar, ia tidak bisa jadi PNS (pegawai negeri sipil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akata IV ini digulirkan sejak pemerintah menetapkan UU Sisdiknas dan diiringi dengan UU tentang guru dan dosen. Sejak UU ini diberlakukan, profesi guru/dosen menjadi fenomenal dibanding profesi lain di dunia pendidikan. Profesi yang sebelumnya begitu ditakuti dan dihindari untuk digeluti, sekarang seolah mempunyai daya tarik yang sangat kuat yang membuat banyak orang, terutama lulusan baru dari perguruan tinggi, untuk terjun ke profesi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah agak sama, juga pernah saya alami. Suatu hari, ketika saya melayani pelanggan yang sedang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngeprint&lt;/span&gt; skripsinya. Meski belum kenal, tiba-tiba terjadi perbincangan masalah lulusan sarjana. Tanpa diduga dia yang kebetulan ada pada Jurusan Pendidikan (baca; Tarbiyah) dan saya yang lulusan Ushuluddin. Dia menyalahkan saya, seraya dia berucap; “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kok&lt;/span&gt; Mas-nya tidak ngambil jurusan pendidikan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kok&lt;/span&gt; ngambil Jurusan Ushuluddin. Buat apa Ushuluddin, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kan&lt;/span&gt; Ushuluddin tidak punya Akta IV?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak mau berdebat. Sebab dia pelanggan yang tidak perlu “dilayani”, maka saya hanya menjawabnya; “Masalah kerja atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngajar&lt;/span&gt; itu, tengantung pada usaha dan nasib kita masing-masing, Mbak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jawaban itu tenyata pelanngan itu diam, seakan-akan ia menyadari bahwa dia sudah mengajukan pertanyaaan yang keliru.  Dia tidak sadar bahwa keberadaan Akta IV sekarang sudah dihapus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua keadaan seperti di atas cukup menjadi bukti bahwa orientasi belajar masyarakat kita untuk mendapat pekerjaan, tidak karena niat luhur (cinta), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lillahi ta’ala&lt;/span&gt;. Dengan kata lain, orientasi belajar masyarakat kita saat ini lebih pada untuk mencetak tenaga kerja guna kepentingan industri dan membentuk mentalitas pegawai. Ketika seperti inilah yang menyebabkan banyaknya jumlah pengangguran di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja, sekarang saja sudah ada sekitar 750 ribu lulusan program diploma dan sarjana yang menganggur. Jumlah pengangguran itu akan makin membengkak jika ditambah jutaan siswa putus sekolah dari tingkat SD hingga SMA. Tercatat, sejak 2002, jumlah mereka yang putus sekolah itu rata-rata lebih dari 1,5 juta siswa setiap tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini belum lagi, mereka calon mahasiswa baru yang akan mengisi bangku kuliah di tahun 2011 ini, yang nanti tentunya juga tidak pasti langsung “layak pakai” setelah lulus nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pendaftar seleksi nasional masuk perguruan tinggi nasional (SNMPTN) 2011 ini, tercatat 540.928 pendaftar resmi. Itu masih belum mereka yang berada di luar jalur SNMPTN. Dari beribu-ribu calon mahasiswa tersebut, akankah mereka menemukan stress di akhir kelulusannya nanti, jika masih pada orientasi di atas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, yang perlu ditumbuh dan tanamkan pada masyarakat kita—lebih-lebih pelajar kita adalah tujuan paling mendasar dari suatu sistem pendidikan—adalah harus bisa membangun semangat cinta belajar. Dengan spirit dan mentalitas cinta belajar, apa pun yang akan dihadapi pada masa depan, mereka akan bisa bertahan untuk beradaptasi, menguasai, dan mengubahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun semangat cinta belajar, apalagi zaman ini, yang seluruh ilmu pengetahuan sudah tersedia secara digital, bisa diakses melalui komputer di internet ataupun melalui telepon genggam. Jadi, cukup dengan kemampuan menggunakan komputer, mencari sumber informasi yang dibutuhkan di internet, dan bahasa Inggris secukupnya karena di dunia maya tersedia mesin penerjemah aneka bahasa yang instan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, jika orientasi belajar remaja kita masih lebih pada pekerjaan, maka segeralah berhenti sebelum menemukan “masalah”. Mending bekerja sebelum stres. Karena kalau cuma mau bekerja tidak usah belajar jauh, bertahun-tahun, dan tinggi-tinggi. Terbukti, dari sekitar 105 juta tenaga kerja yang sekarang bekerja, lebih dari 55 juta pegawai adalah lulusan SD. Pemilik diploma hanya sekitar 3 juta orang dan sarjana sekitar 5 juta orang. Lalu untuk apa anak-anak kita harus buang-buang waktu dan uang demi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Maka berhentilah sekolah sebelum terlambat, jika orientasinya masih untuk kerja. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;*telah dimuat di Horizon Radar Surabaya, 12/6/2011&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-1701800109541933777?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/1701800109541933777/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/06/pesan-untuk-calon-mahasiswa.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/1701800109541933777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/1701800109541933777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/06/pesan-untuk-calon-mahasiswa.html' title='Pesan untuk Calon Mahasiswa*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Hf_NYPiRAnc/TfQkes4NYOI/AAAAAAAAAko/zLW7lbpP4BY/s72-c/Sarjana.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-7838138079131880871</id><published>2011-06-03T20:57:00.000-07:00</published><updated>2011-06-03T21:04:27.813-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Obituari'/><title type='text'>RP Soejono, Bapak Prasejarah Tanah Air</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-tThmxLBQyfw/TemuZOGWj4I/AAAAAAAAAkg/nl4XnZybevw/s1600/Soejono%252C%2BR.P..jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 229px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-tThmxLBQyfw/TemuZOGWj4I/AAAAAAAAAkg/nl4XnZybevw/s320/Soejono%252C%2BR.P..jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5614210158798737282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Raden Pandji Soejono (RP Soejono), arkeolog kelahiran Mojokerto, 27 November 1926, meninggal dunia bulan kemarin, Senin, 16 Mei pukul 08.30 di rumahnya, Jakarta Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang arkeolog atau ahli kepurbakalaan, cita-cita luhur beliau semasa hidupnya amatlah mulia, yaitu ingin bangsa Indonesia ini mengembangkan pengetahuan luas tentang masa lalu sebagai kesatuan integral masa kini. Karena cita-cita luhur tersebut, tidak keliru, jika pada 2010 kemarin, Kompas memilihnya sebagai salah satu dari lima orang cendikiawan berdedikasi di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga masa senjanya pun RP Soejono masih tetap ngantor di Lembaga Arkeologi Nasional, Pejaten, Pasar Minggu—meski status dirinya sudah pensiun dari jabatan PNS—demi mengaplikasikan cita-citanya. Masa senja tidak menyurutkan semangat dan tekadnya. Umur hanya mengurangi keleluasaan gerak, sebaliknya tekad pantang menyerah tabu untuk surut dari pikirannya. Suatu tekad yang patut diteladani oleh kita yang masih hidup di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja, berkat kegigihannya, arkeologi Indonesia yang pada awalnya berciri amatiran, akhirnya menjadi satu cabang ilmu pengetahuan dalam kegiatan yang diatur sesuai standar internasional. Berkat kegigihanya pula, arkeologi Indonesia menjadi nasionalistik dan mandiri—dan menjadikan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) sebagai pusat penelitian yang disegani di dunia internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin banyak kalangan yang beranggapan bahwa arkeolog di masa kini tidak ubahnya hanya seperti mencari dan menggali beling di dalam tanah. Namun, tidak demikian dengan RP Soejono. Bagi RP Soejono arkeologi tidaklah hanya sekadar mengungkap peninggalan yang sudah berkalang tanah. Namun, arkeolog adalah untuk memperoleh pengetahuan lebih lengkap, yang mana sebuah bangsa akan memberikan perhatian pada obyek-obyek kuno yang diperoleh dari dalam tanah. Bahkan lebih dari itu, baginya arkeologi juga mempunyai peranan dalam usaha menggugah rasa kebangsaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan RP Soejono dalam menggeluti dunia arkeologi tidak hanya sebatas wacana. Selain bukti pemikiran (wacana) cemerlangnya, RP Soejono sudah berhasil menulis banyak tulisan tentang arkeologi yang tersebat di berbagai media, mengadakan penelitian, dan membimbing mahasiswa, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjalaninya, RP Soejono tidak pamrih. Hal itu bisa kita lihat dari salah satu kejadian yang mana ketika itu RP Soejono mendapat bimbingan disertasi salah satu mahasiswa Malaysia. Untuk membimbing calon doktor seperti itu, RP Soejono sebagai pembimbing waktu itu berhak mendapat honor 400.000/mahasiswa. Namun, ternyata pembayaran dari Malaysia melalui bank yang tidak ada cabangnya di Indonesia. Dengan demikian, uang jatah RP Soejono tidak sampai di tangannya. Namun, meski demikian, RP Soejono tidak merasa resah dan menagih kembali akan honor bimbingan tersebut. RP Soejono tetap enjoy, tidak menghiraukan honor tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak karya-karya yang dihasilkan RP Soejono. Dari beberapa yang penulis telusuri, RP Soejono sampai masa senjanya pun masih mau tetap berkarya dan berbagi. RP Soejono merupakan orang pertama yang menggeluti bidang akreologi—khususnya prasejarah. Hal itu bermula pada tahun 1950. Di tahun 1950, empat mahasiswa Universitas Indonesia, yang terdiri dari Soekmono, Satyawati Soelaiman, Boechari dan Soejono membuat kesepakatan untuk mengambil jurusan sejarah kuno. Soekmono dan Satyawati Soelaiman spesifikasi pada bidang klasik. Boechari memilih bidang epigrafi. Dan RP Soejono bidang prasejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, RP Soejono juga rajin memotivasi generasinya untuk selalu tekun dalam menggeluti sejarah, terutama sejarah negeri sendiri. Dalam memotivasi generasinya, ia berharap agar generasi negeri ini tetap menghargai sejarah (masa lampau). Semua ini mungkin salah satu bentuk dari pengejewantahan dari pegangannya yang ia kutip dari cendekiawan Denmark, yang sekaligus gurunya, Worsaae, bahwa bangsa yang menghargai dirinya sendiri dan kemerdekaannya tidak mungkin puas dengan hanya memandang kepada masa kininya. Ia harus memberikan perhatian kepada masa-masa lampaunya. Untuk itu, sejarah harus tetap dan selalu dihargai. Karenanya, sampai ada yang menjulukinya, bahwa RP Soejono adalah “barang langka” dalam dunia prasejarah di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya terpopuler RP Soejono bisa kita lihat seperti, Prehistoric Indonesia, Dynamics of Indonesian Story, Netherlands, 1978, Trends in Prehistoric Research in Indonesia, Modern Quaternary Research, 1982, dan Artifacs from Hominid Bearing Formation in Java, makalah, 1984.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama hidupnya, berbagai jabatan diduduki RP Soenojo, di mana semua jabatan yang ada semakin menunjukkan bahwa RP Soejono betul-betul bapak prasejarah di tanah air ini. Jabatan-jabatan tersebut di antaranya; Asisten Purbakala pada Dinas Purbakala (1956-1960), Kurator Prasejarah pada Museum Pusat, Jakarta (sejak 1956), Kepala Kantor Cabang II Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional, Bali (1960-1964), Dosen Luar Biasa pada Universitas Udayana (sejak 1960), Kepala Bidang Prasejarah pada Pust Penelitian Arkeologi Nasional, Jakarta (sejak 1960), Dosen Luar Biasa UGM (sejak 1963) Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (sejak 1977) dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, bapak prasejarah tanah air ini sudah mangkat. Siapa pengganti beliau?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-7838138079131880871?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/7838138079131880871/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/06/rp-soejono-bapak-prasejarah-tanah-air.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/7838138079131880871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/7838138079131880871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/06/rp-soejono-bapak-prasejarah-tanah-air.html' title='RP Soejono, Bapak Prasejarah Tanah Air'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-tThmxLBQyfw/TemuZOGWj4I/AAAAAAAAAkg/nl4XnZybevw/s72-c/Soejono%252C%2BR.P..jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-2270194689889162878</id><published>2011-05-28T19:01:00.000-07:00</published><updated>2011-05-28T19:07:20.141-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Natsir, Visi dan Aksinya*</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-O8LORbFMb-E/TeGpaDDrhtI/AAAAAAAAAkU/vroUyDmZ7_8/s1600/Cover%2BBuku%2BMohammad%2BNatsir.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 210px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-O8LORbFMb-E/TeGpaDDrhtI/AAAAAAAAAkU/vroUyDmZ7_8/s320/Cover%2BBuku%2BMohammad%2BNatsir.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5611952875642783442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Membicarakan tokoh politik, Mohammad Natsir (selanjutnya disebut Natsir saja), mungkin tidak sefamiliar Soekarno, yang menjadi funding father negeri  ini. Buku-buku yang membahas tentang Natsir pun juga tidak sebanyak ketimbang buku-buku yang membahas Soekarno. Padahal kalau kita menelusuri sejarah perjuangan keduanya, Natsir juga banyak—untuk tidak mengatakan lebih—andil dalam wacana perpolitikan negeri ini. Bahkan Soekarno “belajar” masalah keagamaan (Islam) lewat tulisan-tulisan Natsir. Hal itu dapat ditemukan tatkala Soekarno ditahan di Endeh di Pulau Flores. Melalui buku kiriman dari Ahmad Hassan, Soekarno membaca tulisan-tulisan Natsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gagasan Natsir begitu beragam, mulai persoalan kebangsaan, pendidikan, dakwah, keagamaan, sampai persoalan politik. Pemikiran dan aktivismenya di wilayah politik mematrikan dirinya sebagai salah seorang pemuka politik, tepatnya pada politik Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Buku “Mohamma Natsir dalam Sejarah Politik Indonesia, Peran dan Jasa Mohammad Natsir dalam Dua Orde Indonesia”, membuktikan hal di atas. Buku yang disusun oleh M. Dzulfikriddin ini menegaskan bahwa peran Natsir dalam perpolitikan negeri ini tidak kalah eksisnya ketimbang Soekarno. Memang tidak ada kesimpulan tertulis dari penulis buku ini, tapi saya menyimpulkan demikian setelah membaca dan memposisikan keberadaan buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natsir dilahirkan di Minangkabau (17 Juli 1908), di mana di daerah itu banyak lahir tokoh-tokoh besar, baik dalam bidang agama, intelektual, kesusastraaan, pendidikan, maupun politik. Lihat saja, Mohammad Hatta, Haji Agus  Salim, Sutan Syahrir, dan Buya Hamka. Beliau-beliau berasal dari daerah Minagkabau, yang juga dikenal dengan salah satu daerah pelopor pembaharuan di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan sehari-harinya, Natsir, sejak kecil memang sudah sering berkelut dengan masalah pahit-manisnya kehidupan. Sampai masa dewasanya Natsir tambah matang dalam berpolitik dan beraktivitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasi Natsir dalam berpolitik bukan demi power politics, tidak pula untuk mengikuti adagium who gets what, when, and how. Tapi, motivasinya adalah usaha untuk bersikap konsisten terhadap apa yang diyakini bahwa penjajahan memang harus dilenyapkan dan kemerdekaan merupakan hak segala bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penulis, ada dua yang menjadi latar belakang kegigihan Natsir dalam mengarungi hidup dan perpolitikannya. Dua hal tersebut adalah guru-gurunya (Ahmad Hassan, Haji Agus Salim, dan Ahmad Syurkati) dan polemik masalah keagamaan dan kebangsaan yang terjadi pada dekade 1930 sampai 1940-an, yang mana polemik itu berlangsung antara Ir. Soekarno di satu pihak dengan Muhammad Hassan dan Natsir di pihak lain. (hal. 43).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jejak perpolitikan Natsir semakin berkibar di kala ia menjadi orang nomor satu di Masyumi. Di bawah kepemimpinan Natsir, Masyumi menjadi partai terbesar di Indonesia, sampai diadakan pemilu 1955. Dan di bawah kepemimpinan Natsir juga, Masyumi mampu mengharu birukan politik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1949, tepatnya pada muktamar IV, Natsir terpilih menjadi ketua umum partai Masyumi. Selanjutnya muktamar demi muktamar Natsir selalu terpilih sebagai ketua partai. Selama tiga kali muktamar, ia terus terpilih lagi sebagai ketua. Baru pada muktamar IX, ia digantikan oleh Prawoto Mangkusasmito, itu pun karena Natsir berhalangan hadir ke muktamar, karena kala itu ia berada di tengah hutan Sumatra dalam perjuangannya bersama PRRI menentang kezaliman rezim Soekarno dengan demokrasi terpimpinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir dari PRRI ini yang akhirnya menjadikan Natsir sebagai salah seorang yang dikarantina dan setelah itu menjadi tahanan politik, sampai permulaan masa orde baru (orba). Natsir dikarantina katanya berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Keadaan Bahaya (PPUUKB) nomor 23 tahun 1959, terutama Pasal 43 yang memberikan wewenang kepada penguasa untuk menahan setiap warga negara dalam waktu yang tidak ditentukan lamanya. Selanjutnya Natsir ditahan berdasarkan Penpres Nomor 3/1962 yang lalu diganti dengan Penpres Nomor 11/1963.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, meski waktu itu Natsir berstatus sebagai tahanan politik, namun kontribusinya terhadap Indonesia tidak merosot. Rasa nasionalismenya tetap menyala. Hal itu terbukti dengan kesiapan Natsir untuk tetap ikut berkontribusi dalam pemulihan hubungan diplomatik Indonesia dan Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, pemerintah Orba ingin memulihkan hubungan dengan Malaysia yang rusak akibat obsesi politik Soekarno dengan “Politik Gayang Malaysia”. Untuk melancarkan niatnya, pemerintah Indonesia mengutus Ali Murtopo dan L.B. Moerdani untuk menemui PM Tengku Abdul Rahman. Namun, ternyata Tengku Abdul Rahman menolak menerima mereka berdua. Mereka pulang dengan tangan hampa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menembus kebuntuan itu, pemerintah mengutus Brigjen Sofyar untuk menemui Natsir di Wisma Keagungan, tempat ia ditahan, setelah mengetahui bahwa Natsir bersahabat baik dengan Tengku Abdul Rahman. Tanpa banyak tanya dan dengan jiwa besar, Natsir langsung menulis memo untuk Tengku Abdul Rahman menerangkan maksud baik pemerintah Indonesia. Dengan memo itu, akhirnya Tengku Abdul Rahman, menerima niat baik Indonesia (hal. 151).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai masa senjanya pun semangat Natsir untuk selalu memakmurkan Indonesia masih ada. Meski di masa senjanya dunia formal sudah tertutup baginya, namun ia tetap mengikuti perkembangan politik Indonesia dan internasional. Ketika delegasi tokoh-tokoh Islam menemui pimpinan DPR untuk merevisi buku teks Pendidikan Moral Pancasila (PMP) pada 1982 Natsir ikut sebagai anggota delegasi dan menyampaikan pokok-pokok pikirannya, yang mana menurut Natsir, buku PMP mengandung unsur-unsur pendangkalan agama, penyamaran agama-agama, dan pertentangan agama dengan Pancasila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga ketika terjadi perdebatan sengit sekitar masalah RUU Peradilan Agama dan RUU Pendidikan Nasional di DPR pada 1989, Natsir ikut berbicara dan menyampaikan pemikirannya kepada fraksi-fraksi di DPR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, buku ini sangat cocok dibaca bagi semua kalangan, untuk lebih mengetahui sejarah para tokoh yang banyak andil dalam memakmurkan negeri ini. Buku ini kaya akan data, yang tidak hanya satu jenis pustaka. Pustaka buku ini terdiri dai kamus, ensiklopedi, buku-buku, makalah, tesis, jurnal ilmiah, majalah, surat kabar dan majalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Data Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Judul  : Mohammad Natsir dalam Sejarah Politik Indonesia&lt;br /&gt;Penulis  : M. Dzulfikriddin&lt;br /&gt;Penerbit : Mizan Pustaka, Bandung&lt;br /&gt;Cetakan : I, Desember 2010&lt;br /&gt;Tebal  : 246 halaman&lt;br /&gt;ISBN  : 978-979-433-578-9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;*telah dimuat di Radar Surabaya (29/5/2011)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-2270194689889162878?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/2270194689889162878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/05/natsir-visi-dan-aksinya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/2270194689889162878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/2270194689889162878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/05/natsir-visi-dan-aksinya.html' title='Natsir, Visi dan Aksinya*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-O8LORbFMb-E/TeGpaDDrhtI/AAAAAAAAAkU/vroUyDmZ7_8/s72-c/Cover%2BBuku%2BMohammad%2BNatsir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-2001128341883570344</id><published>2011-05-14T21:39:00.000-07:00</published><updated>2011-05-14T21:45:38.997-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Misteri De Harmonie</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-2h0r1K2KE8c/Tc9ZwVYzyJI/AAAAAAAAAkE/lU6ubsP4Rjg/s1600/Cover%2BBuku%2BDe%2BHarmonie.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 223px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-2h0r1K2KE8c/Tc9ZwVYzyJI/AAAAAAAAAkE/lU6ubsP4Rjg/s320/Cover%2BBuku%2BDe%2BHarmonie.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5606798748009351314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ada banyak cara bagi seorang yang produktif untuk menginformasikan apa yang ia lihat, dengar, dan baca. Jika seorang muballigh, maka ia kan menginformasikannya lewat ceramah. Jika seorang seniman, maka ia akan menginformasikannya lewat lukisan, karikatur, musik, dan sejenisnya. Dan jika seorang penulis, maka ia akan menginformasikannya lewat artikel, esai, dan buku (fiksi atau non fiksi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga bagi seorang Yanti Soeparmo yang dalam kesehariannya menulis novel. Lewat buku yang berjudul “De Harmonie”, karya terbarunya, Yanti Soeparmo, yang juga pernah berprofesi sebagai wartawan, menginformasikan apa yang ia lihat, dengar, dan baca, dengan kisah yang syarat akan informasi masa lampau, sebelum kemerdekaan 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita dalam buku ini bersetting tahun 1920-an, sehingga nilai historisnya amatlah kaya. Judul De Harmonie diambil dari nama sebuah gedung yang menjadi tempat konflik dalam cerita di dalamnya, yaitu gedung pertemuan termewah di Batavia pada masa kolonial Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh sentral dalam buku ini adalah Rafael van Den Berg dan Salma. Rafael van Den Berg—yang biasa dipanggil Rafa—adalah dokter kemiliteran orang Belanda. Dia adalah dokter asal Belanda yang baik hati, ramah, peduli dan sejenisnya. Meski dia sebagai dokter kemiliteran yang tugasnya melayani para tentara Belanda jika sakit, namun ia dengan begitu pedulinya juga mengobati orang pribumi yang membutuhkannya. Ketika Rafa ditugaskan ke Garut, akhirnya dia berhasil menyunting perempuan pribumi yang bernama Salma. Rafa dan Salma hidup rukun dan bahagia di Garut. Namun, tragedi 6 Juli 1919 di Leles memisahkan keduanya, tanpa ada kabar nasib keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragedi 6 Juli 1919 itu merupakan tragedi penyerangan pemerintah terhadap rakyat pribumi, karena rakyat dianggap tidak patuh pada pemerintah. Rafa yang waktu tragedi itu tidak ada di Leles harus kehilangan kabar Salma, istrinya, tak tahu entah ke mana. Apakah Salma ikut menjadi korban penyerangan itu atau tidak, itu tidak ada kabar. Pencarian Rafa pun tidak membuahkan hasil, hingga akhirnya Rafa diharuskan kembali ke Batavia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragedi itu juga tidak luput dari adanya perbedaan antara orang pribumi dan orang Belanda yang kala itu sangatlah kental. Diskriminasi orang Belanda terhadap orang pribumi sangat tampak. Hal itu bisa ditemukan pada bacaan; “Verboden voor Inlanders en honden” di papan yang biasa dipajang di depan Societeit Harmoni, yang berarti, “dilarang masuk untuk orang pribumi dan anjing”. Kalimat itu banyak terdapat di area publik pada masa kolonial Belanda karena politik diskriminasi rasial yang menempatkan orang pribumi sebagai warga kelas terendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik konflik cerita dalam buku ini ketika malam peringatan ulang tahun Ratu Wilhelmena, yang diperingati di Societeit De Harmonie. Di malam pesta istimewa itu semua orang Eropa papan atas pasti datang dalam peringatan itu. Semua orang tidak akan ada yang menolak untuk menghadiri undangan pesta dansa di Harmonie itu. Karenanya, sampai ada ungkapan; “jika ingin mencari seorang pria Eropa kaya yang tinggal di Batavia, tapi tidak tahu alamatnya, maka carilah di Societeit De Harmonie”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salma yang datang dari Garut untuk mencari Rafa, suaminya, memanfaatkan perayaan ulang tahun ratu di De Harmonie itu. Salma datang ke De Harmonie dengan mencoba menjadi pelayan di malam perayaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesta peryaan pun berjalan dengan semarak. Namun ditengah semraknya pesta dansa malam itu, di halaman De Harmonie ditemukan sesosok mayat seorang pria Belanda. Pria Belanda itu diketahui bernama Vlekke, seorang tentara yang sudah berpangkat mayor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapatkannya, inspektur polisi, Jacques Hasselar, mengumpulkan semua yang dartang untuk diintrogasi, karena diyakini pelakunya ada di antara hadirin yang hadir. Rafa yang hadir malam itu hadir mengaku sebagai pelaku pembunuhan pria Belanda itu. Meski Inspektur Hasselar agak tidak yakin terhadap pengakuan Rafa, Rafa pun akhirnya ditahan untuk diperiksa lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah pemeriksaan dan penyelidikan lebih lanjut, tiba-tiba Salma datang ke tahanan ingin menyerahkan diri, mengaku bahwa dia pelakunya, bukanlah Rafa. Hasselar semakin bingung mengani kasus ini. Di tengah kebingungan itu, muncul lagi seorang pria Indo-Belanda dan pria pribumi sebagai tersangka pembunuhan di De Harmonie itu. Dua orang itu adalah Daniel dan Midin, kusir kereta Mayor Vlekke sendiri. Siapakah pelakunya? Itulah misteri De Harmonie. Jawabannya akan ditemukan di dalam cerita buku yang penuh suspense ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski buku ini merupakan buku yang ber-genre fiksi, namun isi di dalamnya penuh dengan data. Data yang bernilai historis. Untuk itu, tidak aneh jika dalam buku ini juga ada catatan kakinya. Dari buku ini pembaca akan mendapatkan informasi akan peninggalan terdahulu, zaman kolonial Belanda, yang pada saat ini sudah ada yang berubah bentuk, yang dijelaskan dalam buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnnya mungkin kita tidak tahu akan asal-usul Harmoni yang sekarang ada di Jalan Majapahit dan Jalan Veteran, Jakarta Pusat, namun setelah membaca buku ini kita akan mengetahui bahwa Harmoni itu adalah Societeit De Harmoni yang pada tahun 1985 dirobohkan untuk memperluas lahan parkir bagi kantor Sekretariat negara. Dan masih banyak lagi info sejarah masa lalu dalam buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Data Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Judul  : De Harmonie&lt;br /&gt;Penulis  : Yanti Soeparmo&lt;br /&gt;Penerbit : Laksana, Jogjakarta&lt;br /&gt;Cetakan : I, Maret 2011&lt;br /&gt;Tebal  : 384 Halaman&lt;br /&gt;ISBN  : 978-602-978-534-0&lt;br /&gt;Harga  : 46.000&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-2001128341883570344?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/2001128341883570344/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/05/misteri-de-harmonie.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/2001128341883570344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/2001128341883570344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/05/misteri-de-harmonie.html' title='Misteri De Harmonie'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-2h0r1K2KE8c/Tc9ZwVYzyJI/AAAAAAAAAkE/lU6ubsP4Rjg/s72-c/Cover%2BBuku%2BDe%2BHarmonie.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-7584783898209406931</id><published>2011-05-11T00:10:00.000-07:00</published><updated>2011-05-11T00:34:36.162-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gagasan'/><title type='text'>Video Lucu dari Australia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-IE5NuyKA1tQ/Tco3KyA4LxI/AAAAAAAAAj8/Q45HMgOZZmo/s1600/Komisi%2BVIII.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 187px; height: 139px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-IE5NuyKA1tQ/Tco3KyA4LxI/AAAAAAAAAj8/Q45HMgOZZmo/s320/Komisi%2BVIII.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5605353344579677970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rupanya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; anggota DPR kita tidak tahu—kalau tidak mau dikatakan berbohong—&lt;span style="font-style: italic;"&gt;e-mail&lt;/span&gt;-nya sendiri. Hal itu, ketahuan ketika Komisi VIII DPR mengadakan dialog di Autralia bersama para pelajar yang ada di sana. Ketika ditanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;e-mail&lt;/span&gt; DPR, ternyata mereka tergugup, bahkan saling lempar sesama anggota dewannya seakan ingin mengalihkan. Ironisnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;e-mail&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;komisi8@yahoo.com&lt;/span&gt;, yang diberikan anggota DPR tersebut bukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;e-mail&lt;/span&gt; DPR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian ini, langsung tersebar di dunia maya. Kita bisa mengaksesnya kapannya saja dan di mana saja. Dalam video yang bertajuk “Email Resmi Komisi 8 DPR RI” itu kita bisa menyaksikan kikuknya anggota DPR karena gugup dan tidak menjawab dengan jujur memberikan emailnya sendiri. Lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini mungkin terlihat sepele, tapi video lucu dari Australia ini menunjukkan bahwa politikus Senayan kita tidak terbiasa berkomunikasi dengan publik secara mudah. Bahasa “kerennya”, politikus Senayan kita orangnya gaptek. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(AB)**&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-7584783898209406931?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/7584783898209406931/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/05/video-lucu-dari-australia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/7584783898209406931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/7584783898209406931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/05/video-lucu-dari-australia.html' title='Video Lucu dari Australia'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-IE5NuyKA1tQ/Tco3KyA4LxI/AAAAAAAAAj8/Q45HMgOZZmo/s72-c/Komisi%2BVIII.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-3103586724240319284</id><published>2011-05-03T19:43:00.000-07:00</published><updated>2011-05-03T19:53:15.249-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Obituari'/><title type='text'>Jejak-Jejak Franky Sahilatua*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-mvpz_l8EoKI/TcC_MSzIoWI/AAAAAAAAAj0/8c65XmlAe0w/s1600/Franky.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 274px; height: 229px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-mvpz_l8EoKI/TcC_MSzIoWI/AAAAAAAAAj0/8c65XmlAe0w/s320/Franky.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602688154374545762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh: Abd. Basid&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Harimau&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia wafat meninggalkan nama, dan Franky Sahilatua (selanjutnya akan disebut Franky) mangkat meninggalkan jejak. Penyanyi balada yang lahir di Jawa Timur, Surabaya, 16 Agustus 1953, itu menghadap Sang Khalik pada Rabu (20 April) pukul 15.15 WIB di Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, karena penyakit kanker sumsum tulang belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jejak apa saja yang ditinggalkan Franky untuk negeri ini? Yang paling menonjol, pertama, kritisisme seorang penyanyi. Dalam bernyanyi dan mencipta lagu, Franky tidak sembarang mencipta lagu. Dalam setiap bait dan syairnya pasti ada filofi yang mendasarinya. Lagu-lagunya juga tidak jarang mengkritik akan ketidak bijakan pemerintah dalam memimpin negeri ini. Franky tak pernah sungkan untuk mengkritik siapa pun dan dalam kondisi apa pun. Ciri lagunya khas dengan bahasa dan syair yang datar tapi mengena dan logis. Bahkan ada yang menilai lagu Franky senantiasa seperti melintasi zaman, menembus waktu, dan seakan tak berhenti memberikan kesaksian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanannya tidak jarang selalu bergesekan dengan dunia politik, sehingga tidak jarang dia juga ikut terlibat dalam gerakan peralihan Orde Baru menuju Reformasi serta dalam gerakan antikorupsi, penentangan RUU APP, serta gerakan anti globalisasi. Gesekan ini bisa dilihat di lagunya yang berjudul, Perahu Retak, yang berkolaborasi dengan Emha Ainun Nadjib. Karya itu menggambarkan dan berisi protes atas ketidakadilan di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritikan Franky penuh dengan kejujuran atas fakta yang terjadi. Pesan yang disampaikannya melalui lagu merupakan segala macam penderitaan rakyat. Ketimpangan, kelaparan, KKN yang dilakukan penguasa, penguasaan aset Negara demi kepentingan pribadi, itulah realitas yang terjadi hingga saat ini. Lagu-lagu yang dinyanyikan Franky merupakan gambaran wajah bopeng Negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah pesan perjuangan Franky yang sampai akhir hayatnya ini masih dalam proses pencapaian, yaitu dia ingin menyebrang. Bersama kawan-kawannya, dia ingin melakukannya, katanya. Maksudnya, dia ingin menyeberang dari kondisi yang sekarang, menjadi kondisi yang lebih baik. Hemat Franky, dengan melakukan penyeberangan, bangsa Indonesia ini akan mampu menyeberangi gerakan yang selama ini terus berputar-putar, tanpa arah. Salah satu cara yang dilakukan oleh Franky untuk melakukan proses penyeberangan adalah dengan menciptakan dan menyanyikan lagu saat berada di atas perahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kritisisme dan obyektivitas, jejak lain yang patut diteladani, terutama oleh segenap musisi, adalah kesetiaan Franky kepada profesinya. Dalam berkarya, Franky tidak henti-hentinya terus mengarang lagu, tanpa harus mengenal waktu. Bahkan sampai menjelang wafatnya pun, Franky masih menggubah lagu barunya. Betapa setianya seorang Franky akan profesinya, sampai ajal mau memjemput pun masih dimanfaatkan untuk mencipta lagu. Lagu barunya yang digubah detik-detik kepergiaannya di antaranya: Anak Tiri Republik, Sirkus dan Pangan, dan Taman Sari Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sekitar 100 lagu sudah lahir dari “rahim” Franky. Sebanyak 15 album di antaranya dihasilkan bersama Jane, adik kandungnya sendiri. Dan setelah Jane memutuskan untuk fokus mengurus rumah tangganya, Franky terus melanjutkan profesinya dan terus bermetamorfosa secara musikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produktivitas Franky sebagai penyanyi balada atau musisi bisa dilihat dari banyaknya karya lagu yang dilahirkan. Hemat saya, sosok Franky tak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah musik Indonesia ini. Dia hadir dari masa ke masa, menjadi saksi dari perjalanan bangsa ini. Dia sudah menorehkan tinta emas dalam berkarya yang akan selalu diingat banyak orang. Dia bukan penyanyi kemarin sore atau populer secara instan—seperti halnya kebanyakan penyanyi belakangan ini. Dia sudah merintis karir jauh-jauh hari. Pada pertengahan 1970-an, ia sudah berduet dengan adiknya, Jane Sahilatua. Tema-tema lagunya konsisten bercerita soal alam, lingkungan, dan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara karya lagunya; Balada Wagiman Tua (1982), Gadis Kebaya (1984), Anak Emas, Lelaki dan Telaga, Terminal (1993) bersama Iwan Fals, Orang Pinggiran (1997) bersama Iwan Fals, Menangis (1999) bersama Iwan Fals, Perahu Retak (1995) bersama Emha Ainun Najib, Balada Ali Topan, Di Bawah Tiang Bendera (1996), dan Kemesraan, yang juga dipulerkan oleh Iwan Fals.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya terpopuler Franky adalah lagu Di Bawah Tiang Bendera dan Kemesraan. Di Bawah Tiang Bendera, lahir dari latar belakang 27 Juli, yang diciptakan bersama Iwan Fals. Sedangkan Kemesraan adalah lagu ciptaannya bersama adiknya, Johnny, yang lagu ini kemudian dipopulerkan oleh Iwan Fals juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari jejak-jejak Franky yang sedikit terekam di atas, maka tidak heran ketika banyak musisi, termasuk pengamen jalanan, ikut menyumbang biaya pengobatannya ketika sakit yang mencapai lebih dari satu miliar rupiah. Dan ketika sudah meninggal banyak orang yang merasa kehilangan. Selamat jalan Franky…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;*dimuat di harian Radar Surabaya (4/5/2011)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-3103586724240319284?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/3103586724240319284/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/05/jejak-jejak-franky-sahilatua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/3103586724240319284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/3103586724240319284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/05/jejak-jejak-franky-sahilatua.html' title='Jejak-Jejak Franky Sahilatua*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-mvpz_l8EoKI/TcC_MSzIoWI/AAAAAAAAAj0/8c65XmlAe0w/s72-c/Franky.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-2563770277135961917</id><published>2011-04-30T18:35:00.000-07:00</published><updated>2011-04-30T18:45:12.198-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Obituari'/><title type='text'>Rosihan Anwar, Maestro Jurnalisme Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-wFaASPgjO9w/Tby68VjdOOI/AAAAAAAAAjs/vmOYvKAR-0Q/s1600/Rosihan%2BAnwar.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 276px; height: 183px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-wFaASPgjO9w/Tby68VjdOOI/AAAAAAAAAjs/vmOYvKAR-0Q/s320/Rosihan%2BAnwar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5601557582282832098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Abd. Basid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Selama&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; beberapa minggu ini setidaknya kita sudah kehilangan dua pejuang pena handal. Akhir bulan Maret lalu kita kehilangan Ratna Indraswari Ibrahim (28/3/2011) dan pertengahan bulan April ini kita kehilangan penulis sekaligus wartawan senior, Rosihan Anwar (RA), yang dikenal sebagai guru para tokoh pers tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RA meninggal dunia Kamis pagi kemarin (14/4/2011) di Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre (MMC) Jakarta, pada usianya yang ke 89. Meninggalnya RA bisa dibilang meninggal mendadak, alias tidak disangka, karena seperti yang diberitakan media, bahwa tanggal 24 Maret lalu ia masih menjalani operasi jantungnya di Rumah Sakit Harapan Kita dan pasca operasi menunjukkan perkembangan yang bagus, yang kemudian Rabu malam (13/4/2011) kemarin diidzini pulang ke rumah untuk rawat jalan. Keadaannya berangsur-angsur pulih. Namun, tanpa harus ditolak, ternyata umur manusia itu ada batasnya. RA yang penyakitnya sudah pulih, tenryata harus meninggalkan dunia ini. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan dan peran aktif RA dalam dunia jurnalistik sangatlah diperhitungkan. Betapa tidak, wartawan yang juga penggagas persatuan wartawan indonesi (PWI) ini adalah satu dari segelintir wartawan yang memiliki pengalaman luarbiasa sebagai seorang pewarta. Karenanya Tasrif, S.H, tokoh pers dan ahli hukum senior, menjulukinya dengan “A footnote of history (Sebuah Catatan Kaki dalam Sejarah)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julukan Tasrif, S. H di atas, saya kiranya tidaklah belebihan melihat perjuangan RA selama ia hidup. Bahkan menurut saya RA merupakan pejuang pena sejati. Lihat saja,  sampai usia senjanya, ia masih aktif mengirimkan tulisannya ke media massa dan juta tetap aktif menulis buku. Menjelang wafatnya pun ia masih produktif menulis. Kini ia sedang menyiapkan memoar kehidupan cintanya dengan sang istri, Siti Zuraida, yang sudah mendahulinya satu tahun yang lalu, dengan judul yang sudah disiapkan, “Belahan Jiwa, Memoar Rosihan Anwar dengan Siti Zuraida”. Namun, apalah daya, Tuhan telah memanggilnya terlebih dahulu sebelum buku terakhirnya itu dilauncing. Manusia memang cuma bisa berusaha dan yang memutuskan tetaplah Tuhan, sang maha kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar lain datang dari CEO Jawa Pos sekaligus Direktur Utama PLN, Dahlan Iskan. Ia mengatakan bahwa RA adalah pribadi gabungan antara wartawan, diplomat, dan politikus (Jawa Pos, 15/4/2011). Pribadi RA sagatlah sederhana. Sebagai wartawan RA telah menjadi tokoh utama, tapi gagal menjadi pemilik media terkemuka. Sebagai seorang diplomat RA tidak sempat mendapak kepercayaan  menjadi duta wartawan senior Saban Siagin atau Djoko Susilo. Dengan kata lain RA tidak mau “didutabesarkan”. Dan sebagai politikus, RA tidak sampai punya panggung pemerintahan seperti Harmoko. Itu tidak lain karena ia tidak mau memosisikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, kalau kita lihat perjalanan waktu (baca: sejarah) selama ini, RA juga dikenal sebagai wartawan lima zaman (kolonial, orde lama, orde baru, orde reformasi, dan zaman saat ini). Sejak zaman Belanda RA tak pernah lepas menulis. Meski gangguan jantung yang dideritanya mengharuskan ia mondar-mandir ke rumah sakit, namun RA tetap tidak mau lepas dari dan sebagai “kuli tinta”. Tulisan RA sederhana tapi mengena dan mudah dipahami. Berbagai macam tema ia tulis, mulai dari pengalam dalam pewartaan sampai maslah kecil seperti masalah makanan ia penakan. Kalau saya analogikan RA dan Jurnalistik ibatrat dua sisi mata uang, yang tak bisa dipisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari saking melekatnya RA dengan dunia jurnalisme, RA sampai juga dikenal dengan penemu dan pengusung kata-kata baru yang lebih menunjukkan Indonesia. Penggunaan kata “Anda” adalah salah satu contoh kata yang ia usung dalam penulisan di media, sebagai pengganti orang kedua. Tepatnya, ia menulis kata itu di harian Pedoman pada 28 Februari 1957, yang mana kata “Anda” itu sendiri muncul pertama kali dalam kamus Bahasa Indonesia Modern karangan Sutan Mohamad Zain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menemukan bahasa baru, bisa kita lihat ketika RA menerapkan kata “gengsi” untuk menggantikan kata prestige dalam bahasa Inggris. Ia menggunakan kata itu pada 1949 ketika terjadi Agresi Militer Belanda I. Ia menulis di majalah Siasat mengenai  keengganan Belanda melakukan perundingan dengan Indonesia cenderung lebih disebabkan prestige. Ia menggantikan kata “prestige” itu dengan “gengsi”.  Kata Gengsi itu sendiri ia adopsi dari perbendaharaan bahasa remaja di Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya di bidang tulis menulis. RA juga aktif dalam membuat film. Bersama Usmar Ismail, ia sempat mendirikan Perusahaan Film Perfini pada 1950. Film pertamanya adalah, “Darah dan Doa”. Dan sekitar tahun 81-an ia menjadi produser film “Terimalah Laguku”. Dan sejak akhir 81-an, aktivitasnya di film adalah mempromosikan film Indonesia di luar negeri dan sampai akhir hayat ia tetap menjadi kritikus film. Sungguh luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, selamat jalan maestro jurnalisme Indonesia. Semoga kau nyaman di sana. Amien.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-2563770277135961917?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/2563770277135961917/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/04/rosihan-anwar-maestro-jurnalisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/2563770277135961917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/2563770277135961917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/04/rosihan-anwar-maestro-jurnalisme.html' title='Rosihan Anwar, Maestro Jurnalisme Indonesia'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-wFaASPgjO9w/Tby68VjdOOI/AAAAAAAAAjs/vmOYvKAR-0Q/s72-c/Rosihan%2BAnwar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-5927453499343216913</id><published>2011-04-24T19:52:00.000-07:00</published><updated>2011-04-24T20:00:49.639-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Agar Terorisme Tidak Mengancam Remaja*</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-2Ip5q-4yRh0/TbTjgZtKznI/AAAAAAAAAjk/sTyufA9JUXY/s1600/Cover%2BBuku%2BFeaceful%2BJihad%2Bfor%2BTeens.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 211px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-2Ip5q-4yRh0/TbTjgZtKznI/AAAAAAAAAjk/sTyufA9JUXY/s320/Cover%2BBuku%2BFeaceful%2BJihad%2Bfor%2BTeens.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5599350382524026482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Salah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; satu kejadian besar dan merobek citra negeri ini di mata publik selain praktik korupsi adalah praktik jihad yang kerapkali disalahtafsirkan dengan kekerasan oleh kalangan tetentu di negeri ini—yang tidak jarang sampai merengkut jiwa tak berdosa. Lihat saja, seperti teror Bom Bali, Bom Marriott I, Bom Marriot II dan lainnya, berapa banyak saudara kita yang menjadi korban teror bom tersebut, yang juga terdiri dari anak di bawah umur yang tidak tahu apa-apa. Ironisnya, tragedi tersebut diatasnamakan agama (Islam), padahal Islam itu adalah agama damai dan kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa semua itu terjadi? Semua itu terjadi tidak lain karena adanya salah tafsir akan makna jihad yang mereka pahami. Mereka beranggapan bahwa aksi teror merupakan bentuk dari praktik jihad yang dibenarkan oleh agama (Islam). Padahal makna jihad tidaklah sesempit yang mereka pahami. Karena sejatinya, jihad itu ada tiga tingkatan; melawan hawa nafsu, melawan setan, dan melawan musuh. Tingkatan ketiga inilah yang seringkali disalahfahami oleh mereka. Untuk itu, perlu ditegaskan bahwa terorisme itu bukanlah jihad dan teroris bukanlah mujahid.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Teroris tidak bisa dikatakan mujahid, setidaknya bisa ditemukan pada tiga titik perbedaan mendasar, sesuai dengan praktik yang terjadi dan kita ketahui. Pertama, mujahid itu akan melindungi agama Allah dengan cara melakukan perbaikan atau islah, sedangkan teroris lebih pada sifat merusak fasilitas yang telah ada. Kedua, mujahid akan melindungi hak-hak yang lemah dan terdzalimi, sedangkan teroris menimbulkan ketakutan dan kehancuran pada pihak lain yang sebagian besar tidak berdosa. Ketiga, mujahid melakukan jihad dengan aturan yang telah ditentukan oleh syariat Islam dengan sasaran musuh yang jelas dan nyata, sedangkan teroris melakukan aksinya tanpa melihat aturan dan sasaran musuhnya tidak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, hal di atas semakin jelas titik terangnya kalau kita padukan dengan definisi teror yang telah disepakati seluruh warga dunia bahwa suatu tindak kejahatan akan disebut teror jika memenuhi unsur-unsur berikut; a) suatu tindak kejahatan yang dilakukan dengan sangat jahat, b) kejahatan yang dilakukan dalam kondisi negara damai (tidak sedang berperang), c) kejahatan yang dilakukan terhadap penduduk sipil, d) kejahatan yang dilakukan tanpa memandang dan memilih korban, dan d) tindak kejahatan yang menimbulkan efek atau dampak ketakutan yang meluas di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tiga perbedaan mendasar dan pemaduan dengan definisi umum teror di atas tidak dielakkan lagi bahwa aksi teror itu adalah perbuatan amoral yang tak terpuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjatuhan hukuman mati bagi tersangka pelaku teror di negeri ini pun sampai saat ini belum menimbulkan efek jera. Coba kita lihat eksekusi hukum mati pelaku Bom Bali (Amrozi cs), yang dieksekusi akhir tahun kemarin. Hukuman mati yang dijatuhkan pada pelaku Bom Bali tersebut ternyata tidak membuat aksi teror di negeri ini lenyap. Aksi teror terus terjadi pasca eksekusi Amrozi cs., bahkan dengan langkah pastinya mereka mengkader bawahannya untuk tetap dalam lingkaran ideologi terorismenya. Salah satu kader yang ditargetkan para pelaku terorisme tersebut adalah bagaimana sekiranya mereka bisa menggaet para remaja untuk dipengaruhi dan bisa melanjutkan ideologi amoralnya di atas. Seperti kalau kita melihat pada tragedi ledakan bom di JW Marriot dan Hotel Ritz-Carlton 17 Juli 2009 lalu, yang ternyata salah satu pelakunya adalah remaja berusia 18 tahun yang baru saja lulus SMU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, bagaimana agar remaja kita tidak terpengaruh dan terjebak oleh ideologi terorisme mereka? Ada beberapa tips agar remaja kita tidak terpengaruh rayuan para teroris. Yaitu, remaja kita harus memperdalam ilmu agamanya, bersikap lebih terbuka, berpikir lebih matang, tidak mudah terpengaruh, dan menemukan jati dirinya. Selain itu, perlu diingat bahwa makna jihad itu lebih luas dari pada sekedar berperang. Ada juga beberapa perbuatan yang bernilai jihad tanpa harus merugikan orang lain sama sekali, yang mana hal itu memang selayaknya dilakukan para remaja, yaitu dengan cara menjadi remaja muslim haus ilmu, berbakti kepada kedua orangtua, bersedekah, dan selalu meningkatkan (kwalitas) dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa gambaran dan penawaran di atas, terbabat habis dalam buku “Feaceful Jihad for Teens”, yang ditulis oleh Radinal Mukhtar Harahap. Buku dengan tebal  202 halaman ini bisa menjadi jawaban atas semua permasalahan teror yang ada di negeri ini, khususnya teror yang mengancam remaja, agar terorisme tidak mengancam remaja (lagi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini sangat penting dibaca khususnya oleh para remaja dan para orangtua. Penting dibaca remaja agar tidak kehilangan masa depannya dan bagi para orangtua agar lebih memahami peran penting putra-putrinya di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bahasa yang ringan, tanpa harus mengernyitkan dahi—meski tema pembahasannya berat, menegaskan bahwa penulis buku ini sangat lihai dalam meracik dan membaca kebutuhan pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, layaknya tidak ada sesuatu yang sempurna, dalam buku ini saya menemukan dua kelemahan yang keduanya mengarah pada kesan mempertebal halaman. Pertama, dalam buku ini tidak jarang ada kutipan tidak terlalu penting dari sumber tertentu yang banyak memakan halaman. Lihat saja halaman 105-110, yang mana kutipannya sampai memakan 6 halaman. Kedua, 59 halaman terakhir buku ini dipenuhi dengan lampiran fatwa dan undang-undang teroris. Hemat saya hal itu tidak perlu ada pada sebuah buku nonformal, seperti buku ini. Lampiran fatwa dan undang-undang itu wajarnya ada pada sebuah buku mata pelajaran atau mata kuliyah, yang bentuknya formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Data Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Judul: Peaceful Jihad For Teens&lt;br /&gt;Penulis: Radinal Mukhtar Harahap&lt;br /&gt;Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Cetakan: I, 2011&lt;br /&gt;Tebal: 202 halaman&lt;br /&gt;ISBN: 978-979-22-6678-8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;*telah dimuat di&lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&amp;amp;menu=news_view&amp;amp;news_id=28384" target="_blank"&gt; NU Online &lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(25/4/2011)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-5927453499343216913?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/5927453499343216913/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/04/agar-terorisme-tidak-mengancam-remaja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/5927453499343216913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/5927453499343216913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/04/agar-terorisme-tidak-mengancam-remaja.html' title='Agar Terorisme Tidak Mengancam Remaja*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-2Ip5q-4yRh0/TbTjgZtKznI/AAAAAAAAAjk/sTyufA9JUXY/s72-c/Cover%2BBuku%2BFeaceful%2BJihad%2Bfor%2BTeens.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-6189641120905766648</id><published>2011-04-23T18:20:00.000-07:00</published><updated>2011-04-23T18:30:41.738-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>Internet dan Popularitas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-VOdFmAwSNOs/TbN8ErGw9fI/AAAAAAAAAjM/AHf5KSrExH0/s1600/Briptu-Norman-Kamaru.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-VOdFmAwSNOs/TbN8ErGw9fI/AAAAAAAAAjM/AHf5KSrExH0/s320/Briptu-Norman-Kamaru.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5598955181484078578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Abd. Basid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Belakangan ini, berita Briptu Norman Kamaru (BNK), seorang polisi yang bernyanyi lypsinc India dan kemudian diunggahnya ke You Tube, banyak menyita perhatian publik. Hanya dalam hitungan hari setelah video lypsinc-nya di unggah ke You Tube, publik langusng meresponya sangat cepat. Banyak kalangan yang seakan tersihir karena BNK, yang dalam videonnya itu dengan lihainya ia me-lypsinc lengkap dengan gaya tarian atau joget indianya. Banyak pujian karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu singkat, video BNK itu sudah berhasil dikunjungi dan didownload oleh ribuan orang. Bahkan lypsinc BNK tersebut berhasil berada dan duduk di rangking kedua, terbanyak dikunjungi, setelah Shinta dan Jojo (dengan lypsinc-nya lagu “Keong Racun”) dan berada pada rangking sebelum Bona Paputungan (dengna lagunya yang berjudul, “Andai Aku Gayus Tambunan”) yang berada di urutan ketiga dan Udin (dengan lagunnya yang berjudul, “Udin”) yang berada di urutan keempat, yang mana keduanya lebih dulu “menitipkan” videonya di You Tube.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-XJLb6CZS0So/TbN8OMuC7qI/AAAAAAAAAjU/9oGKprykNKI/s1600/shinta%2Bjojo.png"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 220px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-XJLb6CZS0So/TbN8OMuC7qI/AAAAAAAAAjU/9oGKprykNKI/s320/shinta%2Bjojo.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5598955345126026914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Seperti yang diberitakan berbagai media—baik online atau cetak, disebutkan bahwa video lypsinc Shinta dan Jojo hingga kini sudah ditonton oleh 6,5 juta orang. Video “Andai Aku Gayus Tambunan” (Bona Papututngan) lebih dari 490.000. Sementara video “Udin” 3500-an pengunjung. Dan video Briptu Norman Kamaru sudah ditonton lebih dari 1,4 juta orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya tidak ada yang aneh ketika ada seseorang yang mendadak terkenal dengan dan gara-gara internet, namun fenomena tersebut setidaknya menunjukkan bahwa setiap orang nasibnya bisa berubah dengan internet, meski tidak semuanya berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian banyak orang yang menitipkan videonya di internet, mungkin baru Sintha dan Jojo, Briptu Norman Kamaru, Bona Paputungan, dan Udin, yang berhasil. Namun, hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat kita sudah mulai bersahabat dengan internet dan hal itu merupakan salah satu tanda kecerdasan global. Apalagi kita saat ini hidup dalam era globalisasi. Yang mana hal itu  yang memberikan kemudahan dan kecanggihan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, fenomena ini juga menjukkan bahwa internet menjadikan setiap orang punya peluang sama untuk menjadi sumber berita yang tak terduga. Apalagi peluang ini juga didukung dengan kian mudah dan murahnya orang mendapatkan gadget yang sekaligus bisa mengakses internet—ditambah lagi dengan munculnya situs jejaring sosial seperti facebook, twitter, dan sejenisnya, yang mempercepat penyebarluasan informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-w9rZzUuYqIQ/TbN80eRXUkI/AAAAAAAAAjc/uEkQpkMI0Cc/s1600/Bona-Paputungan.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 198px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-w9rZzUuYqIQ/TbN80eRXUkI/AAAAAAAAAjc/uEkQpkMI0Cc/s320/Bona-Paputungan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5598956002672595522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dengan demikian, maka tidak heran jika rilis terbaru lembaga rating AGB Nielsen, Nielsen Newsletter (edisi 15, 31 Maret 2011), menunjukkan bahwa konsumsi internet secara umum meningkat dari 8 persen jadi 21 persen dalam lima tahun terakhir ini. Frekuensi penggunaannya pun meningkat. Mayoritas pengguna internet mengakses internet beberapa kali dalam seminggu; persentasenya meningkat terutama dalam tiga tahun terakhir dari 24 persen menjadi 38 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pakar internet, yang penulis kutip dari “Hot News Indonesia”, Samuel Arbesman dan Rachel Courtland, menyampaikan sebuah prediksi mengenai masa depan internet pada masa mendatang (2011 dan tahun-tahun setelahnya). Dalam prediksinya yang dimuat New Scientist, kedua orang ini mengatakan, untuk sejumlah orang, Internet masih dianggap teramat baru, namun jumlah aktual pengguna internet tak akan pernah stagnan selama beberapa dekade ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tiga Faktor Utama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hemat penulis, ada tiga faktor utama akan mendadak artisnya BNK. Faktor pertama adalah faktor semakin canggihnya fasilitas informasi yang ada (baca: internet), seperti yang penulis singgung di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, faktor susbstansi dan materi yang mengena masyarakat. Dalam hal ini, masyarakat kita saat ini umumnya tertarik pada materi yang lucu, unik, menghibur, dan melawan logika, tapi masih bisa diterima. Lihat saja, video lypsinc BNK, secara logika agak bertentangan dengan logika, karena seorang polisi jadi artis. Dan hal inilah menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, faktor keberuntungan (luck). Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap keberhasilan seseorang itu tidak akan luput dari faktor yang terakhir ini. Sebagus apa pun kwalitas seseorang jika faktor luck sudah tidak memihak, maka tercapainya sebuah impian tidak akan datang. Meski demikian, bukan berarti kita menyerah pada nasib, karena faktor luck bisa datang secara tiba-tiba, tanpa disangka-sangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, zaman sekarang adalah zaman teknologi. Kalau kita tidak mau ketinggalan, maka mau tidak mau kita juga harus peka teknologi. Jika dulu hanya orang tertentu saja yang bisa naik kelas di masyarakat, yaitu dengan perdagangan, militer, dan politik—yang membutuhkan keahlian khusus untuk bisa naik cepat, maka zaman sekarang sudah berkembang. Sekarang ada pemanfaatan baru, yaitu melalui pemanfaatan teknologi informasi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-6189641120905766648?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/6189641120905766648/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/04/internet-dan-popularitas.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/6189641120905766648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/6189641120905766648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/04/internet-dan-popularitas.html' title='Internet dan Popularitas'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-VOdFmAwSNOs/TbN8ErGw9fI/AAAAAAAAAjM/AHf5KSrExH0/s72-c/Briptu-Norman-Kamaru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-7328133335419449801</id><published>2011-04-03T18:30:00.000-07:00</published><updated>2011-04-30T18:51:15.363-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Obituari'/><title type='text'>RII, Mercusuar Sastra Tanah Air*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-u8bGomm_ANY/TZkhS6zgyqI/AAAAAAAAAjE/uNUSK34i31w/s1600/Radar%2BSurabaya.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 180px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-u8bGomm_ANY/TZkhS6zgyqI/AAAAAAAAAjE/uNUSK34i31w/s320/Radar%2BSurabaya.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5591537021263858338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Abd. Basid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Innalillahi wa inna ilaihi raji’un&lt;/span&gt;. Telah meninggal dunia sastrawan asal Malang, Ratna Indraswari Ibrahim”. Kiranya kalimat itulah yang harus saya ungkapkan di awal tulisan pendek ini, menyusul meninggalnya Ratna Indraswari Ibrahim (RII), Senin, 28/3/2011, kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita meninggalnya RII ini menjadi kesedihan tersendiri bagi saya—khususnya, lebih-lebih RII justru meninggalkan kita di tengah-tengah semakin merosotnya perbincangan kesusastraan Tanah Air. Dengan demikian, pejihad pena kita—khususnya dalam bidang sastra, sudah berkurang. RII yang merupakan mercusuar sastra Tanah Air sudah tiada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ajal pasti datang dan menjemput setiap insan dan makhluk yang hidup di muka bumi ini. Meninggalnya RII pun, sejatinya tidak harus kita ratapi dan sesali, meski ia meninggal di tengah merosotnya kesusastraan Tanah Airi ini. Dengan meninggalnya RII, setidaknya kita bisa melanjutnkan kegigihan RII dalam menjalankan profesi luhurnya untuk selalu dan terus berjihad lewat pena. Banyak teladan yang dicontohkan RII selama ia hidup, terutama teladan bagi mereka pencinta dunia literasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit rachitis (radang tulang) yang mengakibatkan kedua kaki dan tangannya tidak berfungsi, sehingga ia harus duduk di atas kursi roda dan tidak bisa menulis langsung, tidak menjadi halangan dan hambatan untuk menulis dan menelorkan karya sastranya. Keterbatasan fisik seperti ini tidak menjadi hambatan baginya untuk mengembangkan pribadinya. Sungguh liuar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mercusuar Sastra Tanah Air&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karya sastra RII sangatlah khas. Dalam banyak karyanya RII banyak menceritakan kejadian-kejadian masa lampau, baik berunsur sejarah atau legenda. Hal itu, bisa kita lihat di beberapa karyanya, seperti, kumpulan cerpennya yang dimuat dalam antologi Kado Istimewa (1992), Pelajaran Mengarang (1993), Lampor (1994), Laki-Laki yang Kawin dengan Peri (1995), Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (1997), Lakon Di Kota Senja (2002) dan Waktu Nayla (2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemat saya, RII tidak dapat dipisahkan dari perkembangan kesusastraan Tanah Air. Meski di mata kita RII yang cacat tidak bisa menulis langsung, yang barangkali terlihat begitu repotnya, tetapi RII tetap dan terus berkarya semasa hidupnya. RII memang cacat. Anggota tubuhnya nyaris tak bisa difungsikan. Sehari-hari dia harus berada di kursi roda. Ke mana-mana harus disertai pembantu yang mendorong kursi roda, mengangsurkan apa-apa yang dibutuhkan, menyuapkan makanan. Tapi, ia tetap berkarya dengan mendiktekan idenya pada para pembantunya untuk diketikkan, yang kemudian ia merevisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran aktif RII dalam dunia sasta bisa kita lihat dari bagaimana ia tetap menulis meski tidak bisa menulis langsung, karena cacat yang ia deritanya. Meski demikian, berbagai karya yang dilahirkan RII menunjukkan bahwa RII bisa menjadi mercusuar satra Tanah Air. Akannya, Prof. Dr. Budi Darma pernah berkomentar, mengomentari cerpen hasil kaya RII; “sebagaimana halnya cerpen Ratna terdahulu, kita merasakan kelembutan perasaan Ratna. Dia pengarang berhati lembut, berhati peka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja, atas peran aktifnya dalam dunia sastra (nasional), RII tercatat beberapa kali meraih beberapa penghargaan, antara lain, tiga kali berturut-turut cerpennya masuk dalam antologi cerpen pilihan Kompas (1993-1996), cerpen pilihan harian Surabaya Post (1993) serta juara tiga lomba penulisan cerpen dan cerbung majalah Femina (1996-1997). Karyanya juga terpilih masuk dalam Antologi Cerpen Perempuan ASEAN (1996). Dan pada 1994 ia mendapat predikat Wanita Berprestasi dari Pemerintah RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak cuma itu, ia juga pernah mendapat kesempatan mengikuti berbagai seminar internasional, seperti Disable People International di Sydney, Australia, (1993), Kongres Internasional Perempuan di Beijing, RRC (1995), Leadership Training MIUSA di Eugene Oregon, Amerika Serikat (1997), dan Kongres Perempuan Sedunia di Washington DC, Amerika Serikat (1997).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, selamat jalan mercusuar sastra Tanah Air. Taman baca abadi pasti menunggumu di Surga sana. Selamat berkarya (kembali) di surga sana. &lt;div style="text-align: right;"&gt; &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;*dimuat di Radar Surabaya (3/4/2011)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-7328133335419449801?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/7328133335419449801/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/04/rii-mercusuar-sastra-tanah-air.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/7328133335419449801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/7328133335419449801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/04/rii-mercusuar-sastra-tanah-air.html' title='RII, Mercusuar Sastra Tanah Air*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-u8bGomm_ANY/TZkhS6zgyqI/AAAAAAAAAjE/uNUSK34i31w/s72-c/Radar%2BSurabaya.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-4324480602496271522</id><published>2011-03-31T01:50:00.000-07:00</published><updated>2011-03-31T02:02:11.232-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Menjadi Guru sekaligus Peneliti*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-GWs3TlFneBw/TZRCXaFhzkI/AAAAAAAAAi8/83suSoVWGlQ/s1600/Cover%2BBuku%2BPTK.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 220px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-GWs3TlFneBw/TZRCXaFhzkI/AAAAAAAAAi8/83suSoVWGlQ/s320/Cover%2BBuku%2BPTK.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5590166007380561474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menjadi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; seorang guru merupakan profesi mulia yang dijunjung tinggi martabatnya. Kualitas seorang guru akan menentukan kualitas anak didiknya di sekolah. Jika gurunya mapan, maka anak didiknya lebih berpeluang besar untuk menjadi luar biasa dan begitu juga sebaliknya. Pertanyaannya, bagaimana menjadi guru yang bisa memberi peluang menjadikan anak didik luar biasa? Pastilah gurunya yang harus terlebih dahulu menjadi luar biasa, khususnya secara akademisi.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengantar bukunya; "Panduan Penelitian Tindakan Kelas," Suyadi, berujar; "...Seorang guru akan menjadi luar biasa, ketika ia mampu melaporkan penelitiannya dalam bentuk karya tulis ilmiah (hal. 5). Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa guru yang hebat bukanlah guru yang telah lulus sertifikasi dalam jabatannya. Melainkan mereka yang masih bersedia untuk belajar di samping ia juga giat menunaikan tugasnya untuk mengajar. Dan salah satu ajang pembelajaran bagi guru untuk menjadi guru berkualitas dan luar biasa adalah ajang penelitian tindakan kelas (PTK), yang kemudian disajikan dalam bentuk karya tulis ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak literatur disebutkan bahwa PTK pertama kali diperkenalkan oleh ahli psikologi sosial Amerika yang bernama Kurt Lewin pada tahun 1946. Selanjutnya inti dari gagasan Lewin inilah yang selanjutnya dikembangkan oleh ahli-ahli lain seperti Stephen Kemmis, Robin McTaggart, John Elliot, Dave Ebbutt, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PTK dimaksudkan sebagai tindak lanjut seorang guru setelah keluar dari ruang kelas. Tindakan pasca tugas ini berupa perenungan, evaluasi, memperbaiki, dan menyimpulkan apa yang telah terjadi. Tujuannya ingin memperbaiki profesinya (guru), sehingga hasil belajar peserta didik terus meningkat. Dengan PTK, kesalahan praktik pembelajaran diharapkan bisa diketahui lebih dini sehingga dapat di segera diperbaiki sesegera mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PTK ini penting karena 5 alasan. Pertama, PTK sangat kondusif untuk membuat guru menjadi peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran di kelasnya. Dia menjadi reflektif dan kritis terhadap apa yang dilakukan oleh dirinya (guru) dan muridnya. Kedua,  PTK dapat meningkatkan kinerja guru sehingga menjadi profesional. Guru tidak lagi sekedar seorang praktisi, yang sudah merasa puas terhadap apa yang dikerjakan selama bertahun-tahun tanpa ada upaya perbaikan dan inovasi, namun juga sebagai peneniliti di bidangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penelitian Terapan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pelaksanaan PTK tidak menggangu tugas pokok seorang guru karena dia tidak perlu meninggalkan tugas pokoknya. PTK merupakan suatu kegiatan penelitian yang terintegrasi dengan pelaksanaan proses pembelajaran. Keempat dengan melaksanakan PTK guru menjadi kreatif karena selalu dituntut untuk melakukan upaya-upaya inovasi sebagai implementasi dan adaptasi berbagai teori dan teknik pembelajaran serta bahan ajar yang dipakainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kelima,  penerapan PTK dalam pendidikan dan pembelajaran memiliki tujuan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktek pembelajaran secara berkesinambungan sehingga meningkatan mutu hasil instruksional, mengembangkan keterampilan guru, meningkatkan relevansi, meningkatkan efisiensi pengelolaan instruksional serta menumbuhkan budaya meneliti pada komunitas guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PTK ini berkembang sebagai suatu penelitian terapan. PTK sangat bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran di kelas. Dengan melaksanakan tahap-tahap PTK, guru diharapkan dapat menemukan solusi dari masalah yang timbul di kelasnya sendiri, bukan kelas orang lain, dengan menerapkan berbagai ragam teori dan teknik pembelajaran yang relevan secara kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi PTK merupakan suatu penelitian yang mengangkat masalah-masalah aktual dan faktual yang dihadapi oleh guru di "lapangan" pengabdiannya. Dengan melaksanakan PTK, guru mempunyai peran ganda, yakni sebagai praktisi dan sekaligus peneliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini, mengupas tuntas bagaimana cara membuat dan menyusun PTK yang baik, mulai dari prosedur melakukan PTK (hal. 49-68), membuat proposal PTK (hal. 69-86), menyusun laporan PTK (hal. 87-98), hingga seluk-beluk yang berkaitan dengan PTK. Dengan sistematis, buku ini menyajikan dan mempermudah pembaca untuk bisa menyusun PTK dengan baik. Dari bab ke bab dalam buku ini tetap berubungan erat, sehingga untuk bisa mempraktikkan PTK menuntut pembaca untuk membaca buku ini secara runtut bab demi bab, tidak meloncat-loncat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja, ketika kita ingin langsung membuat proposal PTK, yang dalam buku ini ada pada bab III, maka mau tidak mau kita harus tahu PTK terlebih dahulu secara utuh, yang dalam buku ini ada pada bab I. Memang, buku ini sangat cocok untuk dibaca siapa saja yang ingin menjadi pendidik atau guru yang keberadaannya sangat menentukan kualitas anak didiknya di masa selanjutnya. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Data Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Judul : Panduan Penelitian Tindakan Kelas&lt;br /&gt;Penulis : Suyadi&lt;br /&gt;Penerbit : Diva Press, Jogjakarta&lt;br /&gt;Cetakan : I November 2010 dan II Februari 2011&lt;br /&gt;Tebal : 86 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;*dilarsir dari koran&lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.harianbhirawa.co.id/opini/27396-menjadi-guru-sekaligus-peneliti-" target="_blank"&gt; Harian Bhirawa&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt; (25/3/2011)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-4324480602496271522?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/4324480602496271522/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/03/menjadi-guru-sekaligus-peneliti.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/4324480602496271522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/4324480602496271522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/03/menjadi-guru-sekaligus-peneliti.html' title='Menjadi Guru sekaligus Peneliti*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-GWs3TlFneBw/TZRCXaFhzkI/AAAAAAAAAi8/83suSoVWGlQ/s72-c/Cover%2BBuku%2BPTK.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-7708960082929677530</id><published>2011-03-17T19:23:00.000-07:00</published><updated>2011-03-19T16:59:39.994-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Metamorfosis Budaya Islam Senjakarta*</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-xzLxC-AVZms/TYLKyzT1BQI/AAAAAAAAAi0/2-PtuD5tDZs/s1600/Cover%2BBuku%2BPuritan%2B%2526%2BSinkretisme%2B1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-xzLxC-AVZms/TYLKyzT1BQI/AAAAAAAAAi0/2-PtuD5tDZs/s320/Cover%2BBuku%2BPuritan%2B%2526%2BSinkretisme%2B1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5585249462008481026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BUKU&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Benturan Budaya Islam: Puritan dan Sinkretis ini merupakan hasil  penelitian Sutiyono terhadap budaya Islam di Senjakarta, Klaten, Jawa  Tengah. Meski buku ini bertitik pada daerah tertentu (baca: lokal),  yaitu Senjakarta, akan tetapi gagasan terbitnya buku ini didasarkan pada  isu nasional yang penulis sajikan dari berbagai pustaka dan wawancara  selama penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senjakarta, Klaten, merupakan wilayah pedalaman Jawa Tengah yang  kental dengan budaya sinkretisme. Daerah ini merupakan daerah agraris  yang terletak di antara dua pusat kebudayaan jawa, yaitu Keraton  Surakarta dan Yogyakarta. Selain itu, Senjakarta yang merupakan daerah  agraris yang subur tentu saja terdapat aneka budaya lokal yang kental,  menumbuhsuburkan tradisi sinkretisme, beserta praktek takhayul, bidah,  dan khurafat (TBK).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, tidak asing lagi jika di daerah ini ditemukan semacam  ritual selametan bersih desa dan ngalap berkah yang diselenggarakan  secara rutin setiap tahun. Tradisi sinkretis ini sangatlah kuat di  kalangan masyarakat Senjakarta kala itu. Mengapa tidak, karena tradisi  ini sudah hidup bertahun-tahun di daerah Klaten ini. Budaya masyarakat  Islam seperti itulah yang dinamakan dan dikenal dengan sebutan Islam  sinkretis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, pada 1930-an datanglah gerakan puritanisme Islam yang  dipelopori oleh Muhammadiyah, yang berusaha mengajak kembali pada  Alquran dan sunah Nabi dan meninggalkan praktek TBK. Sedangkan sistem  yang dibawa Muhammadiyah ini bersifat ekspansif dengan memenetingkan  pada 4 hal; 1) kembali pada Alquran dan sunah, 2) pemurnian Islam, 3)  penalaran rasional, dan 4) penolakan terhadap TBK (hal. 33).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan gerakan puritanisme ini tidaklah serta-merta langsung  diterima masyarakat Senjakarta yang sudah menganut tradisi sinkretis,  apalagi para pembaru di Senjakarta ini terbilang keras alias radikal,  yang mereka tunjukkan dengan tidak bersedianya ketika diundang untuk  menghadiri selametan—dan bahkan mereka melakukan penghancuran  tempat-tempat keramat—, karena bagi mereka hal semacam itu merupakan  suatu hal yang telah menyimpang dari ajaran Islam yang murni alias  bertentangan dengan ajaran Alquran dan sunah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Clifford Geertz, pola radikal inilah yang yang menyebabkan  rendahnya partisipasi masyarakat petani perdesaan sinkretis untuk  menerima misi pembaruan kaum puritan. Namun, tesis Geertz ini dibantah  oleh penulis buku ini bahwa hal itu tidaklah benar, karena pada  kenyataannya penulis menemukan penelitiannya di Senjakarta ini bertolak  belakang dengan apa yang diasumsikan Geertz di atas. Hasil penelitian  penulis menyimpulkan hampir seluruh wilayah perdesaan di Senjakarta  terdapat orang Muhammadiyah, kecuali satu desa bekas basis PKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski gerakan puritanisme yang masuk Senjakarta tergolong radikal,  tapi kenyataannya bisa diterima di masyarakat petani. Di lapangan  ditemukan masyarakat Senjakarta petani yang mengikuti gerakan  puritanisme terdapat 11 ribu orang (hal. 30) dan sudah berdiri 24 PRM  (Pimpinan Ranting Muhammadiyah) di seluruh desa di wilayah kecamatan  Senjakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammadiyah di Senjakarta ini memang berbeda dengan gerakan  Muhammadiyah di daerah lainnya, seperti di Kauman-Yogyakarta, Bima,  Pandangpanjang (Peacock, 1978), Kota Gede (Nakamura, 1983), Bali  (Ardana, 1985), Yogyakarta (Beck, 1995), Jember (Mulkhan, 2000),  Banyuangi (Beatty, 2001), Pasuruan (Hefner, 2001) dan Lamongan (Chamin,  2003). Jika di daerah-daerah lain, gerakan Muhammadiyah terlihat  moderat, tapi di Senjakarta malah sebaliknya, yang sering terlibat dalam  konflik serius dengan kelompok sinkretis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah proses metamorfosis budaya Islam di Senjakarta?  Metamorfosis budaya Islam Senjakarta tidaklah langsung menghasilkan buah  manis. Kuatnya tembok budaya sinkretis masyakarat Senjakarta sering  menyulitkan gerakan puritan untuk menembus masyarakat perdesaan. Namun,  dalam rangka menjebol tembok tersebut, Muhammadiyah menempuh tindakan  radikal yang akibatnya terjadi benturan budaya. Benturan budaya inilah  yang petani abangan-sinkretis menghadapi dua pilihan yang saling  bertentangan, yaitu memilih tetap menjadi masyarakat sinkretis dan  berganti haluan menjadi masyarakat puritan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, kini warga Muhamadiyah di Senjakarta mencapai 11 ribu  orang dan hampir separuh di antaranya bercorak radikal. Untuk itu,  Muhammadiyah di Senjakarta kini terbagi dalam dua corak: kaum puritan  yang bertekad untuk mengembalikan ajaran Islam secara murni dengan cara  yang keras (radikal) dan kelompok puritan lunak (moderat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, secara umum dapat dikatakan bahwa telah terjadi  perubahan sosial masyarakat petani, dari sinkretis menjadi puritan, dan  setelah menjadi puritan itu mereka terbagi menjadi dua corak; radikal  dan moderat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, buku ini sangatlah kaya dengan data sehingga tidaklah  usah diragukan lagi akan kevalidan sumber data yang ditampilkan penulis  buku ini. Selain itu, buku ini juga sangat cocok untuk dibaca bagi  mereka para praktisi sosial-budaya untuk bisa lebih memperkaya sejarah  kebudayaan—khususnya kebudayaan Islam Jawa.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;*telah dimuat di &lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2011031921573626" target="_blank"&gt;Lampung Post&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt; (20/03/2011)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Data Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Judul  : Benturan Budaya: Puritan dan Sinkretis&lt;br /&gt;Penulis  : Sutiyono&lt;br /&gt;Penerbit : Buku Kompas, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan : I, November 2010&lt;br /&gt;Tebal  : vi + 362 halaman&lt;br /&gt;ISBN  : 978-979-709-534-5&lt;br /&gt;Harga  : Rp. 58.000,-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-7708960082929677530?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/7708960082929677530/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/03/metamorfosis-budaya-islam-senjakarta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/7708960082929677530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/7708960082929677530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/03/metamorfosis-budaya-islam-senjakarta.html' title='Metamorfosis Budaya Islam Senjakarta*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-xzLxC-AVZms/TYLKyzT1BQI/AAAAAAAAAi0/2-PtuD5tDZs/s72-c/Cover%2BBuku%2BPuritan%2B%2526%2BSinkretisme%2B1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-5113242303116941620</id><published>2011-03-01T19:33:00.000-08:00</published><updated>2011-03-01T19:39:43.509-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Haruskah JAI Dibubarkan?*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-aqZyA-OKH5c/TW27xZ1fDMI/AAAAAAAAAis/d0rrlMnF_os/s1600/AksiSejutaUmat.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 226px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-aqZyA-OKH5c/TW27xZ1fDMI/AAAAAAAAAis/d0rrlMnF_os/s320/AksiSejutaUmat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5579321970805116098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh: Abd. Basid&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Tragedi&lt;/span&gt; Cikeusik beberapa minggu yang lalu, yang melibatkan bentroknya Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) dengan masyarakat penentangnya, sampai kini masih menyisakan tanya dan tuntutan dari banyak kalangan. Ada yang melihat JAI harus dibubarkan dari negeri ini dan ada pula yang melihat, biar saja JAI hidup. Karenanya, tidak sedikit aksi yang ditunjukkan suatu kalangan untuk menyuarakan opininya. Di Jakarta, Jum’at (18/2), massa dari sejumlah organisasi Islam, seperti Forum Umat Islam (FUI), Jamaah Anshorut Tauhid, Front Pembela Islam (FPI), Gerakan Reformis Islam, Syarikat Islam, serta Badan Komunikasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia, berunjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia (Kompas, 19/2). Bahkan mereka mengancam akan menggulingkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono jika tunutan mereka tidak dipenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya sekarang; haruskah JAI dibubarkan untuk mengatasi semua masalah ini? Hemat penulis, untuk mengatasi semua ini, tidaklah harus membubarkan JAI. Karena kalau JAI dibubarkan, bisa jadi hari ini dibubarkan, besok atau lusa JAI bisa berdiri kembali dengan nama yang berbeda. Tokoh dan anggotanya tetap, yang berpotensi lebih menantang ketimbang sebelumnya. Dan ini tidak bisa menyelesaikan masalah, bahkan cenderung menimbulkan konflik baru. Untuk itu, membubarkan JAI untuk meredam suasana dan keamanan atas nama agama di negeri ini bukanlah sebuah solusi terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini adalah membekukan ideologi ajaran JAI yang selama ini mereka anut, yaitu dengan cara mengajak dialog secara terbuka dan objektif, tanpa ada caci maki dan sejenisnya, karena bagaimana pun juga ajaran JAI yang mempercayai adanya nabi Mirza Ghulam Ahmad setelah nabi Muhammad tetaplah tidak benar. Lewat jalan dialog insyaallah JAI sedikit demi sedikit akan teratasi. Lihat saja, lewat jalan dialog pula, Mushaddeq, sosok yang pernah mengaku sebagai nabi pada 2007, akhirnya bertaubat mengakui kekeliruannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menundukkan Kekerasan&lt;br /&gt;Lebih lanjutnya, hemat penulis, yang perlu disoal dalam masalah di atas adalah ideologi kekerasan yang sering kali digunakan kelompok tertentu untuk mengatasi JAI itu sendiri. Sebab, aksi kekerasan inilah yang sesungguhnya menjadi persoalan utama, bukan keberadaan JAI semata. Secara doktrinal, di satu sisi Islam memang juga membawa ajaran yang bisa dikonotasikan sebagai ajaran kekerasan (seperti ajaran tentang perang, pengafiran, dan sebagainya), namun, selain membawa ajaran-ajaran yang bisa dipahami sebagai ajaran kekerasan seperti di atas, Islam membawa ajaran-ajaran anti kekerasan (seperti pentingnya perdamaian, toleransi, rekonsiliasi, dan sebagainya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama telah memberikan kaidah hukum Islam untuk bisa memahami dua bentuk ajaran dalam al-Qur’an dan Hadis yang tampak bertentangan. Hingga umat Islam tidak terjebak pada pemilihan satu ajaran tertentu dan mengabaikan ajaran yang lain. Salah satunya adalah kaidah hukum Islam yang dikenal dengan istilah, al-jam’u awla minat tarjih (menyelaraskan dua ajaran yang tampak bertentangan jauh lebih utama ketimbang memilih ajaran tertentu sekaligus mencampakkan ajaran yang lain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ajaran kekerasan dan anti kekerasan sebagaimana disebutkan di atas, dua ajaran ini bisa diselaraskan dalam bentuk; memosisikan ajaran anti kekerasan sebagai dasar utama ajaran Islam (al-ashlu) dan memosisikan ajaran kekerasan hanya dalam konteks-konteks tertentu (al-far’u); mengedepankan ajaran anti kekerasan ketimbang ajaran kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, ajaran Islam yang cenderung dipahami membolehkan aksi kekerasan harus ditafsir ulang dan ditundukkan kepada ajaran anti kekerasan yang merupakan dasar utama ajaran Islam. Dengan demikian, ajaran yang identik dengan kekerasan masih tetap berlaku dalam keadaan tertentu (seperti dalam perang untuk membela diri). Tapi, dalam keadaan yang lain (seperti dalam keadaan damai), ajaran yang bisa dipahami membolehkan kekerasan ditundukkan dan diselaraskan ke dalam ajaran-ajaran yang anti kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, kekerasan yang dilakukan ormas tertentu dalam menjalankan amar makruf nahi mungkar yang kerap dilandaskan pada Hadis; “ubahlah kemungkaran dengan menggunakan tangan, lisan, dan hati”. Menggunakan pisau bedah ulama’ di atas, kata “yad” (tangan) dalam hadis ini tidak berarti kekerasan. Karena bagaimanapun juga, secara tekstual, Hadis di atas hanya menyebut istilah tangan, bukan kekerasan. Tangan tidak selalu berarti kekerasan, terutama di zaman sekarang. Sebab, tangan juga bisa digunakan untuk menulis, bersalaman, membelai, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;*dimuat di Radar Madura (01/03/2011)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-5113242303116941620?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/5113242303116941620/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/03/haruskah-jai-dibubarkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/5113242303116941620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/5113242303116941620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/03/haruskah-jai-dibubarkan.html' title='Haruskah JAI Dibubarkan?*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-aqZyA-OKH5c/TW27xZ1fDMI/AAAAAAAAAis/d0rrlMnF_os/s72-c/AksiSejutaUmat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-3903717856563779946</id><published>2011-02-26T15:07:00.001-08:00</published><updated>2011-02-26T15:12:23.279-08:00</updated><title type='text'>Jengis Khan dalam Sejarah Mongol*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-JF-R7iCTi58/TWmI0SlSq-I/AAAAAAAAAik/U0oCH-ylCPs/s1600/Cover%2BBuku%2BJengis%2BKhan.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 222px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-JF-R7iCTi58/TWmI0SlSq-I/AAAAAAAAAik/U0oCH-ylCPs/s320/Cover%2BBuku%2BJengis%2BKhan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5578140045397896162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berbicara&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Mongol, sejarah menyebutkan bahwa sebelum abad ke-13, Mongol merupakan kerajaan yang krisis kepemimpinan dan sering didera konflik antar suku. Suku-suku Mongol, seperti suku Keraits, Merkit, Onokist, dan Borjigin, tak pernah bisa bersatu sebelum abad itu. Termasuk bangsa yang kurang beradab. Masyarakatnya lahir dari hutan yang penuh dengan hukum rimba dan tidak kenal tulis-menulis. Darah selalu mengalir setiap hari demi kekuasaan wilayah. Setiap suku selalu ingin menguasai suku yang lain, sehingga tidak jarang perang terjadi karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dengan lahirnya Jengis Khan, krisis dan konflik antar suku itu menjadi teratasi. Mongol yang sebelumnya tidak bisa bersatu, menjadi satu dalam satu komando dan satu identitas. Yang sebelumnya tidak beradab, menjadi tatanan yang lebih beradab. Masyarakatnya, yang pada mulanya lahir dari hutan dan penuh dengan hukum rimba, bisa membangun tatanan masyarakat yang kuat dan bisa melakukan ekspansi ke beberapa penjuru dunia atas kekuatan militer dan hubungan diplomatik dari seorang pemimpin, Jengis Khan. Dengan kelihaian menggabungkan sikap keberanian, diplomasi, kekerasan dan kesanggupan mengorganisir, Jengis Khan berhasil menyatukan semua suku-suku di bawah kepemimpinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temujin itulah nama asli dari Jengis Khan. Sebutan Jengis Khan merupakan nama kehormatan yang diberikan rakyat Mongol kepada Temujin karena dia merupakan pemimpin pertama yang berhasil menyatukan beberapa suku menjadi satu identitas, yaitu Mongol, sehingga pada tahun 1926 melalui sebuah pertemuan nasional ia dilantik sebagai pemimpin baru dengan gelar “Jengis Khan” yang berarti Khan dari segala-galanya atau Kaisar Semesta (hal. 65), pemberian gelar “Jengis” yang tidak pernah ada dalam sejarah kepemimpinan Mongol. Untuk itu, tidak heran jika bangsa Mongol menganggapnya sebagai sosok yang dianggap manusia setengah dewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak cuma itu, Jengis Khan juga berhasil menaklukkan banyak negara untuk menambah suplai Mongol sendiri. Sebut saja salah satunya China, yang menjadi target utamanya untuk menguasai suplai keramik dan sutra, yang ada di China. Bangsa China yang waktu itu, secara keseluruhan di kendalikan oleh kekuatan tiga kerajaan (Jin, Sung, dan Xi Xia), oleh Jengis Khan dengan pelan tapi pasti ditaklukkan satu persatu. Untuk menaklukkannya, Jengis Khan membaca dengan cermat dan teliti ketiga wilayah kerajaan tersebut untuk menentukan titik terlemahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali yang menjadi sasaran Jengis Khan dari tiga kerajaan tersebut adalah kerajaan Xi Xia, karena kerajaan ini sedikit terbuka, kotanya tidak telalu banyak, temboknya tidak tinggi, pasukannya kecil dan bisa ditempuh beberapa hari perjalanan dari Mongol lantaran tidak harus melampaui beberapa gunung. Jengis Khan lebih memilih menaklukkan kerjaan Xi Xi terdahulu karena kerajaan Xi Xia termasuk keraan yang paling lemah ketimbang kerajaan Jin dan Sung. Jengis Khan ingin menguasai titik terlemah dulu untuk kemudian menjungkir balikkan peradaban bangsa China di kemudian hari. Untuk menaklukkan kerajaan Xi Xia ini Jengis Khan tidak butuh waktu lama. Hanya dengan beberapa taktik pertempurannya, kerajaan Xi Xia seakan lenyap tanpa bekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menaklukkan kerajaan Xi Xia, giliran berikutnya adalah kerajaan Jin, yang mempunyai tembok pertahanan yang kuat, pasukan yang cukup banyak, serta posisi kerajaan yang jauh berbeda dengan kerajaan Xi Xia. Penaklukan kerajaan Jin inilah yang di sebutkan dalam sejarah, merupakan penaklukan terlama selama proses penaklukan di daerah China, hingga akhirnya kerajaan Jin terperosok dalam kubangan krisis berkepanjangan. Kota-kota yang awalnya menjadi tumpuan banyak orang, berubah total.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas gambaran di atas, tergambar penuh dalam buku dengan judul “Jengis Khan” terbitan Buku Biru. Buku setebal 190 halaman ini menyajikan kisah perjalanan Jengis Khan dalam sejarah Mongol. Najamuddin Muhammad, penulis buku ini, membagi isi di dalamnya menjadi 5 bab, yang secara global bisa dikelompokkan pada dan menjadi 3 bagian.&lt;br /&gt;Bagian pertama penulis mencoba melihat sisi-sisi kehidupan Jengis Khan, mulai dari konteks lingkungan, keluarga, sosial dan budaya Mongol pada saat itu. Pengaruh lingkungan keluarga, masyarakat, dan budaya Mongol semasa ia kecil sangat mempengaruhi kepribadian Jengis Khan yang tangguh, tak mudah menyerah, pemberani, sigap dan sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian kedua  penulis mencoba menghadirkan beberapa fakta sejarah yang selalu menuai kontroversi ihwal tempat kematian, tanggal kematian, dan kuburan Jengis Khan. Terjadi banyak perbedaan antara para sejarah dan arkeolog akan kontroversi hal ihwalnya. Bahkan menurut penulis, mereka hanya bermain-main dengan penafsiran simbol yang validitasnya kurang bisa dipertanggung jawabkan (hal. 8).&lt;br /&gt;Bagian terakhir penulis mencoba mengungkap rahasia keberhasilan Jengis Khan menjadi seorang pemimpin legendaris. Di bagian terakhir ini disebutkan bahwa keberhasilan Jengis Khan menjadi pemimpin legendaris, tidak lepas dari kepribadiannya yang cukup mengagumkan seorang penakluk dunia. Di balik semua itu, ternyata Jengis Khan merupakan orang yang berbakti kepada orang tua, setia dalam persahabatan, memiliki sikap spiritual yang tinggi, setia, memiliki visi yang jelas, pintar mengatur strategi, memagang teguh kepercayaan, mampu mengendalikan diri, peduli terhadap rakyat kecil, menghargai pertolongan orang lain, tidak tamak harta, menjalani hidup sederhana dan keras, membuka terhadap hal baru, bertindak dengan penuh keyakinan dan menghargai potensi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, dengan pengulasan sejarah dengan bahasa yang datar menjadi nilai plus keberadaan buku ini. Buku ini bisa menjadi bacaan langka yang akan merangsang pembaca, sehingga cocok untuk dibaca siapa pun yang ingin menjadikan masa lalunya sebagai persembahan sejarah. Namun, karena tidak ada sesuatu yang sempurna, buku ini kurang menampilkan tanggal dan tahun kejadian dari setiap kejadian yang terjadi dalam sejarah Jengis Khan, khususnya. Padahal yang namanya sejarah tidak akan luputi dari angka-angka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Data Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Judul  : Jengis Khan&lt;br /&gt;Penulis  : Najamuddin Muhammad&lt;br /&gt;Penerbit : Buku Biru, Jogjakarta&lt;br /&gt;Cetakan : I, Desember 2010&lt;br /&gt;Tebal  : 190 halaman&lt;br /&gt;ISBN  : 978-602-955-818-0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;*dimuat di Radar Surabaya (27/02/2011)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-3903717856563779946?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/3903717856563779946/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/02/jengis-khan-dalam-sejarah-mongol.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/3903717856563779946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/3903717856563779946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/02/jengis-khan-dalam-sejarah-mongol.html' title='Jengis Khan dalam Sejarah Mongol*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-JF-R7iCTi58/TWmI0SlSq-I/AAAAAAAAAik/U0oCH-ylCPs/s72-c/Cover%2BBuku%2BJengis%2BKhan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-7021330831109655932</id><published>2011-02-17T11:41:00.000-08:00</published><updated>2011-02-17T11:43:51.833-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Dari Jepang Untuk Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-_lDOEQKJCGA/TV16cDJZ8VI/AAAAAAAAAic/QBAr_xA0E8M/s1600/Cover%2BBuku%2BOyako%2BNo%2BHanashi.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 220px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-_lDOEQKJCGA/TV16cDJZ8VI/AAAAAAAAAic/QBAr_xA0E8M/s320/Cover%2BBuku%2BOyako%2BNo%2BHanashi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5574746536054223186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Buku&lt;/span&gt; dengan judul “Oyako No Hanashi” ini menceritakan kisah seorang ibu rumah tangga asal Indonesia yang sempat tinggal di Jepang selama tiga tahun. Cerita di dalamnya mengisahkan kisah inspiratif yang bisa menjadi bahan bacaan di kala santai, karena buku ini bukanlah buku yang harus mengernyitkan dahi pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku ini, “Oyako” berasal dari kanji orangtua (oya) dan anak (kodomo). Adapun “Hanashi” adalah pembicaraan, cerita, atau percakapan. Cover buku ini pun Jepang banget, sehingga meneror pembaca untuk menyentuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan dalam buku ini sangat menarik, bahasanya ringan, mudah dipahami, serta banyak humor yang menggelitik. Walau demikian, isi buku terbitan Leutika ini tetap berbobot. Banyak pelajaran berharga yang bisa diambil, seperti kesabaran mama dan abah menghadapi Syafiq. Cara-cara bijak mereka menjawab pertanyaan Syafiq yang kadang membuat para orang tua bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini sangat cocok bagi para orang tua khususnya para ibu yang kerepotan mencari bagaimana cara mendidik anak. Banyak pesan moral yang disampaikan dalam buku ini seperti pentingnya rasa sabar, mengalah demi kepentingan bersama dan lain sebagainya. Dengan cara penulisannya yang sederhana kita seolah terlibat langsung dalam setiap potong kisah buku ini. Adakalanya kita akan tertawa membacanya, terdiam, atau pun tersenyum-senyum sendiri. Namun, di setiap akhir kisahnya kita akan sepakat untuk menyimpulkan, bahwa buku ini benar-benar inspiratif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak cuma itu, ada banyak kisah selama di Jepang yang di kisahkan penulis, yang tidak ditemukan di Indonesia—yang pastinya bisa dan harus dicontoh negara Indonseia ini. Seperti halnya masalah kemacetan lalu lintas yang di Indonesia ini tidak kunjung teratasi. Berbagai macam solusi digagaskan oleh pemerintah Indonesia, tapi hasilnya nihil. Di Jakarta misalnya dengan menyedian jalan khusus basway dan di Surabaya dengan menyediakan frontage, tapi semua itu belum menjadi sosuli jitu. Sudah banyak pengeluaran yang dibelanjakan tapi kemacetan tetap saja terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini mungkin kita harus iri sama Jepang, yang tidak pernah ada kemacetan menyapanya. Seperti yang diceritan penulis bahwa di Jepang alat transportasi utamanya memakai sepeda ontel. Motor tidak lazim digunakan di sana. Mungkin hanya beberapa orang saja yang memakai motor. Itupun hanya motor matic kecil yang cc-nya cuma 50 dan tidak diidzinkan untuk berboncengan (hal. 20).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, pelayanan rumah sakit dan pemerintah bagi ibu-ibu yang melahirkan di Jepang jauh lebih terjamin di banding di Indonesia. Di Indonesia mungkin cuma orang yang mampu untuk bisa melahirkan di rumah sakit. Tidak jarang ada ibu-ibu yang harus melahirkan di pelosok kampung, di pojok rumah lusuh, karena harus memikir biaya perawatan nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan di Jepang. Melahirkan di Jepang sangat dimanja. Tidak hanya dokter dan perawat yang super duper ramah, tapi juga fasilitas modern dengan fasilitas teknologi mutakhir. Selain itu, ibu-ibu melahirkan di sana juga mendapatkan bonus, yang berupa sejumlah uang, di mana bila uang itu dikurangi dengan biaya perawatan selama di rumah sakit, masih menyisakan sejumlah yen dengan jumlah yang katanya lumayan. Tidak cuma itu, selama satu tahun juga ada uang tunjangan anak, sampai anak usia SD (hal.55).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hal di atas tidaklah ditemukan di Indonesia. Di Indonesia mungkin yang banyak ditemukan adalah banyaknya para perampok uang rakyat dan lunaknya penegakan hukum yang membela kaum penyogok/penyuap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi beberapa pelajaran yang diceritakan penulis dalam buku ini selama ia di Jepang. Untuk itu, meski secara khusus buku ini merupakan buku catatan seorang ibu rumah tangga dengan anaknya, tapi di balik semua itu ada pesan tersirat, yang mungkin penulis sendiri tidak menyadari, tapi pembaca bisa merasakannya—jika dikaitkan dengan keadaan negara kita sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Data Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Judul  : Oyako No Hanashi&lt;br /&gt;Penulis  : Aan Wulandari&lt;br /&gt;Penerbit : Leutika, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan : I, 2010&lt;br /&gt;Tebal  : x + 168 halaman&lt;br /&gt;ISBN  : 978-602-8597-49-4&lt;br /&gt;Harga  : Rp. 36.000&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-7021330831109655932?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/7021330831109655932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/02/dari-jepang-untuk-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/7021330831109655932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/7021330831109655932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/02/dari-jepang-untuk-indonesia.html' title='Dari Jepang Untuk Indonesia'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-_lDOEQKJCGA/TV16cDJZ8VI/AAAAAAAAAic/QBAr_xA0E8M/s72-c/Cover%2BBuku%2BOyako%2BNo%2BHanashi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-2450007557802554731</id><published>2011-02-06T23:06:00.000-08:00</published><updated>2011-02-07T09:51:02.187-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Gus Dur dan Pembelaannya Terhadap Pancasila*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TU-bckX65DI/AAAAAAAAAiU/soObjYCwaXs/s1600/Cover%2BBuku%2BGus%2BDur.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 223px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TU-bckX65DI/AAAAAAAAAiU/soObjYCwaXs/s320/Cover%2BBuku%2BGus%2BDur.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5570842179183240242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masih&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; ingatkah kita ketika KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) wafat akhir tahun 2009 lalu? Tidak sedikit masyarakat yang ikut berduka atas wafatnya mantan presiden Republik Indonesia (RI) itu. Tidak hanya dari kalangan muslim, dari non muslim pun merasa kehilangan dan tertampar ditinggalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak warisan yang ditinggalkannya dan dikenang oleh seluruh masyarakat Indonesia. Coba kita lihat, ketika Gus Dur menjadi presiden RI, beliau berani mendobrak diskriminasi pada warga Tionghoa, yang selama masa Orde Baru membelenggu mereka. Selain itu, beliau juga berani mengambil risiko untuk memberikan kebebasan beribadah kepada para pemeluk agama Konghucu. Lewat “pasukan” Banser-nya (Barisan Serbaguna Nahdatul Ulama), beliau ikut menjaga kekhusyukan dan keamanan umat Kristiani saat menjalankan ibadah Paskah dan Natal dari ancaman teror.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur memang seorang (pemimpin) yang sangat menghargai keberagaman dalam berbagai hal, terutama keberagaman suku, agama, dan ras. Gus Dur berani mengambil risiko untuk mewujudkan keberagaman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, menyebut Gus Dur sebagai Bapak Pluralisme sangatlah tidak berlebihan. Apalagi jika kita menilik pandangan dan pembacaannya tentang Pancasila. Gus Dur merupakan segelintir tokoh muslim yang dengan lantang menolak adanya negara Islam dan mempertahankan ideologi Pancasila. Baginya, Pancasila tidak hanya sebuah nama dan lambang, melainkan ia merupakan sistem tata nilai yang berlaku bagi masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, Nur Khalik Ridwan lewat buku terbarunya “Gus Dur dan Negara Pancasila” berhasil membaca dan memetakan gagasan Pancasila ala Gus Dur. Di sana Nur Khalik Ridwan dengan begitu lihainya mengolah data menjadikan buku ini begitu sistematis, sehingga tidak harus mengernyitkan dahi bagi mereka yang membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pancasila dalam perspektif Gus Dur setidaknya bisa didudukkan dalam beberapa hal. Pertama, Pancasila sebagai ideologi bangsa dan falsafah negara berstatus sebagai kerangka berpikir yang harus diikuti oleh undang-undang dan produk-produk hukum yang lain. Tata pikir seluruh bangsa, menurutnya, ditentukan oleh falsafah yang harus terus-menerus dijaga keberadaan dan konsistensinya oleh negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sebagai falsafah dan ideologi negara, harus jelas dikatakan adanya tumpang tindih antara Pancasila dan sebagian sisi kehidupan beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, Gus Dur berargumentasi: satu sisi, agama-agama yang ada dan kepercayaan terhadap Tuhan YME mengandung unsur-unsur universal (meskipun semuanya juga mengandung unsur-unsur eksklusif) sehingga sulit dibatasi hanya dalam konteks keindonesiaan, dan pada sisi lain, Pancasila adalah keindonesiaan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur menafsirkan bahwa hal ini langsung tampak dalam upaya Pancasila menekankan sisi kelapangan dada dan toleransi dalam kehidupan antarumat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan YME.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, wawasan tentang kebersamaan antar-agama dan kepercayaan terhadap Tuhan YME tidak sepenuhnya sama dengan wawasan tentang itu dalam agama-agama dan kepercayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegigihan Gus Dur dalam membela dan mengajarkan arti penting Pancasila bagi bangsa Indonesia dinyatakan dalam pernyataan tegasnya bahwa, “Tanpa Pancasila negara akan bubar. Pancasila adalah seperangkat asas, dan ia akan ada selamanya. Ia adalah gagasan tentang negara yang harus kita miliki dan kita perjuangkan. Dan Pancasila ini akan saya pertahankan dengan nyawa saya. Tidak peduli apakah ia akan dikebiri oleh angkatan bersenjata atau dimanipulasi oleh umat Islam, atau disalahgunakan keduanya” (hal. 43).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang tokoh yang sangat menjunjung tinggi Pancasila dalam hal bernegara, maka sebagai efeknya Gus Dur menolak jika bangsa ini harus menjadi negara Islam. Bagi Gus Dur negara Pancasila adalah sebuah pilihan. Islam tidak bisa dibuat dasar dalam bernegara. Dalam bernegara, Islam tidak memiliki konsep bagaimana harus dibuat dan dipertahankan. Menurut Gus Dur konsep negara Islam itu tidak ditemukan dalam Al-Qur’an dan Islam. Jika ada yang mengatakan ada, itu tidak lebih dari hanya sekedar klaim (hal. 59).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua alasan yang dipakai Gus Dur dalam mempertanggung jawabkan pernyataanya di atas, yaitu alasan empirik (fakta) dan alasan teks. Alasan empiriknya seperti halnya bahwa Islam tidak mengenal pandangan yang tegas tentang pengertian kepemimpinan. Buktinya Abu Bakar dipilih oleh dewan elit saat itu yang berbaiat kepadanya; Umar dipilih dengan penunjukan oleh Abu Bakar sebelum yang digantikan wafat; Usman dipilih oleh dewan elit saat itu yang dewan ini ditunjuk oleh Umar; dan Ali juga dipilih oleh dewan elit muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan alasan soal teks terdapat banyak ayat (baca: teks) yang dikomentari Gus Dur, di antaranya, adigium penting yang sering digunakan argumentasi oleh mereka yang mendukung adanya negara Islam. Adigium itu adalah; la islama illa bil jama’ah, wala jama’ata illa bil imarah, wa la imarata illa bit-tha’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Gus Dur, adigium ini memang menyatakan adanya sebuah sistem dalam bernegara, akan tetapi sistem itu tidaklah spesifik pada sistem islami. Dengan demikian, semua sistem itu diakui oleh adigium tersebut, asalkan sistem tersebut digunakan untuk memperjuangkan berlakunya ajaran Islam dalam sebuah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, buku ini selain mengupas pandangan Gus Dur tentang Pancasila dan pentingnya negara Pancasila bagi bangsa Indonesia, juga merupakan karya otoritatif yang mengupas prisma pemikiran Gus Dur tentang ideologi bangsa. Dengan kedalaman analisis dan data menempatkan buku ini sebagai buku yang patut menjadi bahan refleksi bagi kita semua yang dewasa ini masih ada kelompok-kelompok tertentu yang masih antipasti negara Pancasila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Data Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Judul: Gus Dur dan Negara Pancasila&lt;br /&gt;Penulis: Nur Khalik Ridwan&lt;br /&gt;Penerbit: Tanah Air, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan: I, September 2010&lt;br /&gt;Tebal: xvi + 168 halaman&lt;br /&gt;ISBN: 979-8521-55-2&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;*telah dimuat di&lt;a href="http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&amp;menu=news_view&amp;news_id=27283" target="_blank"&gt; NU Online&lt;/a&gt; (07/02/2011)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-2450007557802554731?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/2450007557802554731/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/02/gus-dur-dan-pembelaannya-terhadap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/2450007557802554731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/2450007557802554731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/02/gus-dur-dan-pembelaannya-terhadap.html' title='Gus Dur dan Pembelaannya Terhadap Pancasila*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TU-bckX65DI/AAAAAAAAAiU/soObjYCwaXs/s72-c/Cover%2BBuku%2BGus%2BDur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-2355810381157970768</id><published>2011-01-25T19:48:00.000-08:00</published><updated>2011-01-25T20:07:43.082-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Jalan Terjal TKW Menjadi Penulis*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TT-dL9zf2uI/AAAAAAAAAiI/5l2GaEJ3cBU/s1600/TKW%2BMenulis.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 224px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TT-dL9zf2uI/AAAAAAAAAiI/5l2GaEJ3cBU/s320/TKW%2BMenulis.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5566340493347904226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagaimana&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; jika ada seorang TKW (Tenaga Kerja Wanita) menjadi penulis? Mungkin kita akan kaget jika ada seorang TKW bisa tekun dalam menulis dan menghasilkan banyak karya. Bagaimana tidak, karena mereka yang dalam setiap harinya bekerja sebagai pembantu, harus bisa membagi waktunya yang superpadat antara memasak, menyapu, mengepel, mencuci, nyetrika, mengurus anak majikan dan sebagainya. Belum lagi jika mereka harus pergi ke pasar untuk keperluan dapur si majikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesibukannya yang superpadat tidak jarang menuntutnya harus bekerja cepat dan cekatan dengan majikan yang kadang harus bisa beradaptasi dengan cepat karena kalau tidak, bisa saja akan kena &lt;span style="font-style: italic;"&gt;semprot&lt;/span&gt; si majikan. Belum lagi ketika harus berpindah majikan baru karena sudah habis kontrak kerja dengan majikan lamanya. Ketika demikian, maka mereka harus beradaptasi lagi yang tentunya tidak sama dengan sebelumnya dan hal itu tidaklah gampang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kesibukan serba padat TKW tersebut tidak menyurutkan seorang Bayu Insani dan Ida Raihan untuk menekuni hobiannya untuk selalu menulis. Lewat buku “TKW Menulis” Bayu Insani dan Ida Raihan menuliskan proses jalan terjal keduanya dalam proses menjadi penulis. Berbagai macam jalan terjal keduanya lalui tanpa harus menyorotkan semangat menulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayu Insani dan Ida Raihan yang bekerja sebagai TKW Hong Kong dengan pengaturan waktu yang di-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;manage&lt;/span&gt; dengan baik melancarkan proses tulis-menulis keduanya. Tidak jarang sebuah lap top seorang Bayu Insani harus menyala di sela-sela ia harus memasak di dapur—sambil masak dan sambil juga menulis. Dan tidak jarang pula ia membawa buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;notes&lt;/span&gt; kecil sambil mencatat hal menarik di kala ia pergi ke pasar bersama majikan dan menuliskannya ketika sudah sampai di rumah (majikan), yang lagi-lagi tidak jarang harus sambil lalu memasak di dapur dan sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga seorang Ida Raihan yang tidak jarang harus mengorbankan waktu tidurnya untuk menuliskan sebuah cerita pendek dan novel versinya. Profesinya yang sebagai pembantu rumah tangga tidak membuatnya untuk tidak menulis dan ketidak lengkapkan sarana yang ia miliki juga tidak menciutkan dirinya untuk menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayu Insani dan Ida Raihan dengan cekatan menorehkan ide kreatifnya lewat tulisan. Ide liar yang bisa lari ke mana ke mari, yang menghampirinya mereka tulis langsung meski harus menulisnya di dapur sambil lalu memasak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cerita Bayu Insani dan Ida Raihan dalam buku ini, saya dapat menyimpulkan bahwa kegiatan tulis-menulis bagi keduanya sekan sudah menjadi sebuah candu. Candu menulis yang sudah bersemi berkat kegigihannya untuk tetap menulis meski berbagai macam rintangan dan kesibukan memadati waktunya. Untuk itu, maka kiranya tidak berlebihan apa yang dikatakan Arief Santoso dalam undorsment buku ini bahwa karya Bayu Insani dan Ida Raihan ini menegaskan akan adanya asa di hari esok yang lebih cerah, yang mana penulisnya buku ini mampu menjadi obor yang terus menerangi lorong-lorong kegelapan yang tak hanya di komunitasnya (Hong Kong) sendiri melainkan juga hingga tanah air kelahirannya, Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak cuma itu, lewat buku ini Bayu Insani dan Ida Raihan membuktikan kepada publik bahwa untuk menjadi seorang penulis itu tidak harus ada bakat dan berpendidikan tinggi. Dalam buku ini Bayu Insani dan Ida Raihan membuktikan bahwa seorang TKW pun juga bisa menjadi seorang penulis, yang penting ada kemauan dan ingin terus menulis. Profesi TKW yang selama ini banyak dipresepsikan banyak orang dengan pekerjaan rendahan dan tidak tahu aturan, ditepis habis oleh Bayu Insani dan Ida Raihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu asumsi negatif inilah yang menjadi salah satu pendorong Bayu Insani dan Ida Raihan untuk tetap berkarya. Video &lt;span style="font-style: italic;"&gt;You Tube&lt;/span&gt; yang menggambarkan BMI (Buruh Migran Indonesia) Hong Kong begitu rusak, mulai dari bugil, mabuk, sampai penggambaran tidak senonoh lainnya ditolak oleh keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayu Insani dan Ida Raihan membutikan bahwa tidak semua BMI Hong Kong rusak seperti yang mereka tonton dan dipertontonkan di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;You Tube&lt;/span&gt;. Lewat buku ini mereka berdua mengajak pembaca untuk melihat dari dekat bahwa tidak sedikit BMI Hong Kong yang aktif diberbagai organisasi yang mengajak untuk melakukan kebaikan seperti halnya organisasi kepenulisan FLP HK (Forum Lingkar Pena Hong Kong) yang bervisi misi menulis sambil berdakwah dan M3 (Majelis Muslimah Mei Foo). Menurutnya, bisa jadi tidak 5 persennya, BMI Hong Kong yang melakukan tindakan rusak seperti yang mereka persepsikan (hal. 175).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, dengan membaca buku ini kita tidak hanya akan mendapatkan motivasi menulis, akan tetapi dengan membacanya kita juga akan banyak tahu keadaan di luar sana. Baik akan keindahan kota Hong Kong maupun kemewahan hidup masyarakat sana. Dan yang lebih penting lagi, dengan buku ini pembaca dapat memahami riwayat hidup perempuan Indonesia di tanah rantau yang penuh perjuangan. Bayu Insani dan Ida Raihan berhasil menambah nilai lebih pada dirinya dengan menulis tanpa harus mengganggu keberadaan dirinya sebagai TKW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Data Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Judul  : TKW Menulis&lt;br /&gt;Penulis  : Bayu Insani dan Ida Raihan&lt;br /&gt;Penerbit : Leutika, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetak  : I, Desember 2010&lt;br /&gt;Tebal  : xxii + 198 halaman&lt;br /&gt;ISBN  : 978-602-8597-58-6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;*telah dimuat di Radar Surabaya (23/01/2011)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-2355810381157970768?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/2355810381157970768/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/01/jalan-terjal-tkw-menjadi-penulis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/2355810381157970768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/2355810381157970768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/01/jalan-terjal-tkw-menjadi-penulis.html' title='Jalan Terjal TKW Menjadi Penulis*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TT-dL9zf2uI/AAAAAAAAAiI/5l2GaEJ3cBU/s72-c/TKW%2BMenulis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-7911462350309534188</id><published>2011-01-08T20:34:00.000-08:00</published><updated>2011-01-09T15:41:42.167-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Falsafah Hidup Bahagia dalam Surat Al-Insyirah*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TSpHlVWMGPI/AAAAAAAAAiA/eCQkq9BdLOg/s1600/Cover%2BBuku%2BSukses%2Bdan%2BBahagia%2Bdengan%2BAurat%2Bal-Insyiraah%2B.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 213px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TSpHlVWMGPI/AAAAAAAAAiA/eCQkq9BdLOg/s320/Cover%2BBuku%2BSukses%2Bdan%2BBahagia%2Bdengan%2BAurat%2Bal-Insyiraah%2B.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5560335396653242610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dalam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; menjalani hidup di dunia ini, tidak jarang ditemukan orang yang kadang merasa berat dalam menjalani hidupnya, apalagi di zaman global, yang penuh dengan tantangan ini. Karenanya seringkali seseorang merasa stres karena tidak kuat menjalaninya. Ketika seperti itu, ada yang melampiaskannya dengan minum minuman keras, mengkonsumsi sabu-sabu, melacur, dan sebagainya. Naasnya lagi kadang ada yang sampai berani bunuh diri. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Naudzubillah&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa sampai terjadi seperti itu? Apa dan siapa yang salah? Apakah hidup bahagia memang tidak gampang dicapai oleh sembarang orang? Semua itu sebetulnya tergantung pada masing-masing diri kita sendiri. Kita tinggal memilih apakah kita ingin hidup bahagia atau tidak. Tinggal kita bagaimana cara mengatur emosi dan pikiran kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara kita mengaturnya agar kita bisa mencapai hidup bahagia? Jawabannya bisa ditemukan dalam kandungan surat al-Insyirah, surat ke-94 dalam al-Qur'an. Surat al-Qur'an yang terdiri dari delapan ayat ini mengandung falsafah hidup yang patut kita jadikan acuan untuk menggapai kebahagiaan hakiki dunia-akhirat. Surat al-Insyirah ini bisa dijadikan paradigma meraih kesuksesan, keberhasilan, dan kebahagiaan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kandungan pertama surat al-Insyirah ini diawali dengan anugerah lapang dada, yang kemudian dilanjutkan dengan anugerah-anugerah yang lain. Surah ini menyiratkan bahwa hidup itu berarti bercengkerama dengan kesulitan-kesulitan dan sekaligus menunjukkan bagaimana meraih kemudahan-kemudahan. Hal ini sesuai dengan bunyi salah satu ayat dalam surat ini  yang artinya: "karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan" (QS. Al-Insyirah (94): 5-6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hakikatnya, surat ini adalah surat yang dikhususkan kepada diri Rasulullah agar ia berlapang dada. Akan tetapi tidak ada salahnya kalau kita juga mengambil ibrah darinya. Apalangi sudah jelas bahwa Rasulullah itu merupakan contoh teladan yang patut dicontoh, seperti apa yang difirmankan Allah yang artinya: "sesungguhnya pada diri Rasulullah itu telah ada contoh suri tauladan yang baik..." (QS. Al-Ahzab (33): 21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjalani hidup di dunia ini setidaknya kita harus menghadapinya dengan penuh senyuman. Berbagai macam kesulitan (rintangan) yang pastinya akan dialami setiap orang, seyogianya dihadapi penuh pertimbangan dengan tetap berlapang dada, istiqamah, dan tidak menjadikannya sebuah beban. Falsafah dalam surat al-Insyirah bisa menuntun kita untuk bisa berdamai dengan aneka ragamnya kehidupan kita. Tuntunan surat al-Insyirah ini meminta kita agar dalam menjalani hidup pertama-pertama harus dan bisa berlapang dada, tetap istiqamah, dan terakhir pasrah terhadap semua apa yang telah kita usahakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Falsafah untuk berlapang dada ini ada pada ayat pertama surat al-Insyirah. Anjuran untuk tetap istiqamah ada pada ayat ketujuh. Dan ayat terakhir menganjurkan kepasrahan. Kesulitan-kesulitan yang mungkin sering berhadapan dengan kita, kita harus menghadapi dengan penuh lapang dada, tetap istiqamah menjalankannya sesuai dengan koridor kehidupan, dan terakhir kita pasrah pada Tuhan yang maha kuasa-yang nantinya pasti ada kemudahan yang akan diberikan-Nya. Allah sudah berjanji bahwa setelah kesulitan itu pasti ada kemudahan. Inilah janji Allah yang tersurat pada ayat kelima dan enam dalam surat al-Insyirah ini. Allah tidak ada mengingkarinya janjinya (QS. Ali Imran (3): 9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh luar biasa, lewat surat al-Insyirah ini Allah memberi tahu rumus bagaimana cara kita menjalani kehidupan. Dengan rahman dan rahim-Nya, Allah bekali diri kita potensi untuk mengatasi kelemahan yang ada pada diri kita. Allah berfirman yang artinya: "sesungguhnya manusia diciptakan besifat keluh kesah lagi kikir" (QS. Al-Ma'arij (70): 19), tetapi Allah juga berfirman yang artinya: "kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya..." (QS. Al-Mukminun (23): 62).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita sudah bisa menjalani hidup dengan kisi-kisi yang telah dikandung surat al-Insyirah di atas, maka sudah barang pasti Allah akan menganugerahkan pada kita sebuah kebahagiaan yang tiada tara. Buktinya bisa kita lihat pada diri Rasulullah. Selain nabi-nabi yang lain, nama yang disejajarkan dengan nama Tuhan adalah nama Rasulullah. Jika nabi Ibrahim disebut khalilullah (kekasih Allah), maka Rasulullah lebih dari itu. Allah menggandeng nama Rasulullah, Muhammad, sebagai paduan dua kalimat syahadat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya seperti itulah falsafah hidup bahagia yang semuanya terkandung dalam surat al-Insyirah. Akan semua itu dibahas habis dalam buku "Sukses dan Bahagia dengan Aurat al-Insyirah: Bersama Kesulitan Pasti Ada Kemudahan". Taufiqurrahman Al-Azizy, penulis buku ini, dengan bahasa yang ringan menafsirkan ayat demi ayat dari surat al-Insyirah itu, dengan bahasa dan format yang mudah ditangkap berbagai kalangan. Bahasa dan format motivasi yang diambil penulis membuat buku ini tidak terkesan menggurui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layaknya tidak ada sesuatu yang sempurna, dalam buku ini banyak ditemukan kekeliruan dalam ejaan penulisannya. Karenanya buku ini terkesan terburu-buru dalam menerbitkannya dan tidak adanya ketelitian editornya. Padahal di sanalah fungsi editor yang sesungguhnya. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;*telah dimuat di &lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.harianbhirawa.co.id/opini/22549-falsafah-hidup-bahagia-dalam-surat-al-insyirah" target="_blank"&gt;Harian Bhirawa&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt; (07/01/2011)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Data Buku&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Judul       : Sukses dan Bahagia dengan Aurat Al-Insyirah: Bersama Kesulitan Pasti Ada Kemudahan&lt;br /&gt;Penulis     : Taufiqurrahman Al-Azizy&lt;br /&gt;Penerbit   : Sakanta Publisher, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan    : I, November 2010&lt;br /&gt;Tebal       : 208 halaman&lt;br /&gt;ISBN        : 987-602-97772-2-0&lt;br /&gt;Harga       : Rp. 40.000&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-7911462350309534188?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/7911462350309534188/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/01/dalam-menjalani-hidup-di-dunia-ini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/7911462350309534188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/7911462350309534188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2011/01/dalam-menjalani-hidup-di-dunia-ini.html' title='Falsafah Hidup Bahagia dalam Surat Al-Insyirah*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TSpHlVWMGPI/AAAAAAAAAiA/eCQkq9BdLOg/s72-c/Cover%2BBuku%2BSukses%2Bdan%2BBahagia%2Bdengan%2BAurat%2Bal-Insyiraah%2B.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-2069949246404668376</id><published>2010-12-30T18:49:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T19:31:30.950-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Raih Sukses Anak dengan Aktivasi Otak Tengah*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TR1KxPL83WI/AAAAAAAAAhw/k8N93K3og3M/s1600/Cover%2BBuku%2BAktivasi%2BOtak%2BTengah.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 214px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TR1KxPL83WI/AAAAAAAAAhw/k8N93K3og3M/s320/Cover%2BBuku%2BAktivasi%2BOtak%2BTengah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556679724995763554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Berbicara&lt;/span&gt; tentang otak, mungkin kita lebih akrab dengan yang namanya otak kanan dan otak kiri. Ungkapan otak tengah lebih asing ketimbang otak kanan dan otak kiri. Padahal otak tengahlah yang aktif dan berfungsi paling awal sebelum otak kanan dan kiri. Otak tengah ini tumbuh dan berkembang sejak manusia berada dalam kandungan dan merupakan bagian tubuh yang paling dominan pada saat pembentukan janin. Bagian otak ini yang yang merupakan awal dari batang otak yang mendistribuksikan jaringan saraf ke seluruh tubuh. Otak tengah inilah yang menghubungkan antara otak kanan dan otak kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya, otak tengah hanya dapat bertahan sampai anak berumur 15 tahun. Setelah itu, otak tengah akan menjadi lebih kecil dan kurang dominan sehingga sangat kecil kemungkinan otak tengah ini dapat diaktifkan ketika seseorang sudah memasuki masa remaja-dewasa. Untuk itu, diperlukan aktivasi otak tengah sedari kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivasi otak tengah ini akan membawa seorang anak untuk bisa menjadi lebih cerdas. Dengan aktivasi otak tengah, maka kwalitas ingatan dan kemampuan konsntrasi seorang anak lebih kuat dan tinggi. Bahkan dengan aktivasi otak tengah, seorang anak bisa menggambar dan menulis dalam keadaan mata tertutup. Hal ini sangatlah masuk akal karena letak dan fungsi otak tengah yang berfungsi sebagai penghubung antara otak kanan dan otak kiri. Dengan mengaktifkan otak tengah, maka otak kanan dan otak kiri dapat melakukan komunikasi dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, otak kanan dan otak kiri yang pada awalnya berjalan dengan sendiri-sendiri, maka dengan aktivasi otak tengah keduanya akan saling menguatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseimbangan antara otak kanan dan otak kiri akan membawa pada diri anak yang berpikir kreatif karena kreatifitas otak kanan yang cenderung berimajinasi dapat berbaur dengan kemampuan otak kiri yang cenderung berperan dalam hal akademik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, bagaimana cara mengaktifkan otak tengah pada anak? Buku "Super Jenius dengan Aktivasi Otak Tengah" menjadi jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak cara untuk bisa mengaktifkan otak tengah. Setiap negara mempunyai cara masing-masing. Di negara Tibet misalnya menggunakan metode klasik yaitu dengan cara meditasi-ritual. Di Rusia menggunakan latihan selama satu tahun. Sedangkan di Indonesia sendiri menggunakan metode yang ditemukan dan digunakan oleh negara Malaysia, yaitu dengan meggunakan metode komputer-yang sampai saat ini, metode inilah yang merupakan metode canggih ketimbang negara-negara lain dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara aktivasi otak tengah tengah di Indonesia ini tidak menggunakan unsur mistik, kekeuatan supranatural, keagamaan, dan jenis metafisik apa pun. Cara aktifasinya tidak mengandung unsur magis dan sejenisnya. Para orang tua tidak usah khawatir karena metodenya sangatlah ilmiyah, yang metode pembelajarannya pun dapat dibuktikan. Jangka waktunya pun tidak lama. Hanya dengan cukup dua hari, otak tengah anak kita sudah bisa diaktifkan. Lembaga aktivasi otak tengah ini, di Indonesia bisa ditemukan seperti di lembaga Genius Mind Consultancy (GMC).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan aktivasi otak tengah ini telah terbukti seperti apa yang terjadi pada tiga anak Hartono Sangkanparan, pemegang franchise GMC wilayah Australia dan Indonesia. Dalam buku ini (hal. 92-93) dijelaskan bahwa anak Sangkanparan tersebut ada tiga bersaudara. Sang kakak bernama M. Irfan (15) kelas 1 SMA, Aulia (12) kelas 1 SMP, dan adiknya Rizky (6) kelas 1 SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irfan yang sekolah di salah satu SMA negeri favorit di Kota Bandung sebelumnya memiliki nilai ulangan harian cukup jelek 5-6. Tiba-tiba setelah semesteran semua nilai pelajarannya tidak ada yang mendapat 7, tetapi malah naik menjadi 8-9.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aulia, adik Irfan dapat menolong  mencarikan hand phone (HP) ibunya yang hilang. Suatu malam Aulia pergi ke sudut ruangan yang sangat gelap dan tidak lama kemudian ia memanggil ibunya dan berkata bahwa HP ibunya berada dalam tumpukan benda yang ada di sudut rungan yang sangat gelap itu-dan setelah di senter ternyata benar, HP yang dimaksud ada di situ dalam keadaan off.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan M. Irfan dan Aulia, Rizky yang merupakan adik terakhirnya, dapat mendeteksi dan mengobati penyakit ibunya. Diceritakan, suatu hari Rizky bilang kepada ibunya bahwa di dalam tubuh ibunya terdapat banyak virus jahat. Kemuadian sang ibu yang mendengar penjelasan Rizky meminta untuk menggambarkan gambar virus yang ada di dalam tubuhnya. Risky pun menggambar virus seperti gambar danau yang berwarna orange. Malamnya sang ibu penasaran dan segera browsing di internet-yang akhirnya ibunya menemukan penyakit dan gambar sama persis seperti apa yang digambarkana anaknya, baik gambar dan warnanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapatkan cerita di atas mungkin agak tidak masuk akal dan terkesan mengada-ada. Akan tetapi seperti itulah fakta yang terjadi pada M. Irfan, Aulia, dan Rizky setelah melakukan aktivasi otak tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, buku ini secara detail juga membahas apa dan bagaimana sistem kerja otak secara umum, cara kerja otak tengah, pentingnya optimalisasi otak tengah, serta persiapan mengaktifkan otak tengah dan masih banyak lagi pembahasan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, buku ini sangat cocok untuk dibaca bagi siapa saja yang tentunya ingin meningkatkan kecerdasan diri, terutama bagi mereka yang mendambakan anak didik yang super gemilang. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Data Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Judul       : Super Jenius Dengan Aktivasi Otak Tengah&lt;br /&gt;Penulis     : Muhammad Afifi&lt;br /&gt;Penerbit   : Himmah Media, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan   : I, November 2010&lt;br /&gt;Tebal      : 156 halaman&lt;br /&gt;ISBN       : 978-979-18469-6-7&lt;br /&gt;Harga      : 32.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;*telah dimuat di &lt;a href="http://www.harianbhirawa.co.id/opini/22143-raih-sukses-anak-dengan-aktivasi-otak-tengahraih-sukses-anak-dengan-aktivasi-otak-tengah" target="_blank"&gt; Harian Bhirawa&lt;/a&gt; (31/12/20010)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-2069949246404668376?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/2069949246404668376/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/12/raih-sukses-anak-dengan-aktivasi-otak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/2069949246404668376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/2069949246404668376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/12/raih-sukses-anak-dengan-aktivasi-otak.html' title='Raih Sukses Anak dengan Aktivasi Otak Tengah*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TR1KxPL83WI/AAAAAAAAAhw/k8N93K3og3M/s72-c/Cover%2BBuku%2BAktivasi%2BOtak%2BTengah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-3999684209022483790</id><published>2010-12-29T19:54:00.000-08:00</published><updated>2010-12-29T20:12:49.200-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Resolusi Tahun Baru 2011*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TRwF_mhIYTI/AAAAAAAAAho/AQc74Dk58pA/s1600/2011.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TRwF_mhIYTI/AAAAAAAAAho/AQc74Dk58pA/s320/2011.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556322630497755442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Abd. Basid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Tahun&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; baru 2011 sudah tinggal menghitung hari. Seperti biasanya, dalam menyambutnya euforia masyarakat akan menggema di belantara negeri ini. Sedikit kenangan di tahun 2010 sejenak akan kita lupakan. Berbagai pesta menyambutnya dilaksanakan, baik oleh kaum berada maupun kaum mengada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, perlu diingat kita jangan sampai terlena pada euforia datangnya tahun baru. Karena masih banyak catatan penting yang perlu diperbaiki oleh negara kita agar di tahun baru 2011 nanti menjadi lebih baik, aman, dan tentram. Banyak persoalan masih membelit negeri ini dan perlu penangananan yang cepat dan tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kita lihat, betapa bobroknya kesehatan negara kita selama tahun 2010 ini; di sisi keamanan lingkungan, berbagai bencana alam menimpa negeri ini, seperti banjir bandang di Wasior, Tsunami di Mentawai, Meletusya Gunung Merapi, dan paling anyar Gunung Bromo kini sudah marah dan mengelurkan laharnya yang menyebabkan banyak warga sekitar resah karena terjadi hujan debu bercampur pasir akibat lahar yang dimuntahkannya. Hemat penulis, bencana alam yang sering menimpa negeri ini bisa jadi merupakan “adzab Tuhan” karena penghuninya selalu berbuat maksiat, korupsi, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa tidak, berbagai kejahatan terjadi di negeri ini. Pemberantasan korupsi yang menjadi isu utama dalam kampanye pemimpin negeri ini, kini malah menunjukkan peringkat keterpurukan. Indonesia ada pada peringkat pertama di asia sebagai negara terkorup dan berada pada peringkat ketiga dalam tingkat internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang harus dilakukan negeri ini agar semua itu teratasi. Resolusi apa yang perlu diagendakan agar di tahun 2011 nanti negeri ini tidak menunjjukan peringkat keterpurukan lagi? Cak Nur (alm) pernah berujar, bahwa ketika bangsa ini ditimpa oleh berbagai bencana, krisis yang berkepanjangan, maka jalan satu-satunya adalah harus melakukan arus-balik sejarah. Dalam konteks ini, tampaknya Indonesia harus belajar dari sejarah bangsa-bangsa dunia yang maju, namun sebelumnya lama terpuruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, Indonesia bisa belajar dari bangsa Jepang, misalnya, yang meskipun pada perang dunia ke-II diluluhlantakkan oleh nuklir, namun Jepang tidak menjadi pesimistis. Jepang justru semakin memiliki ambisi untuk menggali pengetahuan dan teknologi, yang pada dasawarsa 90-an, harapan itu sudah teraktualisasi secara telanjang dan menyeluruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepang menjadi “macan” Asia yang disegani. Pertumbuhan ekonomi dan sosial terus melaju, kompetisi teknologi bersama negara-negara maju semakin mendapatkan bargainnya, Jepang menjadi salah satu negara berperadaban dan berkebudayaan tinggi (high culture).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya dalam usaha mengarus-balikkan sejarah, Indonesia kiranya perlu persiapan matang yang harus disongsong. Menurut Ismatillah Nu’ad, peminat Historiografi Indonesia Modern, paling tidak ada tiga modal dasar untuk menyongsong harapan dari keterpurukan dan kepedihan yang sedang melanda negeri ini (Koran Jakarta, 20/12/2010). Pertama, mesti memiliki mental dan moral yang baja dan luhur, sebab tak akan mungkin suatu bangsa dapat membalikkan arus balik sejarah itu tanpa ada mental yang baja dan moral yang luhur. Moral yang luhur, misalnya, diejawantahkan dengan kedisiplinan, pengabdian, dan pengorbanan untuk mendahulukan kepentingan bersama, tidak korup, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, harus banyak belajar dari pengalaman sejarah dan belajar pada bangsa-bangsa lain yang maju untuk mengejar ketertinggalan. Belajar dari sejarah kemudian menjadi otokritik, sementara belajar dari bangsa maju menjadi instrumen ekstrospeksi (instrospeksi ke depan), untuk menatap masa depan mesti dikemanakan kemudi bangsa ini hendak diarahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, harus ada willing atau kemauan kuat yang tidak komunal. Dari sisi itu, uniformitas, sektarianisme, dan perbedaan-perbedaan lainnya harus dilepaskan dan menuju pada kesatuan visi dan misi bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah tiga modal dasar yang harus disiapkan negeri ini, dan setelah itu tugas selanjutnya adalah bagaimana strategi untuk menghadapi tantangan-tantangan. Sebab sebagaimana dalam pengalaman sosiologis, sebuah tantangan itu mesti selalu merintang. Sebagai contoh, dalam masyarakat modern, tantangan utamanya adalah menghadapi kemelut moral dan etika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, tantangan bagi negeri ini yang paling utama adalah bagaimana menyingkirkan sifat keserakahan, korup, rakus, menang sendiri, mementingkan diri, egois, takabur dan sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, menyambut tahun baru 2011 ini semoga negeri ini bisa mengoreksi diri agar bisa menjadi bangsa yang subur, makmur, dan aman sentosa. Selamat tahun baru 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;*telah dimuat di Radar Surabaya (29/12/2010&lt;/span&gt;)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-3999684209022483790?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/3999684209022483790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/12/resolusi-tahun-baru-2011.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/3999684209022483790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/3999684209022483790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/12/resolusi-tahun-baru-2011.html' title='Resolusi Tahun Baru 2011*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TRwF_mhIYTI/AAAAAAAAAho/AQc74Dk58pA/s72-c/2011.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-1546021144544477564</id><published>2010-12-19T09:12:00.000-08:00</published><updated>2011-01-04T23:47:39.251-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>Koran (di) Jakarta dan Surabaya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TQ5Bdof1hEI/AAAAAAAAAhM/JtS9w2OrdCQ/s1600/koran.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TQ5Bdof1hEI/AAAAAAAAAhM/JtS9w2OrdCQ/s320/koran.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5552447367937360962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Abd. Basid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Akhir&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; bulan kemrin saya di undang pihak Agency Mata Pena Writer (MPW) ke Jakarta untuk melakukan wawancara di kantornya yang terletak di daerah Ciputat, Jakarta Selatan. Wawancara itu merupakan salah satu rangkaian yang diagendakan MPW untuk menjaring penulis-penulis yang akan terwadahi di Agency MPW. Saya yang sebelumnya menjalani tes biomental dinyatakan lulus dan rangkaian selanjutnya adalah tes wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memenuhi panggilan itu, saya tidak sendirian. Selain saya juga ada dua teman saya dari Madura yang juga akan wawancara di sana. Saya yang berdomisili di Surabaya saling kontakan dengan mereka agar bisa berangkat bersama-sama ke Jakarta. Kabarnya, ada 180 calon yang masuk daftar dan dari 180 peserta tersebut dipilih 19 peserta yang selanjutnya akan diwawancarai, yang diantaranya adalah kami bertiga (dari Jatim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bertiga berangkat naik kereta dari Surabaya, stasiun Pasar Turi. Berangkat Kamis sore dan sampai di Jakarta, stasiun Pasar Senen, Jum’at pagi. Sungguh merupakan perjalanan yang lama dan melelahkan jika dihitung dengan jam dan tenaga. Tapi perjalanan itu tidaklah kami hiraukan demi menghadiri sebuah undangan yang nantinya bisa memproses kami untuk menjadi penulis handal dalam memproduksi sebuah karya (buku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di stasiun Pasar Senen, kami istirahat sejenak sambil lalu melepaskan penat karena selama 15 jam-an lebih duduk di dalam kereta. Di sela-sela istirahat kami, kami sambil menghubungi teman yang ada di Jakrta. Kata teman di ujung telpon sana, kami disuruh ikut bis kota yang lewat kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta—karena kebutulan kantor MPW dekat dengan Kampus UIN Jakarta. Sambil bertanya-tanya ke petugas keamanan, kami diarahkan ke terminal bis dan disuruh ikut bis yang bernomer 76, jurusan Ciputat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, sesampainya di UIN Jakarta, kami langsung mencari warung nasi. Ada pemandangan “menarik” yang disela-sela langkah kami mencari warung nasi waktu itu. Pemandangan “menarik” tersebut adalah tercecernya berbagai macam koran di loper-loper di setiap langkah kami. Rasanya, maju-mundur kita akan melihat sederetan loper koran yang menjual lengkap berbagai macam koran.  Hal ini saya katakan menarik karena pemandangan itu tidak ditemukan di Surabaya, yang merupakan pusat kota di daerah Jatim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang tinggal di daerah IAIN Sunan Ampel Surabaya harus menempuh perjalanan agak jauh untuk bisa menemukan koran. Itupun tidak lengkap. Kalau mau yang agak lengkap—itupun tidak selengkap di Jakarta—harus ke loper koran yang ada pada titik tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa membaca-membeli koran Media Indonesia, Republika, Seputar Indonesia (Sindo), Memo, Koran Tempo, dan lainnya harus muter jalan mencari loper koran yang agak lengkap—itupun kadang masih kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika saya mencari koran Surabaya Pagi (koran lokal Jatim) tidak mendapatkannya. Mau dibilang kesiangan nyarinya, saya sudah jam 6-an ke lopernya. Tukang lopernya pun bilang tidak ada. Saya sudah ngontel ke berbagai loper yang saya tahu tidak ada. Mellas awak dewe waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini bertolak belakang dengan Jakarta. Di Jakarta tidak akan sulit untuk ditemukan berbagai macam koran. Bahkan koran lokal luar Jakarta pun saya temukan di sana. Koran Duta Masyarakat (koran Surabaya yang masih bertaraf lokal) saya temukan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sepanjang jalan, stasiun, terminal dan sejenisnya tidak sulit untuk ditemukan penjual/loper koran. Penjaja koran pun dengan lincahnya menawarkan berbagai macam koran. Mulai dari koran lokal sampai koran nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TQ5CUUHGD0I/AAAAAAAAAhU/QG_wmQ6mHR0/s1600/Koran-Jawa-Pos.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 282px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TQ5CUUHGD0I/AAAAAAAAAhU/QG_wmQ6mHR0/s320/Koran-Jawa-Pos.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5552448307357683522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di Surabaya sulit ditemukan para penjaja koran yang menjual koran lengkap. Penjaja koran di Surabaya mungkin banyak menjajakan koran Jawa Pos, Kompas, Surya, dan Memo. Selain itu, biasanya harus ke loper. Sungguh ironi. Di stasiun atau terminal pun tidak banyak yang menjual koran. Bahkan ketika kami bertiga datang dari Jakarta waktu itu, kami mencari koran Republika (karena hari itu kebetulan cerpen teman saya dimuat di Republika) di sekitar stasiun Pasar Turi tidak menemukannya. Kami telah menyusuri jalanan Jalan Semarang sambil menunggu bis tidak menemukan satu pun penjual/loper koran. Adanya penjual koran bekas. Hingga akhirnya kami naik bis tanpa menemukan koran sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit cerita di atas menunjukkan bahwa minat beli dan baca di Surabaya (baca: Jatim) sangatlah rendah. Untuk membaca koran pun persentasenya rendah. Padahal, berdasarkan rasio penduduk, idealnya satu surat kabar dibaca 10 orang. Namun, di Indonesia saat ini satu surat kabar dikonsumsi oleh 45 orang. Angka ini masih di bawah Srilanka yang tergolong negara belum maju, yakni satu surat kabar dibaca oleh 38 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jatim, dari 37 juta warga provinsi hanya 1 persen yang memiliki minat baca tinggi. Menurut Gus Ipul, seperti ketika ia ungkapkan pada acara “Kompas Gramedia Fair 2010” di Surabaya, Rabu (31/3), bahwa Jatim yang berpenduduk 37 juta jiwa lebih itu hanya memiliki 1.602 lembaga kursus, 1.185 TBM (taman bacaan masyarakat) dengan hanya 61.171 warga belajar, dan 11.581 PAUD (pendidikan anak usia dini) dengan 338.934 anak yang belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sana, hemat penulis, budaya baca di Jatim—pastinya juga Surabaya—ini bisa dikatakan belum membudaya. Yang lebih membudaya di daerah ini adalah budaya hidonisme. Karenanya, tidak keliru ketika ada kesan bahwa masyarakat Jatim lebih suka pergi belanja ke mal ketimbang ke perpustakaan. Lebih memilih perabotan rumah ketimbang mengoleksi bahan bacaaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa minat baca masyarakat kita masih rendah? Semua itu karena masyarakat kita yang masih terbiasa dengan dongeng, nonton wayang, bahkan di satu daerah ada tradisi “mocopatan” (puisi), sehingga budaya baca dengan membuka buku itu nggak ada.&lt;br /&gt;Untuk itu, kiranya pemerintah harus mampu  “menyulap” TBM menjadi program mendongkrak minat baca yang diminati masyarakat. “Image” masyarakat tentang TBM dan program pendidikan lainnya perlu dirombak untuk mendongkrak minat baca yang masih rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas pemerintah adalah bagaimana mengubah mindset (pola pikir) masyatakat yang selama ini cederung hidonis. Misalnya, yang mal selama ini dipandang sebagai tempat orang-orang kaya, tapi ternyata orang miskin juga ada di sana, karena mal bukan cuma tempat berbelanja, tapi mal juga tempat mencari hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TQ5Fw2abFcI/AAAAAAAAAhc/9iLCya_ZPwA/s1600/Membaca_2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TQ5Fw2abFcI/AAAAAAAAAhc/9iLCya_ZPwA/s320/Membaca_2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5552452096136779202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dengan demikian, TBM dapat didirikan pada mal-mal. Jika demikian, TBM di mal akan dapat mendongkrak gengsi dari TBM, bahkan TBM di mal dapat meningkatkan semangat baca, apalagi TBM itu gratis, sehingga pengunjung mal yang miskin dapat menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-1546021144544477564?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/1546021144544477564/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/12/koran-di-jakarta-dan-surabaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/1546021144544477564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/1546021144544477564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/12/koran-di-jakarta-dan-surabaya.html' title='Koran (di) Jakarta dan Surabaya'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TQ5Bdof1hEI/AAAAAAAAAhM/JtS9w2OrdCQ/s72-c/koran.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-6594371748377525315</id><published>2010-12-12T16:37:00.000-08:00</published><updated>2010-12-12T16:51:46.515-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Memilih Tanpa Penyesalan*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TQVuDKDPE2I/AAAAAAAAAhE/hLYngBu5nlw/s1600/Cover%2BBuku%2B7%2BLangkah.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 201px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TQVuDKDPE2I/AAAAAAAAAhE/hLYngBu5nlw/s320/Cover%2BBuku%2B7%2BLangkah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5549963116320592738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suatu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; keputusan merupakan suatu proses pemilihan alternatif terbaik dari beberapa alternatif secara sistematis untuk ditindaklanjuti (digunakan) sebagai suatu cara pemecahan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak para pakar berpendapat mengenai pengambilan sebuah keputusan. Menurut George R. Terry pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada. Kemudian, menurut Sondang P. Siagian pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling cepat. Selanjutnya, menurut James A. F. Stoner pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengambilan keputusan adalah kelanjutan dari cara pemecahan masalah yang memiliki fungsi sebagai pangkal atau permulaan dari semua aktivitas manusia yang sadar dan terarah secara individual dan secara kelompok baik secara institusional maupun secara organisasional. Di samping itu, fungsi pengambilan keputusan merupakan sesuatu yang bersifat futuristik, artinya bersangkut paut dengan hari depan, masa yang akan datang, di mana efek atau pengaruhnya berlangsung cukup lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, ke mana pun kita melangkah, maka di sanalah ada pilihan yang yang harus dijalani. Dalam memilih tidak jarang kita dihadapkan pada pilihan yang harus dipertimbangkan dengan matang terlebih dahulu. Kesulitan memilih pun sering terjadi. Ketika demikian, kadang rasa takut menghampiri kita, sehingga nantinya berefek pada lambannya sebuah keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menghadapi hal seperti itu? Dani Wardani, lewat bukunya “7 Langkah Membuat Keputusan Terbaik” berbagi resep bagaimana agar kita bisa cekatan dan tidak salah dalam memutuskan dan menentukan sebuah pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tanpa harus tertele-tele Dani Wardani menyajikan 7 langkah agar hidup kita bisa lebih bermakna dan terarah, karena keputusan yang kita hasilkan. 7 langkah itu adalah; pertama, kita harus mengidentifikasi dasar penggerak kita dalam memilih. Langkah ini menuntun agar kita bisa mengidentifikasi akar masalah yang melatar belakangi diri kita dalam memilih sesuatu. Hal ini penting karena setelah kita sadar dan mengetahui alasan kenapa kita memilih, nantinya kita akan bisa memahami posisi dalam bertindak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah kedua adalah menentukan alat penimbang. Alat penimbang yang dimaksud adalah akal, emosi dan kata hati. Perpaduan 3 timbangan ini yang nantinya bisa menyetel arah keputusan pasti, karena hasilnya tidak cenderung karena nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, langkah ketiga adalah bagaimana kita menggunakan bahan pertimbangan setelah menggunakan timbangan di atas. Bahan pertimbangan tersebut adalah (a) firasat dan naluri, (b) keyakinan dan rasa percaya, (c) ilmu pengetahuan dan (d) norma, nilai, dan aturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah keempat adalah menentukan beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalan memilih. Beberapa hal itu adalah bagaimana agar kita dalam memilih pilihan yang sesuai dengan kemampuan, minat, keinginan, dan harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah kelima menentukan kerangka perencanaan. Kerangka perencanaan ini bertujuan untuk mengenal, menggali, dan menyalurkan minat dan keinginan yang berlandaskan nilai-nilai yang dianut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah keenam menghindari beberapa hal yang sekiranya dapat menjebak kita dalam menentukan keputusan, seperti keputusan yang hanya berorientasi jangka pendek, keuntungan sesaat, dan mengikuti prasangka daripada fakta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah terakhir adalah menentukan strategi ketika ada kesalahan dalam memilih. Karena kadang kita merasa bersalah besar akan keputusan salah yang kita tentukan. Hal ini yang cenderung membuat seseorang malas untuk melangkah lagi. Namun, hal itu bisa hilang jika kita pintar mengatur strategi. Strategi itu adalah menyadari dan selalu bersikap positif, menanamkan sifat sabar yang aktif, recovery (perbaikan), dan mengambil hikmah di balik semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, buku ini dapat membantu kita dalam menemukan makna hidup dengan keberanian untuk mengambil keputusan dan beertanggung jawab atas semuanya, sehingga nantinya tidak ada penyesalan setelah memilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;*telah dimuat di Radar Surabaya (12/12/2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Data Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Judul : 7 Langkah Membuat Keputusan Terbaik&lt;br /&gt;Penulis : Dani Wardani&lt;br /&gt;Penerbit : Leutika, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan : I, Mei 2010&lt;br /&gt;Tebal : xiv + 149 halaman&lt;br /&gt;ISBN : 978-602-8597-38-8&lt;br /&gt;Harga : Rp. 30.000,00&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-6594371748377525315?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/6594371748377525315/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/12/memilih-tanpa-penyesalan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/6594371748377525315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/6594371748377525315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/12/memilih-tanpa-penyesalan.html' title='Memilih Tanpa Penyesalan*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TQVuDKDPE2I/AAAAAAAAAhE/hLYngBu5nlw/s72-c/Cover%2BBuku%2B7%2BLangkah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-1955012209228579475</id><published>2010-12-09T13:32:00.000-08:00</published><updated>2010-12-09T13:37:37.916-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Kafirnya Seorang Koruptor*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TQFMGzp4suI/AAAAAAAAAg0/EnWWt34xLSE/s1600/Cover%2BBuku%2BKoruptor%2Bitu%2Bkafir.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 268px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TQFMGzp4suI/AAAAAAAAAg0/EnWWt34xLSE/s320/Cover%2BBuku%2BKoruptor%2Bitu%2Bkafir.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5548799895725978338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Judul&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; buku ini adalah “Koruptor Itu Kafir: Telaah Fiqih Korupsi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU)”. Buku hasil olah garapan penyunting Hardiansyah Suteja ini membedah korupsi dari perspektif fiqih dan teologi agama, gabungan dari pemikiran dua ormas Islam terbesar; Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab I berisi korupsi dalam persepsi Muhammadiyah disambung dengan bab II, strategi organisasi yang telah berumur seabad itu dalam pemberantasan korupsi. Sementara bab III dan IV menjadi jatahnya NU dengan sub topik yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pakar dari dua ormas Islam ini dengan seksama membedah perbagai dimensi korupsi dari kajian fiqih Islam dan sampai pada suatu kesimpulan bahwa praktik korupsi adalah sesuatu perbuatan yang haram dan bertentangan dengan ajaran fundamental Islam.&lt;br /&gt;Dalam buku ini, Muhammadiyah mengawalinya dari asas kepemimpinan, yaitu amanah (dapat dipercaya), keadilan, dan amar ma’ruf nahi munkar. Seorang pemimpin yang dapat dipercaya, tuntutan tentang keadilan tidak ada karena dia sudah dipercaya. Kalau dia berbuat tidak adil, maka setiap orang harus melakukan amar ma’ruf nahi munkar, mencegahnya. Korupsi, dalam bingkai kepemimpinan, menempatkan asas terakhir kepemimpinan itu di tempat yang paling utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan NU mengawali pembahasan korupsi dari pola paradigmatik tentang eksistensi manusia. Manusia diciptakan Tuhan memiliki tugas sebagai khalifah (menajer Tuhan di bumi), dan sekaligus ‘abdun (hamba) yang menyembah Tuhan. Tugas manusia hanya menjadi hamba Tuhan. Dia tidak boleh menghamba kepada harta, takhta, wanita dan sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi kepemimpinan, NU memandang korupsi sebagai pelanggaran kepemimpinan publik dengan menggarong harta publik dan merugikan kepentingan publik. Sebagai hamba, manusia adalah pemimpin bagi dirinya. Kepemimpinannya di sini bersifat personal. Namun, sebagai khalifah, manusia yang diamanati jabatan oleh banyak orang (amanat jabatan publik), harus mentasarrufkan (menggunakan) harta publik (APBD/APBN) untuk kemaslahatan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Landasan hukum pemberantasan korupsi di Indonesia ini masih lemah karena kerangka hukum yang ada belum bersinergi secara positif bagi pemberantasan korupsi di Indonesia. Keadaan ini diperparah dengan lemahnya peran penegak hukum dalam pemberantasan korupsi karena penegak dan institusi penegak hukum, khususnya kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan masih belum mampu membersihkan diri dari praktik-praktik korupsi itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu, KPK yang seharusnya menjadi ujung tombak pemberantasan korupsi terus-menerus mendapatkan serangan dan pelemahan yang sistematis dari sejumlah lembaga negara khususnya parlemen dan lembaga penegak hukum lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi kejahatan korupsi di Indonesia ini yang sudah luar biasa, maka munculnya buku ini, sangatlah tepat. Buku ini menjelaskan, bahwa Islam telah mengajarkan cara pembuktian terbalik sebagai salah satu alternatif untuk menumpas perbuatan korupsi. Pembuktian terbalik seperti ini pernah ada ketika khalifah Umar Bin Khathab r.a. meminta Abu Hurairah r.a. menjelaskan asal-usul harta yang diperolehnya saat menjabat Gubernur Bahrain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan; ketika Abu Hurairah menghadap Umar bin al-Khaththab setelah kembali dari Bahrain, dia membawa 400.000 (dinar) dari Bahrain. Kemudian Umar bertanya; “apakah engkau mendzalimi seseorang?”. Abu Hurairah menjawab; “tidak”. Umar bertanya; “apakah engkau mengambil sesuatu yang bukan haknya?” dia menjawab “tidak”. Umar kembali bertanya; “berapa yang telah engkau ambil?”. Dia menjawab; “20.000”. Umar bertanya; “dari mana engkau memperolehnya?” dia menjawab; “saya berdagang”. Umar berkata; “hitung modal pokokmu dan penghasilanmu. Ambil dan kembalikan sisanya ke Baitul Mal”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Koruptor = Kafir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Korupsi adalah kejahatan yang tidak sekedar merugikan keuangan negara, tetapi juga menjadi salah satu faktor penyebab utama kemiskinan, menistakan kemanusiaan, dan menghancurkan peradaban. Tindak korupsi bukan saja keji dan tercela, tetapi suatu hal yang bertentangan dengan keimanan. Dalam hadis diriwayatkan bahwa “seorang pencuri tidak mungkin mencuri dalam keadaan beriman”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mencuri merupakan suatu tindakan mengambil sesuatu yang bukan miliknya, maka korupsi dapat masuk ke dalam kategori tindak pencurian. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa seorang koruptor tidak mungkin melakukan korupsi dalam keadaan beriman. Untuk itu, jelaslah bahwa koruptor itu tidak mempunyai iman—alias kafir.&lt;br /&gt;Namun, perlu digaris bawahi bahwa yang dimaksud kafir di sini bukan dalam arti luas yang biasa dikenal masyarakat. Kafir di sini dimaksudkan lebih kepada arti yang lebih khusus. Karena, seperti yang kita kerahui bahwa dalam Islam, ada dua jenis kafir; kafir teologis (akidah) dan kafir terhadap nikmat karunia Allah. Nah, pada ktegori kafir yang kedua itulah yang di sandang para koruptor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, buku ini tidak saja menyajikan korupsi dari sisi pandang Muhammadiyah dan NU tapi juga menawarkan beberapa alternatif pemberantasan korupsi di kalangan masyarakat Islam dan bagi negara. Selain itu, dalam buku ini juga ditegaskan bahwa tindakan koruptif yang pada dasarnya meletakkan uang di atas segalanya sama saja dengan syirik. Penegasan ini yang nantinya diharapkan dapat menjadi pendorong gerakan sosial anti-korupsi di Indonesia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;*telah dimuat di &lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.harianbhirawa.co.id/opini/21019-kafirnya-seorang-koruptor" target="_blank" alt="Harian Bhirawa"&gt;Harian Bhirawa&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt; (10/12/2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Data Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Judul  : Koruptor Itu Kafir: Telaah Fiqih Korupsi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU)&lt;br /&gt;Editor  : Bambang Widjoyanto, Abdul Malik Gismar, dan Loade M. Syarif&lt;br /&gt;Penerbit : Mizan, Bandung&lt;br /&gt;Cetakan : I, September 2010&lt;br /&gt;Tebal  : ii + 194 halaman&lt;br /&gt;Harga  : Rp 39. 500,-&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-1955012209228579475?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/1955012209228579475/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/12/kafirnya-seorang-koruptor.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/1955012209228579475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/1955012209228579475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/12/kafirnya-seorang-koruptor.html' title='Kafirnya Seorang Koruptor*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TQFMGzp4suI/AAAAAAAAAg0/EnWWt34xLSE/s72-c/Cover%2BBuku%2BKoruptor%2Bitu%2Bkafir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-4560959127535290593</id><published>2010-12-08T02:28:00.000-08:00</published><updated>2010-12-08T02:36:23.348-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Reaktualisasi Makna Hijrah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TP9foG7H0jI/AAAAAAAAAgs/lLsfyCOlfUM/s1600/maal%2Bhijrah.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 298px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TP9foG7H0jI/AAAAAAAAAgs/lLsfyCOlfUM/s320/maal%2Bhijrah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5548258408601735730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh: Abd. Basid&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Hari&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; ini (7/12) umat Islam memasuki dan merayakan tahun baru hijriyah, 1432 H. Dengan datangnya tahun baru hijriyah ini semua umat Islam pastinya berharap semoga bisa mengawali awal tahun dengan baik dan penuh makna. Berbagai macam ritual dan introspeksi diri dilakukan tidak lain agar bisa memaknai tahun baru hijriyah dengan penuh arti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara harfiyah makna hijrah berasal dari kata bahasa arab hajara-yahjuru-hijratan yang berarti perpindahan ke lain negeri atau pemisahan diri dari handai taulan atau negeri asal. Sedangkan secara teknis-islami, hijrah adalah keberangkatan Nabi Muhammad dari Makkah (tempat kelahirannya) ke Madinah. Peristiwa itu bertepatan dengan 24 September 622 M. Dari peristiwa hijrah Nabi inilah kemudian Umar bin Khattab memulai penanggalan hijriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kalau kita tarik pada era masa kini, maka setidaknya kata hijrah ini tidak terbatas pada perpindahan Nabi dari Makkah ke Madinah atau perpindahan seseorang dari satu tempat (baca: negara) ke tempat yang lain. Di saat ini, yang bangsa kita ini lagi dilanda berbgai macam krisis, mulai dari krisis kepemimpinan sampai krisis sosial sesama, orang-orangnya setidaknya bisa mereaktualisasi makna hijrah itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermacam bencana terjadi di Indonesia, seperti banjir di Wasior, tsunami di Mentawai, letusan Gunung Merapi dan gunung Bromo yang diberitakan mengancam adalah salah satu gambaran akan kebobrokan bangsa ini. Di tataran praktis, di saat masyatakat Yogyakarta belum sembuh “sakitnya” karena musibah Merapi yang menimpanya kini mereka diterjang lagi dengan permasalahan monarki yang mengusik kelenggangan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, seiring dengan semangat tahun baru hijriyah ini, alangkah baik dan bermaknanya jika kita bisa hijrah dari kiri ke kanan, cuek ke peduli, iri ke ikhlas, korupsi ke jujur, dan lain sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita yang awalnya cuek untuk saudara-saudara kita yang lagi tertimpa musibah, dengan semangat hijrah kita diharapkan bisa peduli mereka. Kita yang awalnya tega membiarkan rakyat sengsara, dengan semangat hijrah diharapkan bisa merangkul mereka dan memberikan hak-hak rakyat yang kita “mutilasi”. Kita yang awalnya ingin menguasai karena nafsu pribadi, dengan semangat hijrah diharapkan bisa mengontrol egoisme diri untuk mengebiri. Kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah atau APBN/APBD yang awalnya sama sekali tidak ditujukan untuk kaum miskin, dengan semangat hijrah diharapkan bisa tertujuakan. Kaum miskin yang awalnya hanya dijadikan figuran untuk mendongkrak suara saat pilpres dan pilkada, dengan semangat hijrah diharapkan bisa dijatidirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang seperti inilah yang sejatinya disiratkan al-Qur’an dalam memaknai kata hijrah untuk konteks masa kini. Banyak istilah al-Qur’an yang mengandung arti kias yang kalau kita kaji kembali akan mempunyai relevansi dengan makna segala zaman, termasuk makna hijrah (hajara-yahjuru-hijratan) itu sendiri—yang nantinya akan bersifat agamis dan akhlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan istilah-istilah Arab kuno merupakan suatu proses islami. Banyak kata Arab diubah oleh bahasa al-Qur’an dan kebiasaan islami menjadi istilah-istilah teknis yang islami, yang mengandung makna religius atau nilai yang berkaitan erat dengan Islam seperti kata shalat, iman, islam, zakat, hajj, tasbih, taqwa dan sebagainya.&lt;br /&gt;Dalam hal ini, al-Qur’an menggunakan perubahan-perubahan istilah “hijrah” dalam perintahnya untuk menghindar dari keburukan (QS. 74: 5), berpaling dari istri yang tidak patuh (QS. 44: 3), tidak mengabaikan al-Qur’an (QS. 25: 30), untuk meninggalkan orangtua yang tidak beriman dengan cara baik-baik bukan dengan melukai hatinya (QS. 73: 10), kembali pada Tuhan dengan harapan mendapatkan petunjuknya (QS. 29: 26) dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu, adalah arti baru yang oleh Islam diterapkan pada akar kata: h-j-r beserta kata turunannya, yang mana arti etis-religious itu melebihi arti harfiyah hajara (berpindah) itu sendiri. Hijrah akan menjadi praktik keagamaan terbesar untuk meninggalkan tuntutan-tuntutan keduniaan demi keshalehan, pencurahan tenaga demi kesucian dan kemuliaan hakiki dan lain sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, bergantinya tahun hijriyah 1432 ini mungkin bisa kita dijadikan momentum untuk mereaktualisasi makan hijrah itu sendiri yang nantinya bisa mengkonsep diri pribadi dan bangsa yang sungguh peduli pada sesama dan rakyat-bangsa yang bermartabat, dengan cara meninggalkan dominasi syahwat, segala bentuk akhlak buruk serta dosa menuju kebaikan yang diridhai Tuhan (QS. 29: 26). Selamat tahun baru hijriyah 1432 H.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-4560959127535290593?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/4560959127535290593/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/12/reaktualisasi-makna-hijrah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/4560959127535290593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/4560959127535290593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/12/reaktualisasi-makna-hijrah.html' title='Reaktualisasi Makna Hijrah'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TP9foG7H0jI/AAAAAAAAAgs/lLsfyCOlfUM/s72-c/maal%2Bhijrah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-4569268599731068838</id><published>2010-11-30T15:59:00.000-08:00</published><updated>2010-11-30T16:08:35.633-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Perkuat (Lagi) Perlindungan Terhadap TKI*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TPWQZTgri1I/AAAAAAAAAgk/CFU0p2terbw/s1600/tki-sumiati---detik.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 163px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TPWQZTgri1I/AAAAAAAAAgk/CFU0p2terbw/s320/tki-sumiati---detik.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5545497280585108306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Oleh: Abd. Basid&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berita&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; menyakitkan kini datang lagi menimpa TKW (tenaga kerja wanita) Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Terjadi p&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt;enyiksaan &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;sadis&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt; terhadap Sumiati, TKI &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;(tenaga kerja Indonesia) &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt;di Saudi Arabia&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;.&lt;/span&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt; Luka berat menghiasi sekujur tubuhnya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt;  Tubuhnya mengalami luka bakar di beberapa titik, kedua kakinya nyaris  lumpuh, kulit tubuh dan kepalanya terkelupas, jari tengah retak, alis  matanya rusak dan yang lebih parah, bibir bagian atasnya hilang seperti  bekas guntingan&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;. Sungguh tidak manusiawi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kasus  Semiati belum selesai, kini muncul dua kasus lagi, yang kejadiannya  lebih sadis. Keken Nurjanah mati dibunuh majikannya di Kota Abha, Arab  Saudi, dan Hariyantin disiksa sampai mengalami kebutaan (Radar Surabaya,  19/11/2010).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Peristiwa  yang meninpa Sumiati, Keken, dan Hariyantin ini semakin menambah  panajng deretan korban kekerasan yang menimpa TKI di luar negeri.  Seringnya kejadian tidakmanusiawi ini, menunjukkan bahwa seakan &lt;span class="spelle"&gt;keberadaan TKI di luar negeri hanya dijadikan pelengkap penderita yang dapat diperah dan dieksploitasi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Arab  Saudi—selain Malaysia—merupakan negara luar yang sangat sering  melalukan kekerasan terhadap TKI. Kekerasannya pun tidak  tanggung-tanggung.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt; Laporan lembaga pemantau hak asasi manusia &lt;i&gt;Human Rights Watch&lt;/i&gt; (HRW) yang berpusat di New York, Amerika Serikat&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt; tahun 2008 merilis pelanggaran serius HAM  terhadap pekerja rumah tangga &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;ada &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt;di Arab Saudi.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Di sana, &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt;banyak &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;ditemukan &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt;PRT &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;(pembantu rumah tangga) &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt;harus bekerja 18 jam sehari, tujuh hari seminggu. Selain itu&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt; beban kerja berlebih dengan gaji tidak dibayar dalam rentang waktu beberapa bulan sampai 10 tahun&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kalau kita telisik, kenapa hal itu sering terjadi? menurut&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt; Andi Purwono, dosen Hubungan Internasional&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; dan &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt;Dekan FISIP Universitas Wahid Hasyim Semarang&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;, bahwa semua itu &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt;bersumber dari sistem hukum di negara itu &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;(Arab Saudi) &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt;yang tidak mengakui HAM berlaku secara universal&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;. Karenanya, maka terjadinya perkosaan, pelecehan seksual, penganiayaan atau pelanggaran HAM lainnya, sangatlah rawan.&lt;span class="spelle"&gt;  Bahkan pengguna TKI di luar negeri, selama ini tidak merasa punya  kewajiban melindungi TKI sesuai dengan aturan hukum dan HAM Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Selanjutnya,  bagi pemerintah dalam negeri sendiri, hal itu menunjukkan lemahnya  perlindungan terhadap TKI di luar sana. Lemahnya perlindungan terhadap  TKI disebabkan antara lain, pertama, pemerintah melalui aparat terkait  di luar negeri selama ini secara diplomatik belum siap melindungi para  TKI yang menghadapi permasalahan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kedua,  perlindungan TKI di luar negeri juga dihadapkan pada masalah kurang  atau tidak adanya kedisiplinan dan pertanggungjawaban yang  sungguh-sungguh dari aparat pemerintah yang bertugas di KBRI/KJRI untuk  melindungi TKI di negara-negara tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Dari dua point di atas, maka bagi pemerintah Indonesia, setidaknya bisa atau harus; pertama,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt;membuat perjanjian bilateral dengan pemerintah Arab Saudi untuk memastikan perlindungan pekerja migran berbasis HAM&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt;  Tekanan kepada Saudi bisa dilakukan dengan membentuk kaukus negara  pengirim pekerja (Indonesia, Sri Lanka, Filipina, Nepal) bersatu untuk  melakukan perundingan dengan negara penerima agar posisi tawarnya  seimbang. Apalagi, Saudi sangat berkepentingan terhadap keberadaan  pekerja migran. Di negara tersebut, terdapat lebih dari 8 juta buruh  migran (sepertiga penduduk Saudi). Mereka mengisi kekosongan di bidang  kesehatan, konstruksi, dan pekerjaan domesti&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;k.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kedua,&lt;/span&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt; melakukan perjanjian tertulis (MoU)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;. B&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt;aik perjanjian antara Indonesia dan negara pengguna TKI (G to G) maupun pemerintah Indonesia dengan pihak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;-&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt;pihak yang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt;berkepentingan menggunakan jasa TKI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Sampai  saat ini tidak ada perjanjian yang lebih khusus antara pemerintah  Indonesia dengan pihak pengguna TKI langsung. Adanya cuma dua bentuk  perjanjian, sebagaimana di atur dalam sebagaimana diatur dalam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt; Perpres No 81 Tahun 2006 berkaitan dengan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt;(BNP2TKI)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; dan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt; Inpres No 6 Tahun 2006&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;; 1) &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt;perjanjian  antara Pemerintah Indonesia dan negara tujuan penempatan TKI atau  pemerintah negara Indonesia dengan pengguna yang berbadan hukum di  negara tujuan penempatan TKI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; dan 2)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt; perjanjian antara pemerintah negara Indonesia dan negara penerima TKI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kedua  perjanjian yang ada di atas sama sekali tidak mempersyaratkan dibuatnya  perjanjian yang lebih khusus dengan pihak pengguna langsung, seperti  unit-unit rumah tangga untuk sektor TKI pembantu rumah tangga. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="EN-US" &gt;Ketiadaan  persyaratan perjanjian secara langsung ini menyebabkan lemahnya posisi  tawar dan perlindungan hak asasi TKI pembantu rumah tangga kala  berhadapan dengan pihak majikannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Ahkir  kata, kiranya sudah saatnya ada kebijakan-kebijakan tertentu dari  negara yang benar-benar menjamin keberadaan TKI di luar negeri, tentunya  dengan pembuktian dan aksi yang konkrit.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="spelle"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;*telah dimuat di Radar Surabaya (33/11/2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-4569268599731068838?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/4569268599731068838/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/11/perkuat-lagi-perlindungan-terhadap-tki_30.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/4569268599731068838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/4569268599731068838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/11/perkuat-lagi-perlindungan-terhadap-tki_30.html' title='Perkuat (Lagi) Perlindungan Terhadap TKI*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TPWQZTgri1I/AAAAAAAAAgk/CFU0p2terbw/s72-c/tki-sumiati---detik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-5074518644742283329</id><published>2010-11-15T18:28:00.000-08:00</published><updated>2010-11-15T18:35:07.667-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Membaca Perbedaan Penetapan Idul Adha</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TOHtTr8oi9I/AAAAAAAAAgU/zOPALBuVio4/s1600/Rukyatul%2BHilal.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 156px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TOHtTr8oi9I/AAAAAAAAAgU/zOPALBuVio4/s320/Rukyatul%2BHilal.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539969939112758226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: 150%"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"  style="'line-height:150%;font-family:font-size:12.0pt;"&gt;Oleh: Abd. Basid&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sempat&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="IN"  style="';font-size:12.0pt;"&gt; terjadi perselisihan ketika penulis bersama teman-teman Ikatan Mahasiswa Bata-Bata (IMABA) Pusat ingin menentukan tanggal dan hari pelaksanaan sebuah acara besar yang rencananya akan diadakan pas setelah hari Idul Adha 1431 H. Ketika itu, rapatnya bertempat di Surabaya, tepatnya di kampus IAIN Sunan Ampel.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN"  style="';font-size:12.0pt;"&gt;Ada teman penulis bilang; “kalau yang tanggal 16 itu Muhammadiyah dan yang tanggal 17 adalah NU”. Ketika ada perbedaan dalam penetapan hari raya (baik Fitri maupun Adha) di Indonesia ini—khususnya di Jawa Timur—yang terbaca memang pasti langsung mengarah pada Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Hal ini wajar mengingat selama ini yang terkesan “bermusuhan” adalah dua ormas tersebut. Dalam penetapan jatuhnya hari raya NU merepresentasikan &lt;i&gt;rukyah&lt;/i&gt;, sedangkan Muhammadiyah merepresentasikan &lt;i&gt;hisab&lt;/i&gt; melalui doktrin &lt;i&gt;wujudul hilal&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN"  style="';font-size:12.0pt;"&gt;Perbedaan dalam penetapan Idul Adha tahun ini, 2010, memang terjadi. Muhammadiyah dan Hisbut Tahrir Indonesia (HTI) merayakan Idul Adha pada tanggal 16/11 dan pemrintah melalui Kementrian Agama memutuskan satu hari setelahnya, yakini 17/11. Begitu juga dengan Nahdatul Ulama’ (NU).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt; text-align:center;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN"  style="';font-size:12.0pt;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN"  style="';font-size:12.0pt;"&gt;Sebetulnya tidak hanya karena perbedaan doktrin dua ormas itu yang memicu adanya perbedaan dalam penetapan hari raya di Indonesia ini. Selain dua ormas tersebut pemerintah juga kadang ada perbedaan, meski pada dasarnya representasinya sama dengan NU, hanya saja pemerintah masih mensyaratkan ketinggian &lt;i&gt;hilal&lt;/i&gt; yang &lt;i&gt;dirukyah&lt;/i&gt; mencapai ketinggian &lt;i&gt;imkan al-rukyah&lt;/i&gt; (kemungkinan rukyah).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN"  style="';font-size:12.0pt;"&gt;Selain itu, ada aliran di luar dua ormas islam tersebut yang mengaitkan Idul Adha dengan pelaksanaan ibadah haji. Aliran ini biasa disebut dengan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Menurut DDII&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="'font-size:"&gt; penetapan hari Idul Adha &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="';font-size:12.0pt;"&gt;itu &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="'line-height:150%;font-family:font-size:12.0pt;"&gt;harus mengikuti penetapan Kerajaan Arab Saudi (KAS). &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="'line-height:150%;font-family:font-size:12.0pt;"&gt;Menurut aliran inii&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="'font-size:"&gt; ada dalil yang menyebutkan bahwa haji adalah wukuf di Arafah tanggal 9 Dzulhijjah&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="'line-height:150%;font-size:12.0pt;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="'line-height:150%;font-family:font-size:12.0pt;"&gt; sehingga besoknya umat Islam di mana pun mereka &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="'line-height:150%;font-family:font-size:12.0pt;"&gt;berada &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="';font-size:12.0pt;"&gt;harus &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="'line-height:150%;font-family:font-size:12.0pt;"&gt;melaksanakan &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="';font-size:12.0pt;"&gt;shalat Idul Adha&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="'line-height:150%;font-size:12.0pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN"  style="';font-size:12.0pt;"&gt;Berbeda lagi dengan Persis (Persatuan Islam). Menurut Persis, di samping mengikuti penetapan KAS dalam Idul Adha, ada juga kriteria &lt;i&gt;imkan al-rukyah&lt;/i&gt;, tanpa harus &lt;i&gt;merukyah&lt;/i&gt;, kriteria ini sama halnya dengan penetapan tahun baru Hijriah, yaitu jika menurut hisab hilal sudah mencapai ketinggian 2 derajat, maka besoknya berarti sudah bulan baru, Hijrah. Jadi, jika pada Idul Fitri perbedaan tersebut disebabkan doktrin &lt;i&gt;rukyah&lt;/i&gt; (NU), &lt;i&gt;imkan al-rukyah plus rukyah&lt;/i&gt; (pemerintah), &lt;i&gt;wujudul hilal&lt;/i&gt; (Muhammadiyah), dan &lt;i&gt;imkan al-rukyah&lt;/i&gt; semata untuk Idul Adha ditambah dengan satu doktrin lagi, yaitu mengikuti penetapan KAS.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN"  style="';font-size:12.0pt;"&gt;Seumpamanya kita menyikapi perbedaan cara dan doktrin dari lima aliran di atas bagaimana kalau kita lihat dari dara hilal tanggal 6 November (awal Dzulhijjah) kemarin. Mari kita hitung secara eksak. Dilihat dari data hilal 6 November 2010 kemarin; &lt;i&gt;ijtima’&lt;/i&gt; (konjungsi) untuk WIB terjadi pukul 11,52 dan ketika matahari terbenam ketinggian hilal di Indonesia antara 1 derajat 48 menit 42 detik (Pelabuhanratu) dan 0 derajat 58 menit 34 detik (Merauke).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN"  style="';font-size:12.0pt;"&gt;Selanjutnya, jika berdasarkan data hilal di atas, dan berdasarkan pengalaman, rukyah hampir bisa dikatakan sulit menelurkan hasil, terlebih ketika cuaca tidak cerah. Dan kalau merujuk pada tiap-tiap doktrin tersebut, kemungkinan besar pemerintah dan NU menetapkan awal Dzulhijjah 1431 H jatuh pada 7 November 2010 sore (habis magrib) sehingga Idul Adha jatuh pada Rabu, 17 November.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN"  style="';font-size:12.0pt;"&gt;Sedangkan Persis yang sudah menetapkan doktrin &lt;i&gt;imkan al-rukyah&lt;/i&gt; dengan ketinggian hilal 2 derajat pasti menetapkan awal Dzulhijjah 1431 pada 7 November sore sehingga Idul Adha bagi pengikut aliran ini akan jatuh pada Rabu, 17 November.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN"  style="';font-size:12.0pt;"&gt;Hal ini berbeda dengan Muhammadiyah yang menganut doktrin &lt;i&gt;wujudulhilal&lt;/i&gt;. Bagi ormas ini selama konjungsi jatuh sebelum magrib dan bulan terbenam sesudah matahari, besoknya adalah bulan baru. Maka awal Dzulhijjah 1431 H jatuh pada 6 November sore (habis magrib) dan Idul Adha jatuh pada Selasa, 16 November. Sedangkan DDII dan yang sepaham akan bergantung kapan KAS menetapkan awal Dzulhijjah 1431 H.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN"  style="';font-size:12.0pt;"&gt;bagaimana cara kita membaca perbedaan penetapan tersebut? Akankah kita berdebat kusir akan hal itu? Hemat penulis, hal itu tidaklah usah dipermasalahkan. Hal itu sebagai kemudahan karena siapa pun bisa memilih yang lebih diyakini mengingat hasil penetapan itu adalah ijtihad dan ijtihad adalah pilihan. Yang sejatinya harus kita dengungkan adalah nilai pengurbanan dari Idul Adha itu sendiri, terutama melihat saat ini banyak saudara kita yang tertimpa musibah alam seperti halnya di Mentawai dan Merapi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN"  style="';font-size:12.0pt;"&gt;Pada saat ini, memberikan uang (yang tadinya diniatkan untuk beli hewan kurban) kepada saudara kita yang lagi tertimpa bencana lebih mendatangkan manfaat. Apalagi kalau kita melihat bahwa berkurban itu sunnah hukumnya dan menolong orang yang susah hukumnya &lt;i&gt;sunnah muakkad&lt;/i&gt; (sangat dianjurkan)—bahkan mungkin bisa wajib. &lt;i&gt;Wallahu a’lam...&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-5074518644742283329?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/5074518644742283329/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/11/membaca-perbedaan-penetapan-idul-adha.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/5074518644742283329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/5074518644742283329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/11/membaca-perbedaan-penetapan-idul-adha.html' title='Membaca Perbedaan Penetapan Idul Adha'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TOHtTr8oi9I/AAAAAAAAAgU/zOPALBuVio4/s72-c/Rukyatul%2BHilal.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-5717110845581873899</id><published>2010-11-08T15:49:00.000-08:00</published><updated>2010-11-08T15:53:00.386-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gagasan'/><title type='text'>Pintaku Pada Wali Kota Surabaya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TNiNRuOEISI/AAAAAAAAAgM/9pjKTf4tCgg/s1600/Macet.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TNiNRuOEISI/AAAAAAAAAgM/9pjKTf4tCgg/s320/Macet.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5537331077456339234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Abd. Basid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semua&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; orang tahu kalau Jakarta merupakan kota metropilitan nomor satu dan Surabaya merupakan kota metropolitan kedua setelahnya. Maka dari itu, sudah barang tentu kalau di dua kota besar tersebut sering terjadi kemacetan dan keluhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kita tengok sejenak kota Surabaya. Di setiap harinya tidak lepas dari macet. Saya yang tinggal di Jl. A. Yani selalu melihat pemandangan itu. Tidak hanya itu, saya juga menemukan kekurang lengkapan fasilitas yang ada di sepanjang jalan kota Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalan hal ini (hal kekurangan) saya contohkan apa yang ada di depan Royal Plaza. Di sana tidak ada lampu lalu lintas, lintasan penyebrangan (zebra cross), jembatan dan sejenisnya. Padahal jalan raya itu, sering dilintasi dan disebrangi para pengunjung dan anak sekolahan, SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Royal Plaza merupakan salah satu pusat perbelanjaan yang di dalamnya ada toko-toko, mulai dari pernak-pernik, restoran, toko buku (Gramedia), bioskop dan lainnya. Dari sekian banyak dan bermacam-macamnya fasilitas yang ada di dalamnya sudah pasti pengunjungnya tidak sedikit dan datangnya (juga) dari berbagai penjuru, baik lokal maupun luar. Ketika seperti ini, maka hal ini merupakan salah satu kebanggaan kota Surabaya dan pemimpinnya (wali kota).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, di belakang Royal Plaza itu terdapat sekolah SD yang pastinya rame dan dari mereka tidak semuanya berkendaraan pribadi. Banyak di antara mereka yang bersepeda ontel, ngelyn, dan sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi sorotan saya di sini, ketika para pengunjung Royal Plaza dan anak SD tersebut berangkat dan pulang dengan pengambilan jasa lyn (angkot) dan harus menyebrang di depan Royal Plaza. Ketika seperti itu sudah barang pasti, jalan depan Royal Plaza yang tidak pernah sepi dari kendaraan sangat berbahaya bagi mereka yang menyebrang di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika, saya dengan tiga teman cewek nonton filmnya Opick, “Di Bawah Langit” di bioskop 21 di Royal Plaza tersebut. Kami yang ngelyn dan datangnya dari arah selatan tidak menemukan masalah (baca: keluhan), akan tetapi ketika kita mau pulang, maka kita mau tidak mau harus nyebrang jalan untuk menunggu lyn pulang ke arah selatan (lagi). Dalam proses nyebrang itu, saya yang hanya seorang cowok harus menjadi pengomando untuk bisa nyebrang dan melintas di depan Royal Plaza tersebut. Karena lalu-lalang kendaraan yang sulit untuk menemukan celah lenggang, waktu itu kita tidak secepat kilat langsung nyebrang, akan tetapi kita harus mencari celah lenggang kendaraan yang sekiranya tidak berbahaya bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira hal yang saya alami ini tidak hanya terjadi pada saya dan tiga teman saya tadi, melainkan juga terjadi pada orang lain yang ingin nyebrang di sana. Terbukti waktu itu banyak orang yang mau nyebrang dan senasib dengan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya, melihat lalu-lalang kendaraan yang tidak pernah sepi dan banyak orang menyebrang di sana, kiranya menjadi kewajiban bagi pemerintah kota Surabaya khususnya, selaku yang mengurus dan menata kota Surabaya, untuk mencegahnya dengan memberikan solusi terbaik, karena bagaimana pun juga memberikan solusi akannya juga berarti mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan. Ketika seperti itu, memberi solusi berarti sudah berusaha mengurangi meningkatnya angka kecelakaan, yang juga berarti menyelamatkan generasi penerus (bangsa) ini—karena dari mereka nantinya akan lahir kader-kader unggul bagsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemat saya, ada beberapa hal yang bisa dijadikan solusi akan masalah di atas. Pertama, penyediaan petugas lalu lintas di setiap saat. Petugas lalu lintas di sina dimaksudkan untuk mengawal mereka yang mau nyebrang, dengan harapan nantinya para penyebrang merasa lebih yakin dalam keamanannya. Dan selain itu, kalau ada apa-apa nantinya (juga) bisa lebih cepat teratasi karena di sana sudah ada petugas. Jadi, petugas lalu lintas di sana tidak hanya bertugas mengawasi dan mengatur biar jalannya lalu lintas tidak macet, akan tetapi juga berperan mengawal mereka yang mau nyebrang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, penyediaan zebra cross. Seperti yang sudah jamak. Ketika ada zebra cross, maka pengendara yang lewat di sana secara otomatis akan menurunkan kecepatan kendalinya. Dan alangkah lebih baiknya lagi umpamanya juga ada zebra cross dan petugas lalu lintas, seperti halnya di depan rumah sakit Bhayangkara, dekat Kapolda Jatim. Di sana ada zebra cross untuk orang yang mau menyebrang dan juga ada petugas—meski tidak setiap saat—yang mengawal mereka yang mau nyebrang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pengadaan tangga penyebrangan yang melintasi dan menyambung dari depan Royal Plaza (barat) ke arah timur. Jika tangga penyebrangan ini di-ada-kan, maka secara otomatis solusi yang pertama dan kedua di atas tidak perlu di-ada-kan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi yang ketiga ini memang lebih banyak menghabiskan biaya, akan tetapi, hemat saya, buat apa kita memperhitunkang biaya banyak demi kepentingan khalayak umum. Toh, jika tangga penyebrangan ini dilintangkan, maka nantinya di sana juga ada keuntungan materi untuk pemkot Surabaya, yang lambat laun nantinya bisa menutupi biaya untuk pengadaan jembatan penyebrangan itu. Keuntungan materi yang saya maksud di sana adalah nantinya di sana bisa disediakan space iklan untuk siapa saja. Dari ongkos space iklan tadi pastinya masuk kas kota dan bisa menutupi biaya mengadaan jembatan penyebrangan tersebut. Solusi ketiga ini bisa dilihat seperti yang ada di depan kampus IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Sunan Ampel atau Ubhara (Universitas Bhayangkara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan IAIN terdapat jembatan penyebrangan yang melintang menjembatani siapa yang mau nyebrang (khusunya mahasiswa) dari arah timur ke barat atau sebaliknya. Di sebrang barat jemabatan itu ada Ubahara, Graha Pena (Jawa Pos), dan Kapolda Jatim. Dan di sebrang timur kampus IAIN Sunan Ampel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, jika di depan Royal Plaza dibangun jembatan penyebrangan, maka hal itu pasti lebih aman dan menjanjikan untuk keselamatan masyarakat lokal dan umum.&lt;br /&gt;Kiranya, seperti itulah yang saya temukan di salah satu sudut kota Surabaya, kota metropolitan kedua ini. Besar harapan jika “keluhan” ini sama pemerintah kota Surabaya tidak dianggap sebagai angin lewat. “Keluhan” ini merupakan keluhan cinta saya terhadap Surabaya. Hanya ini pintaku pada jenengan wali kota baruku.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-5717110845581873899?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/5717110845581873899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/11/pintaku-pada-wali-kota-surabaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/5717110845581873899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/5717110845581873899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/11/pintaku-pada-wali-kota-surabaya.html' title='Pintaku Pada Wali Kota Surabaya'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TNiNRuOEISI/AAAAAAAAAgM/9pjKTf4tCgg/s72-c/Macet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-2536060921313611732</id><published>2010-11-05T00:05:00.001-07:00</published><updated>2010-11-05T00:15:44.247-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Jejak Kisah Sang Pendiri Muhammadiyah*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TNOtNR9ie2I/AAAAAAAAAfU/nXzff0whyl0/s1600/Cover+Jejak+Sang+Pencerah.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 202px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TNOtNR9ie2I/AAAAAAAAAfU/nXzff0whyl0/s320/Cover+Jejak+Sang+Pencerah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535958810639891298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; banyak macam dan tipe seorang pembaca buku dalam menentukan buku apa yang akan dibaca dan dikoleksi. Ada yang memilah dan memilih siapa dulu penulisnya dan ada juga yang sebaliknya-yang penting buku bacaan dan menarik, akan ia baca. Dan bagi pembaca buku yang tidak begitu memperhatikan seorang penulis bukunya, mungkin akan beranggapan bahwa novel ini adalah novel yang diangkat dari sebuah layar lebar garapan Hanung Bramantyo, yang sempat meramaikan per-bioskop-an di seluruh Indonesia ini, yakni "Sang Pencerah", yang ditulis oleh Akmal Nasery Basral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tunggu dulu, novel ini bukanlah novel karya Akmal Nasery Basral yang diangkat dari layar lebarnya Hanung, yang diterbitkan oleh Mizan dengan judul "Sang Pencerah; Novelisasi Kehidupan K.H. Ahmad Dahlan dan Perjuangannya Mendirikan Muhammadiyah", akan tetapi novel ini adalah karya Didi L. Hariri, yang diberi judul hampir sama yaitu "Jejak Sang Pencerah; Sebuah Novel Biografi [Ahmad Dahlan]", yang diterbitkan oleh Best Media Utama, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaannya terletak pada kedua penulisnya. Jika yang pertama, Akmal Nasery Basral, dalam menggambarkan sosok K. H. Ahmad Dahlam menggunakan sudut pandang "aku", namun yang kedua, Didik L. Hariri, menggunakan sudut pandang "dia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ketenaran mungkin karya pertama lebih tenar, karena memang terbit lebih dulu (Juni) dan diterbitkan penerbit besar, Mizan. Namun, dalam segi pengolahan dan penokohannya, yang kedua tak kalah lihainya meski terbit belakangan (Juli).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan latar belakang penulisnya yang seorang budayawan, novel ini semakin enak dibaca dan renyah dikunyah. Didik L. Hariri yang pernah ditahbiskan sebagai budayawan muda Indonesia idealis oleh Muhammadun Yossi Herfanda, berhasil menggambarkan sosok K. H. Ahmad Dahlan sebagai sosok kharismatik dalam bentuk karya fiksi (novel). Dengan mudahnya ia mengalirkan alur cerita di dalamnya dan mengupasnya secara utuh jejak pemikiran dan perjuangan K. H. Ahmad Dahlan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggunakan konsep "imajinasi" dan "asosiasi" dalam pengumpulan data, menambah novel ini seakan bertutur dengan sendirinya. Dinamika seorang tokoh di dalamnya menjadi terasa bergerak sesuai kronologi yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Ahmad Dahlan bukanlah nama yang diberikan orang tuanya sejak kecil, akan tetapi nama itu adalah nama yang dipakainya setelah ia datang dari tanah suci Mekah. Nama kecilnya adalah Muhammad Darwis putera Ketib Amin Haji Abu Bakar, salah seorang dari 12 ketib kraton yang bertugas di masjid Gedhe Yogyakarta. Darwis adalah sosok anak yang cerdas dan teguh pendirian. Sejak berumur 10 tahun dia sudah pandai membaca Al-Qur'an. Kemampuan otaknya pun melebihi anak-anak sebaya dan sepermainannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan namanya dari Darwis menjadi Ahmad Dahlan berawal ketika dia berhaji ke Mekah. Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi lah yang memberikan nama itu. Salah satu ulama yang ditemuinya selama di Mekah. Selama lima tahun di sana ia belajar ilmu agama kepada ulama-ulama ternama yang salah satunya kepada ulama yang mengganti namanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dua Kisah Titik Perjuangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, ada dua kisah yang menjadi titik perjuangan K. H. Ahmad Dahlan dalam novel ini, yaitu perjuangannya ketika berusaha menentang tradisi masyarakat dan ketika ia hendak mengubah arah kiblat. Gagasan pembaruan Islamnya tidak jarang membuat gusar para penghulu Masjid Gedhe kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ayahnya wafat dan ia diangkat menjadi Ketib Masjid Gedhe, ia tambah berani menentang tradisi-tradisi yang ia anggap melenceng dari ajaran Islam. Ia keberatan terhadap tradisi yang memberatkan rakyat dan harus dilakukan atas nama agama, seperti halnya tahlilan. Karena itulah ia dengan begitu lantangnya menentang tradisi pendahulunya meski telah turun-temurun berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, masalah perubahan arah kiblat masjid Gedhe, Kauman. Soal kiblat inilah K. H. Ahmad Dahlan mendapat perlawanan dari Kiai Siraj Pakualaman, dan Kiai-Kiai lainnya, terutama Kiai Penghulu Kamaludiningrat, selaku Kiai yang paling tinggi status sosialnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengamatan K. H. Ahmad Dahlan, arah kiblat masjid Gedhe Kauman mengarah lurus ke Barat, padahal kiblatnya tidak persis ke barat tapi agak serong ke kanan (Barat Laut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun nama (ormas) Muhammadiyah itu berawal ketika ada pertemuan antara K. H. Ahmad Dahlan dengan organisasi Budi Utomo. Dari situlah, K. H. Ahmad Dahlan terinspirasi untuk membuat sekolah ibtidaiyah diniyah di rumahnya. Murid-muridnya waktu itu mayoritas dari kalangan rakyat kecil. Setelah itu K. H. Ahmad Dahlan membuat persyarikatan (perkumpulan). Sangidu, adik tirinya, yang kemudian mengusulkan agar nama persyarikatannya itu diberi nama "Muhammadiyah", yang berarti "pengikut Nabi Muhammad".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, sekilas, buku ini memang menceritakan tentang kisah K.H. Ahmad Dahlan, namun di balik itu semua, buku ini juga bercerita tentang perjuangan. Di dalamnya berisi tentang semangat anak muda, patriotisme anak muda dalam merepresentasikan pemikiran-pemikirannya. Novel ini adalah sebuah novel yang akan mengenalkan kita pada sosok seorang tokoh yang sudah berkontribusi besar bagi pendidikan di Indonesia. Kehadirannya patut diapresiasi, mengingat masyarakat kita yang lagi butuh bacaan yang menunjukkan nilai-nilai perjuangan bangsa dan nilai-nilai ke-Indonesia-an. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Data Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Judul      : Jejak Sang Pencerah; Sebuah Novel Biografi [Ahmad Dahlan]&lt;br /&gt;Penulis    : Didik L. Hariri&lt;br /&gt;Penerbit  : Best Media Utama, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan  : I, Juli 2010&lt;br /&gt;Tebal      : 278 halaman&lt;br /&gt;ISBN       : 978-602-96791-4-4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;*resensi ini telah dimuat di &lt;a href="http://www.harianbhirawa.co.id/opini/19067-jejak-kisah-sang-pendiri-muhammadiyah" target="_blank" alt="Harian Bhirawa"&gt;Harian Bhirawa&lt;/a&gt; (5/11/2010)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-2536060921313611732?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/2536060921313611732/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/11/jejak-kisah-sang-pendiri-muhammadiyah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/2536060921313611732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/2536060921313611732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/11/jejak-kisah-sang-pendiri-muhammadiyah.html' title='Jejak Kisah Sang Pendiri Muhammadiyah*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TNOtNR9ie2I/AAAAAAAAAfU/nXzff0whyl0/s72-c/Cover+Jejak+Sang+Pencerah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-6100903392965681126</id><published>2010-11-03T20:30:00.000-07:00</published><updated>2010-11-03T20:33:03.310-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gagasan'/><title type='text'>Ironi Jalur Pedestrian di Surabaya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TNIpaKqCsRI/AAAAAAAAAfM/iQgE1tTLEZE/s1600/Pedestrian.jpeg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 259px; height: 194px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TNIpaKqCsRI/AAAAAAAAAfM/iQgE1tTLEZE/s320/Pedestrian.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535532421505790226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Abd. Basid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jalan&lt;/span&gt; jalur pedestrian adalah jalur khusus bagi pejalan kaki yang ada pas di pinggir jalan utama, yang biasanya keberadaannya dibuat tinggi ketimbang jalannya kendaraan. Kalau di Surabaya jalur ini dicirikan dengan warna merah bata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Surabaya, keberadaan jalur pedestrian ini semakin mempercantik kota dan membuat nyaman bagi pejalan kaki. Meski belum semua ruas jalan kota Surabaya disediakan jalur pedestrian, namun saat ini masyarakat dan para pejalan kaki sudah mulai merasakan enaknya berjalan kaki di kota ini, karena sudah tidak menemukan jalan bergelombang dan rusak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalur ini bisa kita temukan di Jalan Basuki Rahmat, Panglima Sudirman, Pemuda, Yos Sudarso, Gubeng, Arjuna, Mayjen Sungkono, Darmawangsa, Kertajaya dan lainnya. Di jalur pedestrian ini semuanya menjadi indah dan rapi. Para pejalan kaki pun senang. Mungkin semua orang akan merasa dan mengakui kenyamanannya ketika berjalan kaki di kota metropilitan kedua setelah Jakarta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, yang menjadi ironi ketika jalur ini dijadikan sebagai bagian dari ladang usaha oleh pedagang kaki lima (PKL). Bahkan parahnya lagi ketika digunakan sebagai lahan parkir. Ketika seperti itu, maka pejalan kaki yang berhak di sana harus mengalah. Seperti yang terlihat di kawasan Arjuna, Gubeng, Darmawangsa, dan Kertajaya. Di sana meski sudah ada tanda plang (papan) dilarang parkir, masih ada saja kendaraan yang parkir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa hal itu bisa terjadi? Semua itu terjadi tidak lain karena tidak adanya keseimbangan dan kesadaran tanggung jawab dari sebagian masyarakat Surabaya dalam usaha memajukan kotanya. Semunya masih egois.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana agar jalur pedestrian ini tidak terganggu oleh kepentingan lain? Ada beberapa langkah yang bisa ditempuh. Pertama, perlunya penataan kembali terhadap bangunan dan gedung yang tidak dilengkapi fasilitas parkir. Karena, sayang meski ruas jalan dilengkapi jalur pedestrian, jika bangunan dan gedung yang ada tidak ada fasilitas parkir. Seperti halnya di Pengadilan Negeri Surabaya di Jalan Arjuna. Akibat dilarang parkir di halaman gedung, pengunjung memarkir kendaraannya di jalur pedestrian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, tindakan tegas Dishub. Dishub Surabaya harus bertindak tegas terhadap mereka yang sudah mengambil hak pejalan kaki. Hal ini bisa dengan sering-sering menggelar operasi dengan melibatkan mereka yang berwajib menindak bagi yang melanggar, yaitu kepolisian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang ketahuan melanggar bisa ditindak tegas dengan sanksi, mulai dari peringatan tertulis sampai penilangan. Meskipun demikian hal ini juga diperlukan tersedianya sarana dan prasarana, semisal tim penertiban, mobil operasinal, mobil derek dan lainya. Karena jika sarana dan prasana tidak lengkap, maka sebuah solusi akan tinggal wacana belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, penempatan tiang agar jalur pedestrian tidak dijamah tangan-tangan tak bertanggung jawab. Cara yang ketiga ini bisa menjadi cara alternatif ketika ketersediaan sarana dan prasana penertiban cara yang kedua di atas minim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, adanya jalur pedestrian ini adalah salah satu upaya untuk menjadikan Surabaya menjadi kota yang lebih baik. Selanjutnya, agar Surabaya menjadi kota yang lebih baik dan nyaman bagi masyarakatnya, maka diperlukan kesadaran dari semua kalangan. Karena kalau semuanya sudah ada pada tempatnya, maka pejalan kaki akan merasa nyaman tidak terganggu dan terambil haknya untuk menikmati mulusnya tapakan kaki. Begitu juga bagi pengendara.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-6100903392965681126?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/6100903392965681126/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/11/ironi-jalur-pedestrian-di-surabaya.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/6100903392965681126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/6100903392965681126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/11/ironi-jalur-pedestrian-di-surabaya.html' title='Ironi Jalur Pedestrian di Surabaya'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TNIpaKqCsRI/AAAAAAAAAfM/iQgE1tTLEZE/s72-c/Pedestrian.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-7688279197886354951</id><published>2010-11-03T20:11:00.000-07:00</published><updated>2010-11-03T20:14:46.438-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Pesan Simbolisasi Mbah Maridjan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TNIlHJ1J2kI/AAAAAAAAAfE/ziFzlC5ItXo/s1600/Mbah+Maridjan.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 243px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TNIlHJ1J2kI/AAAAAAAAAfE/ziFzlC5ItXo/s320/Mbah+Maridjan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535527696819935810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Abd. Basid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang berakhirnya tahun 2010 ini berbagai bencana alam datang bertubi-tubi menerpa Indonesia. Setidaknya ada tiga bencana alam di akhir bulan ini; 1) banjir Wasior, 2) tsunami Mentawai, dan 3) meletusnya Gunung Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sangat dan langsung hangat menjadi bibir pembicaraan dari tiga bencana di atas adalah meletusnya Gunung merapi. Hal ini, salah satu faktornya, mungkin karena salah satu korban yang meninggal ada Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi, yang terkenal sangat amanah mengemban tugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada tiga pesan yang dapat kita ambil dari meninggalnya Mbah Maridjan ini. Lebih-lebih bagi pemerintah bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, simbolisasi kesetiaan; diberitakan sebelum Mbah Maridjan meninggal dunia, dia tidak mau ketika diajak untuk meninggalkan rumah untuk dievakuasi. Secara nalar mungkin keputusan Mbah Maridjan ini terkesan bodoh. Akan tetapi kalau dicermati lagi, maka di sanalah ada simbolisasi kesetiaannya Mbah Maridjan sebagai abdi dalem keraton Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbah Maridjan yang sudah 28 tahun menjabat sebagai juru kunci Gunung Merapi dengan begitu setia mengemban amanat, tanpa harus memikirkan nyawa dirinya sendiri. Demi mengemban tugas, nyawa pun dia taruhkan. Dari sini, dapat disimpulkan bahwa bagi Mbah Maridjan mengemban amanat itu harus dijaga dengan tahruhan nyawa. Dia tidak mau tinggal gelanggang colong playu, lari dari tugas dan tanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal inilah yang harus dicamkan oleh pemerintah Indonesia ini. Pemerintah yang katanya atas nama rakyat. Banyak wakil rakyat di Indonesia ini yang katanya atas nama rakyat tapi kenyataannya masih lebih mementingkan dirinya sendiri. Maka wajar dan benar adanya ungkapan, “yang miskin tambah nelongso dan yang kaya tambah ngeroso”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja apa yang terjadi pada korban tsunami Mentawai. Selama di pengungsian, mereka kesulitan masalah pangan dan obat-obatan. Bahkan kabarnya selama tiga hari mereka tidak ada (baca: datang) bantuan dari pihak pemerintah. Tidak ada gunanya meski ribuan personel TNI AD dan polisi dikirim jika tidak diimbangi dengan materi untuk para korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, yang sudah agak lama menghilang dari perbincangan adalah bencana banjir Wasior. Masih melekat di ingatan kita ketika presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) menyatakan bahwa Wasior akan utuh kembali dalam jangka waktu empat bulan. Tapi, apa yang terjadi? Sampai saat ini—meski belum nyampek 4 bulan—belum ada tindakan lebih lanjut. Tidak ada follow up dari wacana yang digulirkan. Ketika seperti ini, maka pernyataan SBY itu terkesan asal-asalan. Maka, rasanya tidak keliru ketika ada yang bilang bahwa SBY adalah dan hanyalah presiden pencitraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada setiap bencana yang menimpa Indonesia seakan tidak pernah dijadikan bahan pembenahan dan pembelajaran. Di setiap ada bencana Indonesia (baca: SBY) seakan mulai dari nol lagi. Coba kita hitung, sudah berapa kali terjadi bencana di Indonesia ini selama masa pemerintahan SBY? Mulai dari tsunami di Aceh sampai yang terbaru meletusnya Gunung merapi ini, tapi SBY masih saja ada pada  titik nol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, simbolisasi tauhid; seperti yang kita ketahui bersama bahwa Mbah Maridjan ditemukan meninggal dalam keadaan sujud. Hal ini menunjukkan bahwa betapa pun ruwetnya keadaan hidup di dunia ini, jalan satu-satunya adalah bersujud (baca: minta kepada Tuhan yang satu/esa). Di era modern ini tidak sedikit dari kita yang sudah lupa akan keberadaan sang pencipta. Kita tidak jarang dibuat lupa dengan kesibukan kita tanpa harus memperhatikan kebutuhan batin kita. Bahkan tanpa disadari kadang kita menuhankan teknologi dan sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran inilah yang harus kita ambil. Dalam situasi yang sangat gawat Mbah Maridjan tetap pasrah kepada Tuhan. Bahkan tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga bagi keselamatan rakyat Yogyakarta—khususnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, simbolisasi nasionalisme. Posisi sujud Mbah Maridjan ketika menigggal dunia menunjukkan betapa begitu cintanya Mbah Maridjan terhadap buminya, Merapi. Ajaran jawa; sedumuk bathuk senyari bumi ditohi pati (sejengkal tanah akan dibela sampai mati), benar-benar Mbah Maridjan pegang. Luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, tiga pesan simbolisasi di atas itulah yang dipersembahkan Mbah Maridjan terhadap kita/Indonesia di akhir hayatnya. Tuhan melalui Mbah Maridjan memperingatkan kita semua (baca: rakyat bawah) agar tidak selalu mementingkan diri sendiri, dekat dengan sang khalik (pencipta), dan cinta tanah air. Bagi pemimpin untuk selalu atas nama rakyat secara hakiki, dekat dengan sang khalik, dan tidak “menjual” negara.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-7688279197886354951?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/7688279197886354951/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/11/pesan-simbolisasi-mbah-maridjan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/7688279197886354951'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/7688279197886354951'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/11/pesan-simbolisasi-mbah-maridjan.html' title='Pesan Simbolisasi Mbah Maridjan'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TNIlHJ1J2kI/AAAAAAAAAfE/ziFzlC5ItXo/s72-c/Mbah+Maridjan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-7920625435824798018</id><published>2010-10-30T18:45:00.000-07:00</published><updated>2010-10-30T18:50:49.836-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Kisah-Kisah Bijak Penuh Teladan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TMzLJR-xGiI/AAAAAAAAAe8/SfQUH3XLmnc/s1600/Cover+Buku+Nasehat+orang+Gila.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 309px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TMzLJR-xGiI/AAAAAAAAAe8/SfQUH3XLmnc/s320/Cover+Buku+Nasehat+orang+Gila.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5534021402437425698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Abd. basid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kalau&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; kita mencari figur teladan, maka Nabi Muhammad lah yang patut dicontoh. Pada diri Nabi Muhammad terdapat suri tauladan yang baik. Sesuai dengan firman Allah swt.; “sesungguhnya pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik” (QS. Al-Ahzab: 21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, ketika kita yang sudah tidak pernah hidup pada zaman Nabi bisa mengetahui sifat-sifat Nabi dari dan lewat sahabat-sahabatnya yang pastinya sudah terpercaya. Interaksi sahabat dengan Nabi juga bisa dijadikan rujukan atau teladan untuk masa depan kita sebagai umat Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku “Nasehat Orang Gila” yang ditulis oleh Imam Ahmad Nizar berisikan kisah-kisah teladan pembangkit iman yang diambil dari kisah para sahabat Nabi Muhamad. Buku ini bisa kita jadikan bahan rujukan untuk melihat seperti apa perjalanan hidup masa lalu (masa Nabi dan Sahabat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalamnya berisikan 70 kisah teladan yang terbagi pada 5 bagian. Bagian pertama berisikan 27 kisah yang menggambarkan akan rona kehidupan. Bagian ini mensinyalir bahwa hidup itu berliku-liku dan penuh dengan berbagai kisah dan kejadian yang dapat kita hadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian kedua berisikan 14 kisah yang menggambarkan dan menampilkan figur-figur pilar kehidupan. Banyak figur-figur yang telah Allah swt. pertunjukkan pada umat manusia yang pastinya nanti bisa diambil ibrah bagi segenap umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian ketiga berisikan 8 kisah yang menggambarkan kesederhanaan hidup. Bagian ini mensinyalir bahwa hidup itu tidak perlu mewah dan berlebihan. Hidup yang berlebihan tidak dianjurkan oleh Nabi, bahkan dilarang oleh Allah swt.—sesuai dengan apa yang difirmankan Allah swt. bahwa berlebihan (israf) tidak lain adalah perbuatan setan (QS. Al-Isra’: 27).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian keempat berisikan 14 kisah teladah para sahabat. Para sahabat adalah generasi pertama dan teratas yang dipercaya oleh publik. Semua itu  tidak lain karena sahabatlah yang langsung berbaur langsung dan menerima hadis-hadis Nabi. Tanpa sahabat hadis tidak akan sampai pada kita. Tanpa sahabat kita tidak bisa mengetahui dan meneladani sifat-sifat Nabi. Untuk itu, orang pertama yang patut dicontoh setelah Nabi adalah sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagian kelima berisikan 11 kisah teladan yang menggiring kita untuk menuju kebenaran. Dengan mengaca pada sejarah masa lalu (masa Nabi dan Sahabat) kita bisa menemukan panutan contoh kebijakan (baca: kebenaran). Dari para sahabat kita bisa membacanya. Tidak sembarang perbuatan akan sahabat lakukan jika tidak datang dan dilarang Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kisah yang tersajikan dalam buku ini semuanya merujuk pada kisah para sabahat Nabi. Hanya beberapa kisah yang tidak menampilkan kisah para sahabat, itupun kisah para imam yang tidak dapat diragukan lagi akan krebelitas keilmuannya, seperti kisah imam Abu Hanifah yang berhasil menaklukkan Mulhid, orang sombong yang mengajak debat Syaikh Hammad bin Sulaiman (guru Abu Hanifah), mengenai keberdaan Tuhan yang tidak bertempat di suatu tempat (hal.7-17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang diungkapkan penerbit dalam pengantar redaksinya bahwa kisah-kisah di dalamnya merupakan kisah-kisah bijak yang nantinya bias menghendaki kita untuk menelusuri dunia inspiratif penuh keteladanan. Judul “Nasehat dari Orang Gila” sendiri merupakan sub judul salah satu kisah bijak  yang ada—yang kemudian redaksi gunakan sebagai judul buku, dengan tujuan ingin mensosialisasikan sifat Allah yang selalu melihat segala sesuatu dari sisi batinnya. Artinya, setiap orang berhak memperoleh nasehat dari orang gila sekalipun. Tanpa peduli pakaian yang ia kenakan, tanpa peduli keberadaannya yang tinggal sembarang tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, buku ini sangat cocok untuk dibaca semua kalangan, baik pelajar, mahasiswa, guru, pejuang maupun para pemimpin umat (masyarakat/rakyat) semesta alam, untuk bisa diteladani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Data Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Judul  : Nasehat dari Orang Gila&lt;br /&gt;Penulis  : Imam Ahmad Ibnu Nizar&lt;br /&gt;Penerbit : Najah Press, Yogyakarta&lt;br /&gt;Terbit  : I, 2010&lt;br /&gt;Tebal  : x + 338 halaman&lt;br /&gt;ISBN  : 978-602-8597-14-2&lt;br /&gt;Harga  : 38.000,00&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-7920625435824798018?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/7920625435824798018/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/10/kisah-kisah-bijak-penuh-teladan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/7920625435824798018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/7920625435824798018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/10/kisah-kisah-bijak-penuh-teladan.html' title='Kisah-Kisah Bijak Penuh Teladan'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TMzLJR-xGiI/AAAAAAAAAe8/SfQUH3XLmnc/s72-c/Cover+Buku+Nasehat+orang+Gila.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-417670507473852243</id><published>2010-10-27T23:32:00.002-07:00</published><updated>2010-11-06T07:47:39.275-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Reaktualisasi Sumpah Pemuda*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TNSuyFodulI/AAAAAAAAAfs/b6EdclzzboY/s1600/Soempah+Pemoeda.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 159px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TNSuyFodulI/AAAAAAAAAfs/b6EdclzzboY/s400/Soempah+Pemoeda.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5536242017473772114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;span&gt;Oleh: Abd. Basid&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tepat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; tanggal 28/10 diperingati Hari Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda ini lahir setelah adanya Kongres Pemuda II, 82 yang lalu. Kongres Pemuda I berlangsung di Jakarta, 30 April-2 Mei 1926. Di kongres itu, pemuda Indoensia membicarakan pentingnya persatuan bangsa bagi perjuangan menuju kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, pada 27-28 Oktober 1928, para pemuda Indonesia kembali mengadakan Kongres Pemuda II dan tepat pada 28 Oktober, seluruh peserta membacakan Sumpah Pemuda sehingga momen bersejarah tersebut ditetapkan sebagai Hari Sumpah Pemuda. Banyak tokoh yang menjadi peserta dalam Kongres Pemuda I dan II. Mereka datang mewakili berbagai organisasi pemuda yang ada saat itu. Mereka adalah wakil-wakil angkatan muda yang tergabung dalam Jong Java, Jong Islamieten Bond, Jong Sumatranen Bond, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Ambon, Minahasa Bond, Madura Bond, Pemuda Betawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini, kita tahu bahwa lahirnya Sumpah Pemuda menunjukkan begitu kuatnya hasrat kalangan muda Indonesia waktu itu. Pemuda yang waktu itu terdiri dari berbagai suku dan agama, berjuang dan bersumpah untuk menggalang persatuan bangsa dalam melawan kolonialisme Belanda, yang akhirnya mereka melahirkan sebuah sumpah yang berbunyi; “kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu: tanah Indonesia. Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu: bangsa Indonesia. Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa yang satu: bahasa Indonesia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran dan tekad bulat generasi muda saat itu untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bumi pertiwi sangatlah kuat. Dari situ lahir suatu kekuatan besar untuk bersama-sama, tanpa memandang suku, ras, golongan, mengusir penjajah dari bumi pertiwi menuju kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang; bagaimana dan seperti apa pemuda Indonesia di era modern ini? Masih adakah semangat perjuangan pemuda terdahulu di era modern ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemat saya, sudah tidak banyak pemuda sekarang yang masih idealis seperti pendahulunya. Tidak sedikit kita temukan sikap pragmatisme pemuda kita yang lebih mengedepankan pribadi; ingin kaya, terkenal, dan sukses dalam karir, berbanding terbalik dengan rendahnya partisipasinya di bidang politik dan pemasyarakatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Antara Dulu dan Sekarang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dulu penjajah memecah belah pribumi dengan menanamkan identitas etnik. Tujuannya agar tidak terjadi persatuan di tanah koloni. Hal itu yang kemudian disadari generasi muda yang melahirkan Sumpah Pemuda. Namun, kini penjajah menjajah (kembali) dalam bentuk yang sangat halus. Mereka menjajah kita dengan mencekoki pemuda dengan virus-virus negatif laiknya pragmatisme, hedonisme, dan sejenisnya. Tujuannya agar generasi masa depan pribumi “KO” dan tidak berdaya fungsi. Dan ini kayaknya belum disadari betul oleh generasi muda kita, di era modern ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, mari kita sebagai pemuda bangsa ini sebisa mungkin melawan tantangan dan jajahan ini. Karena bagaimanapun juga, kita (pemuda) adalah penerus estafet perjuangan, apabila pemuda kita dididik dengan baik tentunya masa depan suatu masyarakat (bangsa) dapat terjamin dengan baik, demikian pula sebaliknya.&lt;br /&gt;Sejarah telah membuktikan kepada kita bagaimana peranan pemuda sangat mendominasi dalam setiap perubahan yang ada di dunia ini. Eksistensi pemuda dalam suatu bangsa mutlak dibutuhkan. Bangsa tanpa pemuda, ibarat bangsa tanpa masa depan. Pada tangan pemudalah tindak-tanduk urusan umat (baca: bangsa/negara) dan pada kendali pemuda juga ada kehidupan umat. Hal ini singkron dengan ungkapan; “inna fi yadis syubbani amral ummahat, wa fi aqdamiha hayataha”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, Bung hatta, sang proklamator, dalam salah satu pidatonya yang terkenal dengan tajuk Fajar Menyingsing, pernah mengungkapkan; “pemuda Indonesia, engkau pahlawan dalam hatiku”. Selanjutnya Bung Hatta juga menambahkan; “saya percaya akan kebulatan hati pemuda Indonesia yang percaya akan kesanggupannya berjuang dan menderita”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, maksud pemuda bagi Bung Hatta di atas bukanlah sembarang pemuda. Pemuda yang dimaksud adalah sosok-sosok yang penuh idealisme, berani berkorban, berani menderita, dan menjadi pelopor setiap perubahan sosial politik untuk kepentingan bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, kiranya, reaktualisasi nilai dan semangat yang ditunjukkan generasi muda terdahulu yang melahirkan Sumpah Pemuda harus bisa menjadi sebuah keniscayaan bagi pemuda kita sekarang ini. Atau bila perlu, generasi muda saat ini melahirkan sumpah pemuda jilid II. Tujuannya, agar ada semangat baru untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TNVg_V570uI/AAAAAAAAAf8/ZuHIs_WDhTM/s1600/landscape.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 248px; height: 89px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TNVg_V570uI/AAAAAAAAAf8/ZuHIs_WDhTM/s400/landscape.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5536437958250058466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;*tulisan ini diikutkan dalam lomba &lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.soempahpemoeda.org/" target="_blank" alt="Soempah Pemoeda 2.0"&gt;Soempah Pemoeda 2.0&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt; bersama &lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.soempahpemoeda.org/?page=napak-tilas" target="_blank" alt="XL"&gt;XL&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-417670507473852243?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/417670507473852243/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/10/reaktualisasi-sumpah-pemuda.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/417670507473852243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/417670507473852243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/10/reaktualisasi-sumpah-pemuda.html' title='Reaktualisasi Sumpah Pemuda*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TNSuyFodulI/AAAAAAAAAfs/b6EdclzzboY/s72-c/Soempah+Pemoeda.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-1635817731828111693</id><published>2010-10-26T21:40:00.000-07:00</published><updated>2010-10-26T22:07:01.362-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><title type='text'>Selamat ulang tahun, Mine...*</title><content type='html'>dalam rentang usia dunia&lt;br /&gt;waktu kadang membuat kita lupa&lt;br /&gt;bahwa kita tak memiliki apa-apa&lt;br /&gt;selain cinta dan doa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biar kususun detak, kuhitung angka&lt;br /&gt;yang tanggal dari almanak&lt;br /&gt;saat Oktober menembang di tetes hujan&lt;br /&gt;melubangi atap-atap rumah kita&lt;br /&gt;juga dinding ingatan yang terus berjelaga&lt;br /&gt;aku masih menggenggammu dalam doa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika setiap derap rinduku adalah doa&lt;br /&gt;biar sujudku basah di bibir usia&lt;br /&gt;dan kutitipkan denting rindu yang gelisah&lt;br /&gt;hingga ia memucuk purna&lt;br /&gt;26 Oktober, cinta kita kian dewasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berbahagialah, Mine…!&lt;br /&gt;karena ulang tahun adalah cahaya doa&lt;br /&gt;dan waktu akan mengirimimu mantra-mantra purba&lt;br /&gt;maka sampai tamat usia senja&lt;br /&gt;dzikirku kekal di helai kamboja&lt;br /&gt;lantaran hidup hanyalah hasrat yang tak reda&lt;br /&gt;gemetar. lalu tiada…&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Surabaya, 26 Oktober 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;*puisi ini saya dedikasikan buat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;my husband to be...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-1635817731828111693?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/1635817731828111693/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/10/selamat-ulang-tahun-mine.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/1635817731828111693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/1635817731828111693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/10/selamat-ulang-tahun-mine.html' title='Selamat ulang tahun, Mine...*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-5530120954135537005</id><published>2010-10-23T15:55:00.000-07:00</published><updated>2010-10-23T23:34:50.027-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Kekuatan Pena Seorang Gus Mus</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TMNpbZabcxI/AAAAAAAAAeM/d4tXsVVjev4/s1600/Cover+Buku+Gus+Mus.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 262px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TMNpbZabcxI/AAAAAAAAAeM/d4tXsVVjev4/s320/Cover+Buku+Gus+Mus.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5531380686740222738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Abd. Basid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;K. H. A. Mustofa Bisri yang biasa disapa Gus Mus adalah seorang kiai, budayawan, dan cendikiawan kesohor yang karya-karyanya banyak diminati banyak kalangan. Tidak banyak kita menemukan seorang kiai yang serba bisa dalam mengolah kata menjadi untaian kata yang begitu bernyawa, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melahirkan karya-karyanya, Gus Mus berhasil meracik dan merangkai kata demi kata dengan rakitan kata penuh makna, sehingga menjadi kalimat-pragraf dengan bahasa pena yang sederhana nan mudah dicerna. Itulah salah satu ciri tulisan Gus Mus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kalau kita melihat puisi-puisi Gus Mus; dari semua puisi yang beliau gubah tidak sulit bagi kita untuk menangkap makna yang tersirat di dalamnya. Jika yang kita tahu dan biasa terjadi bahwa puisi itu identik dengan penggunaan dan pemilihan kata yang cenderung (sangat) personal—sehingga kadang sulit untuk dimengerti banyak orang, namun puisi Gus Mus dengan mudahnya bisa dinikmati berbagai kalangan, sekalipun yang tidak biasa mengkonsumsinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang hal itu, Sutarji Calzoum Bachri, menilai; gaya pengucapan puisi Gus Mus tidaklah berbunga-bunga, sajak-sajaknya tidak berupaya bercantik-cantik dalam gaya pengucapan. Tapi lewat kewajaran dan kesederhanaan berucap dan berbahasa yang tumbuh dari ketidak inginan untuk mengada-ada. Bahasanya langsung gamblang, tapi tidak menjadikan puisinya tawar atau klise.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ken Sawitri, dalam pengantar buku Album Sajak-sajak A. Mustofa Bisri, menilai bahwa; meskipun puisi-puisi Gus Mus pada umumnya tidaklah menggunakan kata-kata yang sulit untuk dipahami, namun memang akan lebih menguntungkan jika pembaca berbekal wawasan historis, ekonomis, budaya, sosial, sastra dan spritual yang memadai—mengingat bagian besar puisi Gus Mus berangkat dari problematika nyata, yang problematika itu masih hangat sampai saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu. Esai-esainya juga dengan corak dan ciri yang sama. Bahkan dalam esainya juga tergambar bahwa Gus Mus adalah memang sosok kiai yang multi talenta dalam berkarya. Semua tema dan topik beliau kuasai dan penakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, maka tidak heran jika pihak Penerbit Buku Kompas sangat antusias—bahkan mereka sampai harus rela bersin-bersin ditambah keringat yang bercucuran—dalam membukukan karya-karya Gus Mus untuk keempat kalinya yang berupa kumpulan tulisan beliau yang awalnya ditulis khusus untuk memberi kata pengantar di berbagai buku, yang kemudian diberi judul “Koridor; Renungan A. Mustofa Bisri”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku setebal 248 halaman ini berisikan 48 tulisan Gus Mus, yang kemudian dibagi menjadi lima bagian. Bagian pertama berisikan delapan tulisan mengenai hal ihwal sang khalifah seperti khalifah Umar bin Abdul Aziz; para tokoh dan wali seperti Kiai Hasyim Asy’ari (Jombang), Kiai Hamid (Pasuruan), Sunan Kudus dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian kedua berisikan delapan tulisan yang memuat tentang cinta dan syair, yang di dalamnya berisikan tulisan tentang bahasa sufi, penyair celurit, syiiran kiai-kiai dan takdim. Bagian ketiga juga berisikan delapan tulisan mengenai kiai dan politik. Bagian keempat berisikan sembilan tulisan berkisar pernikahan (kado pengantin), fiqih, bahasa arab dan bahasa nasional, Jaya Supran, dan lain-lain. Dan bagian terakhir berisikan lima belas tulisan dengan berbagai topik; budaya, sejarah, sosial dan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, dikarenakan buku ini merupakan kumpulan tulisan yang telah lalu dan merupakan kata pengantar dari berbagai buku, kadang masih sangat tampak dan ditemukan sebuah pragraf mencolok yang meskipun tidak ada pemberitahuan (dalam buku di “Pengantar Editor”), pembaca bisa menebak bahwa tulisan ini memang berupa kata pengantar dari buku-buku terntentu. Seperti yang terlihat pada pragraf akhir awal tulisan buku ini, tepatnya pada artikel yang berjudul “Umar Abdul Aziz Sang Khalifah yang Hamba Allah”; “waba’du; buku sejarah Umar bin Abdul Aziz karya Abdul Aziz Sayyidul Ahaal merupakan salah satu dari sekian banyak buku yang ditulis tentang pribadi agung itu” (hal. 6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain pada pragraf akhir artikel yang berjudul “Orang Jawa Berdakwah”; “Buku Cahaya Rasul ini juga disebut sebagai buku dakwah, buku yang mangajak kebaikan, meskipun mungkin Anda tidak merasa didakwahi” (hal. 166). Hemat saya, alangkah lebih baiknya jika pragraf semacam itu tidak usah diikutkan di dalamnya, toh pragraf itu tidak merusak isi dan maksud tulisan—bahkan lebih baik dihilangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, bukan berarti isi dari buku ini tidak up to date. Melainkan seperti yang sempat disinggung di atas bahwa tulisan-tulisan Gus Mus mempunyai corak dan ciri tersendiri; sederhana, mendalam, dan analisis. Tulisan Gus Mus mengandung ruh dan paradigma baru bagi pengkonsumsinya. Setelah membacanya, pengetahuan dan pemebelajaran dalam bersikap, menyikapi, serta menghadapi persolan akan kita lihat. Dalam membacanya pun, pembaca tanpa terasa akan terbawa oleh waktu. Saya sendiri merasakan hal yang demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, seperti yang tertulis di cover belakang buku ini, bahwa buku ini sangat cocok dan layak dibaca siapa saja yang ingin mengenal lebih dekat pemikiran-pemikiran Gus Mus dan mengetahui apa saja yang telah dilihat dengan mata hatinya. Selain itu, buku ini juga akan menjawab dan mengobati kerinduan para penggemar Gus Mus yang sudah lama tidak menikmati buku baru Gus Mus.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DATA BUKU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Judul  : Koridor; Renungan A. Mustofa Bisri&lt;br /&gt;Penulis  : A. Mustofa Bisri&lt;br /&gt;Editor  : Irwan Suhanda dan Muhammad Bisri Cholil Laquf&lt;br /&gt;Penerbit : Penerbit Buku Kompas, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan : I &amp;amp; II, 2010&lt;br /&gt;Tebal  : xii + 248 halaman&lt;br /&gt;ISBN  : 978-979-709-463-8&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-5530120954135537005?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/5530120954135537005/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/10/kekuatan-pena-seorang-gus-mus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/5530120954135537005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/5530120954135537005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/10/kekuatan-pena-seorang-gus-mus.html' title='Kekuatan Pena Seorang Gus Mus'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TMNpbZabcxI/AAAAAAAAAeM/d4tXsVVjev4/s72-c/Cover+Buku+Gus+Mus.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-1029621850501499796</id><published>2010-10-19T16:10:00.000-07:00</published><updated>2010-10-19T16:17:58.590-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>Seharusnya Memang Tidak Ada Pelarangan Buku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TL4mea2qM7I/AAAAAAAAAd8/e3MmNnLcQu4/s1600/Gambar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 226px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TL4mea2qM7I/AAAAAAAAAd8/e3MmNnLcQu4/s320/Gambar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5529899696504058802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Abd. Basid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wacana&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; pelarangan buku kini mencuat lagi ke permukaan. Bedanya jika sebelumnya wacananya pelarangan beredarnya buku-buku oleh Kejaksaan Agung, namun kali ini wacananya adalah pencabutan Undang-Undang Nomor 4/PNPS/1963 oleh Makamah Konstitusi (MK) tentang ketertiban umum. Dengan adanya keputusan MK ini, kini Kejaksaan Agung sudah tidak berwenang lagi untuk melarang peredaran sebuah buku-buku tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putusan MK ini perlu dan patut untuk diapresiasi. Karena di negara demokrasi ini memang seharusnya tidak ada pelarangan beredarnya buku-buku tertentu. Dalam demokrasi tidak ada pembatasan berpikir, berpendapat, dan berekspresi. Untuk itu, jika ada pelarangan buku, maka hal itu sudah bertentangan dan tidak demokratis lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya yang sempat disinggung di awal tulisan ini, bahwa sebetulnya pelarangan buku bukanlah hal yang baru di negara ini. Sebelumnya 2009 kemarin Kejaksaan Agung sempat melarang beredarnya 5 buku yang dianggap tidak layak edar, yaitu Dalih Pembunuhan Massal; Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto (John Roosa), Suara Gereja bagi Umat Penderitaan Tetesan Darah dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat (Socrates Sofyan Yoman), Lekra Tak Membakar Buku; Suara Senyap-Lembar Kebudayaan Harian Rakyat 1950-1965 (Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan), Enam Jalan Menuju Tuhan (Darmawan) dan Mengungkap Misteri Keragaman Beragama (Syahruddin Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum itu, tahun 2007, Kejaksaan Agung lewat SK Nomor 19/A/JA/03/2007 juga telah melarang 13 judul buku pelajaran sejarah tingkat SMP dan SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemat saya, sejarah pelarangan buku di Indonesia ini, sesungguhnya lebih didominasi oleh kepentingan politik dibandingkan kepentingan edukatif. Atas nama kepentingan politik, dengan gampang buku dilarang terbit atau beredar. Sisi kepentingan edukatif dilupakan, padahal pelarangan perlu ditempatkan sebagai bagian dari pendidikan berdemokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kita lihat pada tahun 2007 ketika Kejaksaan Agung melarang 13 judul buku pelajaran sejarah tingkat SMP dan SMA, alasannya terkesan mengada-ada. Pada waktu itu, Kejaksaan Agung berdalih karena isi buku pelajarannya tidak memuat pemberontakan Madiun dan 1965 serta tidak mencantumkan kata PKI dalam penulisan G/30S. Sedangkan pada pelarangan beredarnya 5 buku, tahun 2009, alasannya karena 5 buku tersebut dianggap menganggu ketertiban umum. Dengan bahasa yang lebih lugas dinilai bertentangan dengan UUD 1945, Pancasila, Agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas mengada-ada kan? Apalagi negara Indonesia ini adalah negara demokrasi, yang menjunjung tinggi kebebasan berpikir, berpendapat, dan berekspresi. Kebebasan berpikir, berpendapat, dan berekspresi sudah dilindungi Undang-Undang, maka buku yang merupakan bentuk kebebasan berekspresi dan hasil peradaban manusia bagaimana bisa dikatakan melanggar Undang-Undang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sikap Seharusnya Pasca Putusan MK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada sikap yang harus kita waspadai pasca keputusan MK ini. Pelarangan beredarnya buku yang sebelumnya ada pada tangan aparat pemerintah, Kejaksaan Agung, kini sudah tidak lagi. Yang perlu kita waspadai selanjutnya adalah tindakan anarki kelompok masyarakat yang antipasti terhadap buku-buku tertentu. Selanjutnya bisa jadi ada kelompok masyarakat yang merasa perlu melarang beredarnya sebuah buku yang mereka anggap “berbahaya”. Mereka bisa jadi melakukan pelarangan individual, yang bisa jadi akan bertindak dengan melakukan pemberangusan, dengan cara sweeping, perampasan, bahkan dengan kekerasan—bisa jadi tidak hanya terhadap buku, tetapi juga penulis, penerbit, toko buku, dan distributor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, untuk mengantisipasi  semua itu adalah bagaimana setidaknya tertanam pada diri kita (masyarakat Indonesia) sebuah kedewasaan berdemokrasi. Bahkan lebih dari itu, tidak saja kedewasaan dalam berdemokrasi yang jauh dari maksud memperkeruh, tetapi juga kedewasaan yang lepas dari tindakan anarki atas nama pencemaran nama baik, yang semua itu tidak lebih dari ekspresi keberingasan, kebencian, dan kepentingan sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apresiasi saya, dengan adanya putusan MK ini, maka setidaknya MK telah berusaha meyelamatkan rakyat Indonesia, karena jika pelarangan peredaran buku tetap ada, maka ruang gerak kita semakin sempit dan hal itu tidak ubahnya merupakan pembunuhan karakter masyarakat (baca: penulis dan pembaca). Pelarangan buku sejatinya merupakan perbuatan yang bisa “membakar” diri kita sendiri. Hal ini sesuai dengan ungkapan penyair Jerman, Heinrich Heine (1797–1856), yang berbunyi; “di mana buku dibakar, di sana pula manusia—pada akhirnya—akan dibakar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, pelarangan buku sejatinya akan memicu orang untuk mencari buku yang dianggap terlarang tersebut. Makin dilarang, makin besar minat orang untuk membacanya. Buku-buku Pramoedya Ananta Tour (Pram) adalah contoh baik di mana tetraloginya yang monumental plus novel Arus Balik yang pernah dinyatakan terlarang oleh pemerintah—ternyata rohnya tidak pernah mati sampai dengan sekarang. Dengan demikian, sesungguhnya sejarah telah membuktikan buku atau pemikiran yang baik, hebat, besar, sesungguhnya tidak pernah mati dan tidak akan pernah ada yang bisa melarangnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-1029621850501499796?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/1029621850501499796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/10/seharusnya-memang-tidak-ada-pelarangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/1029621850501499796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/1029621850501499796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/10/seharusnya-memang-tidak-ada-pelarangan.html' title='Seharusnya Memang Tidak Ada Pelarangan Buku'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TL4mea2qM7I/AAAAAAAAAd8/e3MmNnLcQu4/s72-c/Gambar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-380569698606215185</id><published>2010-10-15T18:09:00.000-07:00</published><updated>2010-10-15T18:17:50.801-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Pembelajaran dari Cile</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TLj8r1w9aAI/AAAAAAAAAd0/U7kq4Oka0a0/s1600/Cile.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 298px; height: 225px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TLj8r1w9aAI/AAAAAAAAAd0/U7kq4Oka0a0/s320/Cile.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5528446372694288386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;oleh: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Abd. Basid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sangat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; menarik ketika kita mendengar berita dari negara Cile yang memberitakan akan keberhasilan (pemerintahnya) dalam menyelamatkan para pekerja tambang-nya di Cile yang terperangkap di dalam perut bumi selama 69  hari dalam kedalaman 622 meter. Tepatnya di area pertambangan Acatama, Cile. Mereka yang semuanya 33 orang terperangkap di dalam tambang emas dan tembaga sejak 5 Agustus silam karena runtuhnya tambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insiden ini berawal ketiaka, ke-33 petambang terjebak setelah terowongan penghubung runtuh. Pemerintah Cile kemudian melakukan pengeboran di tiga tempat yang disebut rencana A, B, dan C. Rencana B berhasil pada Sabtu, 9 Oktober, yakni menembus rongga di kedalaman 622 meter di bawah tanah. Di titik itu terdapat sebuah ruang yang bisa dicapai oleh para petambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melalui tahap dan proses penyelamatan, akhirnya Florencio Avalos, penambang pertama yang berhasil diselamatkan. Avalos langsung disambut keluarganya, anggota tim penyelamat, berpelukan dengan Presiden Cile Sebastian Pinera, dan disambut Ibu Negara Cecilia Morel. Ketika penulis melihatnya lewat chanel TV, betapa kebahagiaan menguasai semua orang yang ada di pertambangan itu dan seluruh rakyat Cile. Pujian pun datang dari berbagai penjuru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini memang merupakan sebuah penyelamatan yang begitu mengharukan dan mengagumkan bagi rakayat dan pemerintah Cile. Yang mengejutkan lagi, presiden Cile, Sebastian Pinera bersama istrinya datang menyaksikan proses evakuasi. Presiden Cile pun merangkul mereka yang sudah berhasil dievakuasi dengan rasa bangga. Tak hirau mereka bau karena sudah 2 bulan lebih tidak mandi. Presiden Cile dengan berbaju seperti halnya para penambang yang lain menyemangati dan memberikan ucapan selamat kepada mereka. Sungguh ikatan emosional pemimpin yang sangat diharapkan rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Cile rela menunda kunjungan kenegaraannya ke Eropa untuk menunggu penyelamatan para penambang. Demi rakyatnya, ia rela menunda jadwal kunjungannya. Sungguh begitu pedulinya. Ia juga siap mengeluarkan biaya berapa pun demi keselamatan rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat semua ini, mungkin yang menjadi banyangan dibenak rakyat Indonesia; mungkinkah presiden kita akan bersikap seperti presiden Cile itu? Sampai saat ini, pernahkan kita melihat presiden kita begitu dekat dan cekatan dalam menangani hal bencana alam yang melanda Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden kita yang sudah berkabinet II setidaknya sudah mempersembahkan prestasi yang mengagumkan atas nama rakyat. Presiden Cile, baru Januari lalu resmi jadi presiden sudah membanggakan. Pendekatannya dalam menangani bencana alam, termasuk gempa bumi dan kecelakaan tambang bawah tanah, membuat ia dipuji rakyatnya. Ia tidak melihat bencana dari kecil atau besarnya jumlah korban, tetapi dari sisi kemanusiaan. Sikap peduli dan cara Pinera menangani bencana turut memberikan semangat dan daya juang kepada korban. Di Indonesia, yang sudah berkabinet II sampai di mana? Pertanyaan yang sulit dijawab!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tiga Faktor Penting&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada tiga faktor penting dalam keberhasilan ini. Pertama, iman. Imannya para penambang merupakan faktor utama. Keteguhan hati, kesabaran, kepercayaan satu sama lain di antara para pekerja dan juga dengan tim penyelamat, kerja sama pekerja dan tim penyelamat, persatuan seluruh bangsa, dan kepercayaan kepada Tuhan melambari semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, cangihnya teknologi yang ada. Dengan memanfaatkan kemampuan para ahli dari Jepang, Inggris, Australia, dan Amerika Serikat, alat evakuasi yang berupa tabung baja berhasil dibuat lapis terowongan kecil.  Terowongan kecil itu yang dilewati roket kapsul yang mengangkut korban ke permukaan. Roket kapsul tersebut hanya butuh waktu 15-20 menit untuk meluncur ke kedalaman 622 meter di bawah tanah. Ditambah dengan persiapan sebelum dan sesudah penarikan, setiap orang menelan waktu 25-30 menit untuk sampai ke permukaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katiga, perhatian pemerintah. Presiden Cile dan pemerintah serta seluruh rakyat menjadi unsur lain yang penting dalam proses penyelamatan itu. Tidak kenal kata menyerah, dan selalu mencari cara serta jalan penyelamatan, adalah suatu hal yang pantas dipuji dan dicontoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, negeri ini yang akhir-akhir ini penuh bencana perlu belajar dari Cile. Pemerintah dan seluruh rakyat setidaknya harus bisa bahu- membahu, saling dukung, dan peduli terhadap yang tengah ditimpa musibah dan kemalangan. Kadang kita lupa bahwa perhatian dan persatuan adalah kekuatan dalam menghadapi berbagai persoalan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-380569698606215185?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/380569698606215185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/10/pembelajaran-dari-cile.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/380569698606215185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/380569698606215185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/10/pembelajaran-dari-cile.html' title='Pembelajaran dari Cile'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TLj8r1w9aAI/AAAAAAAAAd0/U7kq4Oka0a0/s72-c/Cile.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-4558375398127295717</id><published>2010-10-09T18:20:00.000-07:00</published><updated>2010-10-09T18:26:44.617-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Kala Cinta Menggoda Gracie*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TLEVhCDFlGI/AAAAAAAAAds/tjDnc5eqkXA/s1600/Cover+Amazing+Gracie.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 191px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TLEVhCDFlGI/AAAAAAAAAds/tjDnc5eqkXA/s320/Cover+Amazing+Gracie.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5526221874989995106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BAGI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; para pencinta novel terjemahan, pastinya mengenal penulis yang   bernama Sherryl Woods. Dia adalah penulis novel terkenal asal Virgina,   negara bagian Florida. Ia sudah menulis lebih dari 100 judul buku   (novel) &lt;em&gt;best seller&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ciri tulisannya adalah gaya bahasa yang bernyawa dan &lt;em&gt;setting &lt;/em&gt;daerah   yang khas, yang diambilnya dari setiap daerah yang pernah ia singgahi.   Semua ini tidak lepas dari kesukaannya berwisata dari satu daerah ke   daerah. Novel &lt;em&gt;Amazing Gracie&lt;/em&gt; ini pun ber-&lt;em&gt;setting&lt;/em&gt; kota selama ia menghabiskan musim panas favoritnya di daerah Colonial Beach, Virginia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang diungkapkan penulis dalam pengantarnya, bahawa novel ini menjadi pilihan utama &lt;em&gt;RT Book Reviews&lt;/em&gt; dan kemudian dinobatkan sebagai salah satu dari 200 buku terbaik selama 20 sejarah penerbitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh  utama dalam novel ini adalah Gracie MagDougal (Gracie),  Maximillian  Devereaux (Max), dan Kevin Patrick Daniels (Kevin). Gracie  digambarkan  sebagai seorang perempuan yang suka keindahan dan kerapihan.  Ia begitu  sopan terhadap tamu-tamu yang menemuinya. Sedangkan Max  digambarkan  sosok bertolak belakang dari Gracie. Max cenderung egois dan  tidak  memerhatikan kenyamanan tamunya. Sedangkan Kevin digambarkan  sebagai  lelaki yang mencoba untuk menggantikan dan menghilangkan  bayangan Max  dari pikiran Gracie, yang pada akhirnya keduanya kesandung  cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan,  Gracie adalah seorang manajer hotel  bertaraf yang sangat gila kerja.  Ia rela berpindah-pindah hotel dari  daerah satu ke daerah yang lainnya  hanya karena kegilaannya bekerja  sebagai manajer hotel bertaraf  internasional, yang pada suatu waktu ia  sempat bekerja di hotel  Wordwide yang di CEO-i oleh Maximillian  Devereaux.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun,  karena tetidakcocokan Gracie terhadap  gaya memerintah Max, Gracie  akhirnya berhenti dan memutuskan untuk  mencari hotel lain. Gracie  merasa tidak cocok dengan Max karena sifat  Max yang tidak begitu  mementingkan kesopanan terhadap tamu, sedangkan  Gracie sendiri ingin  selalu begitu menghormat para tamu yang singgah  menginap. Pada hal yang  kecil pun Max tidak begitu peduli. Ia hanya  peduli pada uang semata,  tanpa memikirkan kenyamanan tamu. Bahkan kadang  Max jengkel terhadap  sikap Gracie yang selalu ingin mengganti setiap  hari bunga yang layu di  Wordwide. Bagi Max bunga diganti setiap seminggu  sekali saja, karena  dapat menghemat pengeluaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski  Gracie memutuskan untuk tidak  lagi bekerja di Wordwide di bawah arahan  Max, Gracie tidak tahu mau  pindah ke mana. Ia sudah tidak mempunyai  orang tua, sanak saudara, dan  teman. Setelah keputusannya itu yang  terlintas di benaknya hanyalah  sebuah kota yang sempat ia kunjungi  bersama keluarganya waktu ia kecil  dulu; sebuah kota Pantai Seagull  Point di Virginia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil  mencari pekerjaan baru, Gracie  menghabiskan liburan di Pantai Seagull  Point. Di sana ia mulai  memikirkan dan mencari tempat mana yang akan  ditujunya setelah liburan  di Pantai Seagull Point, namun ia tak kunjung  menemukannya. Singkat  cerita saat ia berjalan-jalan di sana, ia  tertarik pada rumah tua  bergaya Victoria yang langsung menghadap ke  pantai. Instingnya sebagai  seorang manajer berbagai hotel mengatakan  bahwa rumah tua itu akan  menjadi sebuah penginapan yang sangat menarik.  Namun, niat untuk  memiliki rumah tua itu tidak mulus. Dia dihalangi  Kevin Patrick Daniels.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kevin adalah pemilik rumah tua  bergaya Victoria itu. Ia  pria tradisional dan cukup terkenal di kota  itu. Gracie mendambakan  rumah tua itu, namun Kevin tidak tertarik untuk  menjualnya. Berbagai  negosiasi dicoba Gracie, tapi Kevin tetap pada  pendirian awalnya. Gracie  hanya menetap (menginap) di rumah itu tidak  sebagai pemilik rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring berjalannya waktu, niat  awal Grecie untuk menetap sementara di  rumah bergaya Victoria itu mulai  berubah. Ia semakin yakin dengan  penginapan itu. Kevin pun makin keras  untuk tidak menjual rumah itu.  Komunikasi yang intens antara keduanya  mendatangkan perasaan "aneh" yang  merajai mereka-perasaan yang tidak  mau diakui oleh keduanya. Gracie  merasakan kenyamanan di penginapan itu  saat bersama Kevin. Dan begitu  juga dengnan Kevin. Kevin merasa  beban-beban yang dipikirkannya semakin  berkurang seiring dengan  perkenalannya dengan Gracie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir  cerita, novel yang  dialihbahasakan oleh Gracia Meirisa ini mempunyai  khas ala Sherryl  Woods; pengungkapan emosinya yang penuh perasaan.  Karakter, setting,  dan plot cerita di dalamnya saling melengkapi.  Pengombinasian antara  plot dan karakter di dalamnya menempatkan buku ini  istimewa bagi yang  membacanya. Dengan demikian, kiranya tidak  berlebihan ketika &lt;em&gt;RT Book Riviews&lt;/em&gt; menilainya bahwa novel ini menghasilkan pengalaman membaca seindah emas 24 karat alias sempurna. Anda percaya?&lt;br /&gt;&lt;p&gt;  &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Data Buku&lt;/strong&gt;  &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;  &lt;strong&gt;Judul&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;Amazing Gracie&lt;/em&gt;  &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;  &lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt;: Sherryl Woods  &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;  &lt;strong&gt;Alih Bahasa&lt;/strong&gt;: Gracia Meirisa  &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;  &lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt;: Violetbook, Jakarta  &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;  &lt;strong&gt;Cetakan&lt;/strong&gt;: I, 2010  &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;  &lt;strong&gt;Tebal&lt;/strong&gt;: 414 halaman  &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;*Resensi ini telah dimuat di koran &lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://www.jurnalnasional.com/show/newspaper?rubrik=Pustaka&amp;amp;berita=145667&amp;amp;pagecomment=1" target="_blank" alt="Jurnal Nasional"&gt;Jurnal Nasional&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; (10/10/2010)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-4558375398127295717?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/4558375398127295717/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/10/kala-cinta-menggoda-gracie.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/4558375398127295717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/4558375398127295717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/10/kala-cinta-menggoda-gracie.html' title='Kala Cinta Menggoda Gracie*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TLEVhCDFlGI/AAAAAAAAAds/tjDnc5eqkXA/s72-c/Cover+Amazing+Gracie.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-5133927700783923779</id><published>2010-09-28T00:17:00.000-07:00</published><updated>2010-09-28T00:40:19.696-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Terorisme di Mata Mahasiswa*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TKGZhgtEmrI/AAAAAAAAAdk/BlQaACU6YJk/s1600/Cover+Buku+Islam+dan+Terorisme+%281%29.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 209px; height: 317px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TKGZhgtEmrI/AAAAAAAAAdk/BlQaACU6YJk/s320/Cover+Buku+Islam+dan+Terorisme+%281%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5521863419126651570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari waktu ke waktu, ternyata aksi terorisme di Indonesia semakin menjadi-jadi dan berkembang. Jika dulu aksi terorisme identik dengan aksi peledakan bom (termasuk serangan bom bunuh diri), tapi kini aksi terorisme juga bermotif perampokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang anyar diberitakan dan diperbincangkan media bahwa pekan lalu tiga anggota teroris yang diduga telah merampok Bank CIMB Niaga di Medan berhasil ditangkap oleh kepolisian di Sumatera. Beberapa waktu kemudian komplotan teroris rupanya balas dendam dengan menyerang Kantor Polsek Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara 22 September 2010. Perkembangn paling baru tersebut menunjukkan bahwa aksi terorisme di Indonesia kini sudah tidak hanya dengan peledakan bom lagi. Aksi mereka sudah mulai merambah pada perampokan (bank).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikiam, kompleksitas kejahatan yang mereka lakukan semakin bertambah. Aksi perampokan dilakukan untuk mendapatkan dana bagi kegiatan terorisme setelah pengiriman uang dari luar mengalami kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi-aksi terorisme secara international sebenarnya sudah lama terjadi. Namun pembicaran tentang hal ini semakin intensif setelah gedung kembar pencakar langit, Word Trade Center (WTC) di New York dan gedung Pentagon (Departemen Pertahanan AS) di Wasington diserang pada 11 September 2001 oleh sebuah kelompok yang hingga kini masih dipenuhi misteri. Jaringan nasional Al-Qaedah (Osama bin Laden) sering disebut-sebut sebagai aktor di balik aksi serangan yang menghancurkan dua gedung kembar WTC tersebut. Tetapi menurut Presiden Iran, Mahmood Ahmadinejad dalam pidatonya di depan sidang Majelis Umum PBB, Kamis (22/9/2010), Amerika Serikat adalah dalang di balik serangan 11 September 2001 tersebut untuk membangkitkan ekonomi AS. “Ada bagian di dalam pemerintahan AS yang mendalangi serangan yang membangkitkan ekomoni AS”, kata Ahmadinejad, yang disambut kemarahan AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, pihak yang diisukan terkait dengan Al-Qaedah dalam aksi terorisme adalah kelompok Jamaah Islamiyah Abu Bakar Ba’asyir. Tokoh yang pernah dihukum dan belum lama ini ditahan lagi dalam kasus terorisme itu menolak semua tuduhan. Dalam kejadian yang di Sumatera Polri menyebutkan bahwa yang terlibat dalam aksi perampokan Bank CIMB Niaga itu, juga terlibat dalam jaringan Al-Qaedah dan Jama’ah Anshorut Tauhit (JAT).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditelisik, ancaman terorisme itu sendiri mendunia seiring dengan proses globalisasi. Dampak globalisasi tidak hanya mendorong integrasi ekonomi, tetapi juga mengakibatkan berkembangnya kejahatan transnasional  seperti terorisme ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, diperlukan kewaspadaan tinggi karena kaum teroris tidak/tanpa memilih sasaran dalam beraksi. Sebagai teroris mereka dapat beraksi di mana saja dan kapan saja, tanpa ada yang dapat meramalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara mengatasinya? Belum ditemukan metode efektif untuk menghentikan (ancaman dan aksi) terorisme. Akan tetapi buku “Islam dan Terorisme” yang ditulis oleh banyak mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi ini kiranya bisa dijadikan bahan renungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini ditulis oleh 30 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Isi dari buku ini sudah melalui tahap seleksi dari 287 mahasiswa yang akhirnya dipilih 30 tulisan. Terbitnya buku ini bermula dari penyeleksian naskah lomba yang diadakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Obsesi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto yang berskala nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemat saya, buku ini bisa menjadi sumbangan penting pemikiran mahasiswa Indonesia bagi bangsa dan Negara. Tidak sedikit solusi yang ditawarkan di dalamnya. Seperti yang dituliskan oleh Abd. Basid dalam buku ini (hal. 57-59), bahwa banyak motivasi yang melatar belakangi aksi terorisme. Pertama, lekatnya semangat radikalisme dalam agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mereka dikecewakan dengan tidak becusnya pemerintah dalam mengurus Negara. Para pejabat korup tampak tidak berkurang dan tidak tahut terhadap ancaman hukuman penjara. Kaum elite penguasa seolah hanya berebut kekuasaan, uang, dan sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, untuk menanggulangi maraknya aksi terorisme, maka setidaknya—setelah kita mengetahui motif besar adanya terorisme—caranya antara lain dengan memberikan pemahaman secara terus-menerus masyarakat tentang apa dan bagaimana substansi Islam yang sebenarnya, dan bagaimana Islam diterapkan dalam peradaban di Indonesia yang merupakan agama rahmatan lil ‘alamin. Dalam batas-batas tertentu, apa yang diniatkan para teroris itu tidak keliru, yakni ingin memperbaiki keadaan. Hanya saja mereka salah dalam mengimplementasikan niat mulia mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sinilah kiranya pemerintah atau pemimpin umat mempunyai tugas berat untuk mengubah konsep jihat mereka, yang mereka pahami secara salah selama ini. Jangan sampai konsep itu terlestarikan selama-lamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, pembinaan narapidana kasus terorisme di lembaga pemasyarakatan harus maksimal untuk pembelajaran. Kebijakan pemberian remisi kepada terpidana terorisme setidaknya perlu dikahi dan dipertimbangkan kembali. Karena bisa jadi mereka akan mengulanginya lagi. Buktinya, Mustofa alias Abu Tholut yang hanya dipenjara 4,5 tahun karena memperoleh remisi, kini setelah keluar dari penjara ia di duga terlibat lagi dalam kasus terorisme. Sebuah buku yang pantas dibaca di saat pembicaraan tentang terorisme menghangat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;*telah dimuat di Radar Surabaya (26/9/2010)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-5133927700783923779?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/5133927700783923779/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/09/terorisme-di-mata-mahasiswa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/5133927700783923779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/5133927700783923779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/09/terorisme-di-mata-mahasiswa.html' title='Terorisme di Mata Mahasiswa*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TKGZhgtEmrI/AAAAAAAAAdk/BlQaACU6YJk/s72-c/Cover+Buku+Islam+dan+Terorisme+%281%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-6066322138971880825</id><published>2010-09-24T17:49:00.000-07:00</published><updated>2010-09-24T18:02:40.734-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Belajar Memaknai Hidup Pada Alam*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TJ1JV-UfcCI/AAAAAAAAAdc/XI9zsFnmIN4/s1600/Cover+Buku+Bujang+%26+Putri+Malaka.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 227px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TJ1JV-UfcCI/AAAAAAAAAdc/XI9zsFnmIN4/s320/Cover+Buku+Bujang+%26+Putri+Malaka.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5520649360081121314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Buku&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; setebal 306 halaman ini  berjudul "Bujang dan Putri Malaka; Maknai Hidup Ala Si Bujang". Di dalamnya berisikan 30 kisah inspiratif yang diformat dengan polesan hikmah. Harlis Kurniawan, penulis buku ini, berhasil menyampaikan kisahnya dengan bahasa yang renyah, ringan, dan jenaka. Selalin itu, penulis juga berhasil menunjukkan akan adanya korelasi antara ayat qauliyah (al-Qur'an) dengan ayat kauniyah (alam semesta). Setiap kisah di dalamnya merupakan hikmah dari alam semesta yang bisa menjadi solusi dari berbagai masalah kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh utama dalam buku ini adalah si Bujang. Lelaki muda yang digambarkan sebagai orang yang egaliter, cerdas, dan kocak. Bujang yang bernama asli Syaikh Maulana Nuruddin, hidup di lingkunga pesantren Darul Hikmah yang terletak di Kota Darussalam di bawah asuhan Syaikh Abdul Rauf.Di lingkungan pesantren ini Bujang juga biasa disebut dengan guru muda. Guru berusia muda yang diperintahkan untuk mengajarkan ilmu hikmah kepada 21 santri pilihan (11 pria dan 10 wanita) pondok pesantren Darul Hikmah. Dalam mengajar ilmu hikmah ini Bujang ditemani 5 guru muda lainnya, yaitu Imam, Hamzah, Siti Fatimah, Siti Nurhaliza dan Aisyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bujang (dalam kisah buku ini), dasar utama untuk memperlajari ilmu hikmah adalah pengetahuan tentang al-Qur'an dan sunnah Nabi. Kemudian bagaimana selanjutnya kita melatih pengetahuan itu dengan memperhatikan kejadian sehari-hari (alam). Kita bisa belajar bagaimana kita hidup dari kejadian alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hikmah-hikmah tersembunyi di balik kejadian alam yang tidak bisa kita lihat, ketahui, dan pahami. Untuk itu, dibutuhkan kesadaran diri untuk bisa mengambil hikmah darinya.Alam memang tidak pernah mengucapkan sepatah kata dan mengutif filsafat barat untuk mentrnsfer kearifannya, akan tetapi ia hanya mengenalkannya dengan kejadian-kejadian yang nantinya bisa kita ambil hikmah dalam menjalani hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja pada kisah "Pohon Beringin dan Pohon Durian" dalam buku ini (hal. 177-183). Dari kejadian alam  (pohon beringan dan durian) ini kita bisa mendefisinikan bagaimana itu adil menurut alam, bahwa adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisahnya, di suatu hari Hamzah dan Bujang bermusafir (bepergian) yang akhirnya mereka berdua beristirahat di bawah pohon beringin karena kecapek-an. Tak terasa ternyata Hamzah tertidur di bawah pohon beringin tersebut dan tiba-tiba beberapa buah beringin jatuh mengenai wajahnya. Mendapatkannya, Hamzah terkejut bukan main. Ia langsung bangun dan secara refleks bersiap dengan pencak silatnya. Sedangkan Bujang yang pas berada di sampingnya hanya tersenyum melihatnya. "Syukurlah kita berteduh di bawah pohon beringin. Coba kalau kita berteduh di bawah pohon durian apa tidak hancur wajahmu Hamzah" ujar Bujang pada Hamzah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kisah, akhirnya perbincangan keduanya sampai pada perbincangan akan keadilan Allah; apakah Allah tidak adil terhadap pohon beringin yang berpohon besar sedangkan buahnya kecil-kecil, yang mana kenyataan ini kalau kita lihat dari keadilan versi manusia-yang menyatakan bahwa adil itu adalah pembagian yang sama rata-sangatlah tidak adil. Akan tetapi kalau dilihat dari versi alam, maka itulah makna adil yang sebenarnya, yang berarti bahwa keadilan adalah menenpatkan sesuatu pada tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logikanya, bahwa manfaat pohon beringin yang besar terletak pada kerindangan daunnya. Sedangkan manfaat utama pohon durian terletak pada buahnya. Karena itu, para musafir lebih memililh pohon beringin sebagai tempat berteduh, bukan pohon durian. Namun, jika musafir itu lapar dan ingin makan buah, maka ia akan makan buah durian, bukan buah beringin.Di atas itulah salah satu contoh kejadian alam yang bisa kita ambil hikmah di dalamnya. Dan masih banyak lagi kisah lainnya yang disajikan dalam buku ini. Kesemua dari 30 kisah dalam buku ini, dari satu judul ke judul lainnya tetap nyambung, saling berkaitan, dengan tokoh utama si Bujang.Kisah-kisah singkat dalam buku ini rasanya amat dibutuhkan untuk memperkaya diri kita dengan ilmu hikmah. Sering kali kita kehilangan hikmah dari suatu peristiwa hanya karena kita tidak terbiasa berpikir mendalam. Padahal ada banyak sekali hal yang butuh direnungi dan dapat membuat kita lebih kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini memang agak berbeda dengan buku sebelumnya; "Jalan Cinta Darussalam", yang juga ditulis oleh Harlis Kurniawan. Jika dibandingkan dengan kisah buku sebelumnya, kisah-kisah dalam buku ini jauh terasa lebih kental nuansa dakwahnya. Mungkin karena tokoh si Bujang dalam buku ini telah menjadi seorang guru hikmah. Hemat saya, rasanya akan jauh lebih menyenangkan kalau penulisnya tidak terburu-buru dalam membungkus hikmah di setiap kisah, sehingga pembaca mencerna setiap cerita dengan lebih seru, asyik, dan tidak merasa tengah disuguhi ceramah.Meski demikian, kisah-kisah Bujang-tidak dapat dipungkiri-akan berhasil menginspirasi pembaca untuk mau berpikir mengenai hikmah dan makna hidup di balik setiap kejadian, bahkan kejadian yang terlihat sepele sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, membaca buku ini, pembaca tidak akan menemukan kejenuhan, karena dibalik kisah di dalamnya juga ada kejenakaan yang menghibur, namun tetap tidak menghilangkan pesan moral yang dikandungnya. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Data Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Judul        : Bujang dan Putri Malaka; Maknai Hidup Ala Si Bujang&lt;br /&gt;Penulis       : Harlis Kurniawan&lt;br /&gt;Penerbit    : Cicero Publishing Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan     : I, Maret 2010&lt;br /&gt;Tebal       : 306 Halaman&lt;br /&gt;ISBN        :  978-602-8471-04-06&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;*Resensi ini telah dimuat di &lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.harianbhirawa.com/opini/16790-belajar-memaknai-hidup-pada-alam" target="_blank" alt="Harian Bhirawa"&gt;Harian Bhirawa&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt; (24/9/2010)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-6066322138971880825?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/6066322138971880825/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/09/belajar-memaknai-hidup-pada-alam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/6066322138971880825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/6066322138971880825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/09/belajar-memaknai-hidup-pada-alam.html' title='Belajar Memaknai Hidup Pada Alam*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TJ1JV-UfcCI/AAAAAAAAAdc/XI9zsFnmIN4/s72-c/Cover+Buku+Bujang+%26+Putri+Malaka.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-2928422352380802380</id><published>2010-09-07T18:15:00.000-07:00</published><updated>2010-09-19T22:52:26.451-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Memaknai Hari Raya Idul Fitri*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TIbkOcoDnvI/AAAAAAAAAdM/rOvxuwg_bjU/s1600/Idul+Fitri.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TIbkOcoDnvI/AAAAAAAAAdM/rOvxuwg_bjU/s320/Idul+Fitri.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5514345730615254770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;Oleh: Abd. Basid&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Jumat&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; (10/9), umat Islam Insya Allah secara serentak merayakan Hari Raya Idul Fitri 1431 Hijriah. Di Indonesia, &lt;i style=""&gt;moment&lt;/i&gt; Idul Fitri ini merupakan puncak dari pengalaman kehidupan warga bangsa dan negara. Ini karena masyarakat Muslim di negara lain memang agak berbeda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;Di Arab Saudi, misalnya, puncak pengalaman kehidupan bangsa dan negarannya adalah Hari Raya Idul Adha. Ini karena Idul Adha di negeri ini (Arab Saudi), dari dulu sampai sekarang, berlangsung menjelang prosesi Haji. Pada waktu itu (menjelang Idul Adha), kelihatan fenomena orang pergi ke Mekkah yang luar biasa dan impresif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;Apalagi, pada zaman dulu ketika di Mesir tidak ada kendaraan modern. Jadi, sebelum tiba bulan Haji, orang-orang sudah kelihatan berbondong-bondong berjalan kaki atau naik unta menuju Mekkah. Kira-kira kalau dibandingkan dengan negara kita, ada prosesi gerak Mudik menjelang Lebaran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;Di Amerika Serikat (AS), ada &lt;i style=""&gt;Thanks Giving Day&lt;/i&gt;. Ketika 'Hari Terima Kasih' itu tiba, rakyat AS bersuka-ria dengan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa bersama seluruh anggota keluarganya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;Hampir semua warga AS merasakan dorongan kuat untuk menuju kampung halaman masing-masing agar bisa bertemu dengan kerabat dan handai taulan sekaligus untuk merayakan 'hari Terima Kasih'.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;Kadang ada orang (&lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;) yang mengatakan bahwa dia telah bekerja selama setahun atau sebelas bulan sampai bulan puasa hanya untuk bisa 'menikmati' Lebaran (Idul Fitri). Pernyataan ini barangkali ada benarnya. Karena, kalau kita cermati, hampir seluruh kegiatan sebagian besar masyarakat selama satu tahun, khususnya bagi umat Islam, tampaknya sengaja diarahkan untuk dapat merayakan Hari Lebaran dengan sebaik-baiknya. Mereka bekerja keras dan menabung dengan harapan agar selanjutnya hasilnya bisa dinikmati ketika Lebaran (Idul Fitri) tiba.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;Idul Fitri yang merupakan hari raya keagamaan umat Muslim mempunyai beberapa makna. Pertama, makna kerohanian, yang bisa dilihat dari arti Idul Fitri itu sendiri. Idul Fitri berasal dari ungkapan bahasa Arab: &lt;i style=""&gt;id al-fithr&lt;/i&gt;. Kata &lt;i style=""&gt;id&lt;/i&gt; berarti 'kembali' atau 'berulang'.&lt;/span&gt; &lt;span style="color:black;"&gt;Sedangkan &lt;i style=""&gt;fithr&lt;/i&gt; atau &lt;i style=""&gt;fithrah&lt;/i&gt; berarti 'kejadian asal yang suci'. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;Dari sini, Idul Fitri mengandung makna 'kembali pada asal'. Yaitu 'suci', yang menjelaskan bahwa asal dari setiap individu adalah 'suci' (&lt;i style=""&gt;kullu mauludin yuladu 'alal fithrah&lt;/i&gt;). Setelah umat Islam merayakan puasa Ramadhan—tentunya yang puasanya baik dan benar (&lt;i style=""&gt;imanan wahtisaban&lt;/i&gt;)—selama sebulan penuh, maka sejatinya mereka sudah kembali pada asal penciptaannya (suci).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;Dari makna rohani ini, Idul Fitri yang merupakan kelanjutan dan buah olah kita selama Ramadhan, juga melimpahkan hikmahnya kepada segi-segi kehidupan sosial yang luas dan sangat bermakna. Sejak dari simbolisme zakat fitrah yang merupakan manifestasi rasa setia kepada sesama manusia dan kemanusiaan, sampai pada tradisi maaf-memaafkan, halal bihalal dan mudik untuk menyatu bersama keluarga. Idul Fitri memberi bekal kerohanian baru kepada masyarakat dengan harapan dapat menempuh kehidupan yang lebih baik di tahun selanjutnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;Kedua, makna sosial. Dimensi sosial Idul Fitri sangatlah besar, khususnya dilihat dari dimensi kekeluargaan. Kebesaran dimensi sosial ini bisa dilihat betapa antusiasnya para pemudik untuk bisa berkumpul bersama keluarga di kampung halaman masing-masing. Di antara mereka bisa bersalam-salaman dan bersilaturahmi bersama anggota sanak kerabat dan para tetangga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;Demi mudik Lebaran, masyarakat kita rela antre dan berjubel dalam waktu lama untuk bisa mendapatkan tiket perjalanan di stasiun-stasiun dan terminal-terminal. Sampai ada yang mengatakan bahwa 'hukum mudik' adalah sunnah muakkadah. Bahkan dengan mempertimbangkan aspek-aspek sosial secara makro, prosesi mudik mengandung makna sosial dan memberikan dampak, misalnya, bagi redistribusi ekonomi dari perkotaan ke pedesaan atau kampung-kampung. Hukum mudik bisa dinaikkan ke tingkat &lt;i style=""&gt;fardlu kifayah&lt;/i&gt;, kewajiban kolektif yang harus dilaksanakan setidaknya oleh sebagian anggota kelompok musafir dari suatu daerah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;Ketiga, makna ekonomis. Idul Fitri memiliki makna ekonomis yang cukup signifikan. Indikasinya bisa dilihat dari bagaimana daerah-daerah tertentu memperoleh limpahan ekonomi dan keuangan dalam jumlah besar dari para pemudik. Indikasi lainnya, tempat-tempat perbelanjaan (seperti mal, supermarket, pasar, dan sejenisnya), kebanjiran pengunjung. Tidak heran, jika warga yang dekat dengan tempat-tempat perbelanjaan secara mendadak siap menjadi tukang parkir dengan memanfaatkan halaman rumahnya yang agak luas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;Setidaknya seperti disebut di atas, itulah makna yang dikandung dari Idul Fitri. Betapa dan begitu luas cakupan manfaat keberadaan Idul Fitri yang bagi masyarakat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; telah melekat sebagai semacam 'tradisi'. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;Untuk itulah, rasanya tidak berlebihan jika (Alm) Nurcholish Madjid dalam bukunya 'Dialog Ramadhan bersama Cak Nur' menegaskan bahwa Idul Fitri mencakup atau merangkum nilai-nilai Islam dalam sebuah 'kapsul kecil' (&lt;i style=""&gt;in a nutshell&lt;/i&gt;). Artinya, dengan melihat Idul Fitri, maka kita bisa melihat keseluruhan nilai Islam dalam satu format yang kecil, yang bisa dipegang dengan tangan. (Nurchalish Madjid, 2000: 145) &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;Sebetulnya, kita tidak bisa menvonis pengertian Idul Fitri sebatas kegiatan shalat, puasa, zakat juga in nutshall. Tetapi, setidaknya Idul Fitri mampu memberikan manfaat dan memiliki makna yang lebih luas bagi kemaslahatan banyak orang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;Akhir kata, semoga kita bisa meraih kemenangan di Hari Raya Idul Fitri ini. Yang diharapkan, kita benar-benar bisa kembali suci. Kembali pada asal (fithrah). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;Minal aidzin wal faidzin&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;. Maaf lahir dan batin. Selamat Idul Fitri 1431 H.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;*telah dimuat di Harian &lt;/span&gt;&lt;a style="font-style: italic; font-weight: bold;" href="http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=261611" target="_blank" alt="Suara Karya"&gt;Suara Karya&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; (Kamis, 9  September 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-2928422352380802380?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/2928422352380802380/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/09/memaknai-hari-raya-idul-fitri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/2928422352380802380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/2928422352380802380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/09/memaknai-hari-raya-idul-fitri.html' title='Memaknai Hari Raya Idul Fitri*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TIbkOcoDnvI/AAAAAAAAAdM/rOvxuwg_bjU/s72-c/Idul+Fitri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-1147608513311633802</id><published>2010-09-07T18:07:00.000-07:00</published><updated>2010-09-07T18:25:39.399-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Iktikaf, Sarana Aktualisasi Diri*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TIbmBRueJWI/AAAAAAAAAdU/bUbP-FMmZjw/s1600/Iktikaf.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 273px; height: 185px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TIbmBRueJWI/AAAAAAAAAdU/bUbP-FMmZjw/s320/Iktikaf.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5514347703374325090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;Oleh: Abd. Basid&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pemandangan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; menarik pada bulan Ramadan ketika sudah memasuki sepuluh hari terakhir adalah berlomba-lombanya banyak orang atau jamaah untuk mendapatkan barokah Lalilatul Qadar. Berbagai macam cara yang mereka lakukan untuk mendapatkannya, diantaranya melakukan iktikaf di masjid (berdiam diri di masjid sambil beribadah).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=""&gt;Datangnya malam Lailatul Qadar memang tidak tentu pada sepululuh hari terakhir Ramadan. Lailatul Qadar bisa jadi turun pada malam pertama Ramadan dan lainnya. Yang jelas, Nabi tidak mengajari kita untuk mengambil resiko, sehingga nanti kehilangan Lailatul Qadar. Nabi hanya mengajari untuk menjalani seluruh bulan Ramadan degan intensif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=""&gt;Menurut (alm) Nurchalish Madjid (Cak Nur) Lailatul Qadar-nya seseorang itu tidak sama antara satu sama yang lain. Menurutnya, ada yang menemukannya pada malam ke-21, ada yang menemukannya pada malam ke-27, dan sebagainya, tergantung intensitas diri pribadi kita masing-masing (Nurchalish Madjid, 2000: 95).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kembali pada perbincanga iktikaf; iktikaf sendiri sudah mentradisi sejak zaman Nabi. Berdiam diri di masjid sambil beribadah itu biasa ditekuni pada sepeluh hari terakhir Ramadan. Ibadah ini merupakan salah satu cara di bulan Ramadan untuk mendekatkan diri kepada Allah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dengan berdiam diri di masjid sambil beribadah dan berniat untuk iktikaf (&lt;i&gt;nawaitul iktikafa fi hadzal masjidi sunnatan lillahi ta'ala&lt;/i&gt;) umat Muslim mencari dan berusaha untuk mendapatkan kedamaian—dengan berharap pada salah satu malam yang mereka jalani bertepatan dengan turunnya (malam) Lailatul Qadar. Malam yang nilainya tidak tertandingi oleh malam-malam lainnya, yang dalam al-Qur'an disebut sebagai &lt;i&gt;khairun min alfi syahrin&lt;/i&gt; (lebih baik dari seribu bulan; arti harfiyahnya).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=""&gt;Disebutkan bahwa pada malam Lailatul Qadar para malaikat dan roh turun dengan membawa segala perintah, yaitu turunnya wahyu ilahi yang mencakup segala perintah Allah yang membawa vitalitas spiritual umat manusia. Untuk itu, tidak sedikit umat Muslim yang ingin mendapatkannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=""&gt;Coba kita lihat di masjid-masjid pada bulan Ramadan, kalau sudah memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan, suasan masjid tidak hanya rame dari para jama'ah yang melakukan tadarus, akan tetapi masjid juga rame dari mereka yang melakukan iktikaf, berharap Lailatul Qadar turun pada sepuluh malam terakhir dan bisa berpapakan dengan malam penuh berkah itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=""&gt;Seperti di &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; metropolitan semisal &lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt; dan &lt;st1:city st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:city&gt;; di balik hiruk pikuk keramainan dan kemacetan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; banyak sejumlah orang yang memilih menyendiri, lewat iktikaf di masjid-masjid. Kalau di Jakarta mungkin hal ini mudah dijumpai di masjid Istiqlal dan kalau di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; seperti di Al-Akbar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sebagai gambaran, tidak usah heran jika di masjid Al-Akbar kita melihat orang yang masuk masjid sambil menjinjing tas kecil atau plastik dan langsung duduk tenang di ruang shalat. Orang yang seperti itu adalah orang yang datang ke masjid untuk ber-iktikaf dan biar tidak udah keluar-keluar masjid lagi ia membawa bekal yang ditaruh di tas kecil atau plastik untuk pengganjal perut selama ia iktikaf.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=""&gt;Hemat penulis, iktikaf merupakan sarana akualisasi yang tepat bagi umat manusia (baca: Muslim) di tengah gempuran nilai modernitas kala ini. Ritual ini dapat menjadi penyejuk hati di tengah riuhnya kehidupan yang sarat kompetisi dan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; hidup komsumerisme. Kehidupan yang dipenuhi nilai pragmatisme saat ini mirip saat manusia minum air laut ketika haus. Sebanyak apa pun, rasa dahaga tidak akan hilang. Untuk itu, iktikaf selain memenuhi sunnah Nabi, umat Islam yang beriktikaf layaknya menemukan danau segar penenang batin dan hati sehingga dapat menentukan arah hidupnya secara lebih baik ke depan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;Relevansi Iktikaf Bagi Kehidupan Kita&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kehidupan kita sehari-hari sebelum Ramadan—bahkan mungkin pas Ramadan—yang penuh rutinitas, tentunya membuat penat, cenderung terburu-buru, dan memberlit orang dalam buaian materi, semua itu tidak jarang bisa membuat kita tertekan dan bahkan mungkin stres.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=""&gt;Untuk itu, iktikaf dapat menjadi sarana bagi kita untuk mundur sejenak dari keruwetan kehidupan yang ada.&lt;span style="color:black;"&gt; Jika dikaitkan dengan kesehatan, iktikaf bisa menjadi &lt;i&gt;angop&lt;/i&gt; (istirahat sejenak) setelah melakukan dramtisasi hidup. Badan dan pikiran juga butuh istirahat, layaknya &lt;i&gt;handphone&lt;/i&gt; (HP) yang butuh dicas. Iktikaf berposisi sebagai jeda atau sela atas keletihan menjalani jelujur rutinitas yang hampir tanpa koma. Karena &lt;/span&gt;memburu kepuasan duniawi hanya akan membuat seseorang makin haus dan haus. Orang-orang makin kosong jiwanya karena terus menerus mengejar materi. Dengan demikian, dengan iktikaf diharapkan ada kepuasan dan kedamaian yang sesungguhnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=""&gt;*telah dimuat di Radaar Surabaya (7/9/2010)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-1147608513311633802?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/1147608513311633802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/09/iktikaf-sarana-aktualisasi-diri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/1147608513311633802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/1147608513311633802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/09/iktikaf-sarana-aktualisasi-diri.html' title='Iktikaf, Sarana Aktualisasi Diri*'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TIbmBRueJWI/AAAAAAAAAdU/bUbP-FMmZjw/s72-c/Iktikaf.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-95045675449743033</id><published>2010-09-06T18:04:00.000-07:00</published><updated>2010-09-06T18:06:21.329-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Mambaca Ulang Sejarah Nabi Muhammad</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TIWP38pe6TI/AAAAAAAAAdE/Z6w7GSG2AHk/s1600/Cover+Buku+Menyingkap+Tirai....JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 220px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TIWP38pe6TI/AAAAAAAAAdE/Z6w7GSG2AHk/s320/Cover+Buku+Menyingkap+Tirai....JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5513971510120737074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:150%"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sosok&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="IN"  style="'line-height:;font-size:12.0pt;"&gt; Nabi Muhammad adalah sosok Nabi yang tidak sama seperti nabi-nabi lainnya. Nabi Muhammad mempunyai keistimewaan tersendiri ketimbang nabi-nabi lainnya. Dalam satu riwayat dijelaskan bahwa, barang pertama yang diciptakan oleh Allah sebelum sesuatu yang lain adalah nur Muhammad—bahkan sebelum nabi Adam sekalipun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN"  style="';font-size:12.0pt;"&gt;Nabi Muhammad sendiri dilahirkan sebagai seorang yatim. Ayahnya, Abdullah, wafat ketika beliau berada dalam kandungan. Belum seberapa besar seorang Muhammad kecil, kemudian ibunya, Siti Aminah, juga wafat meninggalkannya, yang kemudian dia (Muhammad) diasuh oleh kakeknya sendiri, Abdul Muthallib, sampai beliau beranjak dewasa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN"  style="';font-size:12.0pt;"&gt;Ketika Muhammad besar dan menjadi rasul, banyak kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa “aneh” terjadi—termasuk peristiwa peperangan dan penaklukan wilayah/kota. Beliau adalah orang nomor satu dunia yang mampu menciptakan peradaban terbaik di sepanjang sejarah. Bayangkan saja, daerah yang awalnya dihuni oleh manusia jahiliyah, selanjutnya mampu menguasai 2/3 bagian dunia selama lebih kurang 23 tahun. Seluruh fasa kehidupan tersebut tak terlepas dari peran seorang Muhammad. Untuk itu, sangat tidak keliru ketika Michael H. Hart, seorang nasrani, memposisikan Muhammad sebagai orang pertama dalam bukunya “100 Orang Berpengaruh di Dunia”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN"  style="';font-size:12.0pt;"&gt;Membicarakan dan mambaca &lt;i&gt;shirah&lt;/i&gt; (sejarah) Nabi Muhammad biasanya tidak cukup dengan waktu satu atau dua hari. Di samping karena sejarah Muhammad yang tidak akan habis dikupas dan dikuliti, juga karena saking banyak dan luasnya cakupannya, sehinngga tidak sedikit buku-buku tentang Nabi Muhammad yang halamannya tebal-tebal, bahkan ada yang berjilid-jilid.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN"  style="';font-size:12.0pt;"&gt;Namun, berbeda dengan buku “Menyingkap Tirai Kehidupan Nabi Muhammad saw.” yang hanya 94 halaman. Meskipun demikian, buku yang ditulis oleh KH. Thaifur Ali Wafa ini menjelaskan dengan jelas dan runut sejarah Nabi Muhammad semenjak beliau lahir hingga wafat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN"  style="';font-size:12.0pt;"&gt;Dikisahkan Nabi Muhammad adalah sosok manusia tapi tidak seperti manusia biasa. Hal itu sudah nampak semenjak beliau masih kecil. Lihat saja ketika Muhammad diasuh oleh Halimah; pada suatu hari, di tengah terik matahari Muhammad hilang dari pandangan Halimah. Karenanya Halimah langsung terkejut dan langsung mencarinya. Namun, setelah ke sana ke mari bersama keringat yang membasahi keningnya ia menemukan Muhammad sedang bermain dengan saudara susuannya. Dengan nada kesal Halimah memarahi putrinya; “dibawa ke mana saja Muhammad di tengah terik matahari seperti ini”. Dengan menundukkan kepala putri Halimah menjawab; “tidaklah demikian wahai Ibu, Muhammad tidak pernah disengat teriknya sinar matahari, karena setiap langkah ayunan langkah kakinya, awan di atas langit mengikuti jalannya dan bila Muhammad berhenti, maka sang awan diamlah pula seraya memayunginya dan memberikan keteduhan baginya” (hal. 4).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN"  style="';font-size:12.0pt;"&gt;Selain itu, di kala Muhammad dibawa pamannya, Abu Thalib, untuk berdagang ke negeri Syam dan ketika itu juga ada seorang pendeta Yahudi meramalnya bahwa ketika besar nanti Muhammad ponakan Abu Thalib ini akan diangkat dan menjadi nabi, dan banyak orang yang iri padanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN"  style="';font-size:12.0pt;"&gt;Di kala Muhammad menjadi dewasa, tanda-tanda pada masa kecilnya itu semakin terbukti. Pada umur yang ke-40 Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Semenjak itu, benarlah apa kata pendeta Syam itu. Semakin banyak orang-orang sekitarnya yang iri padanya—termasuk pamannya sendiri, Abu Lahab, yang tidak mau mengakui kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad hingga akhir hayatnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN"  style="';font-size:12.0pt;"&gt;Tidak jarang orang-orang kafir memerangi Nabi Muhammad karena mereka iri dan tidak mau menerima ajaran Islam. Dari hari ke hari, bulan ke ke bulan, dan tahun ke tahun, orang-orang kafir tidak henti-hentinya mencaci dan memaki Nabi Muhammad. Namun, Nabi Muhammad tetap tegar dan sabar menghadapinya. Peperangan yang dilakukan Nabi Muhammad tidak lain adalah untuk membela diri dan penegakan kebenaran kepada pihak-pihak yang mengancam agama Allah, bukan sebagai cara untuk mengajak kepada agama-Nya. Allah tidak memerintahkan umat Islam untuk menuju ke jalannya dengan jalan peperangan atau paksaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN"  style="';font-size:12.0pt;"&gt;Akhir kata, meskipun buku ini sangat tipis, namun isi di dalamnya tidak mengurangi akan perjalanan Nabi Muhammad dari waktu ke waktu. Dengan jumlah halaman yang hanya 94 halaman buku ini memuat 68 judul. Semuanya menyiratkan akan perjalanan Nabi Muhammad dari lahir hingga wafat—dengan penyajian yang singkat, padat, serta detail, yang memang menjadi nilai &lt;i&gt;plus&lt;/i&gt; buku tipis ini. Membaca buku ini kita diajak untuk membaca ulang sejarah Nabi Muhammad, terutama mereka yang masih pemula.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:150%"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"  style="'line-height:;font-size:12.0pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:150%"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"  style="'line-height:;font-size:12.0pt;"&gt;Data Buku&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN"  style="'line-height:;font-size:12.0pt;"&gt;Judul&lt;span style="mso-tab-count:2"&gt;                &lt;/span&gt;: Menyingkap Tirai Kehidupan Nabi Muhammad saw.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN"  style="'line-height:;font-size:12.0pt;"&gt;Penulis&lt;span style="mso-tab-count:2"&gt;              &lt;/span&gt;: KH. Thaifur Ali Wafa&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN"  style="'line-height:;font-size:12.0pt;"&gt;Penerbit&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;            &lt;/span&gt;: Muara Progresif, Surabaya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN"  style="'line-height:;font-size:12.0pt;"&gt;Cetakan&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;           &lt;/span&gt;: I, Juni 2010&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN"  style="'line-height:;font-size:12.0pt;"&gt;Tebal&lt;span style="mso-tab-count:2"&gt;                &lt;/span&gt;: x + 94 halaman&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:150%"&gt;&lt;span lang="IN"  style="'line-height:;font-size:12.0pt;"&gt;ISBN&lt;span style="mso-tab-count:2"&gt;               &lt;/span&gt;: 978-602-95087-2-7&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span lang="IN"  style="'line-height:115%;font-family:font-size:12.0pt;"&gt;Harga&lt;span style="mso-tab-count:2"&gt;               &lt;/span&gt;: Rp. 17.500&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2191510863881274442-95045675449743033?l=lingkaran-koma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/feeds/95045675449743033/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/09/mambaca-ulang-sejarah-nabi-muhammad.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/95045675449743033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2191510863881274442/posts/default/95045675449743033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lingkaran-koma.blogspot.com/2010/09/mambaca-ulang-sejarah-nabi-muhammad.html' title='Mambaca Ulang Sejarah Nabi Muhammad'/><author><name>Abd. Basid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08778188291772369198</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TGjrQjRWmlI/AAAAAAAAAbk/XP1xZRiME64/S220/Abd.+Basid.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TIWP38pe6TI/AAAAAAAAAdE/Z6w7GSG2AHk/s72-c/Cover+Buku+Menyingkap+Tirai....JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2191510863881274442.post-7650867623643682524</id><published>2010-09-04T18:05:00.000-07:00</published><updated>2010-09-25T08:20:20.996-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Langkah-langkah Agar Si Kecil Tangguh Berpuasa*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TILtazD0xiI/AAAAAAAAAc8/3Y8kBkmZjD4/s1600/Cover+Buku+Agar+Si+Kecil+Tangguh+Berpuasa+1.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 201px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pbBvgbdRHzc/TILtazD0xiI/AAAAAAAAAc8/3Y8kBkmZjD4/s320/Cover+Buku+Agar+Si+Kecil+Tangguh+Berpuasa+1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5513229938493539874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; adalah gerbang emas bagi terbentuknya generasi berkarakter &lt;i&gt;salimul aqidah&lt;/i&gt; (aqidah yang bersih), &lt;i&gt;shalihul ibadah&lt;/i&gt; (ibadah yang benar), &lt;i&gt;matinul khuluq&lt;/i&gt; (akhlak yang kukuh), &lt;i&gt;mutsaqaful fikri&lt;/i&gt; (wawasan berpikir luas), &lt;i&gt;qawiyul jismi&lt;/i&gt; (jasmani yang sehat dan kuat) dan &lt;i&gt;nafi’un liqairihi&lt;/i&gt; (bermanfaat bagi orang lain).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Termasuk juga pada hal di atas adalah didikan orang tua terhadap si kecil. Didikan orang tua sangatlah mempengaruhi bagi kwalitas kepribadian seorang anak—termasuk dalam hal keimanan kepada Allah. Seorang anak gampang untuk disetir dan mau dibentuk seperti apa pun tergantung orang tua yang mendidiknya. Ia bagaikan kain/kertas putih tanpa noda yang multi fungsi untuk dibentuk seperti apa pun. Kain putih gampang ternodai jikalau kita tidak hati-hati dalam mengantisipasinya dan begitu sebaliknya, kain putih akan gampang ternodai dan buram jikalau kita lalai dalam menjaganya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Begitu juga dengan anak kecil, ia gampang dicetak menjadi apa saja. Terngantung mau orang tua akan menjadikannya seperti apa. Untuk itu peran orang tua sangat menentukannya. Akan hal ini, Rasulullah bersabda yang datangnya dari Abu Hurairah, yang artinya; “semua anak kecil itu dilahirkan dalam keadaan suci (&lt;i&gt;fitrah&lt;/i&gt;). Kedua orang tuanyalah yang bisa me-yahudi-kannya, me-nasrani-kannya, dan me-majusi-kannya...” (HR. Bukhori).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menjadi orang tua adalah sebuah anugerah yang luar biasa, namun di balik semua itu juga ada tanggung jawab yang besar untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi anak yang shaleh-shalehah. Untuk itu, orang tua mana yang tidak gembira bila melihat anaknya taat menjalankan ibadah kepada Allah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dengan demikian, tidak sedikit orang tua yang mulai mendidik anak-anaknya sejak kecil. Sedari kecil anak-anaknya sudah dikenalkan pada shalat, puasa, membaca al-Qur’an dan sejenisnya. Namun, tidak jarang juga ada orang tua yang membiarkan anak-anaknya selalu bermain tanpa memperhatikan bagaimana agar ia bisa shalat, puasa, dan baca al-Qur’an.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kapan saat yang tepat bagi anak kecil untuk bisa dilatih shalat, puasa, dan membaca al-Qur’an? Sejatinya, tidaklah keliru meskipun kita terlalu dini mengenalkan mereka akan tatacara ibadah kepada Allah. Tergantung orang tua saja bagaimana ia mengaturnya. Namun, agama mengaturnya agar semua orang tua mempunyai patokan untuk dijadikan acuan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jika merujuk pada hadis Nabi, orang tua ditekankan agar memerintahkan anak-anaknya melaksanakan shalat pada usia 7 tahun dan dibenarkan memukul jika sudah menginjak 10 tahun mereka masih meninggalkan shalat. Begitu juga dengan puasa. Jika anak sudah berusia 7-10 tahun, maka mereka sudah saatnya dilatih berpuasa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Buku “Agar Si Kecil Tangguh Berpuasa” menjelaskan dengan detail seputar bagaimana agar anak-anak kita sadar puasa sejak kecil. Secara syar’i anak kecil memang belum diwajibkan untuk berpuasa (dan juga ibadah lainnya), namun mendidik dan mengajarkan puasa bagi anak sejak kecil agar dan dalam rangka melatih kedisiplinan, kesabaran beribadah, dan ketangguhan menghadapi beberapa beban kehidupan sesuai kemampuannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Buku ini sangat cocok untuk orang tua yang ingin menghadirkan jiwa-jiwa spritual yang tangguh untuk anak-anaknya. Meski ramadan tahun (1431 H) ini sudah mau berakhir, membaca buku ini tidaklah akan sia-sia. Buku ini tidak hanya menjelaskan dari segi keagamaan, akan tetapi lebih lengkap lagi tinjaun secara psikologis dan kesehatan juga disajikan, sehingga semakin memperkuat analisa dan semakin gampang diterima akal sehat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Buku ini dibagi menjadi lima bagian. Pada bagian pertama, Ulfah Nurhidayah, penulis buku ini, menggiring agar orang tua pertama-pertama mengenalkannya dengan menyambut ramadan dengan gembira, seraya penulis mengutarakan keutamaan-keutamaan ramadan, predikat-predikat ramadan, 10 cara menyambut ramadan, dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Selannjutnya, bagian kedua bagaimana agar rumah kita menjadi surga di tengah keluarga yang ada. Keteladanan orang tua akan menentukan dan mempunyai andil besar dalam mencetak anak menjadi penghuni surga di tengah keluarga, dengan tetap bercanda tawa dengannya. Pada bagian ini juga disajikan bagaimana cara menanamkan kegiatan tadarus kepada anak dan tips agar ia dekat pada al-Qur’an.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bagian ketiga, bagaimana cara orang tua untuk bisa mengenalkan makna ramadan kepada anak; pentingnya puasa, manfaat puasa, dan keajaiban-keajaibannya. Pada bagian ini juga agar beberapa langkah tepat dan cara penyampaian makna puasa pada anak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line
